Lanjutan Api Di Bukit Menoreh 397 – 14

Namun kemudian, berkata Ki Kawuk,” sudahlah Ki. Aku lihat Ki Swandaru dalam gairah tinggi membangun kademangan. Keadaan sekarang ini tentu sangat jauh berbeda dibandingkan saat Tohpati masih disekitar kademangan.”

Ia melanjutkan,” perdagangan dan kiriman-kiriman hasil bumi dari pedukuhan agaknya deras mengalir melewati jalanan yang rata dan kokoh.”

Ki Kawuk merasa ia harus dapat mengendalikan pikiran Swandaru. Oleh karenanya ia segera mengalihkan pembicaraan seputar kemajuan Kademangan Sangkal Putung. Ki Demang Sangkal Putung yang sudah sering kesulitan menjalankan tugasnya kini menyerahkan sepenuhnya ke Swandaru. Kemudian pembicaraan mengalir lancar ketika Ki Swandaru menceritakan segala usaha yang dilakukan untuk kemajuan kademangan. Ki Kawuk sesekali manggut-manggut sambil mengerutkan kening. Bahkan Ki Kawuk juga menyatakan gagasannya kepada Ki Swandaru. Dalam pada itu, Ki Kawuk dalam pengakuannya adalah seorang anak saudagar hasil bumi. Dan perlahan-lahan keheranan Swandaru mulai terkikis dan untuk sejenak dia telah melupakan pertanyaan yang terbersit dalam hatinya.

Ki Kawuk juga bercerita tentang perjalanannya di masa muda ketika ia diajak oleh ayahnya ke berbagai daerah. Dari Kadipaten Gresik hingga Demak, dari Jepara hingga pesisir selatan Panaraga. Sesekali Ki Swandaru melontarkan pertanyaan yang dijawab cukup tangkas oleh Ki Kawuk.

Perlahan-lahan perasaaan Ki Swandaru mulai mengendap dan ia merasa sedikit tertarik pada Ki Kawuk Blambangan.

Hingga kemudian Ki Kawuk berkata, “baiklah Ki Swandaru. Aku menghargai kesediaan Ki Swandaru menerimaku sebagai seorang tamu. Mungkin pertemuan kita kali ini bukanlah pertemuan yang terakhir. Aku mengagumi semua gagasan Ki Swandaru untuk kemajuan kademangan ini. Mungkin di lain kesempatan, aku akan mendapat giliran menyampaikan gagasan yang sekiranya dapat diterima oleh Ki Swandaru demi kemakmuran rakyat kademangan ini.”

“Jika demikian, dimanakah Ki Kawuk tinggal selama ini di kademangan?”

“Dalam hal ini, aku tidak ingin merahasiakan siapa diriku. Maafkanlah aku, Ki Swandaru. Pada akhirnyalah Ki Swandaru akan mengetahui tempatku berteduh selama ini. Sungguh tidak pantas bagiku mengundang Ki Swandaru karena aku bukanlah siapa-siapa di tanah Mataram.”

Namun kemudian katanya, “Tetapi aku tahu bahwa aku akan datang satu dua kali ke rumah Ki Swandaru. Apabila hal semacam itu mendapat perkenan dari Ki Swandaru yang tentunya sudah sangat sibuk setiap hari.”

“Silahkan Ki Kawuk. Ki Kawuk dapat menemuiku kapan saja. Aku akan memberi pesan kepada para pengawal,” berkata Ki Swandaru.

Malam semakin erat menyelimuti Kademangan Sangkal Putung. Ki Kawuk Blambangan segera meminta diri dan berharap akan ada pertemuan dengan Ki Swandaru di hari-hari depan. Swandaru kemudian mengantar tamunya sampai ke regol halaman dan tidak melepaskan tatap matanya dari orang itu berjalan menjauhi rumahnya.

Demikianlah hingga keesokan harinya, Ki Kawuk berusaha untuk berada di tempat Swandaru singgah saat berkeliling kademangan. Namun begitu, Ki Kawuk bersikap seolah-olah dirinya tidak melihat Ki Swandaru. Ki Kawuk berusaha melibatkan dirinya dalam hubungan dengan rakyat sekitarnya. Selain ia akan mendapat bahan-bahan tentang kemampuan kademangan itu sendiri, ia juga dapat mempelajari cara berpikir Ki Swandaru Geni. Setelah beberapa pekan, ia berusaha menempatkan dirinya dalam lingkungan kademangan. Sebenarnyalah keadaan Ki Kawuk telah diketahui oleh Ki Swandaru yang agaknya telah menugaskan beberapa petugas sandi untuk memperhatikan gerak geriknya. Kesabaran Ki Kawuk dan kemampuannya mengamati keadaan agaknya memberikan hasil yang ia harapkan. Petugas sandi Kademangan Sangkal Putung tidak menemukan sesuatu yang tidak wajar selama kehadirannya di pedukuhan induk hingga pedukuhan sekitarnya.

“Tidak ada, Ki Swandaru. Beberapa malam aku juga mengikutinya hingga keluar pedukuhan induk. Agaknya ia memiliki rumah yang berada sedikit di luar Pedukuhan Randulanang,” berkata seorang petugas sandi.

“Terkadang ia terlihat di pasar lembu pada hari pasaran. Orang ini agaknya juga terampil jual beli lembu dan kerbau, Ki,” kata kawannya.

Dengan kepala terangguk-angguk, Ki Swandaru bergumam,” ia mungkin mengatakan yang sebenarnya.”

“Tentang apakah Ki Swandaru?”

“Dahulu ia merupakan anak saudagar. Pembicaraan yang kami lakukan juga memberikan tanda jika ia termasuk orang yang berwawasan luas.”

“Agaknya ia berkata jujur. Aku pernah melihatnya berbicara dengan seorang petani di pedukuhan sebelah selatan kademangan ini. Ia menunjuk ke suatu arah, lalu tangannya bergerak-gerak seakan-akan memberitahu petani itu tentang apa yang tepat dikerjakan,” kata petugas sandi yang pertama. Lalu ia menambahkan,” esoknya aku temui petani itu. Lalu ia mengatakan orang yang dijumpainya di pematang telah memberi serba sedikit tata cara tanam berselang-seling.”

Banyak bahan pembicaraan yang terjadi diantara ketiga orang itu. Lalu Swandaru Geni berkata dalam hatinya,” agaknya Ki Kawuk ini orang yang dapat dipercaya. Mungkin ada baiknya aku bicarakan dengan Pandan Wangi tentang kemungkinan Ki Kawuk untuk menempati satu rumah yang kebetulan kosong di pedukuhan induk.”

Sesampainya di regol halaman rumah Ki Swandaru, kedua petugas sandi itu meminta diri untuk pulang dan Swandaru segera menuju pakiwan untuk sekedar membenahi dirinya.

Setelah makan malam dengan keluarganya dan Pandan Wangi yang telah membereskan peralatan makan, lalu KI Swandaru berkata,” Wangi, bagaimana jika Ki Kawuk itu aku tempatkan di rumah yang dahulu ditempati oleh Ki Sunu?”

“Apakah kakang benar-benar mempercayai orang itu?” bertanya Pandan Wangi kepada suaminya.

“Tentunya aku bertanya kepadamu setelah aku mempunyai keyakinan tentang orang itu.”

“Baiklah kakang. Aku akan menurut apa yang kakang anggap baik,” kata Pandan Wangi. Ki Swandaru menangkap getar gelisah pada perasaan istrinya. Sebagai orang yang sudah hidup bersama sekian lama, Ki Swandaru dapat menangkap perasaan istrinya melalui raut muka dan sinar mata istrinya. Namun begitu, Ki Swandaru adalah orang yang keras hati, ia tidak mudah digoyahkan hanya dengan sinar mata dan raut muka meski itu orang yang ia cintai. Terbayang olehnya kemajuan-kemajuan yang akan diraih kademangan Sangkal Putung jika Ki Kawuk berada di sisinya untuk sekedar menjadi teman bicara.

Sementara itu di serambi Kepatihan, Ki Patih Mandaraka sedang duduk berhadapan dengan Pangeran Mangkubumi.

“Paman Patih, sampai hari ini kita belum mendapat kabar dari Glagah Putih dan Rara Wulan. Terlalu lama menunggu akan memberi kesempatan Pangeran Ranapati lebih bebas menyusun diri,” berkata Pangeran Mangkubumi.

“Angger Pangeran, agaknya keadaan di Panaraga belum dapat memberikan gambaran yang terang bagi Glagah Putih. Mungkin saja dia masih menunggu kesempatan mendekati Pangeran Ranapati.”

“Petugas sandi yang kita kirimkan telah memberi gambaran itu, paman.”

“Dan kita akan mengikuti gambaran itu agar lebih dapat memperluas pengamatan. Sehingga penilaian yang kita lakukan dapat menghindarkan benturan yang lebih luas. Apalagi angger Pangeran Jayanegara belum terlihat membantu Pangeran Ranapati.”

Pangeran Mangkubumi menarik nafas dalam-dalam. Ia mengakui kesabaran yang luar biasa dari Ki Patih untuk memutuskan sikap. Dan ia juga mengagumi kesabaran dan kecermatan Ki Patih Mandaraka dalam mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan.

“Apakah sebaiknya kita merundingkan keadaan Panaraga ini dengan Panembahan, Paman Patih?” bertanya Pangeran Mangkubumi.

“Sebaiknya memang begitu, angger. Aku kira dalam satu dua malam ini akan menerima laporan dari Ki Tumenggung Wirayudha sendiri. Ia telah mengirimkan empat atau lima petugas sandi yang terpisah dari Glagah Putih dan Rara Wulan,” jawab Ki Patih Mandaraka.

“Jika begitu, aku minta diri. Selebihnya aku akan menunggu bimbingan Paman Patih,” berkata Pangeran Mangkubumi sambil membungkuk hormat. Ki Patih Mandaraka melepaskan Pangeran Mangkubumi dengan senyum. Dalam hatinya, ia bertanya pada dirinya sendiri,”apakah akan terjadi pertumpahan darah demi sebuah tahta Mataram?”

Sedangkan di Panaraga sendiri, pengikut Pangeran Ranapati dan prajurit Panaraga ternyata gagal menangkap mereka yang keluar dari rumah. Kelompok yang dipimpin oleh Glagah Putih dan Rara Wulan telah berhasil keluar dari kadipaten. Pengalaman Glagah Putih dan Rara Wulan selama menjadi pengembara telah membantu mereka untuk menghilangkan jejak. Sebenarnyalah Nyi Kantil kembali ke Panaraga mengikuti Rara Wulan. Bagaimanapun Rara Wulan tidak sampai hati membiarkan Nyi Kantil seorang diri diantara banyak lelaki. Menjelang matahari menggapai puncaknya, kedua suami istri tiba di rumah Madyasta.

“KI Madyasta, kita harus memikirkan cara supaya Nyi Kantil tidak menganggu pengamatan kita di kadipaten,” berkata Glagah Putih setelah mereka saling bertanya tentang keadaan masing-masing.

“Memang benar Ki Glagah Putih. Ki Darma Tanda sendiri keberatan jika Nyi Kantil berada di rumahnya hingga waktu yang tidak dapat ditentukan. Meski begitu, ia telah mengirim orang untuk menemui salah satu sanaknya di pedukuhan yang jauh dari sini. Menurut Ki Darma Tanda, bibinya ini tinggal bersama seorang anak perempuan yang sudah berusia cukup. Jadi, sementara ini, menurutku usulan Ki Darma Tanda dapat diterima.”

“Apakah Ki Madyasta berkata tentang tujuan kita?”

“Tentu tidak. Aku hanya mengatakan kepadanya jika seorang keluargaku telah menyusul kemari untuk sekedar melihat Panaraga. Dan jika memungkinkan mungkin saudaraku akan pindah ke Panaraga, begitu aku katakan.”

“Oh, tentulah. Ki Madyasta akan selalu dapat mengamankan cara terbaik bagi Mataram,” berkata Glagah Putih dengan senyum di wajahnya. Ki Madyasta mengangguk hormat lalu  menarik nafas dalam-dalam, katanya,”aku telah mendengar beberapa prajurit kadipaten tentang Pangeran Ranapati. Pangeran jayaraga telah menerima usulan Mas Panji Wangsadarana untuk membentuk pasukan kecil yang mirip dengan pasukan khusus yang dipimpin Ki Rangga Agung Sedayu.”

Darah Galagah Putih dan Rara Wulan seakan mengalir lebih cepat mendengarkan berita Ki Madyasta. Sejenak kemudian, berkata Glagah Putih,”bagaimana kita melaporkan ke Mataram?”

“Aku akan pergi ke Mataram. Dan agaknya Ki Tumenggung Wirayudha telah mengirim dua orang petugas yang menggantikan Ki Sumbaga dan Ki Sungkana,” jawab Madyasta.

Kemudian, ia berkata,” Malam nanti Ki Galagah Putih dan Nyi Rara Wulan akan dapat bertemu dengan kedua orang itu di alun-alun kadipaten. Aku akan menyertai kalian. Aku kira kita tidak perlu menyembunyikan diri dari prajurit Panaraga.”

Glagah Putih berpandangan dengan istrinya, lalu Rara Wulan menganggukkan kepala. Madyasta kemudian mempersilahkan suami istri itu untuk beristirahat barang sejenak. Sedangkan ia akan menemui kedua petugas sandi yang baru untuk melakukan beberapa langkah untuk mengamankan para petugas sandi dari penglihatan para pengikut Pangeran Ranapati.