Bara di Borobudur 17

Matahari semakin meninggalkan bayangan ketika senja mulai merambat hutan di sebelah barat Kademangan Asem Gedhe. Samar-samar jejak kaki kuda masih dapat dilihat melalui cahaya yang masih dapat menyelinap melalui sela-sela daun yang rimbun. Di sebuah persimpangan kecil, jejak-jejak itu kemudian menghilang.

Sebentar kemudian mendung berarak-arak datang mengurangi terang cahaya yang tersisa dari matahari yang beringsut tenggelam. Bondan masih berupaya untuk mencari jejak yang mungkin saja masih tersisa. Ia mendongakkan kepala dan bergumam,”Hari sesaat lagi akan menjadi gelap.” Ia masih terus berjalan setapak demi setapak mencari jejak yang hilang. Di tengah rasa putus asa karena keadaan yang semakin gelap dan menghalangi jarak pandangnya, ia melihat sehelai kain yang tersangkut di sebuah ranting yang patah. Dari jarak yang cukup dekat masih tampak olehnya darah yang mengering.

“Mereka melewati jalur ini,” desah Bondan kemudian membaringkan jasad Kang Sapta. Bondan mencoba menelusuri jejak dengan lebih leluasa. Lamat-lamat terdengar olehnya kuda meringkik. Dipandangnya tubuh Kang Sapta membujur di atas rumput basah tersiram gerimis yang mulai turun ke bumi. Sejenak keraguan datang di hatinya, ia berkata lirih,” Aku tinggalkan kau sendiri. Aku akan kembali dalam sekejap.” Sambil menarik nafas dalam-dalam, Bondan berusaha menghalau keraguan untuk meninggalkan kang Sapta. Ia telah membuat keputusan, tubuh Bondan melayang ringan dan cepat di antara dahan dan ranting di dalam hutan itu. Ia berloncatan di atas pohon yang berjarak agak renggang mencari asal suara kuda yang meringkik.

Gelapnya kedalaman hutan merintangi penglihatannya untuk dapat melihat dari jauh. Bondan bergeser semakin dekat. Dalam kedudukannya yang sekarang, Bondan dapat mengenali sosok Ken Banawa. Sekejap kemudian Bondan telah berbalik arah dan meluncur sangat cepat menjemput Kang Sapta. Tanpa kesulitan mencari arah untuk kembali ke Kang Sapta, Bondan telah berdiri tegak dengan tubuh Kang Sapta berada dalam gendongannya. Membutuhkan waktu sedikit lebih lama bagi Bondan karena keadaan yang semakin gelap untuk mencapai tempat dimana ia melihat Ken Banawa.

Saran untuk dibaca Bara di Borobudur 10

“Bersembunyi!” perintah Ken Banawa kepada semua orang di sekelilingnya. Ia  menunjuk arah tertentu yang ia perkirakan akan dilewati orang yang langkah kakinya telah terdengar Ken Banawa. Mereka segera melakukan perintah Ken Banawa tanpa banyak bertanya. Jalutama dan tiga pengawal bersembunyi di balik tanaman perdu, dan yang lainnya cepat menyebar mencari tempat bersembunyi.

Seorang pengawal menggelengkan kepala ketika temannya bertanya,” ada apa?” kemudian mengangkat telunjuknya di depan bibir memintanya untuk diam.

“Ki Swandanu, apakah mungkin kawanan itu telah sampai kemari?” bertanya Ki Hanggapati.

“Entahlah, tetapi mereka dapat saja mencapai tempat ini meskipun tidak dengan sengaja.”

Sementara itu Jalutama mencoba menyisir sekeliling tanah lapang itu dengan hati-hati sambil merunduk. Sesekali ia berhenti untuk menahan rasa sakit pada punggungnya yang terluka meskipun darah telah berhenti mengalir.

Bondan mengayunkan kakinya dengan lelah yang kini datang menyapanya. Seusai pertempuran kecil di pedukuhan sebelumnya, ia kemudian berlari meninggalkan pedukuhan dengan Kang Sapta yang berada di pundaknya. Meski begitu ia sama sekali tidak mengurangi sikap untuk tetap berhati-hati. Dahinya berkerut,” mengapa tiba-tiba tempat ini menjadi sunyi?” ia berkata dalam hati. Setelah mengatur diri untuk sejenak, ia kembali melangkah dengan keris tergenggam erat di tangannya.

Ki Rangga Ken Banawa agaknya mengenali sosok tubuh yang berjalan melintas di dekatnya.  Untuk meyakinkan dirinya sendiri, Ki Rangga mengeluarkan suara yang hanya dikenali oleh Bondan dan Gumilang.

Langkah Bondan pun terhenti, tanpa menoleh arah suara namun satu ilmu yang ia pelajari dari Mpu Gandamanik mulai melambari lengannya dan siap diledakkan melalui keris yang digenggamnya.

“Paman, engkaukah itu?”

Lega hati Ki Rangga Ken Banawa ketika mendengar suara yang sangat ia kenali. Ia bergegas keluar dari persembunyiannya menyambut Bondan, Jalutama dan yang lainnya segera menampakkan diri kemudian membantu Bondan menurunkan jasad Kang Sapta yang mulai dingin dan kaku.

Tidak ada seorangpun yang mengeluarkan suara ketika mereka merawat jasad pemimpin pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Mereka memberikan penghargaan yang tinggi dan merasakan mulai mengemban kehormatan yang diwariskan oleh Kang Sapta untuk mereka. Bondan merasakan hal itu dan ia sendiri juga dapat merasakan jika Kang Sapta telah mengajarinya tentang arti sebuah cinta.

Sekumpulan orang yang mengelilingi jasad Kang Sapta yang telah berada dalam peluk hangat bumi adalah sekumpulan orang gagah dan tidak mudah menyerah. Akan tetapi pada saat itu, mereka menjadi sekumpulan orang kecil yang berjalan di atas hamparan tanah yang sangat luas. Para pengawal Menoreh meratap sedih karena tidak dapat menyaksikan Juwari untuk terakhir kalinya. Dan mereka, para pengawal, juga tidak menanyakan keadaan temannya kepada Bondan. Mereka mengerti sepenuhnya ketika mendengar desah lirih Bondan menyebut nama Juwari dalam isak tangisnya.

Jalutama, Ki Hanggapati dan Ki Swandanu diikuti oleh para pengawal yang selamat dari pengepungan mendatangi Bondan satu demi satu. Tidak ada sepatah yang terucap dari orang-orang itu, termasuk Ki Rangga Ken Banawa yang berdiri mematung bergantian memandang Bondan dan gundukan tanah yang masih basah. Ki Rangga Ken Banawa pun untuk pertama kali menitikkan air mata setelah puluhan tahun tidak pernah ada air mata yang menetes keluar dari pelupuknya. Puluhan dan ratusan mayat pernah membujur di hadapannya tetapi tidak ada air mata yang keluar. Kesedihannya saat itu adalah sebuah kesedihan tentang rasa kehilangan, akan tetapi malam ini Ki Rangga merasakan kesedihan yang ternyata mampu merenggut jantungnya.

Pada akhirnya setiap orang yang berada di tanah itu bermalam dengan berbalut semangat dan cinta dari Kang Sapta. Gerimis yang masih belum berhenti semakin menambah keadaan sekitar mereka seolah turut berkabung.

Dalam kesempatan itu, Jalutama menghampiri Bondan dan duduk bersandar pada sebuah pohon gayam. Ia menenangkan diri barang sejenak.

” Aku sungguh berterima kasih padamu, Bondan. Kau telah menyelamatkan Kang Sapta namun bagi kami semua,” katanya lalu ia terdiam sesaat. Jantungnya berdentang kencang dan bibir Jalutama bergetar. Ia menarik nafas panjang sambil melihat wajah para pengawal Menoreh bergantian. Sejenak kemudian Jalutama melanjutkan,”Akan tetapi bagi kami semua, kau telah menyelamatkan seluruh jiwa orang-orang Menoreh. Aku, mewakili ayahku dan seluruh rakyat Tanah Perdikan Menoreh, akan mengenangmu sebagai seorang keluarga dan teman terbaik. Kapan saja jika kau ingin, Tanah Perdikan selalu membuka pintu bagimu.” Bondan sama sekali tidak menyahut kata-kata Jalutama. Ia menarik nafas panjang kemudian menundukkan kepala. Jalutama kemudian diam dan memperhatikan keadaan Bondan, ia segera menyadari ketika ia dengan jelas melihat kedua tangan Bondan sedikit gemetaran.Wajah gelisah terlihat jelas di raut wajahnya meskipun mereka berada di dalam kegelapan.

Tak lama kemudian Ki Hanggapati dan Ki Swandanu datang mendekati mereka berdua. Menyusul para pengawal Menoreh yang masih tersisa duduk sedikit jauh dari empat orang itu. Sementara Ki Rangga memandang lurus Bondan seakan-akan dapat melihat kegelisahan di wajah Bondan. Ia teringat ketika saat untuk pertama kali Bondan harus menyisir jurang kematian ketika menghadapi Mpu Gemana.  Ki Rangga memang mengerti gejolak di dalam dada Bondan.

“Angger Jalutama,“ Ki Rangga mendekat dan berkata dengan suara rendah,“ Aku menyaksikan saat terakhir mereka bertiga mempertahankan diri. Aku tidak mengatakan belasan nyawa para penyamun itu sebanding dengan Kang Sapta. Dengan tubuh Kang Sapta yang berada di pundaknya, ia berhasil mengurangi belasan orang. Akan tetapi, apa yang terjadi dalam pertempuran itulah yang disesalkan olehnya. Jika saja mereka tidak berusaha membunuh mereka bertiga, tentu saja Bondan tidak akan menebarkan kematian lebih banyak lagi.”

Para pengawal dan yang lainnya tiba-tiba merasakan kulit mereka meremang. Ki Hanggapati dan Ki Swandanu dapat mengerti keterangan Ki Rangga Ken Banawa, akan tetapi mereka berdua dapat merasakan kedukaan yang membebat Bondan. Para pengawal juga dapat melihat perbedaan yang terjadi dari wajah Bondan. Mereka ingat ketika beberapa saat sebelum pertempuran terjadi, wajah Bondan menyiratkan gairah untuk menjaga sebuah harapan. Dan pada malam itu mereka memandang wajah Bondan begitu sayu dan lelah.

Tiba-tiba Bondan bangkit berdiri dan melangkah menjauh mereka kemudian duduk di sebelah api yang berasa dari obor kecil yang tersimpan di bawah perut kuda pengawal Menoreh. Ki Rangga meminta mereka untuk membiarkan Bondan dalam kesendirian. Ia berkata,”Ia akan menjadi lebih baik lagi untuk beberapa saat ke depan. Biarkan ia mengendapkan gejolak yang terjadi dalam hatinya.” Jalutama dan lainnya manggut-manggut mengerti maksud Ken Banawa. Terdengar dari tempat mereka ketika Bondan mengeluhkan suara tertahan. Akan tetapi seperti yang dipesankan oleh Ki Rangga Ken Banawa maka malam itu tidak ada seorang pun yang menemani Bondan.

cropped-img_20180124_182436_516.jpg

Bondan yang duduk bersandar dengan lutut sedikit ditekuk, kemudian mendongakkan kepalanya. Ia bergumam,” Jika membunuh adalah cara yang harus aku lakukan, mungkin saja saat itu memang tidak ada cara yang lain yang lebih baik. Karena aku sendiri tidak akan dapat melarikan diri bila hanya dengan menghindar dan menghindar. Peristiwa di halaman banjar memang tidak memberi pilihan selain membunuh dan dibunuh. Akan tetapi perlakuan mereka terhadap pengawal Menoreh  benar-benar kejam.” Kembali Bondan mengeluh tertahan. Membayang di pelupuk matanya ketika tubuh Juwari tercabik-cabik dengan ganas oleh senjata kawanan yang merampas hadiah dari Ki Gede Menoreh. Ia mencoba mengalihkan perhatiannya akan tetapi bayangan itu semakin mencekam.

“Aku harus mengendapkan perasaan yang menderaku saat ini,” gumamnya dalam hati. Perlahan-lahan ia mulai mengatur nafas dan mengurai rasa lelah untuk kemudian melepaskan gejolak hatinya ke udara bebas yang mengelilinginya.

 

cropped-bekam-penyakit-convertt-coba-upload.jpg

Post Author: Ki Banjar Asman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *