Lanjutan Api di Bukit Menoreh 398 – 1

Glagah Putih merayap mendekati gardu jaga, begitu pula Ki Ajar Gurawa. Kemampuan mereka menyerap bunyi telah cukup tinggi sehingga tidak ada suara yang terdengar para penjaga. Ki Ajar Gurawa menggamit Glagah Putih dan memberi isyarat untuk pergi meninggalkan gardu jaga. Keduanya surut perlahan lalu bangkit dan berjalan menuju dinding utara. Mereka meloncat dan segera bertelungkup rapat di atas dinding pembatas. Setelah mengamati keadaan dan jarak antar penjaga, Glagah Putih menyelinap turun mendekati seorang penjaga sebuah rumah kecil. Sedangkan Ki Ajar Gurawa berjalan jongkok menyusuri dinding dan bersembunyi di balik rimbun tanaman perdu.

Dalam pada itu, Ki Ajar Gurawa dan Glagah Putih telah mengetrapkan Aji Sapta Pangrungu untuk menandai tempat orang-orang yang sedang berbincang. Pendengaran Glagah Putih menangkap pembicaraan orang yang agaknya berada di sebuah ruangan dalam istana. Glagah Putih melesat secepat tatit mendekati Ki Ajar tanpa diketahui penjaga yang berada di dekatnya.

Katanya berbisik,”Ki Ajar mendengar orang bercakap di sebelah dalam?”

“Ya,” jawab Ki Ajar,” apakah kita bergeser ke sana?”

Glagah Putih menganggukkan kepala. Ki Ajar tertunduk dalam. Setelah menarik nafas dalam-dalam,” marilah. Kita harus berhati-hati. Kemampuan seorang pangeran Mataram sudah barang tentu tidak jauh jaraknya dengan kakakmu, Agung Sedayu,” berkata Ki Ajar.

Glagah Putih terdiam merenungi ucapan Ki Ajar. Lalu ia mendongakkan kepala dan memberi isyarat pada Ki Ajar untuk bergerak melalui atap. Sejenak kemudian, mereka berdua sudah berlompatan di atas atap. Meloncati satu bangunan ke bangunan lain tanpa menimbulkan suara. Setelah melewati beberapa bangunan, kedua orang berilmu tinggi itu telah berada di sebelah luar bangunan besar dan berukiran halus di daun pintu yang kokoh.

” Panembahan Hanyakrawati dan Ki Patih agaknya belum mengetahui kegiatan kita di Panaraga. Aku belum melihat seorang yang dicurigai sebagai petugas sandi,” kata seseorang.

“Atau mungkin petugas sandi kita yang gagal mengenali petugas Mataram,” berkata seorang yang lain.

“Kakang Mas Panji, agaknya kakang menganggap petugas sandi Panaraga,” berkata orang pertama kepada orang yang dipanggil Mas Panji.

“Tidak pangeran. Aku lebih mengkhawatirkan Mataram telah menyusupkan orang kemari,” berkata Mas Panji.

“Jika benar dugaanmu, perkiraan waktu yang mana digunakan kakang sebagai alasan khawatir?” orang yang dipanggil pangeran itu bertanya lebih dalam.

Dalam pada itu, di dekat setumpuk kayu sebelah menyebelah dengan ruangan itu, Glagah Putih dan Ki Ajar Gurawa bertukar pandang. Agaknya mereka mempunyai dugaan yang sama jika orang yang dipanggil pangeran itu adalah Pangeran Ranapati.

“Sejak Pangeran Jayaraga menggelar perang tanding memilih senapati. Sudah barang tentu Mataram mendengar, pangeran. Kabar itu akan mudah terhembus oleh angin timur,” jawab Mas Panji.

“Kau sepertinya tidak memberiku keleluasaan, kakang. Sedangkan gelar senapati itu juga diperlukan Pangeran Jayaraga untuk memperkuat susunan prajuritnya,” dengan nada tinggi orang yang dipanggil pangeran itu mengucap kata-kata.

“Pangeran keliru memberi arti ucapanku. Maksudku adalah orang-orang di Mataram mungkin telah berada di Panaraga. Kita terlambat untuk memberi batasan di setiap jalur keluar masuk. Seharusnya kita lakukan itu sebelum gelar senapati dibuka oleh Pangeran Jayaraga,” berkata tenang Mas Panji.

Sesaat teman bicara Mas Panji mengerutkan keningnya lalu menganggukkan kepala. Kemudian ia berkata,”jika begitu, sekarang aku akan panggil lurah prajurit yang sedang berjaga.”

“Pangeran Jayaraga akan bertanya jika kau lakukan itu. Ingat pangeran, istana ini bukan dalam pengawasanmu. Sedangkan Ki Tumenggung Purbasena dan Ki Tumenggung Wirataruna saat ini sedang bersama Pangeran Jayaraga.”

“Baiklah. Sekalipun aku khawatir malam ini ada penyusup yang memasuki istana.”

“Mereka akan menyerahkan nyawa semudah memijat buah ranti. Setiap lorong dan pintu telah ada prajurit jaga. Para perondan juga berkeliling dalam jarak dekat. Eyang Kalayudha sedikit memberiku ketenangan pada malam ini. Dari biliknya sekarang, tentu ia akan dapat mengenali detak jantung orang yang memasuki lingkungan istana.”

“Apakah kau belum tahu Eyang Kalayudha telah meninggalkan istana menjelang senja?”

“Kemana ia pergi?” bertanya Mas Panji sesaat setelah terkejut ketika mengetahui kepergian Eyang Kalayudha.

“Ia telah menuju pedukuhan sebelah menyebelah dengan Mataram. Kenapa denganmu hingga tidak mengetahui kepergian Eyang Kalayudha?” bertanya heran orang yang dipanggil pangeran itu. Mas Panji hanya tersenyum melihat wajah penuh keheranan di hadapannya.

“Tidak selamanya orang itu selalu bekerja. Ada saatnya untuk melenturkan jiwa yang mulai dilanda ketegangan,” desis  Mas Panji tanpa menyebutkan keberadaanya di waktu itu. Orang bertubuh tinggi itu rupanya belum mengenal kesukaan Mas Panji terhadap penari tayub. Lalu ia bangkit dari duduknya, orang itu menuju pintu dengan langkah panjang kemudian berjalan ke selatan. Ia menggerakkan tangan kepada Mas Panji untuk tidak bersuara. Keadaan dalam ruangan yang tiba-tiba sunyi menimbulkan pertanyaan bagi Ki Ajar dan Glagah Putih. Seketika mereka menyadari ketika lamat-lamat derit pintu terbuka mencapai pendengaran mereka. Menyadari kehadiran mereka agaknya telah diketahui, keduanya beringsut mundur lalu lenyap di balik dinding sebuah pondok kecil.

Panggraita orang yang dipanggil pangeran membawanya tepat menuju bangunan kecil yang digunakan kedua petugas Mataram bersembunyi. Glagah Putih yang sekilas melihat satu sosok bertubuh tinggi besar melintasi lampu minyak yang terpasang di tepi lorong. Ia tidak melupakan bentuk tubuh itu karena pernah dilihatnya di halaman depan rumah Pangeran Ranapati.

Glagah Putih dan Ki Ajar Gurawa beringsut semakin cepat mendekati dinding pembatas halaman.

“ Bunyikan tanda bahaya! Istana telah tembus oleh penyusup!” perintah Pangeran Ranapati kepada seorang prajurit yang melihatnya bergegas mendekati dinding yang juga sedang dicapai kedua petugas Mataram. Prajurit itu segera memukul kentongan kecil dengan nada titir.

“ Mereka mengetahui kehadiran kita, Glagah Putih. Siapkan dirimu. Satu dua lapis ilmu harus kau lontarkan dan segera kita keluar dari halaman ini,” berkata Ki Ajar yang telah menutup sebagian wajahnya dengan ikat kepala. Galagah Putih melakukan hal yang sama. Kini keduanya telah siap bertempur sekedarnya. Dengan wajah tertutup dan hanya sepasang mata yang terlihat, keduanya akan sulit dikenali oleh siapapun yang akan berada di belakang pondok, termasuk Pangeran Jayaraga.

Beberapa prajurit segera mengepung tempat itu. Tubuh Glagah Putih deras menembus prajurit yang belum rapat mengepung. Sebagian terpelanting oleh kibasan tangan Glagah Putih yang dilambari ajian Namaksara lapis tipis. Sebuah tombak milik prajurit berhasil direbutnya. Glagah Putih melayang ringan bertengger diatas dinding. Dalam pada itu, Glagah Putih mengarahkan pandangannya ke sejumlah orang yang terlihat keluar dari sebuah bangunan yang cukup besar.

“Pangeran Jayaraga,” desis Glagah Putih dalam hatinya. Terhentak detak jantungnya melihat satu sosok yang berlari di belakang Pangeran Jayaraga. Ingatan Glagah Putih agaknya cukup tajam ketika melihat orang yang berada di belakang Pangeran Jayaraga.

“Ki Tumenggung Wirataruna? Benarkah yang aku lihat?” berkata Glagah Putih sementara ia mengingat peristiwa disumbatnya saluran air oleh orang-orang suruhan Ki Tumenggung Wirataruna. Ia menimang tombak yang berada dalam genggamannya, tiba-tiba tombak itu meluncur deras tepat kea rah Tumenggung Wirataruna. Glagah Putih sengaja tidak mengarahkan lontaran tombaknya ke Pangeran Jayaraga. Ia hanya ingin sekedar menghambat laju Pangeran Jayaraga dan orang yang menyertainya.

Dalam pada itu, Ki Ajar Gurawa yang beringsut ke arah berseberangan dengan Glagah Putih telah bertempur dengan satu dua prajurit yang mendekatinya. Tanpa kesulitan yang berarti, Ki Ajar telah merobohkan keduanya dan merenggut pedang dari seorang prajurit.  Ki Ajar melengking panjang lalu membentak dahsyat. Tiba-tiba ia melepaskan pedang itu ke Pangeran Ranapati yang semakin dekat dengannya. Pangeran Ranapati melihat bahaya datang padanya, ia memutar berhenti sejenak lalu kedua tangannya mengembang dan mendorong pedang yang berjarak dua lengan darinya. Satu benturan membahana ketika kedua tenaga yang kasat mata berbenturan di udara. Pedang yang dilemparkan Ki Ajar terjatuh tanpa mampu menggapai tubuh Pangeran Ranapati, meskipun begitu pada akhirnya Ki Ajar telah bertengger sebelah menyebelah dengan Glagah Putih. Sejenak saling bertukar pandang, keduanya melompat turun dan lenyap dalam gelap malam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *