Lanjutan Api di Bukit Menoreh 398 – 4

Dari sebelah luar rumah Ki Madyasta, terdengar burung beluk watu berbunyi. Keadaan seperti itu semakin mencurigakan bagi Rara Wulan dan Ki Madyasta. Sebagai orang yang berilmu tinggi, Rara Wulan mengetrapkan Aji Pameling kepada suaminya. Tetapi Glagah Putih sama sekali tidak memberikan jawaban. Sementara Rara Wulan telah berdiri di sebelah Ki Madyasta, terdengarlah derit pintu yang terbuka. Kemudian dari pintu bagian dalam keluarlah Nyi Kantil. Rara Wulan memberi isyarat untuk diam dan memintanya kembali ke dalam bilik. Ki Madyasta tiba-tiba bangkit dan mendekati Nyi Kantil. Tidak disangka-sangka oleh Nyi Kantil, jemari kokoh Ki Madyasta memijat salah satu urat di punggungnya. Dengan cekatan Ki Madyasta merangkul tubuh Nyi Kantil yang lemas terkulai. Ki Madyasta bergegas membopong tubuh Nyi Kantil ke atas pembaringan. Jantungnya berdegup kencang melihat bibir Nyi Kantil yang seakan tersenyum kepadanya. Tak berhenti di situ, darah Ki Madyasta mengalir lebih deras dan ia merasakan kegugupan yang tiba-tiba mencengkeram jantungnya.

“Maaf Nyi Kantil. Aku terpaksa menjadikanmu pingsan karena kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi,” desah Ki Madyasta pelan. Mata Ki Madyasta lekat menatap wajah Nyi Kantil. Gemuruh di dadanya seakan-akan ingin mendesak keluar untuk berkata sebenarnya. Peluh membasahi kening Ki Madyasta. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangannya. Ia harus mengolah rasa dalam hatinya.

“Baiklah, aku akan membangunkan kedua murid Ki Ajar,” desis Ki Madyasta dalam hatinya, lantas ia memberi pertanda kepada Rara Wulan bahwa ia akan ke bilik kedua murid Ki Ajar.

Sejenak kemudian ia telah berada di depan pintu bilik.

“Lenggana, Paripih!” bisik Ki Madyasta memanggil kedua murid Ki Ajar. Diketuknya daun pintu dengan ujung kukunya.

Lenggana yang berkemampuan lumayan dan pendengaran yang terlatih segera mendengar suara yang memanggilnya.

“Lenggana, mendekatlah tanpa ribut,” bisik Ki Madyasta sejenak ketika ia mendengar suara seperti orang beringsut.

Lenggana yang mengenali pemilik suara itu, lantas membangunkan adiknya dan memberi perintah yang sama. Lenggana kemudian merunduk dan membuka pintu perlahan.

“Ki Madyasta,” berkata Lenggana namun ia tak sempat melanjutkan kalimatnya. Ki Madyasta menyuruhnya diam dan dengan gerakan tangan ia membagi tugas bagi Lenggana dan adiknya.

Ki Madyasta beserta Paripih menuju pintu belakang. Lenggana beranjak ke depan menyertai Nyi Rara Wulan. Rara Wulan berpaling ke belakang dan tersenyum pada Lenggana sambil menunjuk satu tempat baginya untuk mengamati keadaan. Berbagai pertanyaan bergumul dalam benak Lenggana, Rara Wulan memberi isyarat untuk mengendapkan diri seakan ia tahu apa yang berkecamuk dalam pikiran Lenggana. Lenggana segera memahami isyarat yang diberikan Rara Wulan.

“Agaknya sesuatu yang sangat rawan telah terjadi. Nyi Rara Wulan dan Ki Madyasta pun seperti belum mengetahui apa sebenarnya yang terjadi di luar. Hei, guru dan Ki Glagah Putih belum kembali ke rumah?” desis Lenggana dalam hati. Ia segera bersiap diri menghadapi kemungkinan yang akan menimpa mereka.

Glagah Putih dan Ki Ajar telah melintasi jalan yang akan melewati pintu belakang rumah Ki Madyasta. Namun demikian, mereka mengurungkan niatnya setelah melihat sejumlah orang berkuda sedang melakukan ronda. Lantas mereka mengambil jalan memutar menuju regol rumah. Sebenarnyalah ketika Glagah Putih dan Ki Ajar memasuki halaman rumah, keduanya mendengar gemerisik dedaunan pohon jambu yang tidak sedang tertiup angin. Pohon jambu yang berada di sebelah luar halaman rumah memang terlindung dari setiap pandangan orang yang melintasi halaman rumah. Sebelah menyebelah dengan pohon jambu adalah pohon asam dan pohon tanjung. Penglihatan Glagah Putih serta Ki Ajar terhalang gelapnya malam dan rerimbun daun. Kedua orang Mataram itu segera memisahkan diri. Glagah Putih menyusup ke sebelah kiri rumah dan melenting di sebuah dahan pohon tanjung. Sedangkan Ki Ajar Gurawa menyelinap ke sebelah kanan dan bersembunyi di balik rumpun bambu. Beberapa lama mereka berada di tempat yang berbeda menanti keadaan yang dapat saja berubah.

Sementara itu, beberapa orang berkuda telah berada di dekat dinding halaman belakang.

“Apakah kau melihat bayangan orang di sekitar sini?” bertanya orang yang tinggi dan otot lengannya Nampak menonjol.

“Aku tidak melihat apapun, Ki Kebo Langit,” kata seorang yang berusia agak muda.

“Tentu aku tidak salah melihat. Orang ini sudah barang tentu memiliki ilmu yang cukup. Lihatlah, mereka tidak meninggalkan jejak di tanah yang basah,” berkata Ki Kebo Langit sambil menunjuk ke bagian tanah yang dimaksudkannya. Keremangan lampu minyak ditambah sesekali kilat yang menyambar agaknya memberikan penerangan yang cukup bagi orang-orang yang menyertai Ki Kebo Langit.

“Kita periksa sekitar rumah ini dan lorong-lorong jalan yang berkisar beberapa ratus langkah dari sini. Lakukanlah!” perintah seseorang berambut panjang yang berpakaian seperti prajurit Panaraga.

Tiga empat orang kemudian menyebar menyusuri setiap lorong jalan. Sementara Ki Kebo Langit dan lurah prajurit berpindah ke jalan yang berada di depan rumah Ki Madyasta. Agaknya perintah Pangeran Jayaraga melalui Ki Tumenggung Wirataruna telah mencapai gardu-gardu dan para prajurit yang melakukan perondaan. Dalam pada itu, Ki Kebo Langit bersama dengan Ki Lurah Prajurit Waluya sedang menuju istana kadipaten. Perintah Pangeran Jayaraga diterima oleh Ki Waluya saat menjumpai beberapa prajurit di sebuah gardu, yang terletak beberapa puluh tombak di sebelah utara, dari istana kadipaten.

 

Post Author: Ki Banjar Asman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *