Lanjutan Api di Bukit Menoreh 398 – 10

 

Petugas sandi itu lantas memanggutkan kepala, lalu katanya,”aku akan mengantarmu ke rumah Ki Prastawa, ki sanak. Setiap orang di Tanah Perdikan Menoreh sudah barang tentu mengetahui rumah yang ki sanak maksudkan.”

“Terima kasih anak muda. Silahkan kau lanjutkan dulu menghilangkan dahaga itu,” kata Ki Kertawirya tersenyum ramah.

Sejenak kemudian, Ki Kertawirya sudah disertai oleh satu petugas sandi menuju rumah Prastawa.

“Silahkan ki sanak. Aku akan mengantar ki sanak ke rumah Ki Prastawa. Kita hanya dapat berharap jika Ki Prastawa sedang berada di rumah siang ini. Karena biasanya ia ada di beristirahat di tengah sawah atau kadang di dekat sela-sela pohon jati yang ada di selatan pematangnya,” kata petugas sandi yang diutus oleh Ki Gede Menoreh.

“Oh terima kasih anak muda. Aku telah merepotkan dirimu,” Ki Kertawirya sedikit membungkukkan badan dan menunjukkan rasa hormat pada petugas sandi.

Penjual dawet menarik nafas dalam-dalam dan dengan kening berkerut ia menatap kedua orang itu berlalu dari hadapannya.

“Akan menjadi berbahaya jika mereka mencurigai kehadiranku di sini. Tetapi juga akan menjadi masalah baru jika aku segera meninggalkan tempat ini. Semoga tidak terjadi kecurigaan terhadapku,” kata penjual dawet yang ternyata adalah Ki Tapa Damar.

Selepas matahari meninggalkan puncak langit dan beranjak menuju ke batas cakrawala, Ki Kertawirya telah memasuki halaman rumah Ki Prastawa. Di pendapa ia melihat seorang yang berusia cukup sedang menganyam sebuah tikar pandan. Dari guratan yang terlihat di wajah lelaki itu, tersembunyi sebuah sorot mata yang menggambarkan ketenangan dan kedalaman yang pernah melalui masa kelam. Ki Argajaya agaknya lebih sering meluangkan waktu dengan menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan. Ia merasakan hatinya lebih hidup jika dibandingkan dengan menumpuk rasa sesal atas sebuah upaya yang nyaris menenggelamkan Tanah Perdikan Menoreh ke dalam jurang tanpa dasar.

Ki Argajaya segera bangkit berdiri menyambut seorang tamu yang ditemani oleh pengawal pedukuhan yang telah ia kenal baik.

“Marilah ki sanak. Silahkan menikmati siang di rumah anakku, Prastawa,” kata Ki Argajaya setelah memberikan salam kepada Ki Lurah Kertawirya. Ki Lurah Kertawirya segera menyadari kedalaman ilmu adik kandung Ki Gede Menoreh setelah berjabat tangan dengannya. Kemudian petugas sandi dari pasukan pengawal Tanah Perdikan meminta diri untuk memanggil Prastawa yang sedang berada di sawah.

Kedua orang itu saling bertukar jawab dan mengungkapkan perasaan masing-masing tentang perkembangan Tanah Perdikan Menoreh. Segera Ki Argajaya meminta bantuan pengawal yang mengantar untuk memberitahu kepada istri Prastawa agar menyiapkan sekedar hidangan bagi tamunya. Pengawal itu bergegas masuk dalam rumah dan memberitahu istri Prastawa tentang pesan Ki Argajaya.

“Aku kira tidak sepatutnya merahasiakan maksud kedatangan ini pada Ki Argajaya,” berkata Ki Lurah Kertawirya.

“Aku harap aku akan dapat membantu keperluan Ki Kertawirya, apalagi jika terkait dengan anakku satu-satunya,” Ki Argajaya tersenyum sambil mempersilahkan tamunya untuk sekedar menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh istri Prastawa dibantu pengawal pedukuhan.

Ki Lurah Kertawirya menguraikan keadaan terakhir di tanah perdikan, Ki Argajaya mendengarkan dengan seksama sambil sesekali mengerutkan keningnya.

“Aku memang mengagumi kecakapan angger Agung Sedayu sejak ia masih muda. Namun yang terpenting dari semua itu adalah perebutan kekuasaan Mataram yang tak kunjung selesai,” desis Ki Argajaya dengan nada yang dalam. Ingatannya membuka kembali pertumpahan darah puluhan tahun yang lalu dengan Sidanti dan Ki Tambak Wedi. Ki Argajaya telah menutup rapat lembaran hitam itu dari hatinya, dan kini ia akan berusaha membantu Tanah Perdikan Menoreh menjaga rasa tenteram bagi rakyatnya.

“Lalu apa perintah Ki Rangga Agung Sedayu selanjutnya, ki lurah?”

“Maafkan aku, ki. Sebenarnyakah lebih baik kita menunggu angger Prastawa hadir di tempat ini.”

“Oh. Ki Kertawirya benar. Sebaiknya Prastawa dapat mendengar langsung dari ki lurah.” Wajah Ki Argajaya sempat memerah sejenak karena ia tidak dapat menguasai gejolak hatinya yang menjadi gelisah karena tanah perdikan akan mendapat anca man bahaya lagi. Ki Kertawirya tersenyum dan dapat memahami keadaan batin Ki Argajaya. Serba sedikit Ki Kertawirya telah mendengar, bahkan mengalami sendiri perjalanan panjang bersama Tanah Menoreh ketika berada dalam bahaya.

Beberapa lama kemudian, Prastawa telah menaiki pendapa seorang diri.Prastawa membungkuk hormat kepada kedua orang yang lebih tua usianya dan memberikan salam kepada keduanya.

“Ki Lurah Kertawirya sudah barang tentu membawa berita penting dari Ki Rangga Agung Sedayu. Serba sedikit ia menyampaikan kepada Ki Lurah Kertawirya dan Ki Argajaya jika petugas yang memanggilnya telah kembali ke lingkungan rumah Ki Rangga Agung Sedayu. Sambil melihat ki Argajaya untuk sekedar meminta ijin, Ki Kertawirya kemudian menguraikan seluruh bagian rencana yang disusun oleh Ki Rangga Agung Sedayu. Ki Argajaya dan Prastawa dapat memahami keadaan Tanah Perdikan yang telah berada di bawah pengamatan petugas yang dikirimkan oleh Pangeran Ranapati. Akan tetapi kedua pemimpin tanah perdikan itu tidak mengetahui tempat berkumpulnya para petugas sandi sebelumnya. Kedua orang pemimpin itu tersentak kaget ketika Ki Kertawirya mengatakan tentang lingkungan pesanggrahan Ki Tumenggung Wirataruna.

“Aku tidak dapat mengerti alasan Ki Tumenggung yang kini menghadapkan wajahnya ke Mataram. Apakah ia ingin memperoleh kekayaan yang lebih banyak dari apa yang ia dapatkan sekarang?” gumam Ki Argajaya pada dirinya sendiri. Ki Kertawirya menoleh kepadanya ketika mendengar Ki Argajaya bergumam sendiri. Kemudian,” itu juga satu kemungkinan yang sudah tentu berdasarkan prasangka kita sendiri, Ki Argajaya. Juga tidak menutup kemungkinan jika ada hal lain yang ingin diraih oleh Ki Tumenggung,” kata Ki Kertawirya.

“Kakang Agung Sedayu pernah mengatakan kepadaku serba sedikit tentang Ki Wirataruna. Aku ingat ketika malam kami menemui Ki Tumenggung Wirataruna di rumahnya untuk membuka aliran air yang telah ia tutup untuk mengisi danau kecil di samping pesanggrahan,” ujar Prastawa lalu,” menurutku, agaknya memang ia ingin menjadi lebih besar dari yang ia rasakan sekarang.”

Mendengar Prastawa yang berkata dengan penuh keyakinan, Ki Kertawirya memanggutkan kepala, lalu ia bertanya,”Angger Prastawa, lalu bagaimana rencana selanjutnya dari angger untuk mendukung gagasan Ki Agung Sedayu?”

“Ki lurah, sudah barang tentu aku harus mendengarkan pendapat dari pemimpin kelompok pasukan pengawal. Selain itu, aku juga harus memperoleh bahan yang lebih banyak dari sekarang,” jawab Prastawa. Kemudian Ki Argajaya mengatakan,” Benar ngger. Kau tidak dapat berlaku berdasarkan gejolak perasaan. Ayah yakin kau sekarang lebih mapan dalam bertindak.” Senyum Ki Lurah Kertawirya seolah menutup ungkapan Ki Argajaya.

Setelah itu, mereka bertiga berbicara tentang keadaan yang mereka ketahui di sekitar tanah perdikan. Ketika senja mulai bangkit memeluk matahari, Ki Kertawirya beranjak bangkit dan meminta diri kembali ke barak pasukan.

“Hasil pertemuan ini akan aku laporkan kepada ki rangga. Semoga ki rangga belum pergi meninggalkan barak sehingga besok pagi atau malam nanti, ki rangga dapat sedikit gambaran tentang apa yang harus disiapkan oleh tanah perdikan,” berkata Ki Kertawirya. Ayah dan anak itu kemudian mempersilahkan Ki Kertawirya untuk meninggalkan rumah. Mereka mengantarkan sampai regol halaman. Lalu Prastawa memberikan sedikit petunjuk jalan untuk menghindari pengamatan petugas sandi Pangeran Ranapati.

Di barak pasukan khusus Mataram, Ki Rangga Agung Sedayu sedang menunggu Ki Kertawirya.” Ki Sanggabaya, setelah kita bertemu dengan Ki Kertawirya, aku akan pulang sebentar untuk memberitahu orang-orang di rumah tentang kegiatan kita malam ini. Sebaiknya Ki Sanggabaya mempersiapakn diri terlebih dahulu, karena mungkin kita akan melewati malam yang panjang dan sulit,” berkata Agung Sedayu. Ki Sanggabaya meminta diri keluar dari bilik khusus lalu berjalan menuju ke biliknya sendiri. Dalam pada itu, Ki Kertawirya telah tiba di gardu penjagaan barak pasukan khusus.

“Selamat malam,” sapa Ki Kertawirya kepada prajurit yang bertugas.

“Selamat malam ki lurah. Ki Rangga Agung Sedayu sedang menunggu kehadiran ki lurah. Begitu pesan ki rangga,” kata prajurit itu ketika mengenali Ki Kertawirya dalam keremangan senja.

Sebenarnyalah para petugas sandi yang dikirimkan oleh Pangeran Ranapati tidak menyadari jika keberadaan mereka di Tanah Perdikan Menoreh telah berada dalam jangkauan para pemimpin tanah perdikan. Di lingkungan sekitar rumah Ki Rangga Agung Sedayu, para petugas sandi dari pasukan khusus dan pengawal pedukuhan induk telah menyebar ke setiap halaman rumah penduduk. Bahkan beberapa diantara mereka sudah mengawasi setiap jalur yang menghubungkan pedukuhan induk dengan pesanggrahan Ki Tumenggung Wirataruna.

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *