Lanjutan Api di Bukit Menoreh 397 – 13

Keesokan harinya di pendapa, Swandaru mengerutkan kening mendengar nama Ki Kawuk Blambangan disebut oleh petugas ronda. Ia mencoba mengingat mungkin pernah bertemu atau akan mengenali orang itu.

“Aku kira aku belum pernah mengenal nama itu. Ia orang yang pernah aku kenal lalu menggunakan sebutan lain, tetapi mungkin juga ia belum pernah aku temui,” kata Swandaru.

Pandan Wangi yang kebetulan berada didekatnya berkata,” kakang sebaiknya tidak terlalu percaya dulu dengan orang itu. Meskipun ia menawarkan sesuatu yang barangkali akan menarik perhatian kakang.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti maksud istrinya. Pandan Wangi mengingatkan suaminya tentang Ki Ambara yang pernah berjual beli kuda dengannya. Hingga kemudian mendorong Swandaru untuk mengangkat senjata melawan Mataram, meski pada akhirnya niat itu dapat diurungkan.

Akan tetapi Pandan Wangi juga terbayang kembali betapa suaminya pernah jatuh ke pelukan wanita yang lebih muda. Sebagai seodang wanita yang berusaha menunjukkan kesetiaan kepada suaminya, sudah barang tentu berat baginya untuk melupakan peristiwa itu. Meskipun Agung Sedayu tidak mengatakan yang sebenarnya, akan tetapi naluri kewanitaan Pandan Wangi mengatakan ada sesuatu yang telah terjadi pada suaminya.

Kehadiran Empu Wisanata yang membantah Ki Ambara, agaknya menjadi bekal baginya untuk kembali mengarungi rumah tangga dengan Swandaru. Sejak peristiwa Kedung Jati sebenarnyalah Pandan Wangi masih berusaha memendam dalam-dalam gejolak perasaannya. Kehadiran Ki Kawuk Blambangan ternyata mengoyak kembali luka lama yang belum kering.

Swandaru melihat kesan yang berbeda pada raut wajah Pandan Wangi.

“Baiklah, Nyi. Aku akan melihat dulu pembuatan bendungan itu. Setelah matahari berada di puncak, aku akan segera pulang,” berkata Ki Swandaru.

Nyi Pandan Wangi menganggukkan kepala sambil melepas kepergian suaminya.

“Agaknya aku memang harus selalu mengamati diri seperti pesan guru,” gumam Ki Swandaru dalam hatinya.

“Dan tentu saja kakang Agung Sedayu tidak akan mengampuni aku kali ini. Sekar Mirah juga mungkin saja tidak akan pernah memaafkan diriku lagi seperti yang telah berlalu,” desisnya dalam hati sambil matanya menatap bentangan sawah di hadapannya.

Lalu Swandaru bergegas menuju ke sungai yang sedang dibangun sebuah bendungan dan jembatan kecil. Beberapa pekerjaan hari itu telah ia limpahkan kepada para bebahu kademangan. Ki Demang Sangkal Putung sendiri sudah semakin beranjak usia, dengan begitu Ki Swandaru lebih banyak mewakili ayahnya dalam pekerjaan sehari-hari.

Tanpa setahu dirinya, sepasang mata lekat-lekat mengawasi Ki Swandaru Geni. Dari jarak yang cukup jauh, orang ini mengamati keadaan di sekeliling rumah Ki Demang Sangkal Putung.

“Perempuan itu mampu menyembunyikan ilmunya. Sudah tentu ia akan berubah menjadi seekor singa betina bila kedua pedangnya sudah tergenggam,” kata orang itu.

“Bagaimana aku dapat mendekati perempuan itu saat siang hari?” pikir orang itu yang ternyata adalah Ki Kawuk Blambangan. Sedangkan Bathara Keling telah mengikuti kepergian Ki Swandaru Geni.

“Baiklah, aku akan memutar dan mencoba memasuki halaman belakang rumah,” kata Ki Kawuk Blambangan. Kemudian ia bergeser memutari rumah Ki Demang untuk mencari tahu keadaan rumah itu di siang hari lebih mendalam.

Selama berhari-hari agaknya Ki Kawuk Blambangan telah melakukan pengamatan terhadap rumah yang ditinggali Swandaru dan keluarganya. Demikian pula dengan Bathara Keling yang juga mengikuti semua kegiatan Swandaru sehari-hari di kademangan. Maka dengan begitu segala sesuatu kebiasaan Swandaru dan istrinya telah mereka kenal dengan baik.

“Agaknya istri Swandaru tidak pernah menggunakan sanggar itu, Ki Keling,” kata Ki Kawuk Blambangan lalu “aku tidak pernah melihatnya memasuki sanggar di waktu aku mengamati rumah itu.”

“Ki Kawuk dapat mencoba untuk mengamati di malam hari,” kata Bathara Keling. Ki Kawuk mengangguk kecil, lalu dia memutuskan untuk suatu ketika akan mengamati sanggar itu di malam hari. Bahkan ia akan menggunakan sanggar itu jika rencana yang disusun berhasil memasuki kehidupan keluarga Swandaru Geni.

Senja yang berlalu dan telah berganti malam, Ki Kawuk Blambangan menepati janjinya untuk menemui Swandaru Geni. Sebenarnyalah Swandaru telah bersiap untuk menemui orang seperti yang telah disampaikan para pengawal kepadanya. Agaknya karena Swandaru merasa harus kembali ke dalam untuk mengingatkan Pandan Wangi agar ikut mengamati halaman belakang. Swandaru merasa perlu melakukan itu karena bukan suatu kebiasaan bagi dirinya menemui orang yang tidak dikenalnya untuk pertama kali pada malam hari. Karena itu ia merasa perlu memberi tahu istrinya untuk meningkatkan kewaspadaan.

Tidak berapa lama kemudian, ia telah kembali ke pendapa dan didapatinya seorang lelaki berdiri tegak di tengah halaman depan rumahnya. Demikian lelaki itu melihat Swandaru, ia lalu mengangguk hormat.

“Maaf, Ki Swandaru. Aku datang menemuimu di saat hari mulai gelap.”

Ki Swandaru termangu-mangu sejenak. Ia belum pernah mengenal orang itu. Namun ia segera teringat jika ia akan kedatangan seorang tamu usai senja. Ia pun segera mempersilahkan orang itu naik pendapa dan demikian orang itu duduk, maka Ki Swandaru memanggil seorang di dalam untuk membuatkan sekedar minuman dan makanan bagi tamunya.

Sejenak kemudian telah tersaji minuman hangat dan KI Swandaru mempersilahkan tamunya untuk minum.

“Marilah, Ki Sanak. Silakan minum mumpung masih hangat,” kata Ki Swandaru mempersilakan.

KI Kawuk Blambangan merasa harus menyesuaikan dirinya untuk mengikuti kebiasan tuan rumah. Sesaat ia termangu-mangu sejenak. Ia belum berkata tentang apapun akan tetapi lebih dahulu sudah dipersilakan untuk minum.

Sambil menganggukkan kepala dan tersenyum, Ki Kawuk Blambangan berkata,” terima kasih. Tidak baik menolak rezeki.” Ia kemudian minum beberapa teguk.

Setelah minum beberapa teguk, ia bertanya, “Maaf Ki. Jadi aku sekarang berhadapan dengan Ki Swandaru Geni?”

“Ya, Ki Sanak,” jawab Swandaru. Kemudian ia bertanya, “Siapakah Ki Sanak ini dan apakah maksud kedatangan Ki Sanak?”

“Namaku Ki Kawuk Blambangan. Apakah Ki Swandaru pernah mendengar?”

Swandaru menggelengkan kepala sambil berkata, “Belum, Ki Sanak. Aku belum pernah mendengarnya.”

“Baiklah. Agaknya aku harus bersikap terbuka dan berkata sebagaimana mestinya. Ki Swandaru, ketahuilah, sebagai murid utama Perguruan Orang Bercambuk tentu Ki Swandaru berada selapis tipis di bawah Ki Rangga Agung Sedayu sebagai kakak seperguruan,” berkata Ki Kawuk Blambangan. Lalu katanya,“ aku kemari untuk berteman dengan Ki Swandaru, agar aku yang sudah tua ini dapat memperluas ilmu kanuragan dan wawasan yang lain.”

“Aku tidak mengerti,” desis Ki Swandaru dengan dahi berkerut

“Ki Swandaru. Bukankah KI Swandaru telah melakukan perang tanding dengan Ki Rangga Agung Sedayu di Tanah Perdikan Menoreh?”

Raut muka Ki Swandaru memerah. Ia tidak suka dengan sikap Ki Kawuk yang terkesan sombong. Bahkan Swandaru sedikit tersinggung ketika Ki Kawuk mengatakan itu kepadanya. Karena baginya, kekalahan dari kakak seperguruannya seharusnya tidak diketahui oleh banyak orang. Oleh karenanya ia menjadi heran. Dipandanginya kedua mata Ki Kawuk seakan-akan menusuk isi hati dan mengungkapkan apa yang menjadi maksud kedatangan Ki Kawuk. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Dari mana Ki Kawuk mengetahuinya?”

“Ketika perang tanding itu terjadi, sebenarnyalah orang-orang dari perguruan Kedung Jati ikut menjadi saksi,” berkata Ki Kawuk Blambangan.

“Sebenarnyalah Pangeran Ranapati mengetahui perang tanding itu melalui pengikutnya yang menyusup di Perguruan Kedung Jati. Akan tetapi Pangeran Ranapati telah memutuskan untuk tidak turut dalam gerakan yang digagas oleh Ki Saba Lintang,” berkata Ki Kawuk Blambangan.

Jantung Swandaru berdentang lebih keras. Ia merasakan dirinya seperti terhempas dalam perut Merapi. Rasa heran semakin bergayut dalam hatinya.

“Siapakah sebenarnya orang ini dan  Pangeran Ranapati?” desis Ki Swandaru dalam hatinya.

“Aku mohon maaf. Aku akui ucapanku tadi tentu telah menyinggung Ki Swandaru. Dan aku bermaksud baik dengan berusaha menemui Ki Swandaru. Akan ada banyak hal yang dapat kita bicarakan.”

 

Tinggalkan Balasan