Lanjutan Api di Bukit Menoreh 398 – 14

“Angger Agung Sedayu kini mempunyai senjata yang tidak kalah dengan cambuk miliknya. Ilmu dari kitab Ki Waskita ini benar-benar nggrigisi,” desah Ki Jayaraga perlahan pada dirinya sendiri.

Ki Rambetaji segera meningkatkan ilmunya melampaui beberapa tataran. Ia harus banyak menyesuaikan dengan serangan Agung Sedayu namun rupanya ia belum terlambat. Sesekali ia melontarkan serangan yang tidak kalah garangnya. Setelah melewati beberapa tata gerak, Ki Rambetaji meluncurkan hantaman mengarah dada tepat di jantung, Agung Sedayu. Agung Sedayu memapas hantaman itu dengan telapak tangan terbuka, ia juga berusaha melepaskan dorongan melawan kekuatan Ki Rambetaji.

Agung Sedayu terdorong surut beberapa langkah namun ia segera menguasai keseimbangan dan sejenak berdiri tegak. Lalu melesat secepat burung sikatan menyambar belalang. Sementara itu, Ki Rambetaji juga terdorong ke belakang. Namun sebelum ia mengembalikan keseimbangan, serangan Agung Sedayu kembali datang susul menyusul bergelombang. Keadaannya Ki Rambetaji kini semakin sulit. Serangan Agung Sedayu kini lebih banyak menggapai sasaran. Rasa sakit kini menjalar ke seluruh bagian tubuhnya dan seakan-akan mulai meremas jantungnya. Ki Rambetaji pun segera meloncat jauh mengambil jarak dari serangan Agung Sedayu.

Ki Rangga Agung Sedayu memang merasakan sedikit tekanan didadanya, namun keadaan itu ternyata ia abaikan. Ia tetap mengejar Ki Rambetaji setelah mengatasi tekanan di dadanya dengan satu tarikan nafas.

”Anak iblis!“ Ki Rambetaji menggeram kesakitan ketika tumit Agung Sedayu mampu menggapai lambung kanannya. Ia tidak menduga bahwa lawannya itu ternyata berada di tataran yang lebih tinggi darinya.

Dalam pada itu, Ki Sanggabaya mendekati daerah pertempuran ketika ia mendengar suara orang berkelahi. Ia terkejut ketika melihat Ki Rangga Agung Sedayu sedang bertempur melawan orang yang tidak dikenalnya. “Bagaimana mungkin orang itu berada di dekatku lalu tiba-tiba ki rangga berkelahi tanpa aku mendengar kehadirannya?” desis Ki Sanggabaya yang telah mengerti ketinggian ilmu yang ada dalam diri pimpinan pasukan khusus itu.

Ki Rambetaji benar-benar tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan serangan balasan. Ia masih berlompatan menghindar serangan Agung Sedayu. Satu benturan kemudian tidak dapat terelakkan lagi. Tubuh Ki Rambetaji terguling-guling, dan dalam pada itu Ki Rangga Agung Sedayu terseret ke belakang dengan telapak kaki yang semakin dalam menjejak tanah. Agung Sedayu kembali menyusulkan serangan namun Ki Rambetaji segera meloncat bangun. Dari kedua tangannya melaju kilatan sinar putih ke bagian tubuh yang berbahaya dari Agung Sedayu. Belasan pisau belati kecil melayang dan mengeluarkan suara mendengung yang memekakkan telinga. Agung Sedayu yang tengah menerjang dengan pukulan-pukulan berbahaya melihat bahaya yang datang, ia memiringkan tubuhnya dan berputaran seperti gasing mengelak dengan cepat.

“Sebenarnya aku enggan berurusan dengan orang-orang dari Menoreh. Tetapi sekarang terpaksa aku lakukan karena aku melihat kebenaran telah datang dari sisi Pangeran jayaraga dan Pangeran Ranapati,” berkata Ki Rambetaji seraya menyusun ulang tata gerak.

Seperti biasa yang terjadi dalam perang tanding di masa lampau, Agung Sedayu hanya menatap tajam kedua mata lawannya. Ia lantas melenting tinggi sambil mengetrapkan ilmu baru yang dipelajari dari kitab Ki Waskita. Beberapa lapis tenaga cadangan ia ungkapkan, tiba-tiba terdengar suara melengking tajam dari angkasa bersamaan dengan tubuhnya yang menurun sangat deras ke arah lawannya.

“Anak iblis! Sedemikian tinggi ilmu senapati pasukan khusus ini!” geram Ki Rambetaji. Dengan tangan kiri bersilang di depan dada dan tangan kanan yang didorongkan memapas serangan, Ki Rambetaji mengetrapkan ilmu yang mengeluarkan hawa sedingin es.

“Mengerikan! Pantaslah kiranya jika aku berada di bawah adik sepupunya jika ki rangga begitu luar biasa,” desis Ki Sanggabaya yang pernah mengalami kekalahan dari Glagah Putih ketika diadakan perang tanding di barak pasukan khusus. Ki Sanggabaya pada saat itu ingin menjajagi ketinggian ilmu Agung Sedayu yang akan menjadi pemimpinnya. Akan tetapi kemudian Glagah Putih mengambil tanggung jawab kakak sepupunya itu dan berhasil mengalahkan Ki Sanggabaya melalui satu cara yang tidak membahayakan mereka berdua.

Agung Sedayu semakin dekat meluncur dan  ketika tangan kanannya bergerak, terdengar bunyi bercuitan lebih menyakitkan telinga. Terlihat satu gelombang panas seperti uap air yang amat halus menyambar ke seluruh bagian depan tubuh Ki Rambetaji. Ki Rambetaji lantas memutar tangan kanannya mencoba menangkis hawa pukulan yang mengandung hawa sangat panas itu. Udara berubah menjadi sedingin air yang membeku segera melanda hingga ke tempat Ki Jayaraga berada. Ki Jayaraga merasakan detak jantungnya seperti akan terhenti melihat dua kekuatan yang berlawanan sifat. Ditambah pengaruh hawa dingin yang menjalar sampai menusuk tulangnya. Desir darah Ki Jayaraga seolah mengalir lebih cepat dan ia merasakan ketegangan yang belum pernah ia alami sebelumnya.

“Luar biasa!” desis Ki Jayaraga. Ia memusatkan nalar budinya untuk menghalau pengarauh hawa dingin yang keluar dari tangan Ki Rambetaji. Sedangkan di tempat lain, Ki Sanggabaya merasakan urat syarafnya menjadi kaku. Tulang belulang di sekujur tubuhnya terasa seakan menjadi patah, dan ia merasakan kulitnya begitu pedih seperti tertusuk ribuan duri.

Tangan kiri Ki Rambetaji menyambut dengan hantaman dari samping dengan jari terbuka, akan tetapi ia tercengang ketika Agung Sedayu mampu membelokkan arah serangan. Tubuh Ki Rangga Agung Sedayu berputar dan menyambut pukulan tangan kiri lawannya. Ia menggunakan dorongan tenaga dari lawannya itu untuk beralih ke sebelah kanan. Ki Rambetaji tercengang sesaat.

Demikianlah, ketika Ki Rambetaji mencoba memperkuat unsur gerakannya, Agung Sedayu tanpa ia duga telah menyusupkan satu pukulan mengarah ke dadanya. Meskipun Agung Sedayu tidak melambari sepenuh tenaga namun akibat dari pukulan itu sangat dahsyat. Ki Rambetaji yang mengangkat lutut kanannya untuk membendung pukulan Agung Sedayu terpental jauh dan suara keras terdengar ketika tulang kakinya patah.  Ki Rambetaji berguling-guling menahan rasa sakitnya. Ki Jayaraga segera keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Ki Rambetaji.

“Ilmu orang itu sangat tinggi, jika bukan angger Agung Sedayu yang menjadi lawannya, sudah barang tentu aku akan mengalami kesulitan untuk mengalahkan dirinya,” gumam Ki Jayaraga sembari menyapukan pandangannya mengamati tempat yang menjadi ajang perkelahian itu.

Ki Jayaraga kemudian berjongkok di sebelah Ki Rambetaji yang menahan rasa sakit luar biasa. Kemudian katanya kepada Ki Rambetaji,“ diamlah! Aku akan mencoba mengobati luka-lukamu.” Lalu ia menoleh ke arah Agung Sedayu dan berkata,” angger, tinggalkan tempat ini. Aku akan pergi ke pedukuhan kecil itu. Sementara ia tidak akan dapat bergeser barang sejengkal. Mungkin ki bekel akan dapat mengirim beberapa orang untuk menolongku membawa orang ini ke rumah Ki Gede.”

“Baik kiai,” Agung Sedayu mengangguk lalu meminta diri. Dalam pada itu, Agung Sedayu telah mengetahui kehadiran Ki Sanggabaya pun memanggilnya untuk mendekat.

“Ki Sanggabaya, mari kita tuntaskan rencana kita sebelumnya.”

“Lalu bagaimana dengan orang itu?” Ki Sanggabaya menunjuk Ki Rambetaji yang terbujur lemas dan dalam perawatan Ki Jayaraga.

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ki Jayaraga akan segera membawanya ke rumah Ki Gede Menoreh. Orang itu akan berada di sana dalam beberapa hari. Dan jika nanti perkembangan menunjukkan yang berbeda, kita akan membawanya ke barak pasukan khusus.”

Segera kedua pemimpin pasukan khusus itu melangkah cepat mendekati pesanggrahan milik Ki Tumenggung Wirataruna yang berjarak beberapa ratus tombak ke arah barat. Agung Sedayu segera memberi tanda untuk berhenti. Ia memusatkan nalar dan budinya untuk mengetrapkan ajian Sapta Pangrungu. Ia mencoba menangkap setiap bunyi yang ada di sekitarnya. Ki Sanggabaya tidak membuat gerakan apapun. Bahkan ia sangat berhati-hati mengatur pernafasan agar tidak menganggu usaha yang dilakukan oleh Agung Sedayu. Agung Sedayu mengetahui sekelompok kecil orang melangkah menjauh dari tempat mereka berhenti.

Di akhir malam itu, langit menumpahkan air yang menetes kecil. Gerimis hujan tidak menyurutkan kedua prajurit Mataram itu untuk lebih dekat dengan pesanggrahan. Kedua orang itu kemudian merayap ketika jarak semakin dekat dengan gardu penjagaan yang untuk pertama kali dilihat oleh Ki Rangga Agung Sedayu.

“Agaknya pesanggrahan ini benar-benar berubah dari  keadaan semula,” gumam Ki Rangga Agung Sedayu dalam hatinya.

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok-pojok warung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *