Bara di Borobudur 18

Ketika Bondan telah jauh meninggalkan pedukuhan, Ki Kalong Pitu mulai memimpin kawanan itu untuk berkemas dan kembali ke Padepokan Sanca Dawala.

“Kalian segera panggil orang-orang pedukuhan untuk segera kembali kemari. Mereka harus merawat jasad Ki Bekel dan kawan-kawan mereka, sementara kita akan bawa pergi mayat orang yang berasal dari padepokan,” berkata Ki Kalong Pitu kepada belasan pengikutnya. Dalam waktu yang agak lama kemudian halaman banjar telah kembali bersih seperti tidak ada pertempuran yang tidak seimbang. Para penduduk pedukuhan seolah sudah terbiasa melakukan pekerjaan seperti itu. Tidak tampak rasa ketakutan atau kegelisahan membayang di wajah mereka. Bahkan sebagian dari mereka sempat bergurau dengan kawan-kawannya. Halaman banjar telah menjadi saksi kekejaman kawanan penyamun itu terhadap jasad salah seorang pengawal dari Tanah Menoreh.

Ki Kalong Pitu dengan dahi berkerut memandang beberapa penunggang kuda yang melaju sangat cepat.

“Apakah mereka yang datang itu orang-orang kita?” ia bertanya pada seorang yang datang belakangan.

“Aku tidak tahu, Ki,” jawab orang itu.

Raut wajah Ki Kalong Pitu segera berubah cerah ketika para penunggang kuda itu semakin dekat dengannya.  Tujuh orang lelaki dan seorang perempuan penunggang kuda hampir bersamaan menarik kekang kuda saat memasuki halaman banjar. Dua ekor anjing kecil tampak berada di atas kuda.

“Ki Kalong Pitu,” sapa seorang yang baru saja turun dari kuda. Orang ini bertubuh tinggi besar dan dengan ikat kepala berwarna merah melilit rambutnya yang panjang tergerai sebahu. Teman-temannya juga telah melompat dari punggung kuda kemudian bergegas menghampiri sekelompok orang sedang mengemasi barang rampasan yang mereka peroleh dari orang-orang Menoreh. Beberapa dari mereka segera menyodorkan senjata milik orang Menoreh ke moncong dua ekor anjing kecil. Lalu menyerahkan dua buah senjata itu ke orang yang menggendong anjing.

Ki Kalong Pitu mengangguk hormat dan berjalan beriringan menuju sisi anak tangga banjar pedukuhan.

“Agaknya orang Menoreh itu berhasil melarikan diri,” kata orang bertubuh tinggi besar.

“Benar. Ternyata kita salah memperhitungkan kekuatan mereka, Ra Jumantara,” berkata Ki Kalong Pitu.

“Lalu bagaimana rencanamu selanjutnya?”

“Tentu saja aku akan menyuruh beberapa orang mengejar mereka,”Ki Kalong Pitu terdiam sejenak. Ia meneruskan,” Mereka tidak akan dapat lari jauh melewati Alas Jatiroto.”

“Kau terlalu merendahkan kemampuan mereka,” sahut Ra Jumantara. Kemudian ia berkata lagi,”mungkin saja mereka akan kembali kemari malam ini meskipun telah berkurang jumlahnya. Akan tetapi hal semacam itu dapat saja terjadi dan akan berakibat buruk bagimu jika kau lengah.”

Ki Kalong Pitu tidak menyahut kata-kata Ra Jumantara, ia justru mengalihkan pandangan ke arah barat. Sedikit lama ia terdiam, lalu katanya,”Jika aku mengejar mereka dengan apa yang aku miliki sekarang, sudah barang tentu mereka akan mengirim orang-orang kita dalam keadaan tidak bernyawa lagi.” Kemudian ia menarik nafas panjang. Ra Jumantara melihat luka pada pundak Ki Kalong Pitu agaknya menyadari keadaan yang dialami temannya. Lalu Ra Jumantara berkata,” Aku akan mengejar mereka. Dan menurutku, kemampuan orang yang aku bawa saat ini akan dapat mengatasi mereka. Sehingga dengan begitu mereka tidak akan pernah pulang ke Menoreh.”

Ki Kalong Pitu menganggukkan kepala. Memang seperti itulah yang dilakukan oleh Padepokan Sanca Dawala dan orang-orang yang mengikuti mereka. Kawanan ini tidak pernah membiarkan seorang  dari korbannya hidup.

“Bagaimana kalian bisa secepat ini menuju kemari?” bertanya Ki Kalong Pitu.

Ra Jumantara menoleh, dan ia menjawab,”panah sendaren yang kau lepaskan terdengar hingga tempat para penghubung. Seorang cantrik sedang mengamati perkembangan yang terjadi di halaman ini. Dan ia telah meninggalkan tempatnya sebelum panah sendaren kau lepaskan. Untuk itulah aku mengajak serta Kirana dan Guwala untuk mengejar mereka.”

“Tentu saja kau tahu akibatnya jika orang Menoreh itu dapat mencapai rumahnya dalam keadaan selamat. Dan apabila itu terjadi maka rencana yang telah disusun oleh Mpu Jagatmaya akan mengalami kegagalan,” kata Ra Jumantara menambahkan. ”Sementara itu,Mpu Jagatmaya saat ini sedang berkemas menuju ke lereng Merbabu. Nah, sekarang perintahkan orang-orangmu untuk bergegas menyelesaikan pekerjaan ini. Sementara aku akan mengejar orang-orang Menoreh itu lalu menyusuri lereng Lawu dan bertemu Mpu Jagatmaya di sana.”

“Baiklah,” jawab Ki Kalong Pitu dan mereka kemudian berpisah. Untuk sesaat Ki Kalong Pitu mengumpulkan orang-orang yang dianggap dapat memimpin pedukuhan hingga mereka mendapat kepastian dari Dhaha. Beberapa pesan juga diberikan olehnya untuk menjawab setiap kemungkinan yang bisa saja dapat ditanyakan oleh para pejabat di Dhaha. Pedukuhan beranjak menuju gelap ketika Ki Kalong Pitu mengakhiri pertemuan dengan orang-orang pedukuhan lalu ia keluar menuju padepokan Sanca Dawala.

“Marilah! Kita lekas tuntaskan persoalan dengan orang-orang dari Menoreh sebelum mereka melewati hutan Jatiroto!” seru Ra Jumantara pada tujuh orang temannya setelah ia meninggalkan Ki Kalong Pitu yang mulai mengumpulkan orang pedukuhan di banjar.

Berangkatlah delapan orang Padepokan Sanca Dawala itu mengejar Jalutama dan yang lainnya. Akan tetapi sebelum mereka jauh meninggalkan pedukuhan, dua ekor anjing mereka seperti kebingungan mengendus jejak. Seekor anjing yang berwarna coklat berbelok ke kiri. Anjing ini agaknya mengendus jalur yang dilewati Ki Rangga Ken Banawa yang menyempatkan diri mengambil bekal di kuda yang ditambatkan agak jauh dari banjar. Agaknya bau yang melekat pada tubuh Ken Banawa bercampur dengan bau seorang pengawal yang kebetulan melekat pada senjata yang diendus. Lalu yang seekor lagi bergerak mengikuti arah yang ditempuh oleh Bondan namun berputar balik ke tempatnya semula. Beberapa saat delapan orang itu masih menunggu perkembangan dari apa yang dilakukan oleh anjing-anjing mereka. Pada akhirnya anjing yang mengambil arah kembali ke pedukuhan kini mulai mengarahkan moncongnya ke barat.

Setelah berputar-putar sesaat, kedua  anjing itu berlari ke barat dan diikuti oleh orang-orang Padepokan Sanca Dawala.

Pandangan Ra Jumantara yang sangat tajam segera melihat jejak kaki yang berada di depannya. Keadaan masih belum begitu gelap saat itu meskipun mendung mulai berarak menutupi daerah sekitar pedukuhan. Setelah beberapa ratus tombak berkuda, Ra Jumantara meminta kelompoknya untuk berhenti. Ia melompat turun dari kuda dan berjongkok mengamati jejak yang masih dapat dilihatnya.

“Jejak ini masih baru melintasi daerah ini. Apa kalian dapat mengukur tingkat ilmu orang Menoreh yang melarikan diri ini?” ia bertanya sambil menyapukan pandangan ke tujuh orang pengikutnya.

Anggara Abang ikut mengamati jejak yang ditunjuk oleh Ra Jumantara. Ia meraba-raba jejak itu lalu berkata,”orang ini berlari dengan beban. Mungkin saja mayat temannya seperti kata orang-orang di banjar.”

“Lalu?” Ra Jumantara bertanya lagi.

“Meskipun tubuhnya lebih berat jika dibandingkan ia berlari seorang diri, akan tetapi orang ini jelas mempunyai ilmu yang cukup meskipun aku tidak dapat mengatakan sangat tinggi,” kata Anggara Abang kemudian. Selanjutnya ia berkata lagi,” Darah yang baru kering ini sepertinya ia belum jauh meninggalkan tempat ini.” Ra Jumantara memperlihatkan rasa puas dengan hasil pengamatan Anggara Abang.

“Tentu saja kau dapat membacanya seperti itu karena engkau adalah pemburu terbaik di seluruh Dhaha,” senyum Ra Jumantara mengembang sambil menepuk bahu kawannya yang berbalut kain berwarna merah dengan sebatang tombak pendek terselip di punggungnya.

“Kita akan memberi pelajaran bagi orang-orang Menoreh ini tentang aturan yang berlaku di padepokan kita. Sudah sepantasnya orang-orang Menoreh ini menerima hukuman yang telah diputuskan oleh Mpu Jagatmaya,” lalu ia berkata lagi,“Sekarang kita kejar mereka. Kita telah berada di jalan yang tepat untuk menyusul dan menghabisi mereka semua. Maka dengan begitu, Mpu Jagatmaya tidak akan sungkan menambah imbalan lebih bagi kita semua.” Ra Jumantara berkata-kata sambil menghentak perut kudanya. Enam orang lainnya ada yang menganggukkan kepala dan segera melompat ke atas punggung kuda. Sorak sorai dan derai tawa mengiringi kepergian mereka menyusul Jalutama dan kawan-kawannya melalui jalan yang ditempuh oleh Bondan.

Demikianlah kemudian mereka memacu kuda dengan cepat menerjang senja yang mulai temaram. Sementara itu Bondan yang memondong jasad Kang Sapta telah berada di depan mereka beberapa ratus tombak lagi sebelum bertemu dengan rombongan Jalutama.

 

 

 

cropped-bekam-penyakit-convertt-coba-upload.jpg

Post Author: Ki Banjar Asman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *