Panembahan Jokowi : Simpang tiga sekrop, kartu mati & kudeta Jkw lagi!

Sekrop lagi ngotot. Orang di depanmu pada melotot. Buku hitam panduan sampyuh tituktibe, mati situk mati kabeh.

Berisikmu isi hariku d ujung tahun lalu, juga 60 pekan ke depan di tahun ini. Sebutan geng besar yang sudah terlanjur menyebar dari mulutmu, ga lagi bisa d tarik ulang sekalipun mulutmu d sumpal bakpao rasa daging ayam maupun daging mentah ompong ga bergigi tapi sanggup gigit, kunyah, remuk redamkan sum sum tulang belulang bahkan menelan dunia di kegelapan malam dengan berpura desah gelinjangan.
Mereka yang kemarin berupaya stamplatkan namamu, jadikan namamu terminal pemberhentian terakhir dengan semua hujat pilu skenario sandiwara ini itu, bahkan panggung khusus buatmu, mulai dagang eceran air raksa sampai obral peluru d amerika. Kini makin marah. Upaya hentikan teriakanmu dengan segala cara. Sudah muncul kalimat pujangga air susu d balas air tuba. Ada kata jihad pribadi pulak! Mampus lah awak baah! Kelamaan puluhan tahun tidur mendengkur jadi ngelantur. Berhuma di ladang sesungguhnya, arena jihad dengan tempo sedasawarsa di siakan dengan buang waktu karaoke main di cafe, nyanyi, makan kenyang, ketawa ketiwi menjadikan nasib ratusan juta orang sebagai candaan. Kini dia marah, minta arena tersendiri dengan kepala dongak sesumbar jumawa “ini perangku!”. Si poltak yang dulu posisikan diri sebagai K9 si tuan, ikutan tertawa melihat tingkahnya. Tertawa ngakak dengan linangan airmata sesal menuju taubatan nashuha.

Aku selalu salut dengan orang yang sanggup mentertawakan dirinya sendiri. Maturnuwun kang poltak, darimu aku dapat pelajaran tersendiri.
Sanggupkah dirimu bertahan sekrop..? Dengan tenaga yang tersisa lanjutkan pertarungan terakhir. Badik beracun di mulutmu sekarang mereka anggap sangat berbahaya, terayun ke segala arah. Konon dengan semangat rakyat paling bawah pecundang kehidupan yang hilang arah. Nol setia kawan kata mereka. Tituktibeh. Mati situk mati kabeh.

IMG-20180209-WA0000
Akankah dirimu bertahan dari gempuran pertarungan babak akhir ini sampai ujung perjalanan seharusnya? Ataukah dirimu akan berakhir dengan rekayasa tragis seperti petarung sebelumnya? Bila mereka makin marah saat kartu mati sang pangeran dan tuan putri istana sebelah semakin dekat di depan mata, murka mereka sangat mungkin terakumulasi d gerbong yang sama dengan teriak serempak: kudeta jkw. lagi! Wasit ora becus alasan terkini.
Kalian berebut kalah menang main bola d pertarungan kekanakan, tampil buruk malah penonton yang d persalahkan. Wasit yang kebetulan memimpin pertandingan kalian anggap curang punya kepentingan.

Permainan kotor dengan pemain culas berlagak mendemo penonton dan wasit, hehehe… Sebodoh itukah penonton sebanyak ini di mata kalian?!

Ratusan juta pasang mata penduduk nusantara yang saksikan drama ini bersiap menghela nafas panjang. Ujung pertarungan sudah bisa di prediksi, para pemain lelah & saling bunuh sendiri. Terangkum di penutup aksara Ajisaka, “ma ga ba ta nga.. semua jadi bangkai!”.

Jokowi bukanlah Kalagemet, pemimpin tiran yang bisa di tikam dari balik kegelapan. Jokowi bukanlah Sutawijaya, katrol pamor dengan intrik khianat & citra diri. Jokowi bukanlah Arya Penangsang, orang baik yang sengaja di hitamkan sejarah, sampai detik ini ga di ketahui di mana rimbanya. Jokowi adalah Jokowi! Pemimpin sejati yang ga peduli caci maki. Panembahan Jokowi, hati hati di depan ada tumpahan oli.

Bergema suara dari ruang lain, “biarin. Aku makan mie…di padang lagi!”.

(Lereng penanggungan,07/02/18)

catatan admin :

  1. blog ini bukan blog pendukung siapapun..blog ini hanya mendukung kebenaran dan kemanusiaan yang berusaha adil serta beradab..

  2. Siapa saja dapat menyumbang tulisan.. akan ditayangkan setelah lolos sensor..

Post Author: Ki Banjar Asman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *