Lanjutan Api di Bukit Menoreh 398 – 15

Ki Rangga Agung Sedayu dengan daya ingat sangat tajam segera membandingkan dengan keadaan pesanggrahan Poh Pitu di masa lalu. Terkenang olehnya sikap Ki Jayaraga yang tidak dapat menahan diri untuk segera membuka sumbatan. Karena air yang mengaliri sawah-sawah di Tanah Perdikan Pajang dan sekitarnya telah  dibendung oleh orang-orang Ki Tumenggung Wirataruna, maka ia mendatangi pesanggrahan bersama-sama Ki Jayaraga dan beberapa orang Tanah Perdikan. Dalam peristiwa itu, akhirnya Ki Rangga Agung Sedayu dapat menghindarkan perkelahian yang lebih jauh setelah bertemu dengan Ki Tumenggung Wirataruna.  Dalam pertemuan di pesanggrahan yang terjadi pada tengah malam, penglihatan tajam Ki Rangga Agung Sedayu mampu memahat pada dinding jantungnya setiap sudut dan pertanda yang ada di sekitarnya. Keningnya berkerut, ia sedikit terkejut atas perubahan yang banyak terjadi di sekitar pesanggrahan. Dinding yang terbuat dari kayu-kayu kelapa setinggi orang dewasa berdiri mengelilingi halaman pesanggrahan. Beberapa rumah kecil berdiri dan teratur rapi mengelilingi pesanggarahan. Lampu-lampu minyak serba sedikit tergantung di bagian depan rumah-rumah kecil yang bertebaran di sekitar pesanggrahan. Selain itu, beberapa utas tali yang panjang melintang di atas permukaan danau.

“ Dua utas tali melintang di atas air? Untuk apakah? Apa sebenarnya yang terjadi di sini?” desis Agung Sedayu dalam hatinya. Gelapnya malam agaknya tidak menjadi penghalang bagi Agung Sedayu untuk mengamati keadaan di balik dinding kayu.

Halaman pesanggrahan diterangi berupa oncor biji jarak terpasang dengan tangkai panjang di beberapa tempat. Dalam keremangan yang menyelemuti halaman tidak terlihat orang melakukan kegiatan. Suasana begitu sepi dan sunyi. Namun Ki Rangga Agung Sedayu belum merasa perlu untuk menyalurkan tenaganya untuk menembus kegelapan. Ki Rangga Agung Sedayu  mengawasi dari atas sebatang pohon trembesi yang tumbuh di dekat regol halaman. Tak jauh darinya, Ki Lurah Sanggabaya juga melakukan pengamatan dengan memeriksa tali temali yang mengikat kayu kepala yang tegak berdiri menjadi dinding. Gerimis semakin tipis namun angin sedikit kencang datang melanda lereng Merapi. Dalam pada itu, kedua orang dari pasukan khusus mengetahui sekelompok orang berjalan menuju ke arah mereka. Ki Lurah Sanggabaya merapatkan punggungnya membelakangi dinding kayu, sementara Ki Rangga Agung Sedayu menyamarkan kehadirannya dengan bertelungkup pada dahan tempatnya berjongkok.

Tatap tajam Agung Sedayu menembus keremangan, ia dapat melihat senjata yang tergantung di pinggang satu dua orang. Sedangkan yang lain ada yang menjinjing tombak panjang. Dan ada satu orang yang mengalungkan rantai pada lehernya. Melihat langkah kaki mereka yang terayun, Agung Sedayu dapat memastikan jika para perondan adalah sekumpulan orang terlatih.

“Mungkin saja mereka ini selapis dengan pasukan khusus. Tetapi aku tidak boleh gegabah,” katanya dalam hati.

Beberapa langkah di belakang regol, ada sebuah batu yang cukup besar. Agaknya Ki Tumenggung Wirataruna sengaja menempatkan sebongkah batu hitam itu agar halaman mengesankan pemandangan yang wajar. Satu orang diantara mereka berjalan ke batu hitam dan duduk diatasnya. Teman-temannya segera berhenti dan duduk di sekelilingnya.

“Apakah Eyang Kalayudha menjatuhkan perintah untuk menyerang pedukuhan induk?” tanya orang yang duduk di atas batu untuk pertama kali.

“Tentu akan menjadi sesuatu yang menyenangkan kalau itu benar terjadi,” kata orang yang menjinjing tombak panjang.

“Ki Sukmana, kau pasti telah membayangkan harta benda yang ada di dalam rumah-rumah besar milik para saudagar? Berhentilah berpikir seperti itu. Kita berada di sini untuk satu tujuan agung. Kita akan mendudukkan Pangeran Ranapati. Dengan begitu, sudah barang tentu Pangeran Ranapati membalas jasa kita,” kata orang yang memulai percakapan.

“Tidak perlulah Ki Jawardi membohongi diri. Apakah ada perbedaan antara mengambil harta saudagar dengan berharap imbalan? Sedangkan kita sebenarnya sudah mengerti bahwa perselisihan ini mungkin tidak akan memberi apapun kepada kita,” berkata Ki Sukmana yang kemudian menyandarkan tombak di depan dadanya.

“Tentu saja perbedaan itu tetap ada, Ki Sukmana,” kata Ki Jawardi. Lalu katanya lagi,” aku datang kemari meninggalkan rumah dan pesanggrahan bukan untuk sebuah kekayaan semata. Ada sesuatu yang lebih besar daripada kekayaan.”

“Akan tetapi perbedaan itu pada akhirnya menjadi tidak ada, Ki Jawardi,” kata orang yang bersenjata rantai.

Ki Jawardi menatap tajam orang itu. Mereka terdiam untuk beberapa lama. Sambil menarik nafas dalam-dalam, Ki Jawardi berkata,” Ki Lambeyan, kau mencurigai aku jika aku memang mengharapkan imbalan?”

“Jika begitu, maka memang seperti itulah yang kau bayangkan. Ki Jawardi, dengan mengambil peran dalam perselisihan ini sebenarnyalah kita memang berharap akan ada perubahan dalam kehidupan kita ini. Mungkin saja Ki Jawardi akan mengubah pesanggrahan menjadi lebih besar dengan kekuasaan yang dilimpahkan oleh Eyang Kalayudha. Mungkin juga teman-teman yang lain juga seperti itu. Seperti kata Ki Sukmana, mengapa kita membohongi diri sendiri?” orang bersenjata rantai yang bernama Ki Lambeyan menatap lurus Ki Jawardi. Sepasang matanya menatap tajam Ki Jawardi seakan mengaduk-aduk isi hati orang yang berbicara dengannya.

Jantung Ki Jawardi berdentang keras. Katanya,” tutup mulutmu! Setan buduk, kau menuduh orang tanpa bukti. Sedangkan kau bukanlah orang yang harus aku patuhi.” Sekelebat bayangan putih tiba-tiba teracung ke Ki Lambeyan.

“Kau menantangku perang tanding?” tanya Ki Lambeyan.

“Jika itu menjadi jalan untuk menutup mulutmu, marilah kita lakukan!” Ki Jawardi tangkas mengawali denga tata gerak pembukaan. Tak kalah sigap, Ki Lambeyan mengurai rantainya dan kedua kakinya  merendah. Ia sudah siap untuk menerima serangan pertama Ki Jawardi. Sorot mata Ki Jawardi seakan membakar tubuh lawannya. Ia melebarkan jarak kedua kakinya dengan kaki kanan bergeser surut. Tubuhnya sedikit merunduk. Seperti harimau, ia siap menerjang lawannya.

Tiba-tiba kawan-kawannya mengacu senjata mengelilingi Ki Jawardi dan Ki Lambeyan. Kedua orang ini mengedarkan pandangan berkeliling. Agaknya mereka menyadari bahwa satu perkelahian yang tidak jelas akan terjadi.

“Orang-orang bodoh,” kata seorang yang bersenjata pedang seraya bangkit dari duduknya. Perlahan ia bertepuk tangan, lalu katanya,” cara kalian berpikir sungguh tak dapat aku mengerti. Kita berkumpul di sini dengan satu tujuan. Di balik tujuan itu sudah barang tentu kita telah menyimpan satu tujuan pribadi. Sebenarnyalah kita berada di sini dibawah pimpinan Eyang Kalayudha. Sekalipun kita sendiri belum tentu dapat merebut kekuasaan itu dari Panembahan Hanyakrawati.”

Kemudian ia berkata lagi,” jarak pedukuhan induk cukup dekat dari sini. Kekuatan pasukan khusus juga telah kita ketahui. Tetapi Eyang Kalayudha belum mendapatkan bahan tentang kemampuan mereka. Terlebih Ki Lurah Sanggabaya menolak permintaan Eyang Kalayudha untuk berbalik arah. Perwira tua yang tidak dapat berpikir panjang itu dapat menjadi hambatan bagi kita. Karena kita tidak dapat menempatkan orang di dalam barak pasukan khusus. Sedangkan kita semua mengetahui jika pasukan pengawal Pajang nyang sekarang ini telah bertambah jumlahnya dan sudah barang tentu kemampuan mereka ada peningkatan.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *