Politik Sandal Jepit di Indonesia

Telah nyata dan terbukti jika kegaduhan di negeri ini disebabkan karena kegagalan memahami arti keseimbangan. Kawanan penyebar berita palsu juga tidak menyadari bahaya yang ditimbulkan. Perang saudara adalah satu jenis bencana alam yang dapat disebabkan berita bohong yang diimani kebenarannya.

Dan menjadi lucu ketika mulai timbul anggapan jika penegak hukum masih tebang pilih. Orang mengatakan hukum hanya tajam ke bawah. Kerumunan anggapan yang salah (meskipun masih dapat dibenarkan oleh kenyataan) telah mengoyak untaian pulau yang telah terajut sejak lama.

Ada sebuah contoh. Kasus penistaan agama. Kasus ini telah menyeret seorang pejabat publik ke dalam penjara. Tahu kenapa? Adalah kerumunan massa yang entah digerakkan oleh siapa. Anda harus memahami satu teori, jika massa berkerumun maka nalar akan melayang pergi. Otak tidak akan terpakai saat massa berkerumun. Desakan pada LSM yang bernama MUI sangat gencar, namun itu tidak terjadi ketika ada orang bertanya tentang bidan yang membantu kelahiran seorang nabi. MUI juga membisu. Al Quran adalah firman Allah, Nabi Isa juga firman Allah, alam semesta ini juga firman Allah. Semua firman itu tertera dalam kata ” KUN”.

Maka dengan begitu, apakah kita masih mengingkari kenyataan?

Lalu, siapa ulama yang harus diikuti? Bukankah ini dapat dikatakan jika ulama hanya sebuah simbol belaka?

Para badut kemudian menari dan bernyanyi agar sebuah keputusan tetap dijalankan. Dan orang yang sama masih bernyanyi sumbang tentang keadilan.

Lanjut ke persoalan inti.

Sebuah kesimpulan atau analisa telah terbentuk jika agama telah atau sudah mendekati titik penjelmaan baru.
Agama yang pada awalnya dan secara hakiki adalah sebuah jalan, kini telah menjadi sebuah tujuan. Lambat laun agama akan berubah menjadi wit asem. Agama hanya dihuni dan diyakini kebenarannya oleh segelintir dedemit wit asem.

Sementara itu, beberapa orang yang sebenarnya telah menjadi dedemit pun dengan bangga menebarkan senjata penghancur semesta. Teringat kisah Nabi Nuh. Beliau tercatat pernah berkata,” Oh Tuhanku. Aku mengatakan kebenaran siang dan malam.”

Lalu keadaan berubah. Langit menjadi tempat berpijak. Bulan dan bintang bersembunyi di lereng-lereng pegunungan. Matahari berlindung di bawah wit asem. Itu semua terjadi ketika kebohongan menjadi lantunan bait suci yang berkumandang siang dan malam. Sekali lagi, itu membawa kembali sebuah sejarah kelam. Propaganda akan diyakini sebagai ayat suci. Rentetan propaganda secara wajar hanya dapat bergerak apabila dana dan perencana yang lihai.

Alkisah, sebatang wit asem mengatakan,” Jika keadaan ini semakin jauh melangkah, Tuhan pun akan tenggelam. Tuhan yang Maha Suci dan Maha Sempurna akan terkoyak tabirNya. Hanya manusia saja yang dapat membakar jubah Ketuhanan.”

Kemudian seekor nyambik (biawak) ysng sedang ndlosor (berbaring) menyahut,” Memang sudah sepantasnya manusia beraturan mengubah dirinya sebagai tak beraturan. Karena hanya dengan cara itulah maka iblis pun akan rela menggadaikan segel sesatnya.”

Lalu…..

“Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.”

Tidak sepatutnya para pewaris negara ini ditinggalkan dalam pertikaian tanpa ujung pangkal. Kecuali para orang tua telah terjebak dalam bingkai sempit yang bernama kebencian. Untuk itulah, kemerdekaan negara ini, kemerdekaan bangsa ini akan benar-benar dapat mewujudkan keadilan dan kemakmuran jika kebencian telah ditanam dalam-dalam di dekat wit asem. Surga hanyalah sebuah mimpi jika masih ada rasa benci. Keimanan juga tercermin dari kelembutan.

Dedemit wit asem pun mempunyai kelembutan. Selain sebagai makhluk lelembut, dalam pakem kehidupannya ia juga dapat menghargai sebuah kearifan.

Lalu suatu ketika di masa kejayaan, ia berkata dengan lantang,” Aku adalah Dedemit. Rumah rel sempit. Harta menyempit. Sehelai kolor melilit.

Aku adalah Dedemit.
Aku santuni setiap saluran sempit. Aku menyukai lipatan daging sempit yang terbungkus dalam besi berbahan dedemit. Aku angkat setiap manusia berpikiran sempit untuk menjadi senapati pengapit. Di Kerajaan Wit Asem, akan aku angkat ia menjadi ratu para dedemit.

Aku adalah Dedemit.
Tidak mempunyai masa yang sempit. Aku menyukai gunting di tangan para penjahit yang berkeringat pahit. Aku menyenangi tetesan-tetesan lendir beraroma sangit (bau hangus terbakar).”

Dedemit terbahak-bahak.

Nyambik berteriak,” Jiancuuuuk!!!!!”

(Mulut dedemit made in sandal jepit)

 

 

 

Demikianlah. Wassalam.

 

 

 

Sumber gambar https://hpijogja.wordpress.com/2011/12/29/batara-kala-sang-penguasa-waktu/

Tinggalkan Balasan