Lanjutan Api di Bukit Menoreh 398 – 9

Pertemuan itu ditutup dengan beberapa pesan dari Ki Rangga Agung Sedayu kepada kedua lurah prajurit pilihannya. Kedua orang itu segera keluar dari bilik Ki Rangga Agung Sedayu. Kemudian bergegas menemui Ki Lurah Sanggabaya yang agaknya sedang melakukan penilaian terhadap latihan gelar yang dilaksanakan sejak pagi. Ki Lurah Kertawirya segera menggantikan tugas Ki Lurah Sanggabaya yang pergi memenuhi panggilan Agung Sedayu.

Dalam pada itu, beberapa saat setelah Agung Sedayu pergi menuju barak, Sekar Mirah memanggil Sukra yang sedang berada di halaman belakang membelah kayu bakar.

“Sukra, pergilah ke rumah Ki Gede. Dan katakan jika aku meminta Prastawa untuk mengirim beberapa orang petugas sandi dari pengawal tanah perdikan. Jika Ki Gede mengijinkan, temuilah Prastawa dan segera kembalilah ke rumah.”

“Baik Nyi.”

“Keluarlah lewat pintu butulan. Dan untuk sementara ini, Ki Jayaraga akan aku minta untuk ke rumah Empu Wisanata. Aku akan mengatakan itu kepada Ki Jayaraga.”

“Apakah tidak sebaiknya aku dapat menyampaikan permintaan Nyi Mirah kepada Empu Wisanata? Aku akan mengambil jalan memutar sepulang dari rumah kakang Prastawa.”

Sekar Mirah termenung sejenak, kemudian,” baiklah. Aku akan berbicara serba sedikit dengan Ki Jayaraga. Nah, sekarang pergilah.”

Sukra dengan cekatan membereskan peralatan untuk membelah kayu bakar dan menyelinap keluar melalui pintu butulan. Sesampainya di rumah Ki Gede Menoreh, Sukra menyampaikan pesan-pesan Nyi Sekar Mirah kepada pemimpin tertinggi Tanah Perdikan Menoreh. Kerutan di wajah Ki Gede Menoreh dengan tegas membentuk lukisan-lukisan di wajahnya yang menggambarkan kewibawaan seseorang yang berjiwa besar dan telah masak dalam kehidupan.

“Begitukah pesan Nyi Mirah?” bertanya Ki Gede menatap tajam Sukra yang menundukkan kepala.

“Benar seperti itu, Ki Gede.”

“Pergilah ke Prastawa. Engkau mendapat ijinku. Sementara sambil menunggu petugas sandi yang dikirimkan Prastawa, aku akan meminta beberapa pengawal yang ada di rumah ini untuk mendahului tugas-tugas mereka seperti pesan Nyi Mirah.”

Sukra meminta diri lalu melanjutkan tugasnya ke rumah Prastawa. Ki Gede Menoreh segera memanggil satu dua pengawal yang sedang berada di sebelah gandok kanan. Setelah itu, Ki Gede memberikan beberapa petunjuk dan pesan untuk mereka jalankan dalam mengamati lingkungan rumah Ki Rangga Agung Sedayu.

“Jika orang-orang yang ditugaskan Prastawa telah kalian lihat. Temui dan bicaralah dengan mereka. Seorang diantara kalian harus segera menemui Prastawa dan laporkan perkembangan yang dapat kalian amati. Seorang lagi segera kemari untuk menghubungkanku dengan Ki Rangga atau orang-orang tua yang lain.”

”Baik Ki Gede,” mereka meminta diri dan pergi ke halaman belakang untuk mempersiapkan keperluan yang akan dibawa dalam tugasnya.

Sebenarnyalah beberapa orang yang terbagi dalam kelompok-kelompok kecil mulai keluar dari regol halaman pesanggrahan yang dikenal sebagai milik Ki Tumenggung Wirataruna. Satu dua kelompok kecil itu ada yang menuju ke pasar yang berada di padukuhan induk. Sedangkan yang lain membagi diri dan salah satu kelompok tengah menuju ke lingkungan rumah Ki Rangga Agung Sedayu. Kelompok ini terdiri dari lima orang yang secara khusus bertugas mengamati keadaan rumah Ki Rangga Agung Sedayu. Menurut pengamatan yang dilakukan oleh orang-orang Pangeran Ranapati, orang-orang yang tinggal di rumah itu mempunyai pengaruh yang besar di Tanah Perdikan Menoreh selain Ki Gede sendiri. Selain itu juga para penghuni rumah Ki Rangga termasuk orang-orang yang mempunyai kemampuan tinggi.

“Apakah kita akan berada di tempat yang sama seperti kemarin, Ki Rambetaji?” bertanya orang yang bertubuh sedikit kurus dan berkulit gelap.

“Bagaimana menurutmu, Ki Tapa Damar? Apakah perempuan istri ki rangga tidak menaruh perhatian pada kita jika kita tidak berpindah tempat?” oang yang bernama Ki Rambetaji bertanya kembali kepada kawannya.

“Nah, itulah yang aku takutkan. Tetapi jika kita berpindah tempat, lingkungan itu tidak terlalu luas mewadahi pergeseran kita,” berkata Ki Tapa Damar. Kemudian katanya,” kita tidak usah berpindah tempat. Mungkin kecurigaan akan dapat saja terjadi, tetapi bukankah kita adalah penjual kayu bakar?”

Kemudian mereka membagi dalam dua kelompok yang lebih kecil. Satu kelompok berada di sebelah menyebelah dengan rumah Ki Sunu. Sedangkan kelompok penjual kayu bakar masih tetap berjalan berkeliling namun tidak begitu jauh dari rumah Ki Rangga Agung Sedayu. Seorang pemimpin mereka dengan berbisik berkata,” kau pergilah ke pategalan yang mungkin akan dilewati Agung Sedayu. Berjalanlah memutar untuk mengamati jalan-jalan yang mungkin saja dilewati olehnya.”

“Baik Ki Rambetaji.”

“Bawalah juga seikat kayu bakar agar tidak ada orang yang mencurigaimu jika kau berdiam terlalu lama. Ki Tapa Damar, berilah ia seikat kayu bakar dan kapak yang kecil,” berkata Ki Rambetaji yang ternyata merupakan pemimpin dari kelompok kecil itu. Lalu Ki Tapa Damar menyerahkan seikat kayu bakar dan kapak kecil pada anak buahnya. Orang itu berlalu dengan cepat dan mengambil jalan sebelah utara rumah Ki Rangga Agung Sedayu. Sejenak kemudian ia menghilang di balik tikungan yang berada di sebelah sebuah pohon randu yang cukup besar.Dalam pada itu, Prastawa dengan cepat menempatkan para petugas sandi yang berasal dari pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Sukra dapat mencapai rumah Prastawa setelah menempuh jalan pintas melalui pategalan dan halaman rumah para penduduk yang telah dikenalnya dengan baik.

Para petugas sandi dari pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh segera mengenali tanda-tanda dari orang yang harus mereka amati. Agaknya Nyi Sekar Mirah dan Nyi Sunu begitu cermat memperhatikan tanda-tanda yang ada pada orang-orang Pangeran Ranapati. Para petugas sandi ini segera mengambil jarak yang tidak terlalu jauh. Sebagian dari mereka juga ada yang berhenti untuk sekedar membeli dawet yang dibawa oleh orang-orang itu.

Sementara para petugas sandi telah melakukan pengamatan, Ki Lurah Kertawirya telah memasuki daerah yang telah dikelilingi oleh para petugas sandi baik dari Pangeran Ranapati maupun pasukan Pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Sekilas ia menebarkan pandangan dan ketika ia melihat penjual dawet, ia segera mengenali seorang pembelinya. Orang itu pernah dijumpainya ketika Ki Gede Menoreh mengunjungi barak pasukan khusus untuk melihat perkembangan dari perluasan barak. Petugas sandi yang juga mengenali sosok Ki Lurah Kertawirya seolah tidak mengenal kedatangan seorang pemimpin pasukan khusus yang sedang menyamar. Ia segera beringsut ketika Ki Lurah Kertawirya telah berada di depan penjual dawet.

“Permisi ki sanak. Bolehkan aku bertanya sesuatu kepadamu?” bertanya Ki Kertawirya pada penjual dawet.

“Silahkan ki sanak. Aku akan mencoba membantumu,” jawab penjual dawet itu.

“Terima kasih. Dapatkah kau memberitahu arah ke rumah Ki Prastawa?”

“Ki Prastawa?” gumam penjual dawet seraya mengerutkan keningnya. Kebingungan segera menghampiri dirinya namun ia berusaha untuk menahan perasaannya.

“Apakah ki sanak bukan orang Menoreh?” bertanya Ki Kertawirya.

“Oh maaf. Aku baru saja tiba di tanah ini sekitar satu dua pekan yang lalu. Dan selama ini aku tinggal di rumah sanak kadang di pedukuhan sebelah utara hutan Jatipapak. Mungkin anak muda ini dapat membantu ki sanak,” berkata penjual dawet itu seraya memberi tanda dengan jempol kanannya ke arah petugas sandi pasukan pengawal.

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok-pojok warung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *