Lanjutan Api di Bukit Menoreh 398 – 13

Kegelisahan mulai mencekam Ki Sanggabaya. Seandainya bukan karena tugas dan rencana yang telah disusun bersama dengan Ki Rangga Agung Sedayu, ia sudah barang tentu meninggalkan tempat itu.

“Malam telah mendekati kedalaman. Ki Rangga Agung Sedayu juga belum menampakkan dirinya. Sampai kapan aku menunggunya? Jika aku menerobos pesanggrahan itu sendirian, tentu saja itu seperti menyalakan bara yang telah membara,” pikir Ki Lurah Sanggabaya kemudian,” baiklah, aku sebaiknya tetap berada di tempat ini hingga ayam berkokok untuk pertama kali.”

Dalam pada itu, Ki Jayaraga tidak menyadari bahwa sebenarnya ia telah diikuti oleh seseorang semenjak keluar dari regol kediaman Ki Rangga Agung Sedayu.

“Akankah ada sesuatu yang terjadi di tempat ini? Aku merasakan kehadiran satu orang lagi di sekitar tanggul. Dan agaknya orang tua yang aku ikuti itu tidak mengetahui kehadiranku,” desis penjual kayu bakar dalam hatinya. Dalam waktu yang cukup lama ia tidak bergerak di tempattnya. Lalu ia bergeser sedikit ke tempat yang lebih lapang namun tetap dengan menyembunyikan dirinya dengan tengkurap. Langkah kaki dan pergerakan tubuhnya begitu ringan sehingga kehadirannya tidak diketahui oleh KI Sanggabaya.

“Ternyata ada orang lain selain ki lurah dari pasukan khusus,” kata Ki Jayaraga dalam hatinya sambil memutar pandang matanya. Mencoba menguak setiap jengkal dalam kegelapan. Sebenarnyalah Ki Jayaraga kemudian mengetrapkan Sapta Pandulu untuk memastikan kehadirannya tidak diketahui siapa pun.

“Aku terlambat. Seharusnya aku tidak lengah ketika keluar dari rumah. Ini sudah terlambat, aku akan menanti kehadiran ki rangga lalu meringkus orang tersebut,” Ki Jayaraga mulai mengadakan pertimbangan dengan memperhatikan sekelilingnya dengan kesigapan yang tinggi. Ia kemudian memutuskan untuk melakukan pertempuran di tempat itu karena letaknya yang masih cukup jauh dari pedukuhan. “Apabila terjadi keributan di sekitar tempat ini, sudah barang tentu suara-suara yang timbul tidak akan pernah didengar oleh mereka di pesanggrahan,” gumam KI Jayaraga dalam hatinya. Dalam pada itu, orang yang mengikutinya telah berpindah tempat dan seperti halnya dengan Ki Jayaraga, kedua orang ini sama-sama tidak bergerak lagi.

Tiba-tiba ketajaman pendengarannya menangkap suara orang bercakap-cakap. Ia bergeser mendekati dengan disertai kemampuannya menyerap bebunyian. Terkejut raut muka Ki Jayaraga ketika ia mengenali sosok bayangan yang terlibat dalam percakapan itu di bawah remang sinar rembulan.

“Angger Agung Sedayu!” serunya dalam hati.

Sebenarnyalah Agung Sedayu telah mengetrapkan ilmunya yaitu Sapta Pandulu. Satu jenis  ilmu yang dapat meningkatkan kemampuan untuk melihat dengan berlipat-lipat. Dalam kegelapan, mata seserang yang mempunyai ajian Sapta Pandulu akan seperti mata seekor kucing yang sangat tajam membuka tabir dalam gelap. Dengan ilmu ini, Agung Sedayu dapat menembus pekatnya kabut yang dibuat oleh gurunya, Kiai Gringsing. “Agaknya salah satu dari Ki Jayaraga dan Ki Sanggabaya telah diikuti seseorang hingga tempat ini. Dan itu berarti orang tersebut tidak berada di tanggul dan pohon nangka,” kata Agung Sedayu dalam hatinya. Pendengaran tajam Agung Sedayu dapat merasakan desah nafas yang berbeda dari ketiga orang yang berada di sekitar tempat itu. Lalu dengan kemampuannya meringankan tubuh, ia mengitari tempat yang berseberangan dengan tanggul dan pohon nangka. Ketika mata Agung Sedayu melihat sebuah bayangan yang tidak ia kenal, seperti anak panah kemudian tubuhnya melenting sangat cepat dan ringan. Agung Sedayu melayang dan berdiri di hadapan orang itu.

“Siapakah ki sanak? Ada keperluan apakah berada di tempat ini dalam kegelapan malam?” bertanya Agung Sedayu.

Terkejut bukan kepalang orang yang disapa Agung Sedayu.

“Kemampuan setan darimana yang membuat orang ini tiba-tiba berada di depanku? Apakah ia anak iblis?” katanya dalam hati.

“Oh tidak. Aku tidak mempunyai keperluan apapun. Hanya saja kebetulan aku kemalaman dalam perjalanan hingga akhirnya aku melepas lelah di sini,” kata orang itu.

“Siapakah nama ki sanak? Mungkin ki sanak dapat aku antarkan ke banjar pedukuhan itu. Kebetulan aku mengenal baik penjaga banjar,” kata Agung Sedayu menawarkan bantuan.

“Terima kasih ki sanak. Agaknya lebih baik aku berada di tempat ini supaya tidak merepotkan orang lain,” jawab orang itu sekenanya.

“Tetapi ki sanak, aku dapat memanggil pengawal pedukuhan dan para perondan untuk memaksamu datang ke banjar. Karena dengan begitu, ki bekel dan ki jagabaya pedukuhan dapat segera melakukan sesuatu yang mungkin saja akan memberimu kebaikan,” berkata Agung Sedayu dengan tenang.

“Siapakah kau ki sanak? Kau terlalu sombong dengan memaksa seorang pengembara seperti aku.”

“Itu bukan satu kesombongan. Tetapi itulah tugasku sebagai Kepala Pasukan Khusus Mataram.”

“Kau yang bernama Ki Rangga Agung Sedayu?”

Ki Rangga Agung Sedayu menganggukkan kepala dan,” benar. Aku adalah Agung Sedayu. Dan aku sekarang akan mengantarkan ki sanak ke banjar pedukuhan dan melaporkan ki sanak kepada para pemimpin pedukuhan.”

“Baiklah. Tapi tunggu dulu, aku akan bertanya satu hal kepada ki rangga. Kiranya ki rangga sudi menilai keadaan. Sebenarnyalah Pangeran Ranapati lebih berhak berada di tahta Mataram dibandingkan dengan Panembahan Hanyarawati. Ki rangga dapat meneliti silsilah dari pangeran Ranapati.”

Kemudian Agung Sedayu mengulangi pertanyaannya,” mengapa kau tidak menyebutkan siapa dirimu kisanak? Apakah yang kau sembunyian dariku? Lalu tiba-tiba kau tawarkan aku untuk mengikuti kemauan Pangeran Ranapati.”

Dalam keremangan, wajah orang itu menjadi tegang sejenak. Lalu ia tersenyum. Katanya,” Aku biasa menyebut diriku sebagai Ki Rambetaji. Dan aku mengajakmu bergabung adalah karena Pangeran Ranapati adalah putra pertama dari Panembahan Senapati.”

Agung Sedayu masih menujukkan wajah yang datar dan tidak mengesankan apa-apa. Tentu saja hal itu menimbulkan keheranan bagi Ki Rambetaji.

Lalu Agung Sedayu berkata,”Siapakah orang itu yang tiba-tiba mengaku sebagai putra pertama Panembahan Senapati? Apakah ia benar-benar mempunyai silsilah seorang sultan atau mungkin raja dari Majapahit? Ki Rambetaji, kedudukanku sebagai pemimpin pasukan khusus tentu tidak akan mudah begitu saja berpaling sekalipun yang kau katakana itu benar. Paugeran Mataram telah menetapkan Panembahan Hanyakrawati sebagai pemimpin yang sah. Sebaiknya kiai bangun dari tidur dan segera sadar bahwa aku bukan bagian dari mimpi itu.”

Ki Rambetaji menjadi memerah di wajahnya. Dengan senyum yang dipaksakan, ia berkata,” nampaknya memang benar kau adalah orang yang keras kepala dan sombong. Aku akan bertindak lebih jauh dan sedikit kekerasan.”

“Kau akan segera tahu kekerasan hati orang-orang Tanah Perdikan Menoreh. Kami bukan orang yang mudah tunduk kepada tawaran dan ajakan orang lain yang tidak sesuai dengan paugeran dan keyakinan kami.”

Ki Rangga Agung Sedayu yang bersikap tenang itu membuat Ki Rambetaji mendapatkan kesan mendalam. Ia melihat bahwa sikap itu adalah cermin dari keyakinan atas kemampuan yang ada dalam dirinya. Juga sebuah sikap atas keyakinan tentang nilai-nilai yang dianutnya selama ini.

“Esok pagi, tubuhmu akan ditemukan terkapar di sini. Seisi rumahmu akan menangisi dirimu hingga suara tangisnya akan terdengar sampai ke Sangkal Putung!” kata Ki Rambetaji mencoba mengusik perasaan Agung Sedayu.

“Ungkapan kata kiai sangat menggetarkan hati. Kiai telah menebar ancaman yang menakutkan,” tatapan tajam mata Ki Rangga Agung Sedayu seolah menghunjam jantung Ki Rambetaji.

Tiba-tiba Ki Rambetaji menggeram lalu meloncat menerjang Agung Sedayu. Agung Sedayu telah bersiap sepenuhnya, sejenak kemudian, keduanya telah mulai terlibat dalam pertempuran. Sementara itu Ki Jayaraga memperhatikan pertempuran itu dengan seksama. Ia segera tahu bahwa keduanya masih dalam tataran saling menjajagi kemampuan lawan.

“Aku masih mempunyai tugas yang lebih penting dari sekedar pertempuran ini. Aku selesaikan orang ini lebih cepat,” Ki Rangga Agung Sedayu mulai menyusun rencana sambil meningkatkan serangan selapis demi selapis. Tiba-tiba Agung Sedayu dengan garang berusaha menggulung lawannya yang telah mencoba membujuknya untuk memberontak pada Mataram. Serangan yang ia lepaskan menjadi semakin cepat dan semakin mantap bergerak. Tangan Agung Sedayu berputaran mendebarkan dan sesekali mengeluarkan suara berdesing kencang seperti suara suitan nyaring. Serangan Agung Sedayu menyambar-nyambar dari segala arah. Agaknya ia mengetrapkan ilmu yang baru dikuasainya dari kitab Ki Waskita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *