Bara di Borobudur 9

Siwagati yang tidak ingin menerima serangan terlebih dahulu, lekas berlari kecil meluncur kencang dengan satu gempuran yang cukup kuat. Toa Sien Ting tidak mengira sama sekali Siwagati dengan gerak kaki  yang melangkah kecil menyusur tanah itu tiba – tiba berada di depannya. Sejurus berlalu dan kedua orang itu telah terlibat dalam suatu pertempuran yang sengit.

Di bawah gemblengan Ki Sarwa Jala, Siwagati lebih memusatkan perhatiannya pada kecepatan gerak. Ia belum lebih jauh menyingkap sumber lekuatan dalam dirnya. Ki Sarwa Jala tampaknya mengetrapkan penekanan yang berbeda dengan kakak Siwagati. Dalam diri Sumba Sena terpancar kekuatan wadag yang lebih besar jika dibandingkan dengan kegesitan bergerak.

Siwagati benar – benar memanfaatkan kelincahan dan kelenturan tubuhnya untuk mengurung Toa Sien Ting. Tangan dan kaki Siwagati bergantian menyengat garis pertahanan Toa Sien Ting. Ketika Toa Sien Ting menghindari satu pukulan,  tiba – tiba sebuah tebasan dari tumit Siwagati menusuk dari arah yang lain.

Akan tetapi yang menjadi lawan Siwagati adalah Toa Sien Ting yang telah ditempa pahit getir dalam olah kanuragan di negerinya sendiri. Ia setapak surut lalu membalasnya dengan lutut yang menghantam ke bagian lambung Siwagati. Siwagati  melihat arah serangan cepat menghindar ke belakang. Sekejap waktu itu segera terpahat oleh Toa Sien Ting. Oleh karenanya ia masih mengulur waktu untuk menilai kemampuan Siwagati lebih mendalam. Pada saat Toa Sien Ting sedang bersiap diri, Siwagati lagi – lagi membuat kejutan yang tidak disangka – sangka oleh para tetamu dari negeri seberang. Siwagati melompat panjang dan selagi kedua kakinya masih di udara, ia membuka dua jalur serangan. Kedua lengannya mengembang lalu didorongnya ke depan. Dalam pada itu salah satu kakinya menekuk ke belakang dan siap menyusupkan satu tendangan. Toa Sien Ting itu menggeser tubuhnya selangkah ke samping dan dalam pada itu ia dengan menggerakkan satu kakinya  untuk menusuk dari bagian bawah tubuh Siwagati yang sedang melayang. Akan tetapi dugaannya ternyata keliru karena Siwagati justru lebih cepat menjulurkan kakinya ke pangkal paha Toa Sien Ting.

“ Setan betina!” seru Toa Sien Ting dalam hatinya. Betapa ia mengira serangan Siwagati akan diawali dengan kedua tangannya. Mau tidak mau ia harus menerima tendangan kaki Siwagati yang melibas dengan kuat itu dengan merendahkan tubuh dan menyilangkan lengan menutup celah tubuhnya.

Tiga orang kawan Toa Sien Ting saling berpandangan. Tidak ada satu orang dari mereka yang menyangka kekuatan Siwagati. Mereka baru menyadari di balik kelembutan Siwagati tersimpan kemampuan yang berada di luar nalar mereka. Dengan mulut ternganga heran mereka melihat pertempuran dahsyat di tengah halaman.

Baca juga Hipertensi dan Terapi Bekam

“ Aku tidak berpikir sedikit pun jika di tanah ini ada seorang gadis muda yang hampir saja membawa Toa Sien Ting dalam penyesalan,” akhirnya berkata Liem Go Song. Tung Fat Ce menganggukkan kepala mendengar desah dari bibir Liem Go Song. Feng Kong Li memandang Ki Sarwa Jala lurus, Ki Sarwa Jala pun menyambutnya dengan senyum mengembang.

“ Setidaknya kita telah mengetahui siapa guru dari gadis itu, dan ia juga dapat menjadi cermin bagaimana gurunya membuka gelaran ilmu,” kata Feng Kong Li.

“ Kau benar. Dan agaknya akan menjadi pertarungan yang menggetarkan langit apabila lawannya juga seimbang dengannya,” berkata Tung Fat Ce sambil mengelus jenggotnya.

Tiga orang pengawal kademangan sesekali bertukar pandang. Hati mereka dicengkeram rasa bangga yang luar biasa.

” Kita tidak pernah melihatnya bertarung seperti ini selama melakukan latihan bersama dengannya,” kata seorang pengawal yang berambut panjang.

” Ternyata Siwagati berada jauh di atas tataran lima kelompok pengawal. Sungguh kademangan ini beruntung memiliki ki demang seperti Ki Sayuti yang telah berkorban banyak demi kademangannya. Termasuk anak perempuannya yang justru menjadi benteng yang akan sulit ditembus para penyamun yang mencoba – coba datang kemari,” kata orang satunya sambil manggut – manggut.

Benturan keras tidak terelakkan dan keduanya terhempas ke belakang satu dua langkah.

Rasa cemas mulai merayapi Siwagati ketika dua serangannya yang sangat cepat itu belum dapat melumpuhkan lawannya. Akan tetapi ia belum mempunyai keinginan untuk mengadu ilmu dengan senjata karena ia menyadari bahwa perang tanding ini hanya sebuah pendadaran. Ia menarik nafas panjang dan menghembus pelan melalui kedua lubang hidungnya. Perlahan ia menata kembali tata gerak yang diajarkan gurunya. Siwagati akan mencoba dengan sebuah gerakan yang sudah ia kuasai namun belum mendapat kesempatan sesungguhnya.

Ia kembali menyusur tanah dengan langkah kecil lalu tiba – tiba tubuhnya melenting kencang menerjang Toa Sien Ting. Kaki – kaki Siwagati susul menyusul menerpa ke seluruh bagian depan tubuh Toa Sien Ting. Bergantian dengan kedua tangannya menghantam bertubi – tubi dalam kepalan yang kuat. Seperti badai menerpa hutan di lereng Merapi, kedua kaki dan tangan Siwagati menghunjam dengan kecepatan seperti bayangan setan.

“ Luar biasa!” kata Liem Go Song dengan mata terbelalak. Kemudian,” benar-benar serangan yang amat hebat, cepat dan mematikan!”

cropped-img_20180124_182436_516.jpg

Kepalan tangan Siwagati lurus menerpa dahi Toa Sien Ting. Satu hantaman yang dapat membuat retak tulang kepala lawannya. Toa Sien Ting cekatan memindahkan berat tubuhnya ke belakang dan mengayunkan lengannya untuk menangkis pukulan Siwagati.  Seruan tertahan keluar dari Toa Sien Ting ketika telapak tangannya seperti membentur batu hitam yang sangat cadas. Ia merasakan seluruh tangannya terasa nyeri hingga ke pangkal bahu. Bagaimanapun juga Toa Sien Ting adalah orang yang berilmu tinggi dan pengalaman yang sangat luas. Meskipun benturan itu menyakitkan tangannya tetapi ia tidak kehilangan pengamatan. Melihat Siwagati berteriak kesakitan, telapak tangan Toa Sien Ting cepat berputar meremas kepalan tangan Siwagati. Siwagati mencoba melepaskan dirinya dengan melompat tinggi dan memutar tubuhnya. Kini satu kaki Siwagati siap menebas kening Toa Sien Ting.

Toa Sien Ting cepat melepas genggamannya dan membuang tubuh sambil berguling ke belakang. Sambil menahan rasa sakit pada tangannya, Siwagati mendera lawannya dengan serangkaian tendangan yang dilontarkan dalam jarak dekat. Kedua kaki Siwagati datang bagaikan hujan yang sangat deras hingga Toa Sien Ting tidak mempunyai kesempatan untuk bagkit berdiri.

Dengan sejumput tanah yang sempat direnggutnya ketika berguling – guling, Toa Sien Ting melemparkannya ke arah wajah Siwagati.

” Licik!” dengus Siwagati dengan menyilangkan telapak tangganya di depan muka dan meloncat surut. Ia menjadi marah dengan kelicikan Toa Sien Ting. Dengan nafas yang memburu ia menata gerakan.

Sementara itu Ki Sayuti merasakan cemas melanda hatinya melihat Siwagati yang bertempur seperti seseorang yang tidak memiliki jantung. Ia menoleh ke arah Ki Sarwa Jala seakan ingin mendengar penjelasan dari guru Siwagati yang sudah seperti kakeknya sendiri. Ki Sarwa Jala seperti merasakan gelora dalam hati ki demang, ia lalu memberi tanda untuk tetap bersikap tenang. Ki demang pun mengurungkan niatnya yang nyaris terlontar dari bibirnya.

Toa Sien Ting melenting bangkit berdiri. Agaknya ia menyadari kemampuan gadis muda yang berdiri di hadapannya tidak dapat dipandang sebelah mata. Sekalipun ia merasa sesak di dalam dada karena hampir dipermalukan, ia masih melihat keseluruhan pendadaran.

” Sedikit mundur akan membuat keadaan lebih baik. Aku tak peduli dengan harga diri,” desah Toa Sien Ting dalam hatinya.

” Aku mengakui kelebihanmu, nona muda. Marilah, kita sudahi pertarungan ini,” kata Toa Sien Ting menjura hormat.

” Kita belum beralih dengan senjata, ki sanak,” kata Siwagati.

” Kekuatan yang tersimpan di kedua tangan dan kakimu sudah cukup memberiku pelajaran, anak muda. Perjalananku akan segera berakhir di halaman ini dengan senjatamu. Sudah tentu kau akan lebih hebat dari yang kau lakukan tadi,” senyum Toa Sen Ting mengembang dipaksakan. Ia harus menelan kehormatannya sebagai seseorang tokoh yang disegani di negerinya.

” Tuan – tuan sekalian datang bertemu ayahku dengan satu tujuan. Namun agaknya tuan harus membawa tujuan itu kembali pulang ke negeri asal tuan. Kademangan ini tidak membutuhkan orang – orang baru,” kata Siwagati, selanjutnya,” kademangan ini sedang belajar untuk mempertahankan diri dan kehormatan. Silahkan tuan – tuan sekalian membawa tujuan itu ke daerah yang lain.”

Siwagati lantang berbicara sambil bertolak pinggang. Meski usianya masih muda akan tetapi kedudukannya sebagai anak seorang pemimpin telah menjadikannya mempunyai ketegasan sikap. Selain itu juga pergaulannya dengan orang – orang di kademangan telah membentuk dirinya lebih keras. Siwagati menarik konde panjang yang terselip di ikat pinggangnya. Kedua konde sepanjang lengan telah erat dalam genggamannya. Ujung – ujungnya yang tajam telah siap menyayat harga diri orang – orang asing yang sekarang berada di hadapannya.

” Marilah ki sanak. Kalian berempat tentu tahu penentuan pendadaran ini akan diakhiri dengan senjata. Dan kalian juga tahu letak pintu keluar dari halaman ini,” Siwagati merendahkan kedua lututnya. Sikap tubuh yang siap menerkam mangsa telah disusun Siwagati.

Panas muka Toa Sien Ting dan kawan – kawannya mendengar ucapan perempuan muda yang melakukan pendadaran terhadap dirinya. Ia mengurai cambuknya yang terbuat dari lingkaran – lingkaran besi yang kecil dan serabut dari baja berada pada ujungnya. Cambuk rantai yang melilit pundak dan perutnya menjuntai panjang seperti seekor ular berwarna hitam pekat. Kemarahannya segera tersalur ke setiap lingkaran di cambuknya.

” Anak itu amat sombong. Sebentar lagi Toa Sien Ting akan mengajarinya sopan santun,” kata Feng Kong Li.

” Meskipun aku jengkel dengannya, tapi kita harus dapat membedakan antara kesombongan dengan percaya diri,” Tung Fat Ce berkata bijak.

 Baca juga : Bara di Borobudur 4

” Tutup mulutmu. Petuahmu itu tidak akan berguna apabila Toa Sien Tong tidak mampu menundukkan kebinalan gadis itu,” sahut Feng Kong Li. Tung Fat Ce diam dengan nafas panjang. Memang ada benarnya kata – kata Feng Kong Li. Kekalahan Toa Sien Ting dalam pendadaran ini akan mengirim meteka keluar dari kademangan. Diam – diam Feng Kong Li menyalurkan tenaga cadangannya ke ujung – ujung jarinya untuk membantu Toa Sien Ting kala terdesak.

Dalam pada itu Ki Sarwa Jala berseru,” tahan!” Sambil meminta pengawal kademangan memberikan tongkat kayu yang sama panjang kepada dua orang itu.

” Tidak boleh ada darah yang tumpah di halaman ini. Tidak juga sebuah kematian. Kalian berdua adalah orang – orang pilihan dengan senjata macam apapun. Nah, sekarang kembalilah bertarung dengan bersenjata tongkat kayu,” kata Ki Sarwa Jala tegas.

Ki Sayuti menarik nafas lega karena dengan begitu Siwagati tidak akan mengalami luka – luka yang parah.

” Berhati – hatilah, ngger,” pelan Ki Sayuti berkata. Siwagati menganggukkan kepala mendengar ayahnya. Kedua tusuk konde segera ia titipkan pada pengawal.

Toa Sien Ting agaknya akan tergetar oleh amarah. Seakan seleret api menjilat keluar dari mata Toa Sien Ting saat ia beradu pandang dengan Siwagati. Ia tidak lagi melihat Siwagati sebagai perempuan muda yang cantik, akan tetapi ia melihat wajah Siwagati seperti iblis yang sedang mengejek dirinya.

Ia menarik nafas dalam – dalam memusatkan pikiran dan batinnya.  Ujung tongkatnya bergetar halus teraliri hawa tenaga yang besar. Agaknya ia ingin benar – benar mengajari Siwagati tentang tata krama.

” Aku harus menggebrak lebih dulu,” bisik Toa Sien Ting pada dirinya sendiri.

Satu lengkingan yang tajam menusuk telinga mengawali badai serangan Toa Sien Ting. Sinar kehijau – hijauan cepat berputaran di sekelilingnya. Tubuhnya melaju pesat dengan pusaran sinar hijau menerjang Siwagati. Siwagati terkejut dengan gempuran Toa Sien Ting yang menggetarkan detak jantung. Siwagati mundur setapak memperkuat kedudukan tubuhnya. Dengan lugas ia menyambut terjangan lawannya. Keduanya kini saling membelit, dan berusaha saling mempengaruhi pertahanan untuk menetakkan tongkat.

Ki Sarwa Jala terkesima dengan gebrakan Toa Sien Ting. Ia mulai khawatir dengan kemungkinan buruk yang menimpa muridnya. Akan tetapi sedikit keyakinan merebak dalam hatinya menyaksikan Siwagati cekatan menghindar badai serangan Toa Sien Ting.

Sedangkan di tengah gulungan sinar kehijauan yang saling membelit, Toa Sien Ting tersentak bukan kepalang. Ia yang baru pada hari itu melakukan pertarungan semenjak tiba di Tanah Jawa tidak mengira jika lawannya adalah seorang gadis yang sangat lincah. Tubuh Siwagati meliuk – liuk seperti tarian yang biasa terselenggara di istana raja.  Namun Toa Sien Ting telah kaya dengan pengalaman sehingga cepat ia menguasai diri dan mulai menekan Siwagati dengan tongkatnya yang telah dilambari tenaga dalam. Bagaimanapun juga kelincahan Siwagati dapat dibatasi dengan pengalaman luas dari Toa Sint Ting yang sudah tidak lagi mengejarnya. Toa Sien Ting menggeser kakinya setapak demi setapak, terkadang memutar tubuhnya akan tetapi ia tidak bergeser dari tempatnya. Tongkat Toa Sien Ting berputar lebih cepat dan sesekali ia membenturkan ke tongkat Siwagati.

Terasalah bagi Siwagati jika lawannya mempunyai kekuatan beberapa lapis di atasnya. Meski begitu, ia tidak menunjukkan kelemahan dengan menahan rasa nyeri akibat getaran yang timbul dari benturan yang terjadi.

Lambat laun Siwagati merasakan gerakannya terhalang oleh rasa nyeri di kedua tangannya. Rasa nyeri itu terasa hingga menusuk ke dadanya. Tiba – tiba ia melompat jungkir balik menjauhi Toa Sien Ting, dalam pada itu Toa Sien Ting menyimpan rasa hormat pada Siwagati. Toa Sien Ting memperkirakan lawannya akan roboh terkulai sebelum pertarungan dengan senjata itu menapak lima puluh jurus. Kekuatan hati Siwagati menjadi sebab utama sehingga ia masih mampu melanjutkan pertarungan itu hingga Toa Sien Ting harus mengungkap tenaga cadangannya.

Selagi Toa Sien Ting termangu – mangu mengagumi kehebatan Siwagati, tiba – tiba Siwagati kembali menyerang dengan hebat. Tongkat Siwagati berputar lebih cepat hingga mengeluarkan suara berdengung.

“ Apa yang terjadi dengan anak ini?” pikir Toa Sien Ting. Kawan – kawannya terbelalak karena mereka tahu bahwa Siwagati belum sampai pada tataran penyingkapan tenaga cadangan. Namun kekuatan wadag yang tersimpan dalam tubuh Siwagati yang tidak begitu besar sungguh luar biasa. Memang sulit untuk dipercaya di balik tubuh langsing Siwagati tersimpan sebuah tenaga yang dapat merobohkan seekor lembu. Sungguh untuk saat itu Toa Sien Ting sudah tidak lagi dapat berpikir lebih panjang. Dia harus segera mengakhiri pendadaran yang disaksikan juga oleh Ki Wisanggeni. Toa Sien Ting menyambut badai serangan Siwagati dengan lompatan pendek dan secara langsung ia membenturkan tongkatnya  pada setiap putaran yang dibuat oleh Siwagati.

Sejurus kemudian terdengar keluhan tertahan dari Siwagati, tiba – tiba ia merasakan rasa nyeri pada tulangnya. Rasa nyeri itu merasuk hingga seperti meremas setiap jengkal tulang tangan dan dadanya. Toa Sien Ting lantas cepat mengakhiri perlawanan Siwagati dengan dua pukulan pelan yang menyentuh simpul urat di bagian leher dan pundak lawannya. Sentuhan itu menjadikan Siwagati terkulai lemas dan akhirnya roboh.

Post Author: Ki Banjar Asman

1 thought on “Bara di Borobudur 9

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *