Bara di Borobudur 15

Bondan menjatuhkan diri menghindar dari  ancaman maut, sehelai tipis bandul besi yang bergerigi itu nyaris merobek kulitnya. Ia menggulingkan tubuh menjauh dari jangkauan rantai besi Ki Kalong Pitu lantas melenting ke atas hentakan kedua tangannya. Lawan Bondan tidak melepaskan sasarannya, bergantian bandul besi itu bertubi – tubi berusaha menjangkau tubuh Bondan. Bondan meningkatkan gerakannya lebih cepat. Lambat laun ia mampu mengimbangi lontaran demi lontaran bandul besi yang mengejar kemanapun ia bergerak. Saat Bondan melejit ke samping kiri dan tubuhnya berkelebat dengan ikat kepala melecut pesat menusuk ke arah dada lawannya. Ki Kalong Pitu berjungkir balik lalu cepat membalas serangan Bondan. Pertempuran seru pun  kemudian terjadi, keduanya saling melilit dan melibat dahsyat. Akan tetapi keduanya masih belum merasa perlu untuk membenturkan kekuatan.

” Anak ini sungguh hebat. Dimana ia berguru?” gumam Ki Kalong Pitu keheranan dengan kemampuan Bondan  mengolah gerak sehelai kain sampai berkekuatan dahsyat sedangkan ia melihat keris terselip di bagian bawah punggung Bondan.

” Apakah kau simpan kerismu itu untuk memotong kayu di dapur, anak muda?” kata Ki Kalong Pitu memancing Bondan.

Bondan sama sekali tidak menghiraukan kata – kata lawannya, ia justru mengebutkan ikat kepala menusuk mata. Ki Kalong Pitu memiringkan kepala menghindari tusukan dari ujung ikat kepala. Akan tetapi kebutan itu disertai lambaran tenaga yang sangat kuat sehingga keluar bunyi ledakan yang menggetarkan urat pendengaran Ki Kalong Pitu. Sekejap telinga lawannya berdenging keras dan sedikit sakit ia rasakan pada gendang telinganya. Wajah Ki Kalong Pitu menjadi pucat terkejut dengan perubahan gerak yang mendadak dan hampir meretakkan kepalanya. Bukan hanya itu, satu sabetan mendatar dilepaskan Bondan meluncur ke arah leher lawannya. Tak ingin lehernya terbelit hingga patah, ia menundukkan kepala. Ikat kepala itu akhirnya melintas diatas kepala menebas angin.

Akan tetapi Bondan telah siap menyambut kepala lawannya dengan telapak tangan mengembang menuju kening lawannya. Dua serangan beriringan cepat memaksa Ki Kalong Pitu meloncat surut namun gerakan itu terbaca oleh Bondan yang lebih cepat menjulurkan kaki kirinya mengenai pundak kanan lawannya. Dorongan kaki Bondan itu juga dijadikanya sebagai pijakan untuk melenting ke belakang.  Ki Kalong Pitu terpental sedikit jauh ke belakang dan merasa tulang pundaknya seakan patah. Ia berdiri dengan terhuyung – huyung sambil memegang pundaknya yang tulangnya seolah akan lepas.

kata-bijak-jawa-datan-serik-lamun-ketaman-datan-susah-lamun-kelangan

Sementara itu, kelompok pimpinan  Ki Gancar Sengon, yang jumlahnya juga berkurang, telah merambah di halaman. Mereka  bergabung dengan rekan – rekannya yang terdesak. Kedatangan kelompok ini disambut sorak sorai gembira para pengawal pedukuhan yang mulai jerih melawan sepak terjang orang – orang dari Menoreh.

Betapa tidak, dari para pengawal Menoreh itu ada yang menggunakan ikat pinggang sebagai senjata. Ada yang berkelahi dengan dada telanjang karena pakaiannya telah dilepas dan digunakan sebagai senjata sederhana tapi sangat mengganggu olah senjata dari lawan – lawannya. Ditambah Jalutama yang bertarung dengan tenang tapi serangannya sangat garang meskipun dikeroyok lima orang kelompok Ki Kalong Pitu. Ketenangan dan kegarangan Jalutama telah mendorong orang – orang Menoreh untuk berkelahi lebih mantap dan mapan. Sedangkan Ki Hanggapati yang menggunakan sebatang pedang berkelahi cukup gesit dan tangkas, bahkan ia berhasil mengikat dua pengawal pedukuhan untuk mengeroyoknya.

Di tempat lain, Ki Sukarta bertarung satu lawan satu dengan ki bekel pedukuhan. Perkelahian itu cukup seimbang, keduanya sama – sama kuat mempertahankan kedudukan.

” Orang ini akan mampu bertahan hingga senja jika aku hanya bertarung dengan tangan kosong,” desah lirih ki bekel. Hingga kemudian Ki Sukarta harus berloncatan menghindar karena ki bekel telah menggunakan senjata.

” Curang!” seru Ki Sukarta.

” Tidak ada kecurangan untuk sebuah tujuan. Apakah menurutmu keberhasilan itu diukur dengan kejantanan?” seringai ki bekel nampak seperti dukun sihir terkekeh memamerkan gigi -gigi berwarna hitam. Ki bekel gencar menghujani Ki Sukarta dengan golok kecil berbahan baja. Golok ki bekel menebas mendatar, merobek silang, dan tusukan – tusukan yang mengarah bagian atas Ki Sukarta.

Selain itu, orang – orang Tanah Perdikan Menoreh menyadari kebenaran ucapan Jalutama. Mereka bertarung demi kehormatan tanah kelahirannya dan kebanggaan sebagai pengawal. Apalagi keberadaan sosok Jalutama sendiri, sebagai putra seorang pemimpin tertinggi Tanah Perdikan Menoreh meskipun berusia paling muda, yang bertempur di sisi mereka semakin membuat pengawal – pengawal Menoreh berani menatap kematian dengan sebuah senyum kebanggaan.

Bersamaan dengan sorak sorai gempita pengawal pedukuhan, Bondan melirik arah datangnya kelompok Ki Gancar Sengon. Sekilas juga ia melihat keadaan Jalutama dan Ki Sukarta.

” Orang itu cukup tangguh tapi aku harus segera menyelesaikan perkelahian dengannya,” desis Bondan yang mulai khawatir dengan keadaan pertempuran secara keseluruhan. Ia belum dapat mengukur kemampuan Jalutama secara pasti, namun ia memperkirakan Jalutama akan segera terhimpit jika pengeroyoknya bertambah tiga orang lagi.

” Agaknya mereka yang datang itu dipimpin oleh orang yang kemampuannya mungkin sama dengannya,” desah Bondan menatap tajam Ki Kalong Pitu yang mulai mapan menata gerak. Saat itu Bondan sudah melupakan Ken Banawa dan Ki Swandanu karena ia selalu yakin dan percaya akan dapat mengatasi persoalan tanpa harus berharap bantuan datang. Akan tetapi pada saat itu ia lebih mencemaskan keadaan Ki Sukarta yang bertarung tanpa senjata.

” Akan kucoba memaksa Ki Kalong Pitu bergeser mendekati banjar,” kata Bondan dalam hatinya.

Perkelahian dalam lingkaran lebih kecil juga terjadi di luar banjar. Ken Banawa dan Ki Swandanu telah berkelahi dengan empat orang dari kelompok yang datang menyusul.

Sebelum benturan kecil itu terjadi Ken Banawa berkata,” marilah Ki Swandanu kita percepat menyusul mereka. Kekuatan mereka harus dapat dihambat di luar banjar. Sementara itu kita tidak boleh terlalu jauh dengan kelompok di depan kita.”

” Benar Ki Banawa. Agaknya Ki Hanggapati dan yang lain sedang menghadapi bahaya lebih besar,” Ki Swandanu pun menyimpang dari jalan utama.

” Kita perlambat mereka dan kita bertempur di jalanan,” kata Ken Banawa. Ia ingin memecah kekuatan lawan dengan sebagian orang yang pasti akan berbalik arah menghadapi mereka berdua.

” Aku serahkan pada kiai,” Ki Swandanu meloloskan kerisnya yang panjang dengan gagang berukiran bunga wijaya kusuma.

Ken Banawa membentak nyaring mengawali serangannya. Dengan berlari ia melepaskan anak panah. Ia tidak cukup tepat membidik sasaran tapi rencananya berhasil dengan empat orang yang memutar tubuh menyongsongnya dan Ki Swandanu. Sebatang anak panah tergenggam erat di tangan kiri dan sebilah pedang terhunus pada sebelah kanan saat dua orang anak buah Ki Gancar Sengon menyerangnya. Dalam satu gebrakan, tangan kirinya segera melemparkan anak panah dalam jarak kurang dari dua langkah. Segera saja anak panah itu meluncur menembus leher lawannya yang berkemampuan rendah. Ken Banawa tiba – tiba berjongkok dengan lutut kanan menyentuh tanah dan pedangnya di tangan kanan menghantam lambung lawan yang satunya. Kedua lawannya roboh bersimbah darah dalam satu gebrakan. Sekejap ia melirik keadaan Ki Swandanu yang berhasil merobohkan kedua lawannya juga dalam satu gebrakan.

Dengan kecepatan tinggi, Ki Swandanu melayang jungkir balik dan kerisnya sangat cepat menggores cukup dalam  leher seorang lawannya. Dan ketika seorang lagi memutar tubuh berhadapan dengannya, keris Ki Swandanu telah menyentuh dada lawannya hingga seperempat bagian kerisnya masuk ke dalam.

Keduanya bergegas memungut senjata empat lawannya yang tergolek tanpa nyawa. Kemudian mengejar kelompok Ki Gancar Sengon.

Saran untuk anda :

Bara di Borobudur 9

Sekilas Tentang Keputihan

Semasa kelompok yang baru datang telah menyatukan diri dengan kelompok Ki Kalong Pitu, Ki Sukarta dan kelompoknya sedang berjibaku mempertahankan keseimbangan. Jalutama melihat keadaan sulit menimpa para pengawalnya. Ia segera  memutar otak cepat untuk segera keluar dari tekanan demi tekanan yang menghampiri mereka. Jumlah lawan yang jauh lebih banyak benar – benar memaksa para pengawal Tanah Perdikan Menoreh seperti berdiri di atas bara api.

” Kang Wardi! Buka gelar Glatik Ngulandara!” perintahnya pada pemimpin pengawal. Kang Wardi yang sedang menghadapi seorang lawan segera melepas lawannya, meloncat mundur sambil memutar tubuhnya ia meneriakkan sejumlah aba – aba. Sontak para pengawal Menoreh melakukan perubahan gerak yang tidak dimengerti lawan – lawannya, sekejap saja mereka telah terhimpun dalam dua barisan gelar khusus itu. Bahkan Ki Sukarta pun akhirnya harus meloncat jauh untuk bergabung dalam gelar.

Sebagian besar orang Menoreh berada di depan dipimpin Jalutama, sedangkan Kang Wardi berada di tengah gelar. Sejumlah kecil lainnya dan Ki Sukarta berada di belakang Kang Wardi.

Tugas Jalutama dan para pengawal di sebelahnya adalah sebagai pemukul lawan. Sedangkan barisan belakang akan menahan kemungkinan serangan yang datang dari sisi yang berbeda. Kang Wardi mempunyai tugas berat yaitu sebagai penghubung sekaligus penutup celah kosong yang ditinggal pengawal untuk maju selangkah dua langkah. Ia harus terus menerus mengamati dua barisan yang saling memunggungi.

Gelar ini secara khusus diciptakan oleh kakeknya untuk para pengawal Tanah Perdikan Menoreh, lalu dikembangkan oleh ayahnya. Setiap pengawal Menoreh yang selama setahun atau lebih berlatih oleh kanuragan, maka ia dituntut untuk menguasai gelar ini. Oleh karenanya mereka pun bergerak dalam gelar seolah – olah aliran sungai yang lancar mengalir dan tanpa paksaan. Jika gerakan itu dilihat akan tampak seperti sekawanan burung glatik yang terbang berduyun – duyun seolah tanpa arah. Akan tetapi justru itulah letak kekuatan sesunguhnya dari gelar ini. Pemimpin barisan harus dapat menilai kemampuan lawannya dan harus dapat melumpuhkan yang terkuat terlebih dahulu.

” Ah, akhirnya gelar ini dibuka juga,” kata seorang pengawal yang tersenyum mengembang meski dada dan kakinya telah meneteskan darah. Ia berkeyakinan gelar ini akan mampu mengatasi keadaan. Sementara kawan – kawannya menyambut dengan teriakan penuh semangat. Mereka sepenuhnya yakin dan percaya pada kemampuan kawannya yang lain. Untuk sesaat mereka melupakan rasa pedih akibat goresan senjata lawan – lawannya. Kekurangan dari segi jumlah akan dapat segera teratasi dengan gelar Glatik Ngulandara.

Bondan melompat jauh dan meninggalkan Ki Kalong Pitu. Ia sejenak  mengalihkan perhatiannya karena cemas dengan kesulitan orang – orang Menoreh.

” Bondan, percayakan pada kami. Selesaikan lawanmu dan kami akan berbuat sama denganmu,” Jalutama berteriak lantang. Bondan mengangkat tangannya dan mengacungkan jempol, dan pada saat yang sama ia menjadi lebih lega ketika dua sosok yang sangat dikenalnya berkelebat memasuki halaman banjar.

Ki Swandanu berseru,” angger Jalutama, kami berdua ikut bersamamu!” Lalu tubuhnya melayang jungkir balik melintasi barisan pengepung yang masih kebingungan dengan perubahan orang – orang Menoreh. Dua senjata segera ia serahkan pada pengawal. Lalu ia bertempur di dalam gelar bersama – sama pengawal Tanah Perdikan.

Ken Banawa cepat melempar senjata pada orang dari Menoreh. Lalu tubuhnya meluncur deras menerjang Ki Gancar Sengon sambil mengayunkan tangan kirinya menyambit lawan – lawannya dengan anak panah. Desakan pedang Ken Banawa sekaligus menjadi pertahanannya yang terbaik telah datang menyerang bertubi-tubi. Usia yang telah beranjak senja tidak mengurangi  gerakannya yang mantap dan penuh perhitungan. Ki Gancar Sengon berusaha keluar dari aliran serang Ken Banawa yang mengalir deras. Satu gerakan cepat yang sukar diikuti pandangan mata dilakukan Ken Banawa. Tiba – tiba saja ia membuat gerakan seolah akan menusuk lambungnya, Ki Gancar Sengon sempat mengira lawannya akan bunuh diri. Akan tetapi tidak disangka – sangka ternyata Ken Banawa dengan cepat menjepit batang pedang dengan kedua jarinya tangan kirinya lalu memutar bagian ujungnya mengarah ke perut Ki Gancar Sengon.

Ki Gancar Sengon membelalakkan mata tidak percaya dengan kecepatan dan kekuatan jemari Ken Banawa. Ia terhuyung beberapa langkah ke belakang sambil memegang bagian atas pusarnya yang tembus oleh pedang lawannya. Ken Banawa sejenak memandangi tubuh lawannya yang membujur terlentang, Ken Banawa melesat memasuki lingkaran pertempuran yang lain dengan pedang yang masih dibasahi darah

Ki Kalong Pitu merasa sedikit longgar ketika Bondan menjauhinya. Ia menelan sebutir ramuan padat untuk mengurangi nyeri pundaknya. Tubuhnya kembali terbungkus putaran rantai besi ketika ia melompat jauh menerkam lawannya  saat Bondan memalingkan muka melihat gelar Glatik Ngulandara. Bondan yang sekejap mengamati gelar Glatik Ngulandara lantas melecutkan udeng tepat mengenai bandul besi. Ki Kalong Pitu rupanya masih belum jerih beradu tenaga dengan Bondan. Ia membiarkan ujung rantai yang bulat itu bertabrakan keras dengan ujung kain udeng Bondan.

Keduanya terhuyung mundur.

Tangan kedua orang ini sama – sama dirambati getaran keras yang menyakitkan otot dan seperti menusuk pembuluh darah. Ki Kalong Pitu sesaat mengalami sesak dalam dada karena dorongan tenaga Bondan ternyata mampu menembus hingga bagian dalam tubuhnya. Kini bagian tubuhnya sebelahbkanan atas serasa lumpuh. Akan tetapi Bondan sendiri terkejut karena tangan kanan lawannya masih sanggup melepaskan tenaga cadangan yang cukup kuat. Daya tahan yang cukup kuat menjadikan Bondan seperti tidak merasakan akibat getaran dahsyat itu.  Lawannya melihat kesempatan untuk menjauh dari Bondan, ia segera melompat ke bagian halaman yang sedang berlangsung pertempuran yang melibatkan banyak orang dari  kelompoknya.

Ki Kalong Pitu menatap dengan kemarahan puncak saat melewati tubuh kaku anak buahnya yang melintang di halaman. Meskipun begitu ia menilai anak buahnya berhasil mengurangi jumlah lawan. Tiga pengawal Menoreh tumbang karena kehabisan darah sejak pertempuran pertama. Sebagian besar mulai kesulitan menguasai diri karena aliran darah yang belum mampat ditambah serangan lawan yang terus mengalir.

Bondan yang melihat lawannya mencoba lari dalam keadaan terhuyung – huyung mencoba untuk mengejar. Kaki tangannya berkelebat memukul roboh beberapa pengawal pedukuhan dan orang dari padepokan. Sementara Ki Kalong Pitu yang berusaha menjauh darinya telah disambut oleh Jalutama yang telah melepas pengeroyoknya. Pada saat hampir bersamaan Bondan mengambil pengeroyok Jalutama sebagai lawannya.

” Kemana kiai akan pergi? Aku adalah dewa kematian yang setia menjadi pengiringmu,” kata Jalutama langsung menggebrak seketika bibirnya terkatup. Jalutama mengerahkan segenap kemampuannya untuk merobohkan Ki Kalong Pitu.

Pedang Jalutama menusuk pundak kanan lawannya. Agaknya Jalutama bermata tajam, ia dapat menilai kelemahan Ki Kalong Pitu dengan melihat caranya berdiri dan memegang senjata. Ki Kalong Pitu jungkir balik ke belakang menjauh akan tetapi serangan Jalutama datang susul menyusul. Pedang ditangannya berkilat memantulkan cahaya sinar matahari yang siang itu terik memanasi bumi. Beberapa kali Jalutama gencar melakukan gebrakan – gebrakan yang garang dan menyulitkan lawannya. Maka dalam sekejap Ki Kalong Pitu telah terkurung dalam lingkaran pedang lawannya yang muda usia, kemudian sesak yang menghimpit pembuluh darahnya membuat deritanya makin bertambah – tambah. Pedang Jalutama berkelebat bukan main cepatnya. Kilau pantulan pedang yang telah bermandi darah rupanya sangat mengganggu Ki Kalong Pitu.

Sementara itu Ki Hanggapati telah terlibat dalam perkelahian seru dengan ki bekel pedukuhan. Ia cepat memotong jalan ki bekel yang akan bergabung memasuki barisan Ki Gancar Sengon. Arus pusaran pedang Ki Hanggapati mampu menyeret ki bekel bekerja keras bertahan dari ancaman yang datang dari serangan bergelombang yang dialirkan olehnya. Beberapa saat kemudian kedua sinar senjata saling menggulung, kadang – kadang sinar golok ki bekel membungkus rapat pusaran pedang Ki Hanggapati. Bergantian kedua senjata itu saling mengurung rapat. Sekali – kali mereka saling menjauh, lalu kembali saling menerjang. Keduanya ternyata memiliki kekuatan dan kecepatan yang seimbang. Ki bekel meningkatkan kemampuannya, kini tubuhnya lenyap terbungkus sinar berkilau dari goloknya yang terpantul cahaya matahari. Untuk kali ini Ki Hanggapati merasa kesulitan untuk mengimbangi tata gerak lawannya yang makin cepat dan bertenaga.

cropped-1511910900747.jpg

Post Author: Ki Banjar Asman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *