Lanjutan Api di Bukit Menoreh 398 – 12

Ki Gede segera berdiri menyambut kedatangan Ki Rangga Agung Sedayu. Percakapan akrab pun mulai menghangatkan suasana. Ki Bagaswara menyempatkan diri secara khusus menanyakan keadaan Ki Rangga Agung Sedayu dan keluarganya. Sementara Ki Waskita dapat merasakan ketulusan Ki Bagaswara yang masih menyimpan sebuah keinginan untuk berbicara sendiri dengan Agung Sedayu.

Sebenarnyalah bahwa situasi yang semakin panas di antara Mataram dan Panaraga ini ikut mempengaruhi keadaan di beberapa kademangan. Semenjak kehadiran Pangeran Ranapati dan pengikutnya, banyak sekali didengar kabar-kabar buruk tentang pemerintahan Panembahan Hanyakrawati. Di Panaraga, Pangeran Ranapati yang telah diangkat sebagai senapati telah membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu yang akan dapat menjadi bahan sikapnya. Pertimbangan itu jug a memberi pengaruh pada Pangeran Jayaraga selaku Adipati Panaraga. Ditambah beberapa orang pengikut Pangeran Ranapati yang berada dalam pasukan, kesatuan prajurit Panaraga mulai menunjukkan keadaan yang sedikit memburuk. Sementara itu, beberapa tumenggung dan senapati yang masih melihat Mataram merasakan tidak ada kesempatan lagi untuk berbuat sesuatu untuk mencegah peperangan yang mungkin saja akan segera terjadi.

Namun diamnya mereka itu tidak berarti mereka tidak melakukan suatu perbuatan. Namun mereka menyadari, bahwa mereka dituntut untuk lebih siaga dan waspada menghadapi perkembangan keadaan.

Dalam pada itu, Pangeran Ranapati dan Mas Panji Wangsadrana mulai mengembangkan pasukan khusus di Panaraga. Meski mereka belum menunjukkan hasil yang menggembirakan, akan tetapi Pangeran Jayaraga menyambut baik upaya yang dilakukan kedua orang itu. Pangeran Ranapati dan Mas panji Wangsadrana mempercayakan pengembangan pasukan khusus itu kepada Ki Lintang Juwana, seorang yang menjadi kepercayaan Eyang Kalayudha. Pangeran Ranapati dan Mas Panji Wangsadrana lebih sibuk dengan menjalin hubungan dengan daerah-daerah yang mengelilingi Mataram. Termasuk membuka kerjasama dengan perguruan-perguruan olah kanuragan dan kelompok-kelompok yang tidak jelas tujuan dan maksudnya. Bagi keduanya, yang lebih penting adalah mengumpulkan banyak orang dan meraih tujuan akhir. Pembagian hasil kerja akan ditentukan kemudian sesuai dengan peran masing-masing golongan.

Malam itu di Tanah Perdikan Menoreh, beberapa orang yang bertemu di rumah Ki Gede mulai membicarakan tentang rencana-rencana untuk melumpuhkan para pengikut Pangeran Ranapati. Sekalipun begitu, Ki Gede tetap merasakan pentingya untuk meningkatkan kemampuan pasukan pengawal meskipun mereka telah ditempa oleh banyak pertempuran.

“Ki Gede, apa yang dapat aku lakukan untuk membantu Tanah Perdikan dalam waktu sekarang ini?” Ki Bagaswara mengajukan diri.

“Kiai, sekalipun aku adalah kepala tanah perdikan. Dan sepenuhnya aku menyadari bahwa aku harus meningkatkan kemampuan para pengawal yang berada di bawah wilayahku.” berkata Ki Gede. Lalu, “akan tetapi kelangsungan pengawal telah aku limpahkan pada Prastawa. Prastawa sendiri harus memikirkan bahwa para pengawal Tanah Perdikan juga harus mendapat pembinaan secara khusus dan lebih mendalam, karena kita belum tahu kemampuan orang-orang Panaraga yang mungkin saja berada di atas selapis dari Madiun.”

Ki Gede Menoreh menengok Prastawa dan mempersilahkan Prastawa untuk menjawabnya. Ki Gede masih memberikan tuntunan lebih jauh kepada Prastawa sebagai Kepala Pasukan Pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Lalu Ki Rangga Agung Sedayu,” Ki Bagaswara, sedikitnya aku ingin para cantrik kiai dapat pergi ke Jatianom. Di bawah arahan paman Widura, aku berharap para cantrik kiai dapat memperkaya ilmu dan sebaliknya, para cantri Orang Bercambuk dapat mendalami keluasan ilmu dari kiai. Dan dalam waktu itu, Ki Bagaswara dapat membantu Ki Jayaraga mendorong pengawal Tanah Perdikan lebih maju. Apakah Ki Gede mengijinkan Ki Bagaswara membantu Ki Jayaraga?” berkata Agung Sedayu sambil menatap Ki Gede Menoreh.

Ki Gede dengan bibir terkatup hanya mengangguk-angguk. Ia merasakan bahwa waktu yang tersedia cukup sedikit sedangkan orang-orang yang berkepentingan dengan Panaraga semakin bertambah jumlahnya. Keadaan itu telah ia dengar dari Prastawa sesuai laporan petugas dari pengawal pedukuhan.

“Baiklah, aku kira memang kehadiran Ki Bagaswara di tengah-tengah pasukan pengawal serba sedikit akan meningkatkan kekuatan mereka. Angger Agung Sedayu, aku dapat memperkirakan arah rencanamu. Untuk itu Ki Waskita akan tetap berperan sebagai pengayom di antara pasukan pengawal jika Ki Jayaraga kesulitan membagi waktu,” akhirnya Ki Gede memenuhi harapan Agung Sedayu. Keputusan Ki Gede itu disambut lega oleh Ki Jayaraga yang mengerti tingkat ketinggian ilmu Ki Bagaswara.

Sambil terbatuk-batuk, Ki Waskita berkata,” dengan begitu, Ki Jayaraga akan dapat pergi ke sawah lebih lama lagi karena ada ki lurah baru yang siap membantunya.”

Orang yang mendengar canda Ki Waskita pun tersenyum kecil karena mereka mengetahui bahwa Ki Jayaraga semakin lama semakin sulit untuk berpisah dengan padi dan ikan di blumbang.

Menjelang tengah malam setelah setiap orang menyatakan gagasan, Ki Gede pun menutup pertemuan lalu meminta Ki Rangga Agung Sedayu tinggal untuk sementara waktu. Agaknya orang-orang memahami jika Ki Gede akan mengatakan sesuatu yang penting dan hanya untuk didengar oleh Agung Sedayu. Tak lama kemudian hanya Ki Gede Menoreh dan Agung Sedayu yang tinggal.

“Aku mempunyai perasaan bahwa kau akan melakukan sesuatu pada malam ini, ngger.”

“Agaknya aku tidak dapat menghindar dari panggraita Ki Gede,” kata Agung Sedayu sambil tersenyum. Lalu ia menundukkan kepala. Berbagai prasangka kemudian muncul dalam hatinya namun nalar Agung Sedayu masih dapat meluruskan segala macam dugaan yang timbul dari hatinya.

“Angger, kau adalah orang yang aku anggap sebagai anak tertua dari seluruh anak-anak muda di tanah perdikan. Aku ingin menitipkan Pandan Wangi kepadamu jika terjadi sesuatu yang buruk menimpa dirinya,” tatap mata Ki Gede menerawang jauh menembus kegelapan malam. Jantung Agung Sedayu seakan berhenti berdetak mendengar ucapan Ki Argapati.

“Mengapa Ki Gede berkata seperti itu?”

Ki Gede mencoba untuk mengendapkan perasaannya. Sebenarnyalah ia merasakan akan ada sesuatu yang besar dan buruk yang akan terjadi pada putri satu-satunya. Ia mencoba mengatakan itu kepada Ki Waskita dan Ki Waskita pun memberi tanggapan yang tidak jauh dari panggraita Ki Gede Menoreh.

“Tidak ada apa-apa,ngger. Hanya kegelisahan seseorang yang sebenarnya sudah tiba waktunya untuk melihat wajah Yang Maha Agung,” nada mendalam keluar menyertai perkataan Ki Gede. Dada Ki Gede terasa pepat ketika ia membiarkan perasaannya keluar dari setiap relung di hatinya. Ki Gede adalah orang yang telah masak dalam getirnya kehidupan sehingga ia mampu mengendapkan perasaannya sebelum Agung Sedayu dapat memahami sepenuhnya arti pembicaraan mereka.

Kemudian,” berhati-hatilah. Agaknya untuk memasuki tempat yang berbahaya itu tidak saja diperlukan seorang yang memiliki pengalaman yang luas, namun juga kemampuan mengendalikan hati.”

“Kita masih akan melalui setengah dari malam. Semoga dalam waktu yang tersisa ini aku akan mendapatkan bahan untuk membuat pertimbangan terhadap kemungkinan yang dapat terjadi.”  berkata Agung Sedayu.

“Bagus,” berkata Ki Argapati. Lantas ia mempersilahkan Agung Sedayu untuk segera menjalankan rencananya,“ aku minta besok sudah mendapat kabar darimu.”

Demikianlah maka Agung Sedayu meminta diri dan menuju ke pohon nangka besar di pedukuhan yang letaknya di kaki bukit tempat pesanggrahan itu berada. Agung Sedayu berjalan cepat mengambil jalan pintas menuju tempat yang telah ditentukan. Sementara itu, Ki Lurah Sanggabaya telah berada di tepi tanggul yang terletak tidak jauh dari tempat Ki Jayaraga menyembunyikan diri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *