Panembahan Tanpa Bayangan 6

Darah Ki Winatra seakan terhenti, detak jantungnya seperti melambat. Tata gerak Sarjiwa benar – benar berubah sama sekali. Ia tidak ada lagi bergeser secepat seperti ketika berusaha mengimbangi kecepatan ki jagabaya. Nyi Winatra yang berdiri di belakangnya mendesis,” ia masih mengingat apa yang diajarkan ayahnya saat ia masih sangat muda? Aku tidak pernah melihatnya melatih ilmu itu,” dalam hatinya terheran – heran.

Ki jagabaya yang berdiri tegak sedikit jauh dari Sarjiwa kembali meluncur cepat. Kibasan lengannya yang berputar – putar seperti kitiran menghantam bagian tubuh Sarjiwa yang tidak terlindungi. Dengan kening mengerut ia kembali meloncat surut.

” Apa yang sedang dilakukan anak ini?” dalam hati ia bertanya sambil memandangi Sarjiwa yang bersiap menerima serangannya lagi.

Melihat perubahan yang dilakukan Sarjiwa mulai dapat mempengaruhi keseimbangan pertarungan, Ki Winatra memutar badan lalu,” para pengawal kademangan, sebenarnya aku tak ingin mendahului ki jagabaya. Tetapi, aku dan keluargaku akan mengikuti kalian, untuk itu adalah baik jika kita semua menyarungkan senjata.”

” Bagaimana denganmu, ki jagabaya?” Ki Winatra lurus menatap ki jagabaya dengan pandangan menghunjam jantung.

” Aku tidak mengerti maksudmu, ki sanak.” Sementara ia mengurai lengannya, tatap matanya masih penuh pertanyaan dengan pengetrapan ilmu Sarjiwa. Ia masih meyakinkan dirinya bahwa lawannya yang muda usia itu menyimpan satu ilmu yang sudah jarang dikuasai orang – orang di dunia olah kanuragan.

” Ki jagabaya, aku dan istriku merasa terancam dengan senjata para pengawal kademangan yang terhunus. Sementara angger Sarjiwa masih belum mampu mengalahkanmu. Oleh karenanya, aku memintamu memerintahkan mereka menyarungkan senjata. Lalu kami akan mengikuti kalian ke pedukuhan. Namun sebelumnya, aku persilahkan ki jagabaya memberi pelajaran unggah ungguh pada anakku.”

Panas hati ki jagabaya mendengar kata – kata terakhir Ki Winatra. Hanya pengamatan ke dalam dirinya saja yang akhirnya mampu mengendalikan keadaan.

” Bagaimanapun juga aku ingin mengetahui kedalaman ilmu langka yang dikuasai anak itu,” ki jagabaya lantas menyusun tata gerak dari permulaan. Tanpa menghiraukan kata – kata Ki Winatra, lengannya kembali bergulung – gulung cepat tatkala tubuhnya melompat panjang. Sarjiwa yang tidak lengah agaknya telah menguasai dirinya. Sepenggal waktu yang diselipkan ayahnya saat berbicara telah memberinya ruang yang cukup. Pernafasan dan kembali melihat ke dalam suara hatinya membawa Sarjiwa kembali tenang.

Ia memapas setiap tamparan dan tinju ki jagabaya. Lebih lambat dari awal pertarungan sehingga banyak bagian tubuhnya yang tersentuh tangan ki jagabaya.

” Apakah aku berhasil mengenali watak ilmu ini?” katanya dalam hati sambil merunduk menghindari punggung tangan ki jagabaya. Rasa sakit pada bagian tubuhnya seketika memudar. Ilmu Serat Waja yang diterapkan Sarjiwa bukan ilmu kebal, akan tetapi ilmu ini dapat secara terus menerus menghilangkan rasa sakit di dalam tubuhnya. Setiap rasa sakit yang diterimanya seketika musnah ketika tangan ki jagabaya berlalu dari kulitnya.

” Anak ini benar – benar gila !” seru ki jagabaya dalam hatinya dengan geram. Ia meloncat surut ketika keyakinan terhadap ilmu Sarjiwa telah memenuhi nalarnya.

Ki jagabaya mengatur kembali gerak dasar arus serangannya. Sementara desisnya,” agaknya memang benar orang itu adalah Ki Winatra.”

Satu lompatan panjang Sarjiwa telah menjadikan jarak semakin dekat. Ki jagayaba yang belum sepenuhnya bersiap kini setapak surut. Namun Sarjiwa tidak membiarkannya menjauh. Ia berusaha menjangkau pangkal bahu bagian bawah ki jagabaya. Ki jagabaya segera mengerti Sarjiwa telah mengetahui titik lemah serangannya, maka ia memindahkan arus serangan ke setiap persendian tangan Sarjiwa. Kini keduanya saling membelit, mematuk bahkan tak jarang keduanya memutar tubuh sambil melompat. Berulang kali mereka hampir bersamaan melepaskan tendangan memutar lalu benturan pun terjadi pada kaki – kaki mereka.

Orang – orang sekeliling mereka terpukau takjub. Bahkan Ki Winatra dan istrinya saling bertukar pandang keheranan melihat kemajuan Sarjiwa.

” Bagaimana anak ini meningkat demikian pesat?” kerut kening Ki Winatra semakin dekat bertaut.

” Kakang,” bisik Nyi Winatra sambil memegang erat lengan suaminya. Ia begitu cemas melihat Sarjiwa berulang kali menerima pukulan ki jagabaya. Meski begitu ia juga merasa bangga dengan kemajuan Sarjiwa.

” Apakah kau akan menyaksikan anakmu lebih menderita?”

” Tidak. Ki jagabaya benar – benar ingin memindahkan Sarjiwa ke tataran lebih tinggi. Jika ia mau, ia dapat menggunakan tenaga cadangan saat ini. Dan itu membawa akibat buruk bagi Sarjiwa. Lihatlah, ki jagabaya merubah arus serangannya menjadi lebih lengkap dan lebih luas jangkauannya,” kata Ki Winatra memusatkan perhatiannya pada gerak ki jagabaya.

” Syukurlah ! Aku sama sekali tidak mengira sebelumnya,” kata Nyi Winatra perlahan.

Perlahan dan penuh kepastian arus gerak yang lancar mengalir dari ki jagabaya telah menghimpit Sarjiwa. Kini Sarjiwa hanya mampu menangkis satu dua pukulan dan tendangan ki jagabaya yang menyambar dari segala arah. Meski begitu, Sarjiwa justru lebih dalam mengenali watak ilmu Serat Waja.

Tiba – tiba Ki Jagabaya menjatuhkan dirinya lalu dengan menggunakan kedua tangannya untuk menapak maju, ia memburu Sarjiwa dengan rangkaian tendangan yang tiada henti. Sarjiwa benar – benar tidak dapat menduga arus serangan yang sedang melanda dirinya. Kedua kaki Ki Jagabaya datang bergantian dari atas, dari bawah dan sesekali menebas dari samping kanan kiri lambungnya. Sarjiwa seolah merasa tertindih ular raksasa dengan sengatan – sengatan yang mematikan. Semasa Sarjiwa masih berusaha melepaskan diri dari tekanan sengit Ki Jagabaya, tubuh Ki Jagabaya berputar – putar tanpa henti mengalirkan tendangan demi tendangan.

Ki Jagabaya telah merasa cukup memberi pengajaran bagi Sarjiwa, lalu ia menapak kedua tangannya untuk mendorong tubuhnya melenting ke atas. Selagi kakinya mengalir dari bawah menuju bagian belakang, Ki Jagabaya menghantam dada Sarjiwa dengan kedua telapak tangan terbuka. Tidak ada yang dapat diperbuat Sarjiwa selain menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Tubuh Sarjiwa pun terjengkang roboh, sejurus kemudian ia telah tegak berdiri. Meski begitu ia tidak menderita luka- luka yang membuatnya menderita. Sakit yang dirasakan olehnya telah lenyap dalam sekejap. Tidak terlihat memar ataupun darah yang mengucur dari sela – sela bibirnya, agaknya ilmunya sedikit memanjat selapis lebih tinggi.

Ki Jagabaya telah menghentikan arus gerakannya yang seperti pusaran angin yang melilit setiap benda yang berada dalam jangkauannya.

” Angger Sarjiwa, marilah kita sudahi perkelahian ini. Aku sudah cukup melemaskan otot dan tulang dengan olah gerak malam ini,” berkata Ki Jagabaya. Lalu ia melihat ke arah Ki Winatra,” marilah Ki Winatra. Kalian dapat beristirahat di banjar malam ini. Sementara besok pagi – pagi kita berbincang luas di rumahku.”

Ki Winatra membungkuk hormat lalu mengajak serta istrinya untuk berkemas. Sarjiwa terdiam kebingungan melihat sikap ayahnya dan Ki Jagabaya. Sementara itu Kang Minto dan para pengawal kademangan kembali terhenyak dengan perubahan sikap Ki Jagabaya. Mereka seperti melihat dua sosok Ki Jagabaya yang berlainan. Di saat-saat terakhir itu mereka melihat Ki Jagabaya telah bersikap seperti biasa dalam keseharian. Sedangkan di awal pertemuan dengan keluarga Sarjiwa, Ki Jagabaya justru menunjukkan kegarangan yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.

Seseorang yang berdiri di dekat Kang Minto bertanya,” kakang, apa yang terjadi dalam diri Ki Jagabaya?”

Kang Minto hanya menggelengkan kepala. Ia masih belum berhenti mengagumi ketinggian ilmu Ki Jagabaya yang jarang sekali dilihatnya. Selain itu juga ketangkasan Sarjiwa telah membawa kesan tersendiri dalam hatinya. Kang Minto cepat menguasai diri, lalu katanya,” marilah kita bantu Ki Winatra dan keluarganya menuju banjar. Sementara yang lain dapat menuntun kuda – kuda mereka.” Beberapa orang bergegas memadamkan api dan sebagian menarik kekang kuda menuntun beriringan menuju banjar pedukuhan.

Sayup – sayup terdengar kokok ayam hutan dari kedalaman hutan kecil itu. Gerimis masih turun membasahi tanah sekitar pedukuhan yang terletak di sebelah utara Kademangan Tegalrandu. Iring – iringan yang menyertai keluarga Sarjiwa berjalan perlahan menembus kepekatan malam.

Dalam pada itu Sarjiwa mendekati ayahnya,” ayah, apakah ayah mengenali Ki Jagabaya?”

“ Entahlah.”

“ Apakah ayah telah melupakan sama sekali atau sedikit ingat dengan nama Ki Jagabaya?”

“ Aku tidak yakin.”

Jawaban pendek dari Ki Winatra membuat Sarjiwa meraba dalam gejolak di hatinya. Namun begitu, ia sama sekali tidak curiga apabila Ki Jagabaya dan pengawal kademangan akan berbuat jahat. Dengan memindahkan wawasan tentang kebaikan orang, maka Sarjiwa pun dapat menenangkan hatinya. Akan tetapi ia meyakini jika ayah dan ibunya tentu akan berbuat sama dengannya bila keadaan menjadi tidak ramah bagi mereka.

 

­

Tinggalkan Balasan