Panembahan Tanpa Bayangan 10

http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

Untuk beberapa lama Mayang Sari melakukan olah gerak yang sangat pelan tetapi dalam lambaran tenaga cadangan yang sangat kuat. Di tengah keadaan seperti itu, ia merasakan kekuatannya meningkat berlipat. Ia dapat merasakan angin yang berhembus dari setiap olah geraknya. Sedemikian kuat lambaran tenaga yang ia keluarkan hingga tanpa terasa tanah yang dipijaknya menjadi garis yang melingkar-lingkar dan membenamkan kakinya sampai batas mata kaki. Rasa bangga terpancar dari tatap mata Ki Sekar Layang, untuk kemudian ia mendongakkan kepala. Bulan dan bintang telah bergeser dari tempatnya. Lalu ia berkata,” Kita akhiri bagian ini. Dari semula gerakan-gerakan itu akan berguna untuk penyesuaian seluruh urat syarafmu.”

Mayang Sari lantas menuju pada gerak penutup yang menjadi bagian awal dari imu Sekar Lembayung. Sejenak kemudian KI Sekar Layang bersama Mayang Sari berjalan kembali melalui jalan yang berbeda menuju pedukuhan.

Di rumah Ki Bekel, Ki Jagabaya mulai menceritakan hubungannya dengan Ki Winatra di masa lalu. Ia berkata,” Sebenarnya aku telah mengenal Ki Winatra semenjak kami berdua masih berusia muda. Kami sama-sama menjadi prajurit Pajang saat itu. Dan kami juga berada di barak yang sama untuk beberapa waktu yang lama.”

Ia terdiam dan menarik nafas panjang. Lalu ia melanjutkan,” Kami berbeda pendapat ketika Danang Sutawijaya meninggalkan Pajang. Aku tetap memilih sebagai seorang prajurit, dan temanku yang masih berusia muda memutuskan untuk keluar dari keprajuritan. Dalam pandanganku, keputusan Danang Sutawijaya bukanlah keputusan seseorang yang berjiwa sabar dan ia tidak dapat melihat keputusan seorang sultan secara keseluruhan. Akan tetapi aku tidak dapat menyalahkan dirinya atas keputusan itu. Apalagi Sultan Hadiwijaya sendiri tidak memberi perintah apapun terhadap perbuatan yang sebenarnya menurutku tidak patut dilakukan oleh seorang anak angkat.

Keadaan yang berbeda telah dialami oleh kawan dekatku, Ki Winatra. Ia merasa kecewa terhadap keputusan Danang Sutawijaya yang akhirnya memilih gelar Panembahan Senapati itu. Ia pergi jauh meninggalkan Pajang, lalu aku mendengar jika ia berada di lereng perbukitan Menoreh. Lalu ketika Sultan Hadiwijaya mangkat, aku pun meninggalkan Pajang. Meski begitu, beberapa orang masih berhubungan denganku untuk bekerja sama bagi kebangkitan Demak. Tentu saja aku menolak untuk bergabung dengan mereka yang masih saja merasa terikat dengan masa lalu. Pada saat itu Pajang tidak dapat menjadi suatu tempat yang layak bagi orang-orang yang masih berpegang teguh pada nilai keprajuritan. Dalam perjalanan itu akhirnya aku bertemu dengan Ki Bekel yang seorang diri mengurus sebuah pedukuhan yang sebenarnya sangat sejahtera.”

Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia bergantian melihat orang-orang di sekelilingnya yang mendengarkan dengan seksama. Lalu ia tersenyum pada Sarjiwa, kemudian katanya,” Pada pertemuan kita pertama, memang aku sengaja berbuat seperti itu. Mungkin Angger Sarjiwa akan bertanya tentang alasan. Tentu saja aku mempunyai alasan kuat hingga akhirnya kita terlibat dalam olah gerak yang sebenarnya menguras tenagaku.”

Ki Bekel memandang Ki Jagabaya dan yang lainnya dengan tatap mata heran. Ia bertanya,” Ki Jagabaya dan Angger Sarjiwa sempat berkelahi?”

“Tidak, Ki Bekel. Mereka hanya sedikit melemaskan otot, terutama bagi Sarjiwa yang telah lama tidak melakukan gerak yang berarti,” jawab Ki Winatra dengan senyum memandang wajah Ki Bekel yang masih keheranan.

Sejenak kemudian Ki Bekel tertawa kecil dan berkata,” Aku dapat menduga alasan Ki Jagabaya sampai bersedia melatih Angger Sarjiwa.”

“Benar Ki Bekel. Aku melihat dalam diri Angger Sarjiwa sebuah kegesitan dan seperti melihat Ki Winatra dalam wujud yang berbeda. Kemudian aku tergerak untuk mengujinya dan benarlah dugaanku jika Ki Winatra telah mewariskan seluruh ilmunya pada Angger Sarjiwa,” kata Ki Jagabaya kemudian. Ki Bekel memperlihatkan kekaguman saat melihat Sarjiwa yang menundukkan kepala.

“Sebenarnya Ki Jagabaya dapat saja memberiku pelajaran pada awal perjumpaan, akan tetapi Ki Jagabaya rupanya ingin menunjukkan beberapa bagian yang masih harus aku perdalam,” kata Sarjiwa kemudian ia menoleh ayahnya. Ki Winatra menganggukkan kepala.

“Memang seharusnya berjalan seperti itu. Kau tidak akan dapat memperkaya unsur gerakan jika hanya berlatih sendiri atau berlatih bersama kami berdua,” Ki Winatra memberi pengertian sedikit mendalam pada anaknya.

“Meskipun kami berdua merupakan prajurit rendahan, akan tetapi kami tidak ingin menonjolkan kelebihan kami dalam olah kanuragan di kalangan prajurit. Kami berdua ingin menjalani laku sebagai seorang prajurit yang nantinya dengan bertahap akan berkembang sesuai waktu yang berjalan dan kejadian-kejadian yang harus kami lewati,” Ki Jagabaya menambahkan kemudian.

Dalam hati Ki Bekel, ia merasa bangga dengan sikap yang dimiliki oleh Ki Jagabaya. Selain itu ia sendiri tidak menyangka jika ilmu Ki Jagabaya sedemikian tingginya menurut kesaksian para pengawal pedukuhan. Lalu ia bergumam dalam hatinya,” Agaknya aku tidak boleh lagi mempunyai keraguan pada kesetiaan dan kemampuan Ki Jagabaya. Apalagi saat ini keadaan pedukuhan telah bertambah dengan tiga orang yang mempunyai kemampuan lebih baik daripada aku sendiri.”

Ia berkata kemudian,”Dan sekarang, setelah semua menjadi jelas bagiku dan Angger Sarjiwa, aku berharap bantuan Ki Winatra untuk berada di pedukuhan ini barang sejenak.” Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam, kemudian bangkit dan berdiri lalu berkata,”Pedukuhan sedang berjalan di atas sebuah bara. Sejumlah peristiwa terjadi silih berganti tanpa pernah kita ketahui alasan-alasan yang ada dibelakangnya. Untuk itulah, aku dan Ki Jagabaya mengharap mendapat masukan berupa bahan-bahan yang dapat diolah menjadi sebuah persiapan yang matang.” Ketiga orang di dekatnya saling berpandangan sejenak. Mereka melihat kesungguhan yang tersirat dari raut muka Ki Bekel. Lalu Ki Bekel berkata lagi,” Pada dasarnya adalah aku telah mempunyai rencana yang ingin segera aku jalankan bersama dengan Ki Jagabaya. Maksudku adalah aku berencana untuk menyelinap memasuki perkampungan kecil yang letaknya berada sedikit masuk ke dalam hutan di luar pedukuhan. Dan terus bergantian dengan Ki Jagabaya untuk melakukan hal itu. Akan tetapi keterbatasan kami dari segi jumlah agaknya menjadi penghalang utama, karena aku menduga orang-orang yang berada di perkampungan itu mempunyai kemampuan lebih tinggi daripada para pengawal yang ada.”

Katanya lagi,” Aku sendiri belum mempunyai bayangan atas maksud mereka sebenarnya karena bisa dikatakan tidak ada kerugian besar yang diderita oleh penduduk pedukuhan ini. Hanya saja sikap mereka telah menimbulkan rasa khawatir dan saling curiga di antara penduduk.” Ia berhenti dan menghela nafas panjang. Sementara itu Ki Jagabaya bertukar pandang dengan ki Winatra lalu keduanya saling menganggukkan kepala.

“Ki Bekel, aku akan menggantikan tugas Ki Bekel untuk menyusup masuk ke perkampungan itu. Tentu saja dengan begitu Ki Bekel tetap berada di pedukuhan agar penduduk merasa aman dengan kehadiran Ki Bekel,” kata Ki Winatra.

“Baiklah Ki. Aku harus berterima kasih atas hal itu. Untuk kemudian kita akan meneruskan pembicaraan tentang rencanaku selanjutnya,” kata Ki Bekel gembira. Kemudian atas pertimbangan dari Ki Jagabaya, akhirnya Ki Bekel meminta Ki Winatra dan keluarganya untuk mulai tinggal di rumah Ki Bekel. Tak lama kemudian setelah gandok yang berada di sebelah kanan telah siap, Ki Bekel mempersilahkan ketiga tamu dari Menoreh untuk beristirahat. Sementara itu Ki Jagabaya meminta diri untuk kembali ke rumahnya.

“Ki Bekel, Ki Jagabaya. Aku akan sedikit berlatih dengan Sarjiwa di dekat sungai,” berkata Ki Winatra. Kedua perangkat pedukuhan itu menganggukkan kepala berbarengan. Lalu Ki Jagabaya berkata,” Aku akan mengantar kalian.” Sejenak kemudian ketiga orang itu berjalan meninggalkan rumah Ki Bekel.

Beberapa langkah dari regol halaman rumah Ki Bekel, Ki Winatra berkata pada Sarjiwa,” Anakku, usiamu yang masih muda bukan alasan untuk tidak berhitung dalam setiap keputusan. Langkah-langkah yang akan kau tempuh dan jalan yang akan kau lalui mungkin akan berbeda dengan keadaan di masa kami berdua saat masih muda. Dan kau juga harus mengingat jika keadaan yang terjadi sekarang ini dan di masa mendatang bukan terjadi dalam satu dua hari. Akan tetapi melalui pertumbuhan yang saling mempengaruhi satu sama lain. Seperti sebuah pohon di dalam hutan, pandangan dan sikap yang terjadi di sekitar kita sudah mulai terbentuk dalam ukuran waktu yang panjang dan berbagai perbedaan. Oleh karena itu, maka setiap keinginan yang ada dalam dirimu sebaiknya dan memang sudah seharusnya tidak melepaskan jati diri yang ada dalam diri kita sebenarnya.”

 

sumber gambar http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

cropped-bekam-penyakit-convertt-coba-upload.jpg

Tinggalkan Balasan