Panembahan Tanpa Bayangan 8

 

Ki Bekel dengan lincah menaiki anak tangga banjar. Tubuhnya yang agak gemuk serasa ringan ketika ia cekatan menapak setapak demi setapak dengan langkah cepat. Senyumnya mengembang  saat ia sedikit membungkuk hormat pada ketiga tamu yang datang dari jauh. Setelah dua orang pengawal yang mengiringinya menyiapkan hidangan kecil sekedarnya, Ki Bekel dengan ramah menanyakan keadaan Ki Winatra sekeluarga. Para pengawal pun agaknya tahu diri kemudian mereka menjauh menuju regol banjar. Beberapa saat lamanya Ki Bekel dan tiga tamunya berbincang tentang keadaan masing-masing.

“Memang benar aku baru saja tiba dari Tanah Perdikan Deyangan,” ia terdiam sejenak lalu mengambil nafas panjang. Raut mukanya sedikit berubah. Wajah sumringah dan riang yang ia tunjukkan pada awal pertemuan mendadak berubah seperti tertutup awan gelap. Sebentar kemudian ia meneruskan,”aku membawa kabar yang sebenarnya aku sendiri juga masih merasa berat untuk mengatakannya.” Kembali terdengar ia menghela nafas panjang. Lalu untuk sementara Ki Bekel masih berdiam diri. Setelah ia merasa dadanya agak lapang, ia kembali berkata,”Ki Ageng Giriwarsa adalah kerabat jauh dari keluargaku. Akan tetapi kesulitannya telah menjadi kesulitan bagiku juga.”

Ki Winatra beserta anak istrinya masih menundukkan kepala dan berdiam diri. Tak sepatah kata pun yang keluar dari bibir mereka. Agaknya mereka memahami jika kabar yang akan dikatakan oleh Ki Bekel sudah tentu bukan kabar yang menyenangkan. Sarjiwa mencoba untuk mengerti di dalam hatinya,”apa yang telah terjadi?”

“Beberapa lama aku di sana, sebenarnya keadaan Deyangan sangat jauh dari kata aman. Setiap hari selalu ada orang yang mencoba mengusik ketenangan hidup orang-orang disana. Dan aku sendiri juga tidak dapat membantu apapun, pedukuhan ini juga masih belum lepas dari kawanan tidak bertanggung jawab itu,” Ki Bekel menuturkan. Dengan wajah sungguh-sungguh ia beringsut maju setapak kemudian tuturnya,”agaknya gema suara orang yang mengaku sebagai keturunan Pangeran Benawa telah sampai di lereng Menoreh. Apalagi Ki Giriwarsa pernah mengatakan padaku jika keamanan mulai mendapat gangguan serius itu semenjak gema suara itu memantul di setiap tebing bukit.”

Kening Ki Winatra berkerut lalu ia melihat Nyi Winatra. Ia mendesis,”keturunan Pangeran Banawa?” Ia setengah tidak percaya.

“Ki Winatra dapat saja tidak mempercayai berita itu dan itu juga menjadi hak setiap orang. Aku sendiri belum dapat sepenuhnya percaya pengakuan orang itu. Akan tetapi, jika itu benar maka kita semua benar-benar berada dalam masalah besar,” Ki Bekel menjawab keraguan Ki Winatra.

“Apakah Ki Ageng telah mengetahui siapa orang yang menyebarkan pengakuan itu, Ki Bekel?” tanya Ki Winatra.

PVKsg1516701009

“Kita semua masih diombang-ambing oleh berita yang berkeliaran tertiup angin. Sama halnya dengan keadaan pedukuhan Dawang sekarang ini,” keluh Ki Bekel lalu katanya,” setiap gangguan segera menghilang begitu saja. Akan tetapi agaknya telah muncul dugaan yang sebenarnya tidak ingin diungkapkan oleh Ki Ageng.”

Ki Winatra mengerutkan kening, sementara Sarjiwa mulai berani menduga dalam hatinya.

“Apakah Ki Ageng Giriwarsa sempat memberikan keterangan? Maksudku, sedikit keterangan yang dapat dijadikan landasan bagi kita disini untuk keluar dari jerat persoalan yang ada sekarang ini,” tanya Ki Winatra.

Ki Bekel Dawang menjawabnya dengan gelengan kepala. Sebenarnya ia ingin bertanya tentang sebuah persoalan kepada Ki Winatra akan tetapi ia urungkan niatnya.”Lebih baik aku menunggu Ki Jagabaya agar setiap persoalan dapat dirangkai dan akhirnya menjadi lebih terang,” desah Ki Bekel dalam hatinya. Namun Ki Bekel lambat laun menyadari bahwa suasana temaram yang melingkupi mereka dapat membawa dirinya semakin terlarut dalam kebingungan.

Lalu ia berkata,”marilah kita berbuat sesuatu yang baik bagi pedukuhan ini.” Senyum kembali merekah namun belum sepenuhnya dapat menggeser kebingungan yang mencengkeram di hatinya.

“Ki Winatra, apakah Ki Winatra sekeluarga mengalami kejadian yang janggal di pedukuhan ini?” tanya Ki Bekel.

“Aku akan menceritakan sejak kedatangan kami sekeluarga kemari, Ki Bekel. Akan tetapi, sebelumnya aku minta Ki Bekel dapat memaklumi dan tidak tergesa-gesa mengambil keputusan,” jawab Ki Winatra yang sebelumnya sempat bertukar pandang dengan Nyi Winatra.

“Tentu tidak. Silahkan Ki Winatra!” Ki Bekel membetulkan letak duduknya dan mendengarkan Ki Winatra yang menceritakan rincian peristiwa yang terjadi di pedukuhan sejak kedatangan keluarganya. Ki Bekel mendengarkan penuh perhatian, sesekali ia manggut-manggut dan menghela nafas panjang. Ia tidak melewatkan satu bagian pun dari penuturan Ki Winatra.

“Ki Tanu Dirga?” tanya Ki Bekel dengan alis berkerut.

“Kejadian itu berlangsung cepat sekali. Ki Jagabaya pun tidak mengetahuinya jika seorang pengawal tidak mendatanginya,” Ki Winatra menjawab sambil menggelengkan kepala karena kesulitan untuk mengerti latar belakang kejadian yang begitu cepat terjadi semenjak ia dan keluarganya memasuki pedukuhan.

“Apakah pada saat Ki Winatra mendengar tangis bayi itu,” Ki Bekel terdiam sejenak kemudian lanjutnya,” kiai juga melihat seorang perempuan muda di rumah Ki Tanu Dirga?”

“Aku melihatnya. Akan tetapi tidak banyak yang dapat dilakukan oleh kami berdua bersama Ki Jagabaya.”

“Nanti malam aku mengundang Ki Winatra dan keluarga untuk menikmati hidangan sekedarnya di rumahku. Siang ini aku akan melihat-lihat dulu keadaan pedukuhan,” kata Ki Bekel.

“Ki Jagabaya akan mengajakku berbicara tentang kejadian yang terjadi, Ki Bekel. Di belakang banjar nanti kami akan bertemu,” Ki Winatra memberi tahu Ki Bekel tentang rencana Ki Jagabaya. Alis Ki Bekel sedikit berkerut, lalu katanya,”baiklah. Aku akan mengundang Ki Jagabaya untuk berbincang mengenai persoalan itu di rumahku.” Lalu ia meminta seorang pengawal untuk menemui Ki Jagabaya dan menyampaikan pesannya.

Ki Bekel bangkit lalu ia meminta diri untuk kembali melakukan kegiatan yang cukup lama ia tinggalkan. Ki Winatra disertai keluarganya lalu mengiringkan Ki Bekel sampai regol banjar.

Pada malam itu seperti yang direncanakan Ki Bekel, mereka bertemu di rumah Ki Bekel dan berbincang mengenai berbagai persoalan selepas makan malam. Sementara Nyi Winatra menyempatkan diri untuk membantu Nyi Bekel mengemasi ddan membersihkan peralatan makan. Akan tetapi Ki Bekel dan Ki Jagabaya meminta Sarjiwa untuk tetap berada di pendapa.

Ki Jagabaya pun mengurai satu demi satu peristiwa janggal yang terjadi sepeninggal Ki Bekel. Keterangan yang dipaparkan oleh Ki Jagabaya membuat Ki Winatra dan keluarganya menjadi lebih jelas untuk melihat titik terang.

“Di sebelah selatan pedukuhan ini, kalau kita berjalan ke belakang banjar terus ke selatan kita akan bertemu sungai kecil. Beberapa puluh tombak kemudian ada sebuah hutan. Sebenarnya hutan itu tidak pernah dijamah oleh manusia, akan tetapi beberapa pekan terakhir seperti ada sejumlah orang yang mendirikan perkampungan kecil. Lalu ada salah seorang dari mereka sempat meminta waktu untuk berbicara denganku,” Ki Bekel berhenti sejenak seperti berusaha mengingat sesuatu. Sambil memijat dahinya,”aku lupa nama orang itu. Pada dasarnya ia memintaku untuk memberi ijin membuka hutan menjadi sawah dan pategalan. Ia mengatakan sesuatu tentang padepokan yang bernama Tunggul Bawana. Tentu saja aku menolak untuk memberikan bagian hutan yang mereka inginkan.”

“Kemudian terjadilah peristiwa yang sulit diterima oleh nalar sehat, setiap kejadian berlangsung begitu cepat dan selalu hampir tidak ada orang yang menjadi saksi mata,” Ki Jagabaya menambahkan. Sarjiwa hampir saja membuka mulutnya untuk mengatakan apa yang ia lihat ketika berendam di sungai. Akan tetapi Nyi Winatra cepat menggamit pinggulnya.

Panembahan Tanpa Bayangan 1

“Lalu apakah Ki Bekel dan Ki Jagabaya telah mencoba mendatangi perkampungan kecil itu?” Ki Winatra bertanya dengan nada rendah.

“Kami berdua berdua telah datang ke tempat itu. Hanya sekali dan itu yang terakhir kali, Ki Winatra,” berkata Ki Bekel lalu menyandarkan punggungnya seolah-olah ingin meletakkan beban berat di pundaknya.

Ki Winatra menatap bergantian kedua orang tetua pedukuhan yang duduk di depannya, lalu ia menoleh pada Nyi Winatra dan terus menggilirkan pandang matanya bergantian.

Ki Bekel yang mengerti pertanyaan yang tersimpan di dada Ki Winatra, kemudian beringsut sejengkal,”kami berdua datang dengan cara baik-baik sebagaimana layaknya tamu memasuki rumah. Akan tetapi justru mereka menantang kami berdua untuk berkelahi.” Ki Bekel mengusap wajah dan membetulkan ikat kepalanya, ia melanjutkan,”sebenarnya kami berdua telah menolak untuk bertempur.” Ia menoleh Ki Jagabaya.

“Kami tidak mempunyai pilihan. Mereka mengepung kami berdua. Salah seorang dari mereka yang mengaku bernama Ki Lambeyan memberi janji akan melepaskan kami jika kami bersedia berkelahi. Aku masih ingat ia berkata ‘aku minta kalian hanya berkelahi dan aku lepaskan kalian’,” kata Ki Jagabaya meneruskan penuturan Ki Bekel.

Ki Winatra kemudian memejamkan mata dan memijat-mijat keningnya. Kemudian katanya,”Aku tidak mengenal nama yang disebutkan Ki Jagabaya.”

“Aku hanya dapat membuat dugaan yang mungkin dapat membantu Ki Winatra sekeluarga untuk menyegarkan ingatan. Cara mereka memegang senjata menunjukkan jika mereka bukan orang biasa atau kelompok orang yang mengungsi. Mereka memegang senjata lebih baik daripada memegang cangkul. Kemudian aku mengamati jika mereka berkelahi dan menata gerak juga memberikan gambaran apabila mereka terbiasa bertempur,” Ki Jagabaya melanjutkan,”jika mereka datang berkelompok dengan luka-luka, apakah aku dapat mengartikan jika mereka lari dari sebuah peperangan? Ki Winatra datang dari selatan pedukuhan ini dan berasal dari tanah perbukitan Menoreh sudah tentu dapat memberikan gambaran untuk kemungkinan itu.”

Ki Jagabaya melontarkan pertanyaan yang secara tepat menuju ingatan Ki Winatra dan keluarganya tentang murid-murid Padepokan Watugunung.

Ki Winatra lantas menuturkan,”kemungkinan jika mereka adalah orang yang keluar dari peperangan adalah kemungkinan yang dapat diterima. Beberapa bulan yang lalu memang satu kelompok orang datang dan mendiami lereng perbukitan yang berada di sebelah timur. Mungkin saja mereka adalah perlarian perang ketika Panaraga meletus. Namun agaknya meskipun perlawanan mereka dapat diselesaikan namun tetap saja ada orang yang memanfaatkan sobekan kain yang  berserakan untuk dikumpulkan kembali.”

Ki Bekel dan Ki Jagabaya bertukar pandang lalu keduanya menganggukkan kepala seperti telah mengerti arah pembicaraan Ki Winatra.

“Setiap kejadian memang selalu diikuti banyak kemungkinan. Dari kemungkinan yang menjadi sebab sampai kemungkinan untuk penyelesaian. Akan tetapi agaknya aku mulai dapat mengerti arah sebenarnya dari persoalan yang membelit Pedukuhan Dawang dan Tanah Perdikan Denayang,” Ki Bekel berkata sungguh-sungguh. Ia kemudian melanjutkan kata-katanya,” dalam perjalanan pulang menuju pedukuhan ini, aku banyak mendengar tentang Padepokan Tunggul Bawana. Akan tetapi aku belum mendengar tentang Padepokan Watugunung ketika masih di Denayang. Dan aku sendiri mempunyai sedikit gambaran untuk apa yang akan kita lakukan dalam menghadapi masalah ini.”

Ki Jagabaya menanggukkan kepala. Kemudian ia mengangkat wajahnya dan menatap lurus Ki Winatra. Ki Winatra yang merasa sedang berada dalam tatap tajam mata Ki Jagabaya pun tersenyum lalu manggut-manggut.

“Silahkan Ki Jagabaya untuk menerangkan tentang hubungan kita,” Ki Winatra meminta agar Ki Jagabaya memulai berucap tentang jati diri mereka, terutama di depan Sarjiwa. Ki Bekel mengerutkan keningnya dan bergantian memandang dua orang tua yang duduk saling berhadapan. Sejenak kemudian Ki Bekel tersenyum lalu memberi tanda kepada Ki Jagabaya untuk memenuhi permintaan  Ki Winatra.

Malam beranjak semakin dalam ketika para peronda pedukuhan mulai berkeliling melakukan ronda. Langit terlihat begitu cerah dan bintang pun seakan begitu dekat menyinari mereka yang berada di pedukuhan.

Pada saat pertemuan di rumah Ki Bekel dimulai, seorang wanita muda yang berusia sebaya dengan Sarjiwa berkata,”aku merasa kedatangan orang asing itu dapat menambah keributan yang mulai sering terjadi disini, ayah.” Perempuan cantik dengan rambut tergelung indah itu bangkit berdiri dan mengintip keadaan di luar melalui pintu yang sedikit terbuka. Kain panjang berwarna putih itu tidak dapat menutup kulitnya yang bersih dan lembut. Ia kemudian berkata lagi,”sekelompok peronda itu bukan lawan yang sebanding dengan orang yang sering datang kemari, akan tetapi tampaknya orang asing itu dapat memberi bantuan pada Ki Jagabaya untuk memecahkan masalah ini.”

“Lalu apa yang kau rencanakan?” orang yang dipanggil ayah itu berkata.

“Aku ingin ayah pindah ke pedukuhan induk,” perempuan yang bermata bening itu membalikkan badannya dan menatap lurus wajah ayahnya yang menggambarkan ketegasan di masa muda.

“Akan tetapi kepindahan itu dapat mengundang kecurigaan Ki Jagabaya dan Ki Bekel. Jika kit aharus pindah ke pedukuhan induk, sebenarnya baru dapat kita lakukan sekitar lima pekan ke depan. Rumah yang akan kita tempati di pedukuhan induk ternyata belum disiapkan sama sekali. Orang itu masih terlihat sibuk dengan persoalan-persoalan yang terjadi di pedukuhan ini,” kata lelaku yang berusia lebih dari setengah abad itu. Ia kemudian berkata lebih jauh,”sebenarnya aku sudah lelah dengan kehidupan seperti ini. Kita terus bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan rasa tenteram yang semakin jauh dari kita.”

Perempuan muda itu terdiam mendengar penuturan ayahnya.

“Kau tentu masih ingat ketika aku membawamu keluar dari lingkaran pertempuran yang terjadi di Mataram. Raden Andum Pamuji, Ki Blarak Amukti dan kau sendiri tidak berdaya menghadapi seorang senopati Mataram,”kata orang tua itu mengenang saat ia menolong anak perempuannya dari kepungan prajurit Mataram.

“Belasan prajurit Mataram itu mengepung rapat kami bertiga. Dan aku harus akui apabila ilmu senopati Mataram itu memang jauh berada di atas kami bertiga.” Sambil berkata seperti itu, perempuan muda itu berjalan mendekati jendela. Agaknya ia tertarik dengan langkah-langkah kaki para peronda yang berjalan melintas di depan rumah mereka. Dengan jarinya ia menghitung para peronda yang dapat dilihatnya dari celah jendela kayu.

“Senopati itu bukan lawan kalian bertiga. Ia adalah seorang tumenggung yang hanya dapat ditandingi oleh Panembahan Hanyakrawati atau Ki Tumenggung Singaranu,” lelaki tua itu menambahkan.

“Aku sama sekali tidak menduga jika ia dapat membuat dirinya menjadi lima dalam pandanganku,” perempuan muda itu menarik nafas panjang mengingat perkelahian yang terjadi saat Ki Tumenggung mengepung rumah yang disewa bersama kedua kawannya. “Saat itu Ki Blarak Mukti sebenarnya sedang dalam keadaan seimbang dengan lawannya, namun kemudian sekelompok peronda datang membantu prajurit yang lain. Sehingga aku dan Raden Andum Pamuji harus mengetatkan pertahanan dan melepaskan Ki Blarak Mukti berhadapan seorang diri dengan lawannya yang ternyata sangat tangguh.”

“Tumenggung itu menjadi lima bayangan? Apakah ia bernama Ki Tumenggung Sigra Umbara?” lelaki separuh baya itu bertanya.

“Ya. Ki Tumenggung Sigra Umbara. Aku mendengar seorang prajurit menyebut namanya dengan jelas. Ayah, saat Ki Tumenggung membuat lima bayangan dirinya, aku sudah mengerti apa yang sebenarnya terjadi akan tetapi kedatangan bala bantuan sungguh membahayakan keadaan Raden Andum Pamuji,” jawab perempuan cantik itu dengan dagu terangkat.

Memang seperti itulah yang terjadi. Ki Tumenggung Sigra Umbara yang mendapatkan berita tentang penyamaran sekawanan orang yang membahayakan Ki Patih Mandaraka segera melakukan tindakan cepat. Ia membawa belasan prajurit untuk mengepung rumah yang disewa oleh Raden Andum Pamuji.

Perempuan muda itu menceritakan,”Pertempuran kecil segera terjadi di halaman rumah. Saat itu Ki Tumenggung Sigra Umbara melepaskan terjangan pada Raden Andum Pamuji, akan tetapi aku tidak dapat membiarkan Raden Andum Pamuji menghadapi lawan yang terlalu tangguh baginya. Segera aku memotong arah serangan Ki Sigra Umbara yang ternyata masih menggunakan selapis kekuatannya. Beberapa lama kemudian aku dan Ki Sigra Umbara terlibat dalam pusaran yang sengit. Kami meningkatkan selapis demi selapis setiap bagian kekuatan yang kami miliki. Meski begitu, akhirnya aku putuskan untuk menggunakan senjata.

Lalu dengan tiba-tiba, Ki Tumenggung telah meloncat surut dan melesat lebih cepat dibandingkan ketika mundur. Ternyata ia menyerang dengan cara yang berbeda. Sekelebat pedangnya menyambar dengan cepat mengarah ke tubuhku. Pada saat aku menghindar, bayangan Ki Blarak Mukti datang menubruknya. Ki Tumenggung sempat bergeser surut. Kemudian dalam waktu tak kurang dari sekejap mata, tubuhnya telah terbelah menjadi lima. Salah satu darinya dengan sekuat tenaganya ia mencoba memukul lenganku yang memegang tombak pendek. Aku masih dapat membebaskan diri dari serangannya akan tetapi belasan orang telah datang mengurungku dan Raden Andum dengan senjata yang datang seperti hujan.”

Perempuan itu menatap lurus wajah ayahnya yang mendengar penuh perhatian,” Ayah, pertempuran itupun menjadi semakin sengit. Sementara Ki Blarak Mukti telah terikat pada pertempuran melawan Ki Sigra Umbara, maka aku dan Raden Andum Pamuji terkepung rapat oleh prajurit Mataram. Dan seperti yang telah terjadi dan ayah saksikan, aku akhirnya harus menyerah ketika Ki Blarak roboh di tangan Ki Tumenggung dan Raden Pamuji kehabisan darah oleh terjangan senjata prajurit Mataram.”

Orang tua itu bangkit dari tempat duduknya, Tubuhnya masih terlihat gagah, rambutnya yang putih dan kerut di pelipisnya seperti memberi gambaran tentang pahit getir kehidupan yang dialaminya. Kemudian ia melanjutkan,”apakah Raden Andum dan Ki Blarak Mukti sempat mengatakan sesuatu kepadamu sebelum Ki Tumenggung dan prajuritnya menyerbu kalian?”

Anaknya mengangguk pelan. “Seuntai pesan sempat dikatakan Ki Blarak Mukti padaku,” jawab perempuan muda yang kini kembali duduk di belakang ayahnya. Kemudian ia berkata lagi,”Raden Andum Pamuji terlalu percaya pada berita yang ia dengar dari Pelayan Dalam. Bahkan ia menerima undangan untuk hadir dalam wisuda pelantikan Pelayan Dalam yang akan bertugas di Kepatihan. Tentu saja Raden Andum sudah memperkirakan kemungkinan yang akan terjadi, tetapi ia tidak dapat menahan diri ketika mendapat kesempatan masuk menyelinap bagian dalam Kepatihan.”

Lelaki tua itu mengalihkan pembicaraan. Ia berdesis dalam hati,”aku tidak dapat mengikuti keinginan hati yang masih saja merasakan luka karena ulah Danang Sutawijaya. Mungkin ini saatnya untuk berdamai dengan masa lalu. Tetapi aku harus meyakinkan anak ini yang semenjak kecil telah aku ajarkan kebencian terhadap Mataram.”

Orang tua itu memegang pundak anaknya. Ia berkata lirih,”semakin sering kita berpindah, kenangan ibumu semakin menjeratku.” Terdengar nafas panjang keluar dari dadanya. Ia melanjutkan kata-katanya lagi,”sejak aku menjadi prajurit di usia muda hingga diwisuda sebagai seorang lurah oleh Sultan Hadiwijaya, sekalipun aku belum merasakan ketenangan hidup di satu tempat yang tetap. Bahkan aku dan ibumu masih sering berpindah tempat ketika kau lahir.”

“Sudahlah ayah! Kita jangan bicara mengenai itu lagi,”sahut anaknya dengan lembut sambil memegang tangan ayahnya.

“Baiklah, aku tidak akan berbicara tentang ibumu. Akan tetapi aku meminta padamu melakukan satu hal,”kata ayahnya. Ia mundur maju dan berdiri tegap di depan anaknya kemudian berkata,”aku ingin pekerjaan ini menjadi yang terakhir kalinya bagi kita.”

 

cropped-bekam-penyakit-convertt-coba-upload.jpg

Tinggalkan Balasan