Lanjutan Api di Bukit Menoreh 398 – 8

Sebenarnyalah Sekar Mirah telah mengetahui kehadiran orang-orang yang tidak dikenalnya telah mengamati lingkungan rumahnya. Namun ia tidak segera memberitahukan pengamatannya itu kepada Agung Sedayu yang sedang berjuang keras menempa diri untuk merambah lapis baru ilmu dari kitab Ki Waskita. Pada suatu malam ketika Agung Sedayu masih berada di dalam sanggar, Sekar Mirah menyatakan kegelisahannya kepada Ki Jayaraga yang sudah dianggap seperti orang tuanya sendiri.

“Kiai, aku merasakan sesuatu yang berbeda sedang mengawasi keadaan rumah ini,” berkata Nyi Sekar Mirah.

“Katakanlah, ngger. Mungkin memang ada yang luput dari pengamatanku dan Ki Waskita. Karena kami berdua juga sedang membagi perhatian untuk perkembangan angger Agung Sedayu.”

Setelah mengendapkan perasaannya yang sempat bergejolak sepeninggal suaminya, Nyi Sekar Mirah berkata,” kiai, sudah barang tentu kiai telah mengenal lingkungan rumah ini dan tetangga di sekitar kita.” Ia terdiam sejenak ketika melihat Ki Jayaraga memanggutkan kepala dengan mata terpejam. Kemudian,” beberapa hari ini aku melihat seorang penjual dawet pikulan di depan halaman rumah Ki Sunu. Ia berada di sana dalam waktu yang cukup lama, kiai. Aku mengetahui itu ketika pergi ke pasar. Dan ternyata ia masih berada di sana sepulangku dari pasar. Aku tanyakan itu pada istri Ki Sunu dan ia memang memperhatikan orang itu. Kemudian Sukra juga mendapati penjual kayu bakar yang berbeda orang sering melintas di depan rumah ini di saat siang.”

“Angger, selama ini setiap orang yang berjualan di depan rumah ini mempunyai kebiasaan memanggil nama Glagah Putih atau Sukra. Dan karena mereka tidak memanggil-manggil nama mereka, lalu kau menjadi curiga?”

“Begitulah kiai.”

“Baiklah. Sementara ini kita tidak perlu memberitahu angger Agung Sedayu agar nalar budinya tidak terganggu dengan kehadiran orang-orang yang kau curigai. Tetapi aku akan membawa persoalan ini kepada Ki Waskita dan Ki Gede. Beritahukan kepada suamimu jika ia sudah selesai dengan lelakunya.”

“Baik kiai.” Sekar Mirah kemudian minta diri untuk kembali mengerjakan tugas-tugasnya sebagai seorang perempuan dewasa.

Di barak pasukan khusus, beberapa lama kemudian, Ki Rangga Agung Sedayu telah memanggil Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Kertawirya. Sedangkan Ki Lurah Sanggabaya sedang bertugas memimpin latihan gelar perang yang mengikat empat lima prajurit dalam satu kelompok. Gelar perang ini merupakan gagasan Ki Rangga Agung Sedayu yang dikembangkan untuk menampung sejumlah kelebihan yang ada pada beberapa pasukan khusus. Kedua lurah prajurit telah memasuki bilik khusus yang disediakan untuk Ki Rangga Agung Sedayu. Setelah saling memberi hormat, Agung Sedayu mempersilahkan keduanya untuk duduk. Ternyata keduanya memilih duduk di atas tikar pandan berwarna coklat yang terbentang sebelah menyebelah dengan dinding. Agung Sedayu hanya tersenyum melihat kedua lurah prajuritnya. Lalu ia pun segera berangsur mendekati mereka.

Agung Sedayu mengawali pembicaraan dengan menceritakan rencana istrinya. Lalu ia berkata,” ki lurah berdua, segera siapkan beberapa petugas sandi untuk mengawasi beberapa tempat. Aku sendiri telah mendahului kalian dengan meminta para pengawal tanah perdikan. Dan semua penagawal telah aku tarik mundur untuk bergabung dengan Prastawa melakukan beberapa latihan yang telah disusun bersama Ki Gede.”

“Apakah Pangeran Jayaraga sudah melangkah sedemikian jauh hingga Tanah Perdikan Menoreh pun menjadi perhatian?” bertanya Ki Lurah Kertawirya.

“Kita tidak dapat menebak seperti itu, Ki Kertawirya. Aku minta kita semua dapat menahan diri dari segala dugaan yang buruk. Sebelum ada perintah dari Mataram, kita hanya bergerak untuk mengamati gerakan mereka. Namun begitu, jika memang ada pertimbangan untuk melakukan satu serangan melumpuhkan kekuatan mereka sebelum berkembang lebih besar, aku kira aku akan dapat memberi tanggung jawab kepada Mataram. Petugas sandi yang ki lurah tugaskan harus benar-benar dalam kesiagaan tinggi.”

Kedua lurah prajurit mengangguk kecil mendengarkan Ki Rangga yang kemudian memberi gambaran rencana secara keseluruhan. Kedua lurah prajurit merasakan bahwa tugas sandi kali ini benar-benar akan menjadi tugas paling sulit. Keyakinan keduanya tentang kemampuan para prajurit satuan khusus benar-benar akan mendapat ujian yang sebenarnya. Para petugas sandi dari kesatuan khusus ini harus mampu bergerak cepat dan tidak dapat diraba kehadirannya oleh kelompok orang yang dicurigai. Ki Lurah Kertawirya bertukar pandang dengan Ki Lurah Patrajaya saat Agung Sedayu memberikan gambaran lebih dalam. Keduanya segera membayangkan kesulitan menembus perkampungan orang-orang yang dalam pengamatan. Sedangkan keduanya sama sekali belum pernah melihat tempat yang dimaksud Ki Rangga Agung Sedayu.

“Apakah dengan begitu kita akan menaruh curiga pada Ki Tumenggung Wirataruna, Ki Rangga?” bertanya Ki Kertawirya.

“Tidak. Ki Kertawirya dan Ki Patrajaya, aku menaruh kecurigaan bahwa mereka sekarang berada di sekitar pesanggrahan yang dibangun oleh Ki Tumenggung. Sukra dan beberapa pengawal pernah melihat sekelompok orang yang ternyata bukan orang-orang yang bekerja di pesanggrahan.”

Sambil mengusap keningnya yang berkerut, Ki Patrajaya berkata,” malam ini aku akan mencoba mengamati sekitar pesanggrahan yang Ki Rangga sebutkan.”

“Pekerjaan berbahaya, Ki Patrajaya. Bawalah satu dua petugas sandi besertamu,” kata Ki Rangga Agung Sedayu.

Ki Patrajaya kemudian menyandarkan punggungnya pada dinding yang berada di belakangnya. Sejenak kemudian ia beringsut maju dan mengatakan rencana yang disusunnya. Ki Rangga Agung Sedayu mendengarkan dengan seksama bersama Ki Lurah Kertawirya.

“Baiklah, aku kira semuanya menjadi terang sekarang tentang gambaran rencana secara keseluruhan. Ki lurah berdua dapat segera memberi petunjuk kepada petugas sandi yang akan bertugas. Aku serahkan sepenuhnya penunjukkan petugas kepada ki lurah berdua,” kata Agung Sedayu setelah Ki Patrajaya selesai menjelaskan rencananya.

“Lalu bagaimana kami akan mengatakan pertemuan ini kepada Ki Lurah Sanggabaya, Ki Rangga?” bertanya Ki Lurah Kertawirya.

“Aku akan memanggilnya dan berbicara sendiri dengannya. Nanti ki lurah berdua dapat menyampaikan panggilan ini kepada Ki Lurah Sanggabaya,” jawab Agung Sedayu.

“Baiklah. Kami minta diri sekarang. Dan mungkin kami akan meminta bantuan kepada Prastawa agar tidak terjadi salah paham tentang pengamatan yang akan dilakukan pasukan khusus,” berkata Ki Lurah Kertawirya.

“Nanti malam aku yang akan berbicara kepada Prastawa dan Ki Gede Menoreh. Sementara ini, Ki Lurah Kertawirya dapat meninggalkan barak dengan penyamaran untuk menemui Prastawa,” kata Ki Rangga Agung Sedayu.

Tinggalkan Balasan