Lanjutan Api di Bukit Menoreh 397 – 10

“Tidak selalu begitu, ngger. Getar yang timbul dari saluran pernafasanmu akan merubah sedikit watak ilmu yang tersimpan dalam dirimu. Lelaku yang akan kau jalani akan memberi pengaruh yang tidak sedikit bagi daya tahanmu,” berkata Ki Waskita.

“Apakah angger sudah menjajagi barang sedikit dari bagian itu?” tanya Ki Jayaraga.

Kemudian Agung Sedayu membenahi letak duduknya. Dengan bersila dan tangan terjuntai pada lututnya, ia mulai memusatkan nalar budinya. Hawa panas merambat dari bawah tempat ia duduk sejenak setelah melakukan pemusatan nalar budi. Perlahan-lahan panas itu merambat naik hingga muka Agung Sedayu memerah. Setelah itu, hawa panasnya seperti terlihat menjalar ke lengan Agung Sedayu lalu berpusat pada telapak tangannya.

Ki Waskita dan Ki Jayaraga merasakan panas luar biasa menyengat seperti terjilat api, meskipun keduanya berjarak selangkah dari Agung Sedayu.

” Luar biasa! Hanya dengan membaca, angger Sedayu telah merambah isi kitab itu melebihi perkiraanku. Sedangkan aku dahulu telah berkali-kali mencoba dibawah bimbingan guru sekalipun belum mencapai tataran ini,” desis Ki Waskita dalam hati.

Ki Jayaraga mengerutkan kening dan memperhatikan secara seksama penjajagan yang dilakukan Agung Sedayu.

“Watak ilmu ini hampir mirip dengan ilmu menyerap api perguruanku. Agaknya kalau angger Agung Sedayu mampu menuntaskan lelaku sesuai syarat, dia akan merambah selapis lagi ilmu dalam dirinya,” bisik Ki Jayaraga membatin.

Tiba-tiba panas yang memancar keluar dari telapak tangan Agung Sedayu lenyap. Nafasnya memburu tak teratur. Sedikit pucat tampak pada bagian mukanya. Sedangkan hawa panas yang menyelubungi dirinya tiba-tiba menebar dan hilang.

“Cukuplah ngger,” kata Ki Jayaraga,” agaknya ilmu ini memang membutuhkan laku khusus yang bertolak belakang dengan hawa yang keluar dari wadag.”

” Betul kata Ki Jayaraga. Angger cukupkan dulu, sementara aku dan Ki Jayaraga akan mencari sendang atau bagian sungai yang akan kau gunakan,” kata Ki Waskita.

Perlahan Agung Sedayu membuka mata dan peluh benar-benar membasahi sekujur tubuhnya. Pakaiannya tidak terlihat basah karena hawa panas tadi begitu kuat. Setelah mengembalikan perhatiannya semula, Agung Sedayu mendengarkan pesan-pesan Ki Waskita selanjutnya. Ditambah kemudian Ki Jayaraga semakin menambah luas wawasan Agung Sedayu.

Tak berapa lama kemudian, ketiganya keluar dari sanggar. Agung Sedayu bergegas menuju pakiwan untuk mandi. Sukra telah mengisi jambangan hingga penuh, setelah itu Sukra mempersiapkan peralatan yang biasa dibawa Ki Jayaraga ke sawah.

Ketika matahari sudah menebarkan sinarnya, maka seluruh isi rumah Agung Sedayu telah bersiap untuk makan pagi. Setelah Sekar Mirah membereskan peralatan dengan dibantu okeh Sukra, Ki Jayaraga berkata,” angger segera bersiap ke barak. Sementara itu siang nanti aku dan Ki Waskita akan menyusuri sungai untuk mencari tempat bagimu menjalani lelaku.”

 

” Terima kasih, Ki Jayaraga. Dan agaknya Ki Waskita juga mulai merindukan bulir padi,” kata Agung Sedayu.

“Rasanya Ki Jayaraga tidak memberiku kesempatan bercanda dengan padi,” Ki Waskita tersenyum dan menggamit Ki Jayaraga. Lantas keduanya tertawa pelan.

“Baiklah, aku segera pergi ke barak,” kata Agung Sedayu kemudian meminta diri untuk berangkat. Lalu seperti biasanya,ia diantar Sekar Mirah hingga regol halaman.

Jalanan di Tanah Perdikan Menoreh mulai ramai dilalui orang. Sebagian pergi ke pasar, keadaan tanah perdikan yang tenang menjadikan orang-orang lebih bersemangat menjalani kehidupan. Banyak orang yang bergerak memenuhi setiap jengkal roda kehidupan. Kehidupan yang berjalan begitu tenang tak luput dari pengamatan petugas sandi yang dikirimkan Pangeran Ranapati.

“Tanah ini memberikan gambaran kehidupan yang mengerikan. Setiap orang terpedaya dengan wibawa Ki Gede Menoreh. Orang tua itu tidak menyadari jika seekor singa akan segera mengusirnya keluar dari hutan,” kata seorang yang berada di luar sebuah kedai.

Kawannya yang mendengarkannya tidak melepaskan pandangan ke setiap sudut yang dapat ia amati. Lalu,” mereka agaknya juga tidak menyadari kehadiran kita disini.”

Agaknya orang-orang Pangeran Ranapati masih mengamati keadaan di Tanah Perdikan lalu yang seorang berkata,” apakah kita akan melaporkan keadaan seperti ini kepada pangeran?”

“Jangan bodoh. Tanah Perdikan tentu memendam kekuatannya yang sangat besar. Sedangkan kita belum melihat simpanan kekuatan Tanah Perdikan Menoreh yang masih terpendam. Kita belum pergi mengamati barak pasukan khusus,” orang yang memakai ikat kepala berwarna ungu itu berkata. Kawannya mendengar sambil manggut-manggut.

Dalam pada itu, menjelang senja, Agung Sedayu berpesan kepada para lurah prajurit. Ia harus memberitahukan bila ia akan hanya di waktu pagi datang ke barak dalam sepekan dua pekan. Akan tetapi, jika mereka memerlukan kehadiran Agung Sedayu, ia meminta mereka untuk memberi tahu Ki Waskita atau Ki Jayaraga.

Tak lupa Agung Sedayu memberitahu Ki Gede tentang rencananya untuk beberapa hari ke depan.

“Tentu saja, ngger. Aku masih yakin kau akan menapak langit yang lebih tinggi. Meski demikian, seperti kata Kiai Gringsing, tidak ada ilmu yang sempurna di bumi ini,” berkata Ki Gede. Lalu ia melanjutkan,” aku akan datang di saat terakhir lelakumu. Aku ingin menjadi saksi bagi seorang Agung Sedayu.”

Agung Sedayu merundukkan kepala mendengar nama gurunya disebut-sebut. Ia teringat betapa kasih gurunya ketika membimbingnya menjalani hari-hari yang sulit. Warisan terbaik yang ditinggalkan gurunya adalah agar ia harus mendahulukan pengabdian kepada sesama. Agaknya pengajaran itulah yang mendorong Agung Sedayu selalu menilai dirinya sendiri.

“Aku akan memberitahukan hal itu kepada Ki Waskita dan Ki Jayaraga. Semoga mereka tidak melupakan Ki Gede pada saatnya tiba,” berkata Agung Sedayu masih dengan kepala tertunduk.

“Ki Gede, apakah nantinya Ki Bagaswara dan cantriknya akan tetap tinggal di rumah selagi Ki Gede bersama-sama dengan Ki Jayaraga dan Ki Waskita?” tanya Agung Sedayu.

Sejenak Ki Gede terdiam sesaat. Baginya Ki Bagaswara adalah orang baik dan tidak akan menimbulkan persoalan selama kepergiannya menemani Agung Sedayu. “Sebaiknyalah aku tidak menimbulkan pikiran  buruk pada Ki Bagaswara, meskipun ia akan dapat mengerti,” gumam Ki Gede kemudian,” aku dapat mengatakan kepadanya jika aku ingin sesekali melihat para peronda. Aku dapat beralasan kedatangan orang asing telah menambah serba sedikit kegiatan pada malam hari.”

Agung Sedayu rupanya dapat mengerti pikiran Ki Gede Menoreh setelah mendengarkan penjelasannya. Kemudian ia meminta diri dan berjanji dalam hatinya untuk bersungguh-sungguh menjalani lelaku sesuai isi kitab Ki Waskita.

Demikianlah pada akhirnya, Agung Sedayu mulai lelaku merendam tubuhnya beberapa lama ketika malam mulai menapaki bumi hingga kokok ayam yang pertama. Pada pagi dan siang hari, Agung Sedayu tetap melakukan pekerjaan seperti biasanya.

Malam yang ketiga, Agung Sedayu yang ditemani Sukra berjalan pulang seusai mengakhiri laku kungkumnya. “Ki Rangga!” kata Sukra yang melihat Agung Sedayu terhuyung-huyung ketika mereka baru saja memasuki halaman. Peluh Agung Sedayu menetes dari sela-sela rambutnya. Dengan dibantu Sukra, Agung Sedayu menaiki tangga pendapa dan duduk bersandar pada salah satu tiang di ujung ruangan.

Ki Rangga memberi isyarat Sukra untuk tenang, dan Sukra tanggap dengan keadaan Agung Sedayu. Ia berdiri hendak memanggil Ki Waskita dan Ki Jayaraga yang berada di gandok kanan.

Akan tetapi ia segera mengurungkan niatnya saat ia melihat dua orang melangkah cepat ke pendapa. Tak lama dari itu, Nyi Sekar Mirah telah membuka pintu pringgitan.

“Kakang!” kata Nyi Sekar Mirah melihat wajah pucat suaminya.

“Biarlah kami melihat angger,Nyi,” kata Ki Waskita. Ki Jayaraga segera memeriksa ketiak, pergelangan tangan, perut dan punggung Ki Rangga Agung Sedayu. Dengan seksama dan berhati-hati, Ki Jayaraga tidak melewatkan satu pun bagian tubuh Agung Sedayu yang menjadi tempat pemusatan ilmu yang sedang didalaminya.

“Kita wajib bersyukur pada Yang Maha Agung, Nyi,” kata Ki Jayaraga menarik nafas dalam-dalam.

“Apa yang dialami kakang Agung Sedayu, Ki Jayaraga?” Nyi Sekar Mirah bertanya dengan cemas. Ia memegang tangan suaminya dan kegelisahan hatinya seakan mendapat jawaban saat suaminya membuka mata. Lalu Ki Rangga kembali mengatur pernafasan untuk mengatasi gangguan yang dialaminya. Nyi Sekar Mirah bergeser mundur, memberi tempat Ki Waskita untuk membantu pemulihan Agung Sedayu.

“Yang dialami Ki Rangga adalah kewajaran. Ia sedang berusaha meluluhkan ilmu ini dengan seluruh ilmu dalam dirinya. Ki Rangga akan menjadi lebih mudah berpindah lapis, akan tetapi ternyata sebagian tubuhnya belum siap menerima peleburan ini,” kata Ki Waskita pada Nyi Sekar Mirah.

Hati Nyi Sekar Mirah menjadi sedikit tenang dengan penjelasan Ki Waskita. Ia percaya Ki Waskita tidak sekedar menghibur dirinya.

“Sehari esok sebaiknya kau tidak ke barak, ngger. Biarlah Sukra yang memberitahukan ketidakhadiranmu. Berilah ia pesan yang harus disampaikan di barak,” berkata Ki Jayaraga.

Agung Sedayu mengangguk kecil, lalu dibantu Ki Waskita, ia mulai memusatkan nalar budinya ketika nafasnya mulai teratur.

2 tanggapan pada “Lanjutan Api di Bukit Menoreh 397 – 10”

Tinggalkan Balasan