Trah 14 Majapahit dan Trah 13 Wit Asem

Sebagaimana kolor yang lentur dan elastis, begitu pula narasi seseorang yang sering terjadi akibat terlalu ama tidur. Ada orang yang mengaku sebagai keturunan Majapahit adalah hak baginya untuk membuat klaim semacam itu. Sama persis dengan seseorang yang mengaku sebagai anak demit.
Dan yang menjadi alat uji adalah perilaku. Jayanegara adalah bukti lemah seorang raja. Sedangkan Raden Wijaya baru sebatas meletakkan dasar. Tribuanatunggadewi adalah perintis. Hayamwuruk adalah seorang juara.

Akan tetapi pada hari ini, ada kolor nglindur yang jalan pikirannya dapat ditebak. Sebelum dilanjutkan lebih jauh, ada 3 hal yg tanpa sengaja diungkap oleh “juru ketik” tentang suara hatinya sendiri.

1) arah politiknya adalah membangun sebuah dinasti. Mengutamakan lingkungan sendiri. Rakyat dan dedemit kelaparan itu apa kata nanti. Dan itu telah terbukti dengan subsidi-subsidi yang membuat banyak orang terlena, terutama dedemit penunggu wit asem.

2) meraih penghargaan saat sekolah, akan tetapi justru terbukti gagap sejarah. Ketika ia menyebut diri sebagai trah 14 maka sekarang saya menyebut diri sebagai trah 13 kerajaan Wit Asem. Perbedaan mendasar adalah Kerajaan Wit Asem mewariskan filosi kehidupan dari sebuah pohon, dan trah 14 mewariskan sebuah candi dan grasi konyol sejagad asem. Majapahit adalah negara yang bhineka, dan pada hari belakangan ini pewaris itu justru menunjukkan sikap yang berbeda.

3) juru ketik eh pekatik anggap ratusan juta penduduk Indonesia tetap bodoh berjamaah. Anggap remeh generasi milenial macam dedemit wit asem yang sedang menjabat sebagai Presiden Republik Wit Asem (yang telah bertransformasi dari kerajaan).

Dalam lingkup kehidupan bernegara, tidak semestinya seorang juru ketik menebarkan informasi yang meragukan. Konstitusi menegaskan jika berpendapat telah berada dalam lindungan hukum. Akan tetapi pendapat seperti apa yang harus disampaikan pada khalayak ramai? Apabila kita menapak tilas NAZI dan PKI maka sebenarnya sudah jelas terpampang dan dibuktikan oleh sejarah. Propaganda. Apabila berita yang meragukan disebarkan oleh juru ketik atau juru delman maka imbasnya akan selalu buruk.

Dan akibat yang pasti adalah akan selalu tercipta generasi panci. Generasi ini akan terjaga dengan baik oleh sebuah metode ragu-ragu dan pembohongan umum. Generasi yang hanya bisa berteriak-teriak dengan perilaku mirip mayat hidup.

Dalam Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan sebenarnya terang dijelaskan. Kerakyatan dalam naungan yang bijaksana. Sekarang, anda mau kembali dipimpin oleh panci bekas yang meninggalkan prasasti dan candi rusak di sebuah tanah lapang? Tentu saja makna kata kebijaksanaan akan selalu dapat dikatakan bernilai relatif. Harga bahan bakar yang naik dapat disebut sebagai bukan buah kebijaksanaan. Namun, sebenarnya selalu ada dasar dari sebuah keputusan.

Satu contoh dari masa lalu. Grasi bagi pengedar narkoba. Seorang wanita kebangsaan Australia. Seseorang yang mengaku trah Majapahit tidak akan semudah itu membiarkan negaranya hancur karena kedaulatan yang tergadai. Entah digadaikan dengan kolor, panci ataupun biawak. Dan di bagian inilah kita sebenarnya diuji. Ujian berat sedang kita jalani. Sebuah pilihan ada di hadapan kita saat ini.

Dipimpin dengan kolor terpasang di kepala.
Dipimpin dengan kacamata kuda.
Dipimpin oleh biawak bertopi panci.
Dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan.

Anda yang menentukan.

Untuk itulah pengakuan yang mengaitkan dirinya dengan masa lalu sebenarnya bukti kelemahan dalam memimpin. Ia berharap untuk dapat menutup sejumlah kekurangan atau borok di masa lalu dengan membangkitkan kenangan sebuah kejayaan di masa lalu. Dan itulah strategi pembodohan dari rencana bodoh. Ia berharap untuk dapat menumbuhkan rasa sungkan atau segan di banyak lapisan masyarakat, akan tetapi keturunan Majapahit lainnya akan menjadi batu sandungan berat baginya sebelum lebih luas menebar kebodohan.

Himbauan.
Hari ini, atau hari anda membaca tulisan ini, kita harus bekerja sama untuk mengakhiri segala bentuk pembodohan dengan kembali pulang dalam sebuah rumah yang berukiran Burung Garuda. Karena kita semua adalah pewaris sah sebuah kerajaan besar. Kita semua adalah keturunan dari kerajaan besar. Karena kita adalah petarung sejati. Kita adalah pelopor sebenarnya, kita bukan biawak yang bergelimang kolor dan panci dalam kolam.


Demikianlah. Wassalam.

Post Author: Kho Wang Xing

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *