Lanjutan Api di Bukit Menoreh 398 – 6

Sehingga kemudian terjadi suatu benturan yang dahsyat antara keduanya. Benturan kekuatan antara Ki Madyasta yang menyalurkan gejolak hatinya yang meledak dengan kekuatan lurah prajurit yang tegak seperti batu karang. Demikianlah maka kedua kekuatan itu telah melemparkan keduanya ke belakang beberapa langkah. Sekejap kemudian, keduanya telah terlibat dalam pertarungan yang seimbang. Semua pukulan dilakukan dengan pengerahan tenaga cadangan, sesekali terdengar angin mendesir, keduanya adalah prajurit tangguh sehingga selalu dapat saling mengelak dan menangkis. Ki Madyasta dan lurah prajurit itu sendiri sudah telah berada di keputusan akhir jika perkelahian ini harus segera diakhiri dengan cepat. Mereka saling serang dan sukar dikatakan siapa yang lebih unggul karena kedua orang itu saling membalas setiap serangan lawan dengan serangan balasan yang tidak kalah dahsyatnya.

Paripih yang melihat Ki Madyasta telah terlibat perkelahian yang menggetarkan, segera menyerbu ke satu dua prajurit yang berdiri mengawasi pertarungan itu. Dari jarak sangat dekat, Paripih dengan cepat dan mengerahkan seluruh tenaga cadangannya segera menghantam kedua prajurit itu. Dua prajurit itu memang tidak bersiap sebelumnya, hingga dengan sangat mudah Paripih menggapai kening kedua prajurit dan menutupnya dengan tendangan yang mendarat di dada mereka. Kedua prajurit itu merasakan  kepala pening dan pandangan mata yang kabur, sebelum mereka menyadari sosok penyerangnya, mereka telah terkulai menahan sakit dan tidak mampu bangkit lagi.

Sejenak kemudian, ketiga prajurit yang lain segera mengeroyok Paripih. Paripih yang telah mempunyai pengalaman bertempur sejak bergabung dengan kelompok Gajah Liwung tidak mengalami kegugupan. Ia dengan tenang mengelak dan sesekali membalas serangan para pengepungnya. Meskipun kemampuan prajurit itu jauh berada di bawah lapisan yang ia miliki, ketiga prajurit Panaraga dapat melakukan perlawanan yang cukup berarti. Ketiganya dapat bekerjasama mengepung Paripih, sesekali Paripih terdesak mundur hingga menggunakan meja dan perangkat rumah lainnya untuk melindungi dirinya dari serangan ketiga prajurit itu. Namun begitu ia masih sempat melirik pertarungan Ki Madyasta dengan lurah prajurit Panaraga.

Perkelahian yang itu benar-benar menegangkan dan kedua pihak dapat mengerti bahwa lapisan mereka tidak banyak selisihnya, sekalipun keduanya mempunyai tata gerak olah kanuragan yang berbeda. Kedua orang ini, seperti halnya perkelahian antara Paripih dan ketiga prajurit, mempunyai tujuan yang sama. Orang-orang Mataram berkelahi untuk sebuah tujuan mulia yaitu menjaga kepercayaan yang dilimpahkan oleh Panembahan Hanyakrawati sebagai satu-satunya orang yang berkuasa di Mataram sesuai paugeran. Sedangkan orang-orang Panaraga berkelahi karena mereka tidak mengetahui jika gerakan yang digalang oleh Pangeran Ranapati sebenarnya menyimpang dari paugeran. Sehingga mereka bertempur hingga ajal menjemput itu karena kesetiaan pada atasan tanpa disertai nalar yang cukup.

Rara Wulan yang mendengar keributan di bagian dalam segera menerjang keluar, menyerbu Ki Kebo Langit. Ki Kebo Langit agaknya telah bersiap dengan segala kemungkinan, segera memapas serangan Rara Wulan seraya beralih turun ke halaman. Sementara Lenggana, tanpa diperintah siapapun, segera menyelinap keluar menghadapi lima prajurit yang berada di halaman depan. Kelima prajurit itu segera menangkap sosok bayangan yang keluar dari pintu dan dengan cepat mereka mengepungnya. Sejenak kemudian, keenam orang itu telah terlibat pertarungan yang tidak seimbang dari jumlah, Namun putaran pedang Lenggana yang bertubi-tubi itu akhirnya mengoyak kepungan lima prajurit Panaraga.

Serangan Rara Wulan bergelombang deras susul menyusul, dalam pada itu Ki Kebo Langit tidak kehilangan pengamatan dirinya. Ia dengan tenang bergerak gesit diantara serangan Rara Wulan dan sesekali melakukan serangan balasan. Serangan Rara Wulan semakin lama menjadi semakin cepat. Bahkan ia melipatgandakan tenaganya hampir-hampir tak tertahankan lagi meskipun belum pada tataran tenaga cadagan. Ki Kebo Langit yang sama sekali belum tersentuh pada bagian tubuh yang berbahaya diam-diam berdecak kagum pada kemampuan yang diperlihatkan Rara Wulan. Secara tiba-tiba serangan Ki Kebo Langit datang menyambar dengan cepatnya. Seperti pusaran angin, kini serangannya membelit Rara Wulan dari setiap penjuru mata angin. Seruan tertahan terdengar dari bibir Rara Wulan ketika tendangannya kaki kiri yang memutar membentur sebelah luar pangkal lutut kaki Ki Kebo Langit. Agaknya Ki Kebo Langit sedang menjajagi kekuatan tenaga wadag Rara Wulan. Sedangkan Ki Kebo Langit sendiri merasakan denyut pelan pada pangkal lututnya yang berbenturan keras dengan tumit Rara Wulan.

Glagah Putih yang mendengar suara perkelahian di bagian dalam rumah, segera mengalihkan dirinya ke bagian depan karena dari arah itu ia mendengar suara Ki Kebo Langit yang berkata-kata cukup keras. Dan ia juga mendengar suara istrinya yang bertarung dengan Ki Kebo Langit di halaman depan.

Glagah Putih melangkah dengan tenang namun ia tidak dapat menahan gejolak hatinya, ia berkata,“Ki Kebo Langit, kau tidak lelah membuat kegaduhan di tanah Mataram. Sejak kekalahanmu di Madiun, agaknya kau tidak segera berdamai dengan masa lalumu. Kalau kau melukai perempuan itu, baiklah. Aku kira kita akan mati bersama-sama. Kau tidak akan dapat menangkap siapapun yang ada di rumah ini. Ki Kebo Langit, aku telah membuat timbangan diantara kekuatan kita. Mungkin kau menang dalam jumlah tetapi semua orang-orangmu dan kau sendiri akan tergeletak di pekarangan rumah ini. Jangan pernah bermimpi mengikat tangan orang-orang Mataram.”

Ki Kebo Langit segera menjauhi Rara Wulan. Mendengar suara suaminya semakin mendekat, Rara Wulan kemudian menahan serangannya. Sementara itu dada Ki Kebo Langit berdesir. Ia segera teringat pertempuran di dalam kota Madiun dan kemudian pertempuran di padepokannya. Ia tidak begitu saja percaya pada orang yang mengatakan itu. Ketika dilihatnya seseorang melangkah maju mendekatinya, agaknya ia sedikit mengenali Glagah Putih.

“Bukankah kau yang pernah ikut serta menyerbu padepokanku?” bertanya Ki Kebo Langit.

Glagah Putih menganggukkan kepalanya. Lalu katanya,” kau telah mengingat penyerbuan itu, Ki Kebo Langit. Sekarang, marilah aku akan selesaikan pekerjaan Ki Gede Menoreh dan kakang Agung Sedayu yang belum tuntas pada waktu itu.”

Glagah Putih segera memberi isyarat pada Rara Wulan untuk memeriksa bagian dalam rumah. Sementara Glagah Putih keluar dari persembunyian, Ki Ajar Gurawa juga telah memutuskan untuk keluar ketika ia mendengar keributan di bagian dalam rumah. Dalam pada itu, Ki Ajar Gurawa melihat Glagah Putih telah berhadap-hadapan dengan Ki Kebo Langit. Ia segera melibatkan dirinya dalam perkelahian bersama Lenggana. Dalam waktu singkat, kelima prajurit itu telah berhasil mereka tundukkan.

Ki Kebo Langit segera percaya akan kata-kata itu. Seluruh prajurit Panaraga pasti akan mati. Ia masih tetap tegak berdiri ditempatnya sambil memperkirakan kelompok prajurit perondan yang bertugas menyusuir jalan-jalan di sekitar rumah Ki Madyasta segera menemuinya.

Rara Wulan segera menghampiri Nyi Kantil yang masih tergeletak di lantai rumah. Kemudian ia membuka beberapa simpul urat agar Nyi Kantil segera bangun dari pingsannya. Tak lama kemudian Nyi Kantil telah sadar diri dan perlahan membuka matanya. Suaranya yang hampir saja keluar dari tenggorokan segera tertahan oleh telapak tangan Rara Wulan yang kemudian memintanya untuk diam dan beranjak masuk ke bilik.

“Pakailah kain ini, nyi. Kita akan segera keluar dari rumah ini dan kau kenakan pakaian yang berbentuk sama dengan yang aku pakai,” kata Rara Wulan di dalam bilik. Nyi Kantil menuruti saja apa yang dikatakan Rara Wulan. Ia sudah tidak dapat melakukan apapun di tengah-tengah pertarungan yang terjadi di dalam rumah selain menumbuhkan harapan dan kepercayaan kepada seluruh orang-orang Mataram. Sejenak kemudian, Rara Wulan menyingkapkan pintu sedikit terbuka dan mencoba menilai perkembangan yang terjadi di dalam rumah. Agaknya Paripih mulai sedikit terdesak dan terkurung dalamkepungan ketiga prajurit Panaraga. Sedangkan Ki Madyasta masih terlibat pertarungan yang dahsyat dengan lurah prajurit. Rara Wulan segera memutuskan mengambil dua orang prajurit Panaraga yang menjadi lawan Paripih. Tak berapa lama kemudian, ketiga prajurit Panaraga itu dapat ditundukkan.

Tinggalkan Balasan