http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

Panembahan Tanpa Bayangan 11

Ki Winatra melanjutkan,” Dalam kaitan dengan ilmu yang ada pada dirimu, maka sebenarnya ilmu itu bukan seperti barang yang mudah dipindahkan atau dipegang. Akan tetapi Serat Waja juga dapat mengalami perkembangan dan mungkin akan ada sesuatu yang pada akhirnya mampu memberi sifat khusus pada ilmu itu sendiri. Tentu saja, itu tergantung pada dirimu.”

Ki Jagabaya turut mendengarkan akan tetapi ia merasa tidak berhak untuk memasuki pembicaraan Ki Winatra dengan Sarjiwa. Dalam perjalanan itu, ketiga orang ini melihat dua bayangan berjalan di bawah sorot bulan yang temaram mendekati mereka dari arah depan.

“Kita tidak perlu menaruh rasa curiga pada kedua orang yang agaknya berjalan ke arah kita. Akan tetapi kita tidak boleh meninggalkan kewaspadaan,” kata Ki Jagabaya.

Kedua orang yang berjalan mendekati Ki Jagabaya dan dua tamunya segera menyapa,” Oh Ki Jagabaya rupanya. Selamat malam.”

Ki Jagabaya dapat melihat jelas lawan bicaranya lalu jawabnya,” Selamat malam, Ki Sekar Layang.” Tersenyum Ki Jagabaya dan mengangguk hormat pada perempuan yang berjalan di sisi Ki Sekar Layang. Ia bertanya,” Apakah ada keperluan yang dapat aku lakukan untuk Ki Sekar Layang? “

“Tidak ada Ki Jagabaya. Aku hanya ingin menikmati angin malam bersama Mayang Sari,” jawab Ki Sekar Layang.  Selama beberapa saat kedua orang itu saling berbicara dalam keakraban. Dalam keadaan itu, berdiri selangkah di  belakang Ki Jagabaya, Ki Winatra menundukkan kepala dengan kening berkerut. Ia merasa seperti pernah melihat atau mengenali raut wajah yang terlihat agak jelas baginya. Sarjiwa  dengan kepala tertunduk sendiri agaknya tidak begitu tertarik dengan isi pembicaraan.

Angin yang berhembus pelan dari lereng Merapi terasa semakin dingin, lalu Mayang Sari berkata pelan pada ayahnya,” Aku sedikit merasa tidak enak dengan keadaan malam ini.”

Ki Jagabaya, yang melihat gerak tangan Mayang Sari menggamit Ki Sekar Layang, kemudian berkata,” Baiklah Ki Sekar. Aku mohon diri dulu karena kedua tamu pedukuhan ini ingin melihat-lihat keadaan pedukuhan di malam hari.” Kelima orang itu kemudian saling memberi isyarat menghormat dan Sarjiwa tercekat ketika sepintas ia melihat wajah cantik Mayang Sari. Dengan kening berkerut, Sarjiwa terus menatap wajah Mayang Sri yang menjadi merah dan kini menundukkan kepala dalam-dalam. Temaram sinar bulan ternyata tidak mampu menyembunyikan kecantikan Mayang Sari, Sarjiwa jujur mengakui dalam hatinya jika ia belum pernah dia melihat wajah secantik itu. Akan tetapi Sarjiwa mempunyai alasan yang berbeda bahwa dalam kecantikan gadis seperti menyimpan sesuatu yang dirasakan janggal olehnya.

“Wajah itu seperti pernah aku kenal. Dan ada yang aneh dari sorot matanya. Akan tetapi dimana aku pernah bertemu dengannya?” gumam Sarjiwa dalam hatinya. Untuk sesaat pikiran Sarjiwa berkelana tak tentu arah. Segera ia menyadari dan secepat itu pula ia mengendapkan hatiya.

“Ayah, sepertinya aku pernah melihat wajah perempuan itu, Akan tetapi aku tidak begitu pasti pakah betul anak perempuan itu orangnya,” perlahan Sarjiwa mengungkapkan perasaan pada ayahnya. Kedua rombongan kecil ini saling bergerak menjauh, lalu Ki Winatra berkata,” Aku juga pasti telah mengenal wajah orang yang dipanggil Ki Sekar Layang.”

“Apakah Ki Winatra dan Angger Sarjiwa pernah bertemu mereka sebelum berpapasan tadi?” bertanya Ki Jagabaya.

Ki Winatra dan Sarjiwa menjawab dengan menganggukkan kepala. Lalu,” Akan tetapi aku tidak begitu yakin, Ki Jagabaya,” berkata Sarjiwa. Ia meneruskan,” Keadaan yang temaram dan peristiwa itu berlangsung sangat cepat.” Sarjiwa terdiam sejenak untuk menunggu ayahnya mengijinkan ia bercerita tentang satu peristiwa di masa lalu.

Sambil menarik nafas dalam-dalam, Ki Winatra berkata,” Ki Suluh, sebenarnya aku ingin berkata sebenarnya kepadamu. Akan tetapi, untuk sementara ini, biarlah apa yang akan aku katakan itu tetap berada dalam ingatanku dan Sarjiwa. Tentu saja kau memahami jika pedukuhan ini harus berada dalam keadaan tenang terlebih dulu. Bukan berarti aku meragukanmu, akan tetapi aku tidak ingin ada pendapat dalam hatiku yang nantinya justru akan membawa pedukuhan ini menuju lembah yang tidak jelas.”

“Aku mempercayai dan telah mengenalmu sejak lama, Ki Tuwuh,” berkata Ki Jagabaya yang bernama asli Ki Suluh pada Ki Tuwuh yang lebih dikenal dengan Ki Winatra di masa tuanya.

“Tentu saja,” kata Ki Suluh kemudian,” Kau lebih memperhitungkan keadaan-keadaan yang mungkin saja dapat terjadi. Apalagi sejak kau melihat kerumunan orang-orang pedukuhan yang berada dalam kemarahan saat pertama kali kau datang ke pedukuhan ini.” Ki Jagabaya lalu berhenti di sebuah persimpangan bercabang tiga. “Ki Winatra dapat mengikuti jalan setapak ini lalu nantinya akan tiba di bagian sungai yang agak dalam. Sementara aku akan melewati jalan ini dan mengambil arah memutar,” kata Ki Suluh lalu,” Aku akan melihat keadaan bagian utara pedukuhan.”

“Apakah tidak terlalu jauh , Ki Jagabaya?” tanya Sarjiwa.

Sambil tersenyum, Ki Jagabaya berkata,” Tidak, ngger. Sudah menjadi tugas seorang penanggung jawab keamanan untuk memastikan pedukuhan ini jauh dari bahaya.”

“Apakah itu berarti Ki Jagabaya mempunyai kecurigaan yang sama denganku?” tanya Ki Winatra.

“Tentu saja. Bukankah itu sebuah naluri seorang prajurit yang telah lapuk karena usia?” Kembali Ki Jagabaya mengembangkan senyum.

“Baiklah, Ki. Kita berpisah disini,” kata Ki Winatra sambil mendekati Ki Jagabaya. Dengan berbisik, ia berkata,” Waktu kita sudah hampir habis. Mungkin pedukuhan ini akan menjadi awal kehidupan kita yang baru.”

Dahi Ki Jagabaya berkerut mendengar bisikan kawan lamanya itu. Ia kemudian menatap Sarjiwa yang berada di sebelah ayahnya. Setelah mengendapkan perasaannya, Ki Jagabaya berkata,” Kita cukup melakukan apa yang dapat kita lakukan, Ki Tuwuh. Persiapan telah kita upayakan semenjak kita masih muda.” Sambil menepuk bahu Ki Jagabaya, Ki Winatra meminta diri untuk memulai latihan bersama Sarjiwa.

Tak berapa lama kemudian, mereka bertiga berpisah. Sesampainya di tepi sungai, Ki Winatra meminta Sarjiwa untuk duduk bersila untuk mengenang kembali tentang dirinya. Ki Winatra berdiri menghadap sungai lalu berkata,” Angger Sarjiwa, tidak ada yang perlu kau khawatirkan untuk menyelam lebih dalam tentang ilmu Serat Waja. Inti ilmu Serat Waja sebenarnya telah ada di dalam dirimu. Meski begitu, kesungguhanmu itulah yang nantinya akan membawa perbedaan  bila dibandingkan dengan apa yang telah aku capai selama ini. Di dalam ilmu Serat Waja, kau tidak hanya dituntut untuk melakukan perbuatan yang bersifat keras. Ilmu ini mempunyai dua sifat yang berbeda dan berlawanan. Akan tetapi, kapan saja kau menghendaki maka ia akan mengalir sesuai keinginanmu.

Pada setiap pertarungan maupun peperangan yang melibatkan banyak orang, akan selalu ada kesedihan dan kedukaan yang menyusup di bawah kibasan senjata. Mengalir dalam setiap angin pukulan. Membentur segala sesuatu yang bersifat cadas dan keras. Dalam pada itu, kau harus mampu mengalirkan keseimbangan-keseimbangan yang nantinya akan berusaha mencari jalan keluar melalui setiap olah gerak yang kau lakukan.”

Ki Winatra terdiam sejenak. Kemudian ia memerintahkan Sarjiwa untuk berdiri dan segera bersiap melakukan serangkaian olah gerak yang menjadi watak ilmu Serat Waja. Sejenak kemudian, Sarjiwa telah berloncatan, bergulingan, melakukan serangkaian tendangan dan pukulan yang beruntun dilepaskan.

“Ungkapkan seluruh tenaga cadangan yang ada dalam dirimu!” perintah Ki Winatra.

Maka dengan begitu Sarjiwa makin cepat bergerak. Rangkaian pukulan dan tendangan yang ia lepaskan mulai memanaskan anggota tubuhnya.

Sarjjiwa tiba-tiba melambatkan gerakannya dan kini ia bergerak dengan kaku. Ia mengungkapkan seluruh tenaga cadangan yang ada dalam dirinya dengan serangkaian gerakan yang berbeda dari olah gerak yang pertama. Tubuh Sarjiwa bergetar sangat hebat setiap kali ia memukul, menendang dan melangkahkan kakinya. Tubuhnya seakan-akan menahan sebuah kekuatan yang dapat meledak setiap saat.

 

 

 

sumber gambar http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *