Panembahan Tanpa Bayangan 4

Delapan orang pengawal pedukuhan yang dipimpin ki jagabaya berjalan membelah malam. Mereka menyisir jalan – jalan yang lengang dan sesekali menyibak pekarangan tetangga untuk mengambil jalan pintas. Tak memakan waktu sepenginang sirih mereka telah mencapai dinding batu di luar pedukuhan induk. Sawah yang lama tidak terawat membentang di depan mereka. Ki jagabaya menarik nafas dalam – dalam, katanya,” kita sudah terlalu lama meninggalkan air dan tanah. Sebenarnya rasa takut yang menyergap seisi pedukuhan ini tidak dapat menjadi alasan untuk kita agar tidak turun ke sawah.”

Seorang yang berbadan gempal dengan rambut sedikit berombak dan berjalan sedikit di belakang ki jagabaya menarik nafas dalam – dalam. Kang Minto, begitu ia dipanggil, melihat ki jagabaya. Seorang pemimpin pengawal pedukuhan ini sebenarnya sependapat dengan ki jagabaya. Dan ia juga mengerti jika penduduk pedukuhan tidak mempunyai keberanian melawan rasa takut yang sekarang menebar ke seluruh pedukuhan. Ia berkata,” kita kekurangan orang jika harus mendampingi setiap mereka yang turun ke sawah, ki.”

” Kita dapat mengatur susunan pengawal, Kang Minto.”

Kang Minto mengernyitkan dahi karena belum memahami maksud ki jagabaya.

” Sudahlah, kita masih mempunyai waktu untuk menyusun rencana. Marilah kita kembali ke tujuan semua,” berkata ki jagabaya lalu menyusur pematang di tengah pekatnya malam. Para pengawal pedukuhan kemudian turut di belakangnya.

 

Iring – iringan itu tampaknya sudah hafal setiap tanah mereka. Tidak ada kesulitan ketika mengayunkan langkah di antara rerimbun tanaman liar yang menjadi batas antara hutan dengan sawah. Tak berapa lama mereka menyusur tepi hutan kemudian setitik api terlihat dari kejauhan.

Ki jagabaya tidak mengendurkan langkahmya sementara para pengawal mulai dirambat ketegangan. Para pengawal memperkirakan ketiga orang asing itu mempunyai ilmu tinggi sehingga mereka mulai mempersiapkan diri lebih awal. Sementara itu Kang Minto mempercepat langkah mendahului ki jagabaya. Pada jarak sekitar sepuluh tombak, Kang Minto meminta ki jagabaya untuk berhenti. Kemudian Kang Minto memerintahkan para pengawal pedukuhan mengambil posisi melingkari ketiga orang asing itu.

” Sebaiknya kita berhenti di sini, ki,” katanya.

” Baiklah.”

” Kalian segera melingkari mereka dan jangan terlalu lebar jarak di antara kalian,” Kang Minto bergeser beberapa langkah ke samping ki jagabaya. Para pengawal pedukuhan segera mengepung Sarjiwa sekeluarga.

” Selamat malam, ki sanak,” kata ki jagabaya setapak demi setapak mendekat.

” Selamat malam, ki,” Sarjiwa membungkuk hormat dengan tangan tertangkup di depan dada. Agaknya ia dan keluarganya telah mengetahui kedatangan rombongan ki jagabaya. Sebentar mereka berbenah diri dan segera bangkit menyambut kedatangan ki jagabaya. Dalam pada itu, Ki Winatra berbisik,” tahan dirimu. Kita akan ikuti kemauan mereka. Sedapat mungkin kau tidak singgung harga diri mereka.”

Sarjiwa menganggukkan kepala.

” Siapakah ki sanak bertiga dan atas keperluan apakah sehingga bermalam di tepi hutan ini?” bertanya ki jagabaya.

” Aku Sarjiwa. Dan apakah ki sanak berwenang untuk bertanya tentang keperluan kami di tepi hutan ini?” jawaban Sarjiwa membuat geram pengawal kademangan. Namun Kang Minto segera memberi tanda untuk menahan diri. Ki jagabaya merasakan sedikit pepat dalam dadanya mendengar pertanyaan Sarjiwa.

” Aku jayabaya di pedukuhan ini. Sebaiknya kau belajar lagi tentang unggah ungguh, anak muda!” kata ki jagabaya. Lanjutnya,” katakan siapa dua orang yang berdiri di belakangmu!”

Menyadari kekeliruannya, Sarjiwa menangkupkan tangannya di depan dada. Katanya,” aku minta maaf telah keliru bersikap, ki. Berdua mereka adalah orang tuaku. Namanya Ki Winatra.”

” Sebaiknya memang begitu, anak muda. Kau masih harus belajar banyak pada orang tuamu,” kata ki jagabaya yang menatap lekat Ki Winatra bergantian dengan Nyi Winatra. Ia kemudian bertanya lagi,” dari mana kalian berasal? Bukankah kalian dapat bermalam di penginapan atau di banjar pedukuhan?”

Kata Sarjiwa,” kami berasal dari Tanah Perdikan Menoreh. Saat ini kami sedang dalam perjalanan menuju Demak, ki jayabaya. Kami berhemat bekal dengan bermalam di hutan ini, ki.”

Agaknya ki jagabaya tidak menghiraukan Sarjiwa. Lalu ia maju setapak, katanya,” berdirilah lebih dekat, Ki Winatra.”

Memerah wajah Nyi Winatra akan tetapi ia mengakui dalam hati jika Sarjiwa memang berbuat keliru. Dalam pada itu Ki Winatra maju setapak. Sedikit terang api unggun menyinari bagian depan tubuhnya. Wajah Ki Winatra kini menjadi sedikit lebih jelas terlihat.

” Apakah mata yang berusia lanjut ini memang benar melihat orang yang mengaku sebagai Ki Winatra,” hampir tak  percaya ki jagabaya bertanya pelan dalam hati.

Nyi Winatra melangkah setapak demi setapak mendekati Sarjiwa. Bisiknya,” jika kekerasan tidak dapat dielakkan lagi, jangan menambah beban bagi ibumu dengan orang – orang yang terluka.”

Ia meneruskan,” para pengawal tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tetapi tugas mereka adalah menjadi tameng ki jagabaya. Cobalah untuk mengerti maksud ibu.”

Dahi Sarjiwa berkerut mencoba mengerti maksud perintah ibunya. Namun begitu, ia menjauhkan diri dari tongkatnya.

” Mungkin aku hanya perlu menghindar atau berlari – lari saja. Tongkat kayu itu pastinya akan melukai bagian dalam para pengawal,” desis Sarjiwa dalam hati sambil memandang tongkat kayunya.

” Lebih dekat lagi dengan api unggun, Ki Winatra. Supaya para pengawal pedukuhan ini dapat mengenali juga dirimu,” kata ki jagabaya lebih keras.

Ki Winatra menuruti ucapan ki jagabaya. Sementara para pengawal telah meloloskan senjata dari selongsong masing – masing. Senjata yang telanjang sudah berada dalam genggaman yang cukup erat dan kuat. Dalam pada itu, Kang Minto masih belum dapat mengira perkembangan yang akan terjadi. Ia masih menahan para pengawal kademangan untuk tidak melakukan serangan.

Ki Winatra maju selangkah demi selangkah mendekati api unggun. Seluruh tubuh dan wajahnya kini terungkap lebih jelas dari sebelumnya.

” Bagus! Ternyata kau masih mempunyai keberanian,” kata Ki Jagabaya yang telah melangkah maju beberapa jengkal.

Para pengawal pedukuhan saling bertukar pandang. Mereka terheran melihat ki jagabaya bersikap lain seperti biasanya. Darah para pengawal pedukuhan yang usianya tidak terpaut jauh dengan Sarjiwa berdesir lebih cepat. Sebagian di antara mereka berharap akan ada pertemuan ilmu antara ki jagabaya dengan Ki Winatra. Harapan itu membersit karena ki jagabaya selalu berusaha menghindar dari sebuah perkelahian.

Suasana yang tegang semakin memacu jantung berdetak lebih kencang ketika Sarjiwa memutar tubuhnya. Ia mengedarkan pandang tajam mengawasi setiap gerak para pengawal.

Menyadari jika Sarjiwa dapat menyerang pengawalnya setiap saat, Kang Minto memberikan aba – aba bagi pengawal untuk bergerak memutari keluarga Ki Winatra. Perintah telah diberikan, senjata yang terhunus nampak berkilauan diterpa cahaya api unggun. Seorang pengawal mencoba menyinggung Sarjiwa dengan memainkan pantulan cahaya ke mata Sarjiwa.

” Tahan dirimu, ngger,” kata Nyi Winatra. Ia sadar jika Sarjiwa belum sepenuhnya dapat mengamati keadaan dalam durinya sendiri.

Perbuatan pengawal itu kemudian diikuti kawan – kawannya. Kini kilau pantulan senjata menyambar – nyambar mata Ki Winatra dan Nyi Winatra. Akan tetapi Nyi Winatra lekat menutup matanya. Ia berbalik memancing perasaan para pengawal. Tangannya cekatan meraih ujung selendang yang terjurai menggantung di leher, lalu ia menutup matanya yang terpejam dengan selendang berwarna hitam.

Ki Jagabaya tampaknya mengkhawatirkan keadaan para pengawal. Ia sadar jika perempuan lanjut usia itu menjadi marah maka akan mudah membunuh para pengawal.

” Berhentilah bermain – main dengan senjata. Mungkin saja malam ini akan membawa satu bencana bagiku dan pedukuhan kita. Dan aku ingin kalian tetap hidup menjadi saksi,” seru Ki Jagabaya pada para pengawal.

Jantung para pengawal mendentum lebih kencang. Gema dentuman seakan mencapai gendang telinga mereka sendiri. Beberapa orang menjadi pucat karena kata – kata Ki Jagabaya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *