Lanjutan Api di Bukit Menoreh 397 – 3

Agung Sedayu menghentikan langkahnya barang sejenak, kemudian,” tidak ada, Ki Waskita. Aku hanya sedang menunggu sampai beberapa hari ke depan. Selain itu juga ada persoalan dalam kitab guru yang sepertinya harus aku kemukakan kepada paman sebagai orang yang mempunyai wawasan lebih luas.” Agung Sedayu kemudian menghela nafas panjang lalu melangkahkan kaki dengan tatap mata menerawang menembus kedalaman malam seakan-akan sosok gurunya sedang berdiri di depannya. Ki Waskita pun tidak berkata lebih lanjut seakan-akan ia mengetahui bahwa Agung Sedayu sedang behadapan dengan gurunya. Ki Waskita merasakan bahwa ia menjadi lebih dekat dengan Agung Sedayu semenjak kepergian Kiai Gringsing yang terlebih dahulu menghadap Yang Maha Agung. Orang yang sudah berusia lebih dari setengah baya ini sudah menganggap Agung Sedayu seperti anak dan muridnya sendiri. Dan Agung Sedayu pun juga telah menganggap kehadiran Ki Waskita dan Ki Jayaraga adalah sebagai pengganti gurunya dan tentu saja, Ki Gede Menoreh sebagai orang tua yang dirasakannya seperti ayahnya sendiri.

Keduanya pun memasuki regol halaman rumah Agung Sedayu. Terlihat di tangga pendapa Ki jayaraga sedang berbicara dengan Sukra. Agaknya Ki Jayaraga memberi penjelasan serba sedikit tentang apa-apa yang pernah dilewati dalam asam garam kehidupan. Namun begitu Agung Sedayu dan Ki Waskita tidak mengetahui dengan tepat apa yang sedang mereka perbincangkan.

“Oh, angger Agung Sedayu dan Ki Waskita,” berkata Ki Jayaraga lalu beringsut mempersilahkan keduanya naik ke pendapa. Sukra pun berdiri dan membungkuk hormat kepada keduanya. Lalu ia bergegas ke dapur untuk mempersiapkan sekedar minuman hangat.

Agaknya Ki Waskita mengetahui gelagat Sukra, lalu berkata mencegahnya,” sudahlah Sukra. Tidak perlu membuatkan minuman karena orang tua ini sedang ingin berbaring.”

“Mungkin Ki Waskita ini hendak sekedar ketela rebus ditambah sedikit garam. Segera buatkanlah untuknya,” berkata Ki Jayaraga dengan menggamit Ki Waskita. Lalu keduanya pun menahan tawa. Sukra pun mengurungkan niatnya untuk pergi ke dapur namun kemudian dia meminta diri untuk pergi ke sungai.

“ Sebaiknya kau tidak usah ke sungai malam ini, Sukra. Pergilah ke sanggar dan persiapkan dirimu, sebentar lagi aku akan menyusulmu,” berkata Agung Sedayu kemudian mempersilahkan Ki Waskita dan Ki Jayaraga untuk duduk di atas tikar biru bergaris coklat.

“ Baik ki Rangga,” Sukra menjawab dan kemudian ia melangkah panjang menuju sanggar.

Sejenak kemudian ketika Sukra sudah menghilang dari pandangan mereka, Agung Sedayu membuka pembicaraan. Ia berkata,” Ki Jayaraga, bagaimana menurut pandangan kiai tentang perkembangan anak itu?”

Sambil menarik nafas dalam-dalam, agaknya Ki Jayaraga sedang mengatur kata-kata agar Agung Sedayu tidak menjadi tersinggung karena anak itu berada di bawah pengawasan dan bimbingan Agung Sedayu sejak dibawa dari rumah orang tuanya. Sedangkan Ki Waskita sendiri tidak berani menduga-duga tentang rencana Agung Sedayu namun begitu Ki Waskita menaruh kepercayaan yang sangat tinggi kepadanya.

“ Baiklah ngger, agaknya anak itu mengalami peningkatan yang cukup menanjak. Aku melihatnya sering berlatih sendiri ketika Glagah Putih tidak berada di rumah terutama untuk masa yang panjang seperti sekarang ini. Namun demikian, aku sering menemaninya dengan mengajak berlatih di dalam sanggar. Pengaruh Glagah Putih sangat terasa dalam perkembangan jiwani anak itu. Dengan demikian, kau telah membentuk anak itu meskipun melalui Glagah Putih, ngger” kata Ki Jayaraga penuh kagum kepada Agung Sedayu.

“Ah, sudahlah kiai. Ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawabku terhadap anak itu semenjak orang tuanya memberi ijin untuk ikut tinggal di rumah ini,” berkata Agung Sedayu dengan wajah sedikit memerah karena pujian Ki Jayaraga.

“Ki Jayaraga, Ki Waskita. Sejak lama aku mempertimbangkan untuk meningkatkan kemampuan anak itu secara pribadi. Namun demikian, peningkatan itu tidak bertentangan dengan apa-apa yang telah dia pelajari selama masa pendadaran sebagai pasukan pengawal tanah ini. Meski begitu, aku mohon bimbingan dan bantuan kiai berdua untuk meningkatkan kemampuan anak itu dalam mengungkap bagian-bagian yang lebih rumit dan mendalami watak dari gerakan-gerakan yang dia latih selama ini,” berkata Agung Sedayu dengan penuh hormat.

Sambil membenahi ikat kepala, Ki Waskita berkata,” demikian ngger kami percaya kepadamu. Sukra telah sekian lama bersama denganmu dan sudah barang tentu kemampuanmu untuk menyelami dan mengamati watak Sukra lebih mendalam dari kami berdua. Bukan begitu kiai?”

Ki Jayaraga yang mendapat pertanyaan seperti itu pun mengangguk-anggukan kepala, kemudian berkata,” sudahlah ngger. Kami berdua akan membantumu serba sedikit dari apa yang kami ketahui.”

Kemudian mereka terlibat dalam perbincangan-perbincangan tentang Panaraga dan perkembangan terakhir. Lalu Agung Sedayu meminta diri untuk menyusul Sukra ke sanggar. Ki Jayaraga dan Ki Waskita pun beranjak menuju pakiwan untuk sekedar membersihkan kaki dan tangan lalu keduanya memasuki bilik yang selama ini telah mereka tempati untuk sekedar berbaring dan beristirahat.

Sejenak kemudian, Agung Sedayu telah berada di dalam sanggar dan mengamati Sukra yang sedang melatih diri di antara tonggak-tonggak bambu yang tertanam di dalam sanggar.

Sukra berloncatan diantara tonggak dengan kekuatan kaki yang mengagumkan. Keseimbangan tubuhnya sudah cukup memadai sebagai landasan baginya untuk lebih bebas menggerakkan tangan ke segala arah yang ingin digapainya. Kecepatan tubuhnya seperti burung sikatan menyambar belalang sehingga tangannya seolah seperti bayangan yang mempunyai puluhan lengan dan telapak tangan.

“ Bagus sekali, Sukra,” kata Agung Sedayu dengan bertepuk tangan perlahan kemudian,” sekarang ambillah beberapa kantong yang berisi bebatuan kecil kemudian lakukan seperti yang engkau perbuat tadi.”

Sukra pun mengakhiri gerakannya untuk kemudian mengikuti perintah Agung Sedayu. Sambil berjalan perlahan memutari Sukra, Agung Sedayu tidak berhenti memberikan perintah-perintah kepadanya. Dengan tekun Sukra mengikuti apa saja yang diucapkan Agung Sedayu.

Di sela-sela latihan itu, Agung Sedayu memberikan contoh gerakan untuk diikuti Sukra. Tubuh Agung Sedayu untuk sesaat berdiri tegak, kemudian dengan sedikit menekuk lututnya lalu ia meloncat ke tonggak bambu yang paling pendek. Sejenak kemudian tubuh Agung Sedayu berputar-putar seperti gasing dan ia berloncatan berpindah dari tonggak yang pendek ke tonggak yang lebih tinggi hingga tonggak yang yang tertinggi. Lalu ia menuruni tonggak-tonggak bambu dengan keadaan tubuh yang masih berputar seperti gasing.

Agung Sedayu mengulangi gerakan berputarnya perlahan ketika kakinya menginjak lantai sanggar. Sukra merasa dirinya sekuku ireng ketika mengamati gerakan memutar Agung Sedayu meskipun dilakukan secara perlahan sekedar memberi contoh bagaimana gerakan itu dapat dilakukan.

“Kau harus lebih sabar untuk melakukan gerakan memutar ini. Dengan keseimbangan pada keadaan tertentu sudah barang tentu tanganmu akan dapat bergerak bebas. Bukan dalam bebas seperti yang engkau lakukan tadi tetapi bebas dalam menelusuri watak dari gerakan memutar yang telah kau amati,” berkata Agung Sedayu lalu,” sekarang mulailah dengan pelan dan terus tingkatkan.”

” Baik Ki Rangga,” Sukra menganggukkan kepala.

Sejenak kemudian Sukra telah tenggelam dalam latihan di bawah bimbingan dan pengawasan Agung Sedayu. Untuk beberapa lama Sukra ternyata sudah berada pada puncak kemampuannya. Melihat keadaan Sukra, Agung Sedayu pun mengakhiri latihan itu kemudian memberi pesan ,” satu hal penting yang harus kau ingat, Sukra. Kemampuan dan kekuatan secara pribadi juga banyak berpengaruh dalam pertempuran yang lebih luas. Untuk itu aku mengharapkanmu dapat menjadi pelindung bagi kawan-kawanmu selain engkau dapat menghadapi senapati diantara prajurit yang menjadi lawanmu. Namun begitu, kau tetap harus ingat bahwa sikapmu dipengaruhi oleh keputusanmu setelah melihat keadaan medan perang yang mungkin belum terbayang olehmu.”

“Baik Ki Rangga,” jawab Sukra patuh.

“Marilah kita beristirahat sekarang. Malam yang tinggal sedikit lagi namun demikian nampaknya masih dapat bagi kita untuk memejamkan mata barang sejenak,” kata Agung Sedayu seraya menepuk bahu Sukra.

“Baik Ki Rangga,” jawab Sukra sambil berjalan mengikuti Agung Sedayu keluar dari sanggar.

Sejenak kemudian, keduanya telah memasuki bilik masing-masing. Dan Agung Sedayu telah mendapati Sekar Mirah dalam keadaan tertidur pulas. Agung Sedayu memandangi wajah istrinya yang masih terlihat cantik di usia yang sudah tak dapat dibilang muda lagi. Sebongkah perasaan tiba-tiba menyeruak ke dalam dadanya, ia menghela nafas panjang untuk melepas pepat di dadanya lalu berbaring perlahan di sebelah istrinya.

Di sebelah timur Tanah Perdikan Menoreh, dalam pada itu sedang diadakan pertemuan antara Panembahan Hanyakrawati, Ki Patih Mandaraka, Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Singasari. Hubungan Panaraga yang semakin tidak jelas dan kehadiran orang yang mengaku sebagai Pangeran Ranapati agaknya telah menjadi persoalan yang dibicarakan di ruangan dalam istana Panembahan Hanyakrawati.

 

5 thoughts on “Lanjutan Api di Bukit Menoreh 397 – 3”

Tinggalkan Balasan ke fitrhadoblog's Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *