Lanjutan Api di Bukit Menoreh 397 – 11

Keesokan harinya saat matahari sedikit beringsut ke barat, Ki Waskita mengingatkan kehadiran Ki Gede Menoreh pada malam pamungkas lelaku Agung Sedayu.

“Kiai, sebelum senja aku akan ke rumah Ki Gede. Dan nantinya akan berangkat bersama Ki Gede menyaksikan saat terakhir angger Sedayu,” berkata Ki Waskita.

Ki Jayaraga mengerutkan kening, ia bertanya” apakah ikan gurame memang tidak dapat merebus air, kiai?” tawa kecil Ki Jayaraga yang disambut dengan senyum Ki Waskita. Lalu kata Ki Waskita,” wedang sere rumah Ki Gede masih yang terbaik di tanah perdikan ini.” Keduanya melepas tawa dan saling memandang penuh pengertian.

Akhirnya dengan demikian, Agung Sedayu telah melakukan laku kungkum di sebuah sungai yang tak begitu dalam. Sungai ini membelah hutan di sebelah timur yang tak jauh dari pedukuhan induk. Pada hari ke delapan dan sembilan maka sebenarnyalah Agung Sedayu benar-benar dijaga bergantian oleh Ki Waskita dan Ki Jayaraga. Terkadang Sukra terlihat menggantikan mereka untuk menjaga Ki Rangga Agung Sedayu. Seringkali juga terlihat beberapa orang Tanah Perdikan ikut memperhatikan Agung Sedayu. Mereka merasa kebanggaan tertinggi dengan turut menjaga Agung Sedayu dari segala gangguan selama mesu diri. Di dalam hati mereka telah berkembang sebuah kebahagiaan, bahwa seorang anak muda yang telah mengangkat tinggi nama Tanah Perdikan Menoreh

Pada hari terakhir, hanya dengan kepala yang tersembul dari air keadaan Agung Sedayu nampak mencemaskan. Dengan lutut sedikit menekuk, ia mulai berendam sesaat setelah matahari benar-benar telah tenggelam di ufuk barat. Namun begitu, Ki Waskita dan Ki Jayaraga belum merasa harus melakukan sesuatu. Keduanya masih menunggu Agung Sedayu benar-benar tuntas menjalankan lelaku. Pada  wayah sirep bocah, di sekitar Agung Sedayu muncul seperti gelembung-gelembung air. Kini Agung Sedayu seakan-akan berada di dalam kuali yang berisi air mendidih.

Tangan Agung Sedayu seperti melakukan gerakan yang sesuai watak ilmunya. Terkadang air menjulang tinggi ketika ia menghentakkan tenaga cadangan. Terkadang juga timbul pusaran berjarak satu dua tombak dari tempat Agung Sedayu.

Ki Waskita yang menyaksikan itu dibawah terang sinar bulan menggeleng-geleng kepala,” hampir tidak masuk akal,” katanya.

“Seandainya Kiai Gringsing melihat Agung Sedayu pada malam ini, tentu ia akan bangga dengan peningkatan ilmu muridnya itu,” desis Ki Jayaraga yang bersila sebelah menyebelah dengan Ki Waskita. Lanjutnya,”Ki Waskita tentu akan semakin bangga dengan Agung Sedayu”

“Apalagi Ki Jayaraga yang seperti ayah baginya,” kata Ki Waskita.

Keduanya menoleh ke Ki Gede Menoreh dan mereka seakan merasakan keharuan sangat mendalam sedang dialami oleh Ki Gede.

“Ki Gede adalah orang yang merasakan keharuan lebih dari kita berdua. Angger Agung Sedayu adalah anaknya, muridnya dan juga bagian dirinya. Dan ia juga telah menjadi satu bukit di Menoreh,” suara Ki Waskita terdengar begitu dalam dan bergetar.

“Benar kata kiai” desis Ki Jayaraga lalu keduanya melihat setitik air mata Ki Gede meleleh. Terbayang oleh keduanya bagaimana hati Ki Gede merasakan keadaan Agung Sedayu. Mereka mengetahui jika Agung Sedayu telah sekian lama bersama Ki Gede mengalami suka duka peristiwa di Tanah Menoreh. Pokal Ki Tambak Wedi, Kakang Panji bahkan pembangunan bendungan serta jalan-jalan juga tak luput dari peran Agung Sedayu.

“Seharusnya angger Agung Sedayu sudah mendekati gerakan terakhir,” desis Ki Waskita.

“Kita menunggu saat-saat puncak,” kata Ki Jayaraga yang mendengar ucapan Ki Waskita.

Ki Gede terlihat menggigit bibirnya. Agaknya ia tidak mampu menahan kegelisahan dirinya, karena tahap terakhir ini akan menjadi penentu akhir. Beberapa kali Ki Gede terdengar menghela nafas panjang.

Dalam gelap malam, tiba-tiba kedua tangan Ki Rangga yang berada dalam air mengeluarkan cahaya merah. Pada mulanya cahaya itu terlihat hanya sebatas lengan Ki Rangga, perlahan kemudian cahaya merah memendar semakin terang. Karena begitu terang hingga tampak jelas kaki Ki Rangga yang menjejak dasar sungai. Ki Rangga masih melakukan penyesuaian watak dan sifat ilmunya dengan gerakan seperti petunjuk dalam kitab Ki Waskita. Setiap gerakan tangan dan kaki Ki Rangga tampak jelas terlihat oleh mereka yang menjadi saksi.

Darah Ki Jayaraga seakan berhenti mengalir, ia mendesis,” Sedikit lagi ia akan berada di puncak ilmu itu. Semoga Yang Maha Agung memberi ijin bagi angger Sedayu.”

” Semoga Yang Maha Agung mendengar permintaan kita,” kata Ki Waskita yang sebelah menyebelah dengannya.

Terdengar suara Ki Gede berbisik di dekat telinga Ki Waskita. Katanya,” Angger Sedayu telah berada di puncak ilmu.”

“Belum Ki Gede. Angger Agung Sedayu masih harus menyempurnakan lagi di sisa malam ini,” Ki Waskita menggelengkan kepala.

“Oh, bila demikian malam pamungkas akan menjadi sangat mendebarkan,” berkata Ki Gede.

Dalam pada itu Ki Jayaraga berkata,”watak ilmu ini berbeda dengan watak ilmu yang serba sedikit aku ketahui.”

Beberapa pasang mata juga menyaksikan apa yang dilakukan Agung Sedayu. Mereka berada lebih jauh dari ketiga orang pemimpin Tanah Perdikan Menoreh. Jantung mereka berdentang keras ketika tangan Agung Sedayu membara seperti besi yang ditempa api. “Angger Agung Sedayu benar-benar orang muda yang linuwih dan pinunjul,” kata seorang dari mereka. Kawan-kawannya hanya terdiam karena hati mereka telah dikuasai kekaguman luar biasa.

Dalam pada itu, Agung Sedayu perlahan-lahan menenggelamkan sekujur tubuhnya ke dalam air. Tidak ada lagi bagian tubuhnya yang tersisa di permukaan air. Setiap mata melihat Agung Sedayu bergerak-gerak dalam air lalu cahaya merah yang terlihat pada tangannya tiba-tiba padam. Tidak ada lagi yang terlihat di bagian sungai Agung Sedayu menempa dirinya.

“Bagaimana Ki Waskita?” bertanya Ki Gede.

“Sebentar lagi KI Gede,” berkata Ki Waskita.

Sedangkan Ki Jayaraga berusaha menembus kegelapan dalam sungai akan tetapi pandangannya yang tajam tetap tidak menangkap bayangan yang bergerak. “Aku tidak mendengar apapun,” Ki Jayaraga berdesis  sambil memegang lutut Ki Gede.

Tiba-tiba terdengar ledakan dahsyat dari sungai dan satu bayangan melenting sangat cepat ke angkasa seakan-akan anak panah lepas dari busurnya. Dalam pada itu, berbarengan dengan suara ledakan tiba-tiba keadaan menjadi sangat terang di tempat Agung Sedayu mesu diri. Cahaya terang yang ditimbulkannya menebar hingga beberapa langkah dari tempatnya. Setiap orang dapat menyaksikan satu bayangan keluar dari air seperti terbang ke angkasa secepat sambaran kilat di langit. Bayangan itu kemudian berputar jungkir balik di udara lalu menghunjam ke tempatnya semula. Terlihat oleh Ki Jayaraga ketika tangan Agung Sedayu meluncur deras ke permukaan air sungai lalu seakan-akan dari telapak tangannya keluar sebongkah batu seukuran kerbau menghantam air. Cahaya yang mulai surut tiba-tiba lenyap berbarengan dengan tenaga cadangan Agung Sedayu menggapai permukaan air. Untuk kedua kalinya terdengar dentuman dahsyat dari percobaan yang dilakukan Agung Sedayu.

Keheningan lalu menyergap di setiap bagian sungai. Tubuh Agung Sedayu yang kembali masuk ke dalam sungai juga tidak menimbulkan suara. Kemampuan Agung Sedayu dalam menyerap bunyi sudah begitu tinggi hingga gemericik air pun tidak terdengar oleh ketiga orang pinunjul yang berada di sekitarnya.

“Ki Gede, marilah kita bersyukur kepada Yang Maha Agung. Sesuai pesan kitab, maka angger Agung Sedayu telah mencapai selapis lebih tinggi dan menutup bagian ilmu ini seperti yang tertera dalam kitab,” berkata Ki Waskita.

“Yang Maha Agung agaknya berkenan memberi angger Agung Sedayu satu kemampuan yang lebih tinggi barang selapis,” berkata Ki Gede Menoreh menarik nafas dalam-dalam. Ia kemudian beringsut menuruni tanggul menyongsong  Agung Sedayu yang terlihat berjalan ke tepi sungai. Ki Jayaraga dengan kepala tertunduk bergumam,”Engkau Yang Maha Agung, terima kasih,” dalam hatinya.

Tinggalkan Balasan