Lanjutan Api di Bukit Menoreh 398 – 11

Ki Lurah Kertawirya memasuki halaman barak pasukan khusus yang cukup luas. Dengan langkah lebar dan cepat ia menuju bilik tempat Ki Rangga Agung Sedayu sedang menunggu dirinya.  Agung Sedayu mempersilahkan Ki Kertawirya untuk memasuki ruangan dan duduk di tempat seperti biasanya.

“Apakah ki lurah mengalami kesulitan di tanah perdikan?” bertanya Ki Agung Sedayu beberapa saat setelah saling bertukar kata tentang keadaan masing-masing.

“Tidak ki rangga. Dalam kesempatan itu, kami berbicara banyak mengenai keadaan tanah perdikan dan beberapa tempat. Ki Argajaya memberi petunjuk tentang beberapa tempat yang kemungkinan dijadikan sebagai tempat berkumpulnya orang-orang yang akan menyerang Mataram.”

“Ki Argajaya ikut dalam pembicaraan itu? Sungguh sangat menggembirakan dan membahagiakan jika Ki Argajaya sudah bangun dari mimpi panjangnya.”

Tersenyum Ki Kertawirya melihat wajah pemimpinnya yang sumringah dan tersenyum lebar ketika mendengar nama Ki Argajaya disebut-sebut. Setelah ki rangga mengendapkan perasaannya, raut wajanya berubah menjadi sungguh-sungguh saat ia bertanya tentang keadaan di sekitar rumahnya. “Berarti Pangeran Ranapati telah memperhitungkan segala sesuatunya termasuk keberadaan paskan khusus Mataram di tanah ini. Baiklah ki lurah, kita akhiri pertemuan ini. Aku akan menengok keadaan rumahku dan silahkan ki lurah mengambil waktu untuk beristirahat. Sementara Ki Sanggabaya sedang bersiap diri untuk kegiatan malam ini,” lalu Ki Rangga Agung Sedayu memberi beberapa pesan untuk dikerjakan esok hari jika ia berhalangan untuk datang ke barak. Setelah itu ki rangga meminta diri untuk meninggalkan barak, keduanya lantas berpisah dan ki rangga menghentak kuda tidak begitu cepat menuju rumah setelah keluar dari regol halaman barak pasukan khusus.

Nyi Sekar Mirah menyambut kedatangan suaminya dan segera menyiapkan makan malam, sementara itu ki rangga menuju ke pakiwan sekedar membersihkan diri. Sementara Ki Jayaraga dan Empu Wisanata telah menunggu ki rangga di ruang tengah. Tak berapa lama setelah mereka menyelesaikan makan malam, Nyi Sekar Mirah dibantu oleh Nyi Dwani segera membereskan peralatan makan. Nyi Sekar Mirah memang sengaja meminta Nyi Dwani dan ayahnya untuk menginap di rumah Agung Sedayu. Sementara Ki Waskita masih berada di rumah Ki Gede Menoreh menemani Ki Bagaswara.

“Angger Agung Sedayu, dengan membosankan aku mengamati orang yang berada di sekitar lingkungan ini. Agaknya aku mengenali orang yang menjadi penjual dawet di depan rumah Ki Sunu. Aku sempat kebingungan, apakah penjual dawet itu memang mengamati rumah ini atau mengamati istri Ki Sunu? Sedangkan Nyi Sunu sendiri juga seorang wanita cantk dan rajin,” celetuk Ki Jayaraga dengan mata berkedip ke arah Empu Wisanata.

Senyum lebar Empu Wisanata menyambut kerlingan Ki Jayaraga, lalu,” Ki Jayaraga ini sedang kesulitan membedakan antara penjual dawet dengan padinya yang mulai membungkuk, ki rangga.”

Ketiga orang itu kemudian berderai tawa mendengar canda yang sempat terjadi diantara mereka. Sementara Nyi Dwani yang mendengar percakapan itu dari dapur hanya tersenyum pada Nyi Sekar Mirah dan bertukar pandang.

Kemudian Agung Sedayu menguraikan rencananya malam itu untuk mengamati lingkungan pesanggrahan Ki Tumenggung Wirataruna.

“Aku ikut denganmu, ngger,” Ki Jayaraga mengajukan diri. Kemudian,”orang yang berlaku seperti penjual dawet itu mempunyai kemampuan yang cukup tinggi. Bukan aku mengecilkan ilmu yang kau miliki,ngger, namun siapa saja yang berada di sana masih cukup gelap untuk diketahui.”

Ki Rangga Agung Sedayu mengalihkan pandangannya ke Empu Wisanata seolah meminta pendapat dari orang tua yang sudah masak dalam kehidupan. Apalagi semenjak Empu Wisanata sempat mengikuti jejak Ki Saba Lintang untuk mendirikan Perguruan Kedung Jati. Empu Wisanata tidak segera mengucapkan kata-kata. Ia membutuhkan waktu untuk memberikan pendapatnya. Bagaimanapun yang dikatakan oleh Ki Jayaraga memang benar adanya. Akan tetapi ia juga merasa tidak enak jika akhirnya Ki Rangga Agung Sedayu merasa terganggu dalam menjalankan rencananya. Sejenak ruangan itu tercekam keheningan. Setiap orang larut dalam pikiran dan bayangan masing-masing.

“Angger Agung Sedayu, sebenarnya Ki Jayaraga justru mengkhawatirkan jika rencanamu tidak berjalan seperti harapanmu. Ia merasa harus turut serta karena mungkin telah mengukur kemampuan Ki Sanggabaya. Mungkin ia merasa akan dapat mengalihkan kehadiran prajurit khusus dari perhatian  penjual dawet itu. Dengan begitu, mereka masih akan beranggapan bahwa pasukan khusus Mataram masih belum mengetahui kesiapan mereka,” Empu Wisanata memecah keheningan.

“Aku harap angger dapat menahan Ki Sanggabaya. Angger harus dapat menghindarkan pertempuran yang tidak perlu. Aku membantu angger Agung Sedayu karena memang kita semua mempunyai tanggung jawab pada tanah perdikan ini. Selagi aku berada di luar malam ini, Empu akan berada di dalam rumah.”

“Baiklah, kiai berdua. Aku akan menyertakan Ki Jayaraga malam ini,” Ki Rangga Agung Sedayu akhirnya mengambil satu keputusan. Ia menyadari meskipun ia adalah pemimpin tertinggi pasukan khusus Mataram yang berada di Tanah Perdikan Menoreh, kehadiran Ki Jayaraga dan Empu Wisanata tetap tidak dapat dikesampingkan. Keluasan wawasan dan perasaan yang telah nyaris mengendap dalam diri keduanya serba sedikit masih mempengaruhi Agung Sedayu dalam berbuat di Tanah Perdikan Menoreh.

“Mereka dapat saja mewakili perguruan-perguruan besar. Dan perselisihan dengan Panaraga ini dapat mengundang orang untuk berniat dan berbuat apa saja,” kata Agung Sedayu kemudian. Dua orang tua itu saling pandang, kemudian mengangguk. Agung Sedayu beranjak bangun dan memanggil Sukra untuk bergabung bersama mereka.

Setelah Sukra berada di tengah-tengah mereka, Agung Sedayu berkata,” Sukra, malam ini kau ajak beberapa pengawal pedukuhan berjaga-jaga di sekitar lingkungan. Dan buatlah kesan seolah-olah rumah ini tidak sedang dalam penjagaan siapapun. Empu Wisanata akan berada di dalam, begitu juga Nyi Sekar Mirah dan Nyi Dwani yang malam ini akan menginap di rumah.” Lalu ia menambahkan,” Kita matikan semua lampu kecuali di yang ada di dalam bilik. Kita harus dapat mengesankan rumah ini sedang dalam keadaan lengah.” Agung Sedayu menebarkan pandangan ke sekelilingnya. Ki Jayaraga dan Empu Wisanata serta Sukra terlihat memaklumi dan setuju dengan rencana Ki Rangga Agung Sedayu.

Sukra sambil menganggukkan kepala,” Baik ki rangga. Aku minta diri dahulu. Aku akan segera mengajak Kliwon serta Kang Mardi.”

“Lakukanlah!” jawab Ki Rangga dengan senyum di bibirnya. Sukra kemudian meminta diri dan bergegas keluar rumah. Sesuai pesan ki rangga, Sukra melangkahkan kaki dengan tenang dan tidak terburu-buru. Agung Sedayu bangkit menemui istrinya dan mengatakan jika ia akan kembali menjelang fajar. Nyi Sekar Mirah pun memaklumi tugas-tugas seorang prajurit seperti suaminya.

“Berhati-hatilah kakang,” kata Sekar Mirah. Agung Sedayu kemudian meminta diri kepada Empu Wisanata dan menuju rumah Ki Gede Menoreh melalui pintu butulan. Sedangkan Ki Jayaraga melangkah keluar rumah melalui halaman depan.  Ki Jayaraga dengan langkah kaki yang tenang berjalan menuju ke pedukuhan yang letaknya di kaki bukit tempat pesanggrahan Ki Tumenggung Wirataruna. Seperti pesan Agung Sedayu, ia akan menyembunyikan dirinya di sekitar pohon nangka yang cukup besar. Dalam pada itu, agaknya kepergian Ki Jayaraga diketahui oleh seorang yang membawa seikat kayu bakar. Orang ini berada tak jauh dari rumah Ki Rangga Agung Sedayu. Ia berada di balik sebuah batu yang cukup besar untuk menutup dirinya dari penglihatan orang yang berlalu lalang. Serimbun tanaman perdu juga ikut mendukung dirinya lebih tersamar.

“Di permulaan malam seperti ini, tak pantas bagi seorang senapati yang namanya menembus cakrawala untuk memejamkan mata. Apalagi kabar yang aku dengar adalah ilmunya nyaris menyamai Panembahan Senapati,” desis orang itu dalam hati lalu,“ akan tetapi menyusup masuk ke dalam rumah itu sama juga dengan membuka rahasia yang sudah tertutup baik selama ini.” Kemudian ia berhati-hati mengikuti kepergian Ki Jayaraga.

Tak berapa Agung Sedayu telah berada di dekat rumah KI Gede Menoreh. Ia berjumpa dengan beberapa perondan, ia berhenti sejenak untuk sekedar bertukar salam. Ki Rangga Agung Sedayu telah berdiri beberapa langkah di regol kediaman Ki Gede Menoreh. Ia melihat Ki Gede Menoreh dan Prastawa sedang duduk bersama Ki Waskita dan Ki Bagaswara. Setelah menyapa pengawal yang berada di gardu penjagaan, ia  pun segera mengayunkan langkahnya menaiki pendapa rumah Ki Gede Menoreh.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *