http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

Panembahan Tanpa Bayangan 9

Lelaki tua itu kemudian berkata,” Kita akan bergeser tempat setelah besok pagi kita telah mengetahui kepastian sikap Ki Bekel dan Ki Jagayabaya. Sementara itu aku ingin kau kembali menyisir jalan untuk membuka simpul yang belum sepenuhnya terbuka.

Aku maksudkan itu agar kau dapat menjadi lebih baik jika harus kembali berhadapan dengan Ki Tumenggung Sigra Umbara. Karena lima wujud yang tampak olehmu itu memang wujud sebenarnya. Wujud itu bukan berupa bayangan yang tidak dapat disentuh. Jadi, apabila satu wujud telah kau sentuh maka wujud yang menjadi pengendali akan mempunyai celah yang dapat kau masuki.”

Mata anak perempuannya segera berbinar-binar dan wajahnya berubah cerah. Ia tidak menyangka jika ayahnya akan segera menuntaskan ilmu yang sedang ia pelajari. Ayahnya memberi nama Sekar Lembayung bagi ilmu yang telah ia kembangkan dari dasarnya. Perempuan muda itu sendiri tidak tahu alasan ayahnya memberi nama Sekar Lembayung untuk ilmu yang luar biasa itu. Ilmu ini mempunyai sifat yang khusus karena jika ia mengarahkan tenaga ke satu arah, maka dari arah yang berlawanan akan keluar pula tenaga yang sama.

“Aku akan menunggu ayah memberi perintah untuk ini,” desahnya dalam hati. Agaknya ia dapat menahan diri untuk tidak mendesak ayahnya.

Sejenak kemudian ayahnya memintanya untuk berdiri, lalu lelaki tua itu menyentuh beberapa simpul urat di punggungnya. Perempuan muda berbadan semampai ini merasakan nyeri yang luar biasa saat jemari kokoh ayahnya mengetuk pelan satu dua simpul urat belakangnya.

“Dua tempat telah tertutup ketika hawa pukulan Ki Tumenggung menggapai punggungmu. Kelengahanmu itu menjadi sebab pertahananmu yang akhirnya terbuka,” ayahnya berkata.

“Aku mencemaskan keselamatan Raden Andum Pamuji sehingga akhirnya aku lengah,” anak perempuannya jujur mengakui kesalahan yang ia lakukan.

Kemudian ia berkata lagi,” Aku memang merasakan seperti tusukan jarum melukai punggungku. Namun saat itu aku tidak merasakan sesuatu yang janggal terjadi padaku, Ayah. Semua berlangsung seperti biasa, aku tidak terhalang untuk bergerak maupun meningkatkan kekuatan,” perempuan yang mulai beranjak ke usia matang itu berkata dengan mata yang menunjukkan keheranan.

“Apakah pada saat kau dapat merasakan rasa nyeri itu meresap hingga ke tulangmu?”

“Tidak,” kata perempuan muda itu sambil menggelengkan kepala. Kemudian ia duduk di tepi amben bambu yang berada di ujung ruangan.

“Salah satu sifat khusus dari ilmu yang dikuasai Ki Tumenggung adalah tenaganya menjadi berlipat, begitu pula dengan kecepatan yang ia miliki. Semua yang ada dalam dirinya akan berlipat ganda. Lalu ketika ia bergerak, memukul atau menahan serangan maka seluruhnya akan disertai dengan kekuatan cadangan yang sangat hebat.” Lelaki tua itu memandang tajam pada anaknya.

“Akan tetapi, ayah!” ia terdiam sejenak. Lelaki tua itu kemudian memberinya tanda untuk melanjutkan ucapannya yang terputus.

Perempuan itu lalu melanjutkan,” Pada malam itu aku melihat gerakannya masih berada di bawah kecepatanku. Jadi aku mengira Ki Tumenggung berada di tataran yang seperti aku duga. Dan ketika sambaran angin pukulannya menerpa punggung, aku masih berpikir jika itu adalah satu kebetulan. Baru aku menyadari gambaran kekuatan Ki Tumenggung pada saat Ayah menjelaskan sifat ilmu dari Ki Tumenggung Sigra Umbara.” Ia lalu mengingat betapa ayahnya melesat dengan kecepatan tinggi lalu menahan laju Ki Tumenggung dengan tangan terbuka mendorongnya surut. Dan dengan satu kibasan ayahnya telah melemparkan beberapa prajurit yang mengepungnya.

“Ah!” perempuan itu berdesah tertahan saat menyadari jika ia telah kehilangan pengamatan diri.

PVKsg1516701009

“Kau telah mengerti?” tanya lelaki tua itu seakan mengerti tentang apa yang sedang dipikirkan oleh anak satu-satunya yang ia miliki.

“Aku menyadari itu, Ayah. Maafkan aku!” wajah cantik perempuan itu menunduk dalam-dalam.

“Sudahlah, sekarang kau telah mengerti ketinggian ilmu Ki Tumenggung. Ia melambatkan gerak karena telah mengalihkan perhatiannya darimu. Sekar Lembayung yang aku lepaskan padanya akhirnya dapat mencegahnya menanjak selapis lebih tinggi.”

“Meskipun ia telah mewujudkan dirinya menjadi empat?” sedikit tidak percaya menyertai pertanyaan gadis muda yang sebenarnya sudah cukup untuk melangkah ke arah menuju dewasa.

“Benar,” Ayahnya menganggukkan kepala lalu melanjutkan,” mungkin itu adalah kelebihan yang dimiliki Ki Tumenggung dengan ilmunya. Sepengetahuanku ilmu Panjering Limo yang sudah sangat jarang dikuasai orang pada jaman sekarang. Dan lagipula para pemilik ilmu ini selalu melipatgandakan kekuatan dan kecepatannya sebelum membelah diri. Akan tetapi agaknya Ki Sigra Umbara benar-benar orang yang mungkin hanya dapat dikalahkan oleh Panembahan Hanyakrawati saja.”

”Sekarang marilah kita keluar barang sebentar. Aku ingin memberitahu tentang ilmu Sekar Lembayung sekaligus untuk menguji kekuatan simpulmu yang sempat terganggu oleh Ki Tumenggung,” kata lelaki itu sambil membuka pintu dan melangkah keluar.

“Ayah!” seru anak perempuan itu dari dalam ruangan. Lelaki itu memutar tubuhnya dan memandang wajah anaknya dengan dahi berkerut. Sesaat ia terkenang dengan wajah ibu dari anaknya itu,” semakin kau dewasa, wajah ibumu semakin tampak jelas di mataku.” Lelaki itu kemudian menarik nafas dalam-dalam.

“Lalu bagaimana dengan rencana kita esok?” perempuan muda itu tampak semakin menarik ketika dahinya berkerut.

“Kita tetap akan menjalankan rencana. Lagipula sedikit latihan ini akan menambah kedalaman yang telah ada dalam dirimu. Selain itu, kita juga dapat mengamati perkembangan pedukuhan ini di malam hari sejak kedatangan tiga orang  asing itu.Sepertinya mereka bukan orang biasa, akan tetapi menyimpan kelebihan yang mungkin saja melebihi kemampuanku,” jawab ayahnya lalu melangkah keluar.

Pada wayah sepi uwong, kedua ayah anak itu bejalan menyusuri jalanan yang telah lengang. Sesekali mereka berpapasan dengan para peronda yang agaknya telah mengenal baik kedua ayah anak itu. Bahkan mereka berdua pun sempat berhenti di sebuah gardu untuk bercakap-cakap dengan peronda yang berada di sana walau hanya sebentar.

“Andai saja Ki Sekar Layang mau menjodohkan Mayang Sari denganku,” seorang penjaga berkata pada kawannya sepeninggal Ki Sekar Mayang dan anaknya.

“Lalu?” sahut kawannya.

“Lalu aku akan berhenti berkhayal setiap hari,” kata penjaga tadi sambil tertawa kecil dan tidak melepas tatap matanya dari punggung kedua orang yang baru saja pindah ke pedukuhan mereka.

“Ah syukurlah. Ki Sekar Layang tidak menjodohkan anaknya denganmu. Karena jika itu terjadi, maka aku akan selalu kesepian disini,” keduanya makin deras tertawa.

Tanpa disadari kedua penjaga pedukuhan itu sebenarnya percakapan singkat mereka telah didengar oleh Ki Sekar Layang dan Mayang Sari. Lalu Ki Sekar Layang menoleh dan tersenyum pada anaknya,” Kau telah mendengar mereka berkata tentang dirimu. Memang sudah sepantasnya aku menunaikan kewajiban pada seorang perempuan seusiamu. Kau mungkin akan menduga jika telah mempunyai pilihan bagimu, dan tentu saja aku juga menduga kau telah menetapkan pilihan.”

Mayang Sari menjadi merah mukanya lalu ia menyembunyikan wajahnya lebih ke dalam melihat kedua kakinya yang menapaki tanah. Perasan Mayang Sari menjadi berdebar ketika ayahnya tidak melanjutkan kata-kata.

“Aku belum mempunyai pilihan, Ayah. Langkah-langkah kaki ini masih belum membawaku ke tujuan yang Ayah inginkan. Mungkin saja Ayah berpikir aku berharap pada Raden Andum Pamuji, tetapi Ayah juga mengerti bahwa hubungan kami hanya sebatas pada pelaksaan rencana yang sekarang telah gagal dan harus segera dilupakan,” Mayang Sari berdesis dalam hatinya.

Lalu mereka tiba di pepohonan bambu yang tumbuh lebat di tepi pedukuhan. Ki Sekar Layang mendongakkan kepalanya dan melihat bulan seperti sedang tersenyum padanya. Ia menoleh ke mayang Sari lalu perintahnya,” Susunlah olah gerak yang menjadi dasar ilmu Sekar Lembayung.”

Mayang Sari melangkahkan kaki menuju bagian yang agak lapang dan berdiri tegak memusatkan akal budinya. Ia kemudian tegak berdiri sekokoh batu cadas. Pakaiannya yang ringkas tidak dapat menyembunyikan kesan lemah yang tampak dari tubuhnya yang semampai dan seperti kebanyakan wanita lainnya. Akan tetapi dibalik apa yang terlihat dari tubuh Mayang Sari sebenarnya terdapat kekuatan yang dapat memecahkan batu hitam yang cadas.

Perlahan dan penuh tenaga Mayang Sari mulai melakukan serangkaian olah gerak dasar ilmu Sekar Lembayung. Keringat mulai membasahi kening Mayang Sari ketika ia baru saja menapak empat gerakan. Akan tetapi ia terus melanjutkan selapis demi selapis seraya meningkatkan tenaganya. Ki Sekar Layang manggut-manggut puas melihat setapak kemajuan yang dicapai anaknya.

“Ia tidak akan dapat menggapai lapisan tenaga yang saat ini ia selaraskan jika dua simpulnya masih tertutup,” kata Ki Sekar Layang dalam hatinya.

 

 

sumber gambar http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

 

cropped-bekam-penyakit-convertt-coba-upload.jpg

Post Author: Ki Banjar Asman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *