Lanjutan Api di Bukit Menoreh 398 – 16

Ki Rangga Agung Sedayu mendengar percakapan dengan jelas. Gelora perasaannya segera membakar jantungnya. Terjawab sudah kegelisahan hatinya tentang Ki Lurah Sanggabaya. Akan tetapi ia telah mendapatkan kepastian jika Ki Lurah Sanggabaya tidak akan memutar arah berhadapan dengannya. Selain itu, Ki Rangga Agung Sedayu tercekam perasaan betapa Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh akan dilandai badai hebat yang mungkin terjadi tidak lama lagi. Kematian, bencana dan semua jerih payah akan luruh dalam satu peperangan. Kehidupan Tanah Perdikan Menoreh akan mundur barang sejenak. Keraguan merambati hati Ki Rangga Agung Sedayu. Ki Rangga Agung Sedayu dapat saja membawa pasukan khusus di Menoreh dan pasukan yang dipimpin Ki Tumenggung Untara di jati Anom untuk menyerang pesanggrahan kapan saja. Akan tetapi ia sendiri belum mengetahui secara pasti tentang kekuatan kelompok orang yang dipimpin Eyang Kalayudha. Sedangkan waktu terus berjalan dan kekuatan mereka sudah barang tentu dapat bertambah kuat.

“Aku telah turut serta di dalam pasukan khusus sejak pertama kali dibentuk. Mereka akan dapat mengatasi kelompok penentang ini. Akan tetapi aku belum mengetahui kemampuan pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh untuk saat ini,” desis Ki Rangga Agung Sedayu membatin.

Namun Ki Rangga Agung Sedayu adalah murid utama Kiai Giringsing dan satu-satunya orang yang berada di puncak tertinggi Perguruan Orang bercambuk, maka ia dapat melakukan pengamatan ke dalam dirinya. Dalam pada itu, ia juga mampu mengurai persoalan dan memberi penilaian lebih mendalam. Hampir semua orang yang berada di Tanah Perdikan Menoreh, Mataram hingga pesisir utara telah mendengar nama besar Kiai Gringsing sebagai orang bercambuk yang menggetarkan. Selain itu para pemimpin di Mataram juga telah mempunyai penilaian bahwa dalam diri Ki Rangga Agung Sedayu ada watak serta pengaruh Kiai Gringsing. Rakyat Tanah Perdikan Menoreh mempunyai perjalanan panjang tentang kesedihan dan duka lara. Dari perang antar saudara hingga serangan dari Kecruk Putih telah mereka lewati bersama-sama. Ia segera mengendapkan perasaannya, Ki Rangga Agung Sedayu merasa ia harus mengingat kebersamaan itu. Ia harus berpikir cepat dan dapat mengambil satu putusan dalam waktu dekat.

Orang-orang yang duduk di batu hitam terdiam sejenak mendengar ucapan orang yang bersenjata pedang. Kemudian orang itu berkata lagi,”seharusnya kalian dapat berpikir lebih jernih dan menelusuri landasan sesungguhnya bergabung dengan Eyang Kalayudha. Karena sering kali kita masih terpengaruh dengan omongan orang lain terhadap diri kita.”

“Aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain terhadapku. Aku selalu mengamati diriku sendiri. Bergabung dengan Ki Lurah Sanggabaya dan Eyang Kalayudha telah menjadi seperti kehormatan untukku,” berkata Ki Jawardi.

“Apakah itu berarti kau dapat memahami alasan Eyang Kalayudha memerintahkan kita melakukan ronda?” orang bersenjata pedang yang berbaju lurik ketan itu melanjutkan dengan pertanyaan. Sejenak mereka terdiam dengan pertanyaan itu. Lalu,”Ki Jalatunda memang berwawasan luas.  Kiai berkata benar,” kata Ki Lambeyan,” tentu Eyang Kalayudha mempunyai landasan pemikiran yang kuat atas perintah itu.”

“Bagus. Tentu kau tahu kehebatan orang-orang Menoreh yang telah membuat Ki Rambetaji belum kembali hingga larut malam ini,” kata Ki Jalatunda yang terlihat gagah dengan jenggot tipis yang memenuhi dagunya. Tubuhnya cukup tinggi dan lengannya nampak kekar berotot. Dengan mata terbelalak, semua kawan memandang dirinya. Mereka tidak percaya jika Ki Rambetaji yang berilmu tinggi dan merupakan pimpinan satu pesanggrahan yang disegani di wilayah timur dapat ditangkap oleh orang-orang Menoreh.

“Apakah ia tertangkap?” tanya ia orang yang juga bersenjata pedang yang berperawakan sama besarnya dengan Ki Jalatunda.

“Aku tidak tahu. Eyang Kalayudha juga tidak membuat satu kesimpulan sebelum ia mengirim kita mencari Ki Rambetaji di pedukuhan sekitar.”

“Apakah itu berarti kita membawa banyak orang, Ki Jalatunda?” bertanya Ki Lambeyan.

“Aku belum mengetahui itu. Besok pagi-pagi Eyang Kalayudha akan membicarakan dengan kita tentang Ki Rambetaji. Ki Tapa Damar saat ini juga berada di luar pesanggrahan. Ia sedang berada di sekitar barak pasukan khusus.”

Jantung Ki Rangga Agung Sedayu berdentang keras. Pikirannya melayang ke barak pasukannya. Akan tetapi Ki Rangga Agung Sedayu merasa tenang karena ia tahu kemampuan lurah-lurah prajuritnya. Ia yakin pasukan khusus akan dapat mengatasi keadaan bila Ki Tapa Damar membuat kekacauan di sana. Dalam pada itu, Ki Rangga Agung Sedayu juga dicekam bayangan kelompok orang yang sedang diamatinya datang menyerbu Tanah Perdikan Menoreh esok pagi. Kekacauan akan menimpa rakyat tanah perdikan. Satu serangan mendadak akan dapat melumpuhkan pedukuhan induk. Ia sementara berharap Ki Lurah Sanggabaya dapat menahan diri.

Sebenarnyalah Ki Lurah Sanggabaya tidak dapat menahan diri. Ia menggeretakkan giginya, otot wajahnya menjadi tegang. Tanpa sadar ia telah mengetrapkan puncak ilmunya. Akan tetapi ia segera teringat tugasnya untuk mengamati pesanggrahan belum selesai. Sambil menarik nafas dalam-dalam,”aku harus dapat mengendalikan diri. Pengamatan ini belum selesai dan aku tidak tahu kemampuan lima orang itu” katanya dalam hati.

Ki Jalatunda menoleh ke belakang. Ia dalam sekejap mendengar hela nafas, lalu tidak lebih cepat dari mata berkedip ia tidak mendengar apa-apa lagi. Dengan memejamkan mata, ia mengangkat tangan meminta kawan-kawannya untuk diam. Ia memusatkan nalar budinya untuk menangkap suara yang tidak berasal dari kelompoknya. Tak lama kemudian keheningan menyelimuti keadaan sekitar halaman. Lima orang pengikut Eyang Kalayudha, Ki Rangga Ki Rangga Agung Sedayu dan Ki Sanggabaya telah mengambil sikap yang sama. Mereka berdiam diri, saling menunggu satu gerakan atau kesalahan dari pihak yang berseberangan.

Tujuh orang itu semakin dalam memusatkan nalar budi akan tetapi belum dapat menyerap bunyi yang mencurigakan. Keraguan menjalari Ki Jalatunda meskipun ia masih meyakini satu hela nafas sempat terdengar olehnya.

Gerimis masih mengguyur lereng perbukitan Menoreh. Sesekali suara petir menggelegar dan bergulung-gulung di langit. Akan tetapi tidak satu pun dari mereka yang bergerak atau bersuara. Punggung  Ki Lurah Sanggabaya menempel rapat pada dinding dan ia duduk di atas satu tumitnya. Gemblengan keras yang diterimanya di masa muda saat masih menjadi lurah prajurit yang berada dalam kesatuan pasukan khusus dapat membuatnya bertahan untuk diam cukup lama. Dalam pada itu, Ki Rangga Agung Sedayu masih menempel rapat pada dahan tempatnya bertengger.

Ki Jalatunda memberi tanda dengan kedua tangan meminta empat orang kawannya untuk menyebar memeriksa bagian luar dinding halaman. Empat kawannya melayang melompati dinding dengan begitu ringan. Mereka mendaratkan kakinya dengan suara yang begitu pelan.

“Mereka itu orang-orang berilmu tinggi. Mungkin saja berada dalam lapisan yang sama dengan Ki Rambetaji.” Agung Sedayu berdesis dalam hatinya dengan mata yang lurus melihat pergerakan lima orang di depannya.

 

catatan : tulisan ini adalah naskah  LADBM yang terakhir ditayangkan. Akan tetapi khayalan saya tentang Menoreh yang membara akan melintas di Panembahan Tanpa Bayangan. 

 

Post Author: Ki Banjar Asman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *