Bara di Borobudur 16

Ki Hanggapati dengan daya jelajah yang tak begitu luas namun dalam sehari-hari ia sering berlatih dengan tuntunan Resi Gajahyana mulai perlahan melangkah mundur. Meski ia mulai terdesak tetapi Ki Hanggapati tidak ingin kehilangan pengendalian diri. Ia mengamati dan mempelajari gerak lawannya dalam olah senjata. Lalu terbukalah bagi dirinya kelemahan tata gerak ki bekel. Ki Hanggapati mulai mengatur diri memusatka perhatiannya pada gerak ki bekel yang dianggapnya lemah. Sementara ki bekel semakin bernafsu mencecar musuhnya dengan golok yang kini mulai mengeluarkan suara berdengung. Oleh karenanya Ki Hanggapati semakin berhati-hati akan kekuatan yang terpancar melalui goloknya yang menyambar- nyambar dahsyat.

Tiba- tiba ia bergeser maju setapak demi setapak meski dalam keadaan terdesak oleh terjangan golok Ki Bekel. Sambil menahan getaran- getaran yang muncul akibat dari benturan senjatanya dengan golok Ki Bekel, ia terus mendekat sejengkal demi sejengkal. Jarak keduanya semakin dekat dan Ki Bekel belum menyadari pergeseran yang dilakukan lawannya.

“ Ia harus melepas pedangnya agar tidak mati di halaman ini. Atau secepatnya dia harus kabur dari tanganku,” pikir Ki Bekel saat menyadari jarak yang semakin dekat.

Memang pertarungan dalam jarak dekat ini akan memaksa Ki Hanggapati melepaskan pedang. Dan Ki Hanggapati ternyata benar melakukan seperti yang diduga oleh Ki Bekel. Seketika ia meluncurkan pedang dengan tenaga yang tidak begitu besar, lalu tangan kirinya menghantam pergelangan tangan kanan Ki Bekel dengan jari terbuka. Bersamaan dengan itu tangan kanan yang kini tidak memegang senjata menghantam dada ki bekel. Ki Bekel terkejut dengan perubahan gerak yang begitu cepat. Di saat ia memiringkan kepala menghindari sambaran pedang yang terlontar, ia harus menarik tangan kanannya agar tidak retak terhantam pukulan musuhnya. Akan tetapi ia gagal mengelak ketika tangan kanan Ki Hanggapati yang terkepal mulus mendarat ulu hatinya. Ki Bekel terguling roboh dan memuntahkan darah. Hantaman yang ia terima di dada telah meremukkan bagian dalamnya.

Saat itu meski pengeroyok dari padepokan dan pedukuhan masih berjumlah lebih banyak, akan tetapi keadaan mereka justru lebih parah dibandingkan pengawal – pengawal Tanah Menoreh.

” Lepaskan panah sendaren!” seru Ki Kalong Pitu ketika ia meninggalkan Bondan lalu menyelinap diantara desing senjata yang berseliweran. Satu anak panah segera  menggaung di angkasa. Ia memberi perintah itu karena tidak ingin anak buahnya berkurang lebih banyak dibandingkan orang – orang Menoreh. Ditambah ia ingin memenuhi keinginan lelaki pemimpin pertemuan untuk selesai sebelum senja. Akan tetapi di depannya telah berdiri Jalutama, putra penguasa Tanah Perdikan Menoreh.

Pedang Jalutama menyambar dan ia bertarung dengan prahara dalam dadanya. Ternyata ia dan orang- orang Menoreh telah dijebak oleh perangkat pedukuhan. Jalutama meluapkan amarah menghantamkan pedang bertubi-tubi ke arah Ki Kalong Pitu. Ujung pedangnya berubah banyak sekali, dan setiap pedangnya bergerak seolah-olah ratusan pedang mengejar Ki Kalong Pitu. Tak ingin tubuhnya tersentuh patukan pedang Jalutama, Ki Kalong Pitu mengubah kedudukannya. Ia menangkis dan mencoba balik menghantam lawannya. Rantai besinya menebas bagian bawah lawannya dan Jalutama harus meloncat tinggi menarik kedua kakinya ke atas. Meski begitu Ki Kalong Pitu tidak memberinya kesempatan bagi Jalutama menyentuh tanah.

“ Aku harus memukul rantainya.” Desah Jalutama lalu membuat membuat gerakan menyilang, kemudian ia menghentikan ketika pedang mencapai setengah jalan. Ki Kalong Pitu yang menduga lawannya akan meneruskan gerakan silang menjadi terkecoh. Ujung pedang Jalutama telah menyelinap memasuki pertahanan Ki Kalong Pitu. Pedang itu melesat seiring dengan tubuh Jalutama menerkam ke arah lawannya.  Terburu-buru menggerakkan tangan kanannya untuk mengubah arah pedang, akan tetapi kembali Jalutama menarik pedangnya dan menyusupkan tangan kirinya ke dada kanan lawannya. Bahaya mengancam Ki Kalong Pitu dari dua sambaran yang sama-sama berbahaya.

Ki Kalong Pitu berada dalam keadaan gawat. Ia mencoba menjatuhkan diri ke belakang dan rantai besinya memutar mengejar bayangan pedang Jalutama. Pundaknya yang terluka tidak menjadi hambatan baginya maka dengan begitu dua serangan Jalutama gagal menggapai tubuhnya. Rantai besinya berhasil membelit pedang Jalutama dan membetotnya dari genggaman Jalutama. Sekejap kemudian, mata rantai yang telah merampas dan melemparkan senjata Jalutama telah kembali mematuk kening Jalutama. Anak muda dari Tanah Menoreh itu kemudian membuang diri cukup jauh lalu bergulingan. Meski Jalutama gesit menghindar akan tetapi mata rantai Ki Kalong Pitu masih mampu menyentuh punggungnya. Selarik lurus berwarna merah mulai membasahi bagian belakang Jalutama. Kesempatan itu digunakan Ki Kalong Pitu untuk mundur di balik barisan penyerang yang baru datang.

Di bagian lain Ken Banawa mengerling ke arah panah sendaren meluncur. Berdiri di sisinya adalah Ki Hanggapati yang telah memasuki lingkaran pertempuran yang lebih besar. Keduanya bahu membahu mengatasi pengawal pedukuhan dan murid- murid dari padepokan Sanca Dawala.

” Semuanya mundur!” nalurinya sebagai seseorang yang matang di berbagai peperangan telah mengetahui bahaya yang lebih besar akan datang.

Ki Swandanu meneruskan perintah seorang senopati wreda Majapahit.

” Angger Jalutama! Perintahkan pengawal untuk mundur!” ia berkata. ” Kita bawa semua orang yang terluka.”

Jalutama sambil menahan rasa sakit di punggungnya lantas meneruskan perintah serupa kepada para pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Kini ia bertempur di tengah-tengah para pengawal Menoreh setelah Ki Kalong Pitu menghilang dari pertempuran. Pada saat itu Bondan melihat banyak orang- orang Menoreh yang ada di sekitarnya kebingungan dengan perintah Ki Banawa. Ia melihat Kang Wardi dan lima lainnya mengalami luka-luka yang hebat. Lalu empat lainnya hampir tak sanggup melanjutkan pertempuran. Di pihak orang Menoreh sendiri telah melihat bahwa sudah tidak ada lagi jalan untuk keluar dari kepungan kawanan yang menyerang dengan ganas. Akan tetapi mereka dapat merasakan tekanan mulai berkurang ketika Bondan menjadi lebih trengginas. Udeng kepalanya mematuk liar dan buas seperti seekor ular sendok yang kecil tetapi racunnya sangat berbahaya. Lima pengeroyok yang ia ambil alih dari Jalutama banyak mengalami patah tulang di bagian rusuk dan kaki – kaki mereka.

Baca juga : Bara di Borobudur 7

Demikian cepat mereka roboh, Bondan berloncatan ibarat burung sikatan. Tubuhnya berkelebat cepat seolah bayangan yang terbang. Dalam waktu singkat sebagian pengawal pedukuhan dan murid – murid padepokan Sanca Dawala bergulingan roboh mengerang kesakitan.

” Ke arah kuda!” seru Bondan sambil menarik seorang pengawal Menoreh yang nyaris terbabat sambaran pedang. Satu tebasan kaki Bondan mendarat di kening lawannya yang kemudian terpental pingsan. Seorang diri Bondan menghadang barisan penyerang yang berduyun – duyun datang menghambat usaha orang – orang Menoreh melarikan diri. Ken Banawa bergegas membantu para pengawal yang terluka untuk naik ke punggung kuda.

Dibantu oleh kawan – kawannya yang masih sanggup bertahan, para pengawal Menoreh tertatih – tatih berjalan menuju kuda – kuda yang tertambat.

” Tinggalkan aku disini, aku akan menghadang mereka. Dan sampaikan maafku pada Ki Gede,” tiba – tiba seorang pengawal berkata. Ia tak sanggup lagi melangkahkan kaki. Wajahnya terlihat pucat dan darah masih mengalir dari lambung yang robek cukup dalam.

” Bertahanlah kakang!” kata temannya yang memapah tubuhnya.

” Tidak , Jati! Aku tidak akan pernah sampai di punggung kuda. Katakan pada anakku agar selalu mencintai Menoreh,” senyumnya mengembang. Sebulir embun merembes pelan dari pelupuknya. Ia berkata lagi,” turunkan aku disini. Letakkan senjata di tanganku dan ikat yang erat.”

Ken Banawa seolah tidak melihat peristiwa memilukan itu saat membantu seorang pengawal menaiki kuda. Selarik gores di hatinya bertambah dengan satu lagi kematian di depan matanya. Ia menarik nafas panjang mencoba menenangkan diri meskipun ia tidak mengingkari keperihan akan selalu datang beserta kematian. Sekalipun itu adalah kematian seorang penjahat paling biadab. Lengan bajunya terangkat cepat mengusap embun yang akan merembes keluar dari pelupuk matanya.

Di belakang mereka datang berduyun – duyun gabungan pengawal pedukuhan dan murid – murid padepokan yang seluruhnya berjumlah lebih tiga puluh  orang. Mereka mengacungkan senjata dengan teriakan – teriakan ganas dan liar. Mereka sebelumnya berpencar di pelosok pedukuhan. Ketika gaung panah sendaren mengudara, mereka berlarian menuju banjar tanpa diperintah. Seakan-akan mereka telah paham betul apa yang sedang terjadi di banjar pedukuhan.

” Kakang Jalutama, segera tinggalkan tempat ini. Aku akan menghalangi mereka,” pinta Bondan.

” Tidak! Kau yang harus pergi dahulu, aku akan menyusul kalian,” jawab Jalutama tegas sambil menatap gerombolan dengan amarah di dadanya.

” Jika kakang tetap di sini dengan luka-luka di punggung, para pengawal akan kembali turun bertempur denganmu. Itu artinya sama dengan kakang membunuh diri sendiri dan para pengawal, sedangkan kakang adalah pemimpin Tanah Menoreh,” jawab Bondan sambil menarik tangan Jalutama.

Akan tetapi Jalutama mengibaskan lengannya. Dengan pedang yang erat dalam genggamnya, ia memutar tubuh. Mengetahui sikap keras Jalutama, Ken Banawa bergegas mendekatinya lalu,” Ngger, biarkan Bondan yang menghadang mereka.”

” Tidak, paman. Ayah meletakkan nyawaku bersama – sama dengan penghormatan, dan aku akan bertahan bersama kehormatan itu,” Jalutama menolak tegas.

” Kau benar, ngger. Tetapi hadiah – hadiah itu akan dapat kita rebut kembali dan kita bawa ke kotaraja,” kata Ken Banawa yang berdiri menghadap Jalutama. Sementara Bondan melihat orang – orang semakin dekat, lantas bergeser setapak ke samping ” Pergilah kakang!” Bondan berkata sambil memegang bahu Jalutama yang berusia sedikit lebih banyak darinya.

Ki Swandanu segera menyerahkan tali kuda pada Jalutama,” marilah, ngger. Sudah tidak ada lagi kesempatan untuk siang ini.”

Dengan kepala tertunduk, Jalutama memutar tubuhnya dan menerima tali kekang. Sesaat kemudian ia telah berada di punggung kuda. ” Marilah, mereka bertiga akan baik – baik saja.” Jalutama menghentak kuda dengan bulir air mata deras menetes tak terbendung dari pelupuknya.

“Pergilah kalian ke barat. Aku akan memecah kekuatan mereka,” Ken Banawa memutar kudanya kembali ke banjar pedukuhan. Sentuhan lembut Ki Swandanu berhasil mencegah Jalutama yang juga akan berbalik arah mengikuti Ken Banawa.

” Jangan, ngger! Orang itu pasti telah menghitung dengan matang. Mungkin ia hanya sekedar menyibak kekuatan lawan lalu membawa sedikit mereka keluar dari banjar. Jika itu terjadi, kedua orangmu akan dapat bertahan lebih lama,” jelas Ki Swandanu.

” Ki Swandanu benar. Dan keselamatan kita adalah karena darah dan nyawa mereka sebagai gantinya,” Jalutama berkata tanpa melepas tatapan mata ke banjar. Sementara Ki Swandanu dan Ki Hanggapati terdiam dengan menarik nafas dalam-dalam. Mereka berdua tidak mengingkari kenyataan seperti yang dikatakan Jalutama, namun mereka tidak menampakkan betapa hati mereka tersayat-sayat sebilah belati.

” Sudahlah, ngger. Tidak seorang pun dari kita yang menghendaki kekacauan ini terjadi. Kita semua telah menunaikan kepercayaan Ki Gede sebaik-baiknya. Dan kita juga tidak akan pernah dapat mencegah apa yang telah ditetapkan hari ini,” berkata Ki Sukarta dengan mata sembab menatap langit. Ia kemudian lebih dahulu melangkahkan kaki kudanya.

Demikianlah akhirnya Jalutama dan pengawal – pengawal Menoreh yang menderita luka-luka, dua orang Pajang  memacu kuda meninggalkan banjar pedukuhan. Tidak satupun dari mereka yang mampu menahan air mata mengalir. Kedua pengawal itu adalah lelaki terbaik Tanah Menoreh.

“Seharusnya aku yang berada di banjar. Kang Sapta dan Juwari terlalu baik untuk ditinggalkan,” kata seorang pengawal yang kemudian berteriak keras melepaskan pilu dalam dadanya.

“Tenangkan dirimu. Kita semua harus kembali melihat ke dalam diri sendiri. Perjalanan ke Menoreh dan Pajang masih harus melewati tiga empat gunung lagi. Sementara mereka bertiga sedang menyongsong karma yang terbaik dengan membuka jalan bagi kita, ” Ki Hanggapati berkata. Ucapan Ki Hanggapati seakan-akan membuat orang-orang kembali sadar. Bahwa perjalanan menuju lereng Merapi masih sangat jauh. Sementara mereka harus dapat menghindar dari kejaran para perampas hadiah bagi Sri Jayanegara.

Sementara itu Ken Banawa kembali bertempur dari atas kuda. Dalam kendalinya, kuda itu menyambar-nyambar dengan terjangan hebat. Putaran pedang Ken Banawa telah melukai beberapa orang. Saat ia melihat kelonggaran terjadi pada barisan pengeroyoknya, ia segera memacu kuda menuju arah ia datang saat bersama Ki Swandanu. Beberapa orang segera melemparinya dengan berbagai senjata namun tak satu pun mampu menggapai punggung senopati wreda kebanggaan prajurit Majapahit itu. Putaran pedangnya meluruhkan senjata yang dilemparkan oleh orang-orang yang mengejarnya.

” Jaga kedua orang itu baik-baik, anak muda,” seru Ken Banawa pada Bondan saat ia telah berada di luar halaman banjar. Ia kemudian membawa kudanya berlari cepat mengambil jalan memutar menyusul Jalutama ke arah barat.

Pada saat itu, Bondan melangkah maju. Akan tetapi terdengar desah pelan dari balik punggungnya,” sertakan aku, Bondan,” ucap lirih dua orang pengawal nyaris bersamaan. Tubuh keduanya masih deras darah bercucuran.

Bondan berhenti melangkah. Ia menarik nafas dalam- dalam. Ia telah melihat kekejaman di medan perang. Ia telah banyak melihat orang menemui kematian. ” Tetapi tidak ada orang-orang sekejam orang di pedukuhan ini.” Tubuh Bondan berguncang hebat menahan gejolak membara di dadanya.

“Baiklah, kita bertempur bersama,” jawab Bondan kemudian memapah pengawal itu menyerbu ke barisan kelompok itu. Bondan berat untuk melangkah. Betapa tidak, ia bertempur dengan hati seperti disayat sembilu. Dua  pengawal memaksa diri berjalan terhuyung – huyung. Ia merasa seperti menyerahkan dua nyawa manusia gagah pada sekawanan serigala lapar. Bondan tidak peduli lagi dengan keselamatan dirinya sendiri, akan tetapi menjaga kedua pengawal yang hampir tak berdaya seperti membuat dirinya terhimpit Gunung Merapi.

“Buatlah kami bangga, anak muda,” lirih mendesah seorang pengawal yang usianya sebaya dengan Ken Banawa. Sementara kawannya menatap lurus ke arah lawan – lawannya.

“Kemarilah, aku sudah melihat langit terbuka lebar. Aku sudah melihat lereng – lereng perbukitan Menoreh,” gumamnya.

Sebagian dari mereka telah mengelilingi Bondan dan kedua pengawal yang tiba-tiba dapat berdiri tegak. Entah darimana kekuatan besar itu datang membantu mereka. Selagi mereka tidak sadar dengan kekuatan yang muncul secara tiba-tiba, Bondan dapat merasakan kekuatan yang menyelimuti mereka.

” Tidak lain dan tidak bukan. Inilah yang pernah dikatakan eyang.” Bondan mengenang ajaran Resi Gajahyana.

” Saat manusia sudah merasa tidak ada batas untuk bersandar. Saat ia merasa tidak mampu bergerak, di saat seperti itulah kekuatan besar dalam dirinya akan muncul. Kekuatan itu akan  mendorongnya menjadi lebih besar dan lebih kuat dari Merapi, ngger.” Resi Gajahyana tatkala membenahi olah gerak Bondan saat usia belia.

” Bersiaplah kalian berdua!” Bondan memegang erat tangan kedua pengawal yang berada di kedua sisinya. “Lemaskan tangan kalian. Kita akan selalu bersama,” kata Bondan merendahkan kedua tubuh pengawal.

Hukuman mati telah dijatuhkan. Para pengeroyok menerjang ketiga lawannya dari berbagai penjuru. Terdengar suara Ki Kalong Pitu berteriak memberi aba-aba dan kata-kata yang memanaskan suasana. Lingkaran itu semakin kecil. Kedua pengawal masih menunggu Bondan belum menunjukkan pergerakan.

cropped-img_20180124_182436_516.jpg

Tiba- tiba Bondan mendorong Kang Sapta maju lalu ia bertumpu pada pundak Kang Sapta dengan kedua tangannya. Ia menggenjot kedua kakinya, lalu melayang berputar sambil menendang beruntun ke arah penyerang. Serangan cepat dan mendadak itu membuat porak poranda barisan pengepung. Mereka yang berada di depan segera terpelanting karena sentuhan kaki Bondan mengenai kening dan dada mereka. Sementara itu Kang Sapta keheranan karena tidak dibebani dengan tubuh Bondan yang sangat ringan. Juwari yang sibuk menangkis hantaman senjata- senjata lawan tiba-tiba merasakan tubuhnya ringan. Ia bergerak sangat cepat seiring dengan ayunan tangan Bondan. Keduanya seakan sedang menari-nari berpasangan. Ketiganya berkelahi dalam jarak dekat, Bondan sibuk mengatur alur serangan bagi mereka bertiga. Kadang-kadang Bondan berpasangan dengan Kang Sapta, sekali waktu bersama Juwari. Meski begitu perlawanan mereka benar-benar membuat kelabakan kelompok penyerangnya.

Ketiganya berloncatan ketika badai serangan mulai menerjang bahkan tiga orang ini sesekali mampu membalas serangan pengeroyoknya. Pertahanan ketiganya cukup rapat. Ketangkasan dan kecekatan Bondan mengamati pertempuran memang luar biasa. Meskipun tidak ada orang berilmu tinggi dalam barisan penyerang, namun jumlah dan keadaannya jauh lebih baik dari Bondan yang juga harus menjaga keselamatan kedua pengawal.

Akan tetapi pengawal Menoreh harus menerima kenyataan jika tubuh mereka semakin lemah. Juwari meninggalkan jasadnya terlebih dahulu menemui Sang Penciptanya. Ia terjatuh ketika melepas tangannya dari genggaman Bondan. Juwari tak bergerak lagi. Namun para penyerangnya masih terus menghujani tubuh yang tergolek lemas dengan senjata hingga tak dapat dikenali. Kata-kata kotor keluar dari mulut mereka berbarengan sumpah serapah dari yang lain. Entah apa yang ada di benak mereka sampai jiwanya dapat menjadi buta melakukan kekejian tiada tara. Hati Bondan serasa mengalirkan darah melihat keganasan yang tidak didasari oleh kebencian, kekejian yang tampak olehnya semata-mata timbul dari kebodohan.

Bondan dan Kang Sapta yang menyaksikan pun tak kuasa membendung air mata. Mereka kini bertempur dengan air mata terurai. Sesekali Kang Sapta mendengar Bondan terisak. Meskipun sebenarnya air mata Bondan juga mengalir karena amarah yang tidak terbendung. Bondan mengamuk sejadi-jadinya. Tubuhnya berkelebat sangat cepat seolah menjadi benteng bagi Kang Sapta. Lelaki yang baru saja dikenalnya. Lelaki yang dalam waktu singkat telah mengajarkan kepadanya arti sebuah kepercayan dan kehormatan meskipun tidak dengan kata-kata.

” Lepaskan aku, Bondan!” pinta Kang Sapta.

” Tidak! Kita akan bersama selamanya,” desah lirih Bondan sambil memukul bagian bawah bahu lawannya.

Lalu ia menarik Kang Sapta melintas di depannya menghindari tebasan golok, namun saat itu tiba- tiba Kang Sapta terkulai lemas. Wajahnya yang menghadap ke atas persis berada di depan dada Bondan sambil  mengembangkan senyum.

” Tidak ada kebahagiaan selain hari ini, Bondan. Inilah hari saat aku akan bertemu dengan Penciptaku,” kata Kang Sapta memejamkan mata. Desah nafasnya terdengar panjang. Kang Sapta menyusul temannya dalam kehormatan sebagai seorang pengawal yang menuntaskan kepercayaan yang diembannya. Tubuh Bondan seolah tidak bertulang lagi  saat ia mendengar kalimat orang yang disegani di kalangan pengawal Tanah Menoreh. Bondan mengalami guncangan yang hebat, dan kakinya terasa tak sanggup menahan tubuhnya. Sebatang tombak nyaris memasuki ulu hatinya saat ia sejenak termangu dalam kesedihan mendekap Kang Sapta yang telah tidak bernyawa.

Setinggi apapun ilmu Bondan, sehebat apapun serangan dan perlawanan yang ia lakukan akan tetapi ia tak akan pernah sanggup mencegah kepergian kedua pengawal Menoreh. Jasad lemas Kang Sapta ia naikkan ke pundak. Sekujur tubuh Bondan berlinang darah Kang Sapta. Kini ia seperti angin topan, pedang yang ia rebut dari penyerangnya berputar bergulung-gulung membuka jalan darah. Langkah kaki Bondan bergeser sejengkal demi sejengkal mendekati dinding setinggi lutut yang membatasi halaman banjar. Ia melihat wajah-wajah para pengeroyoknya seperti sekumpulan manusia yang haus darah. Dari mata mereka, Bondan seolah menyaksikan sekumpulan orang yang tidak mempunyai hati dan jantung.

” Aku akan membawamu keluar dari neraka ini, kakang.” Bondan mendesah dalam hati sambil bergerak cepat seolah tidak membawa jasad Kang Sapta di pundaknya. Ia tidak ingin tubuh Kang Sapta tercabik-cabik oleh taring sekawanan pengeroyoknya. Tiba-tiba ia meloncat menginjak bahu seorang penyerangnya lalu melintas cepat diatas kepungan para pengeroyoknya. Dalam sekejap Bondan telah berada di luar halaman banjar. Sebatang pedang ia lontarkan menggapai lambung penyerangnya yang jaraknya tidak begitu jauh darinya. Ia berlari mengerahkan seluruh kekuatan yang ada dalam dirnya. Kakinya menyusuri tanah seolah melayang di atas rumput kering pategalan sebelah banjar. Seakan- akan seperti tidak membawa jasad Kang Sapta di pundaknya. Kini ia berusaha menyusul kawan-kawannya yang telah bergerak ke barat.

“Aku rawat jasadmu setelah matahari lingsir di balik pohon,” sambil menahan isak tangis Bondan berkata seakan jasad Kang Sapta dapat mendengar ucapannya.

“Lepaskan anak itu! Kita akan mencarinya menjelang matahari tenggelam,” kata orang yang bertubuh kurus dan berambut penuh uban. Sepertinya ia adalah pemimpin dari kelompok yang terakhir memasuki banjar. Ia menoleh ke arah Ki Kalong Pitu yang menganggukkan kepala. Ia berkata kemudian,” anak itu tidak akan dapat melewati bukit itu.” Kemudian ia mengajak kawanannya menyelesaikan pekerjaan yang diberikan oleh pemimpin padepokan.

Orang-orang itu kemudian menahan diri dan kembali memasuki banjar. Tak lama kemudian mereka merawat kawan-kawannya yang telah terbujur kaku. Setelah itu seluruh pedati-pedati dipindahkan ke padepokan Sanca Dawala.

Bondan terus berlari ke arah barat hingga bayangan jatuh lebih panjang dari bayangan tubuhnya. Ia memperlambat langkahnya ketika ujung matanya melihat jejak-jejak kuda. Sejenak ia berhenti dan menurunkan Kang Sapta di sisinya. “Jejak ini masih baru. Apakah mereka berada di sekitar sini?” pikir Bondan sambil menyapukan pandangan. Ia kembali mengangkat jasad Kang Sapta dan mengikuti jejak-jejak yang tertinggal.

 

cropped-bekam-penyakit-convertt-coba-upload.jpg

Post Author: Ki Banjar Asman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *