Bara di Borobudur 19

Hutan kecil telah tampak di depan mereka saat matahari mulai menuruni punggung pegunungan. Pengejaran Ra Jumantara dan kawanannya sedikit terhambat oleh cuaca yang meremang dan gerimis yang mulai mengguyur tipis di lembah yang memenuhi lereng Wilis hingga Lawu. Sementara itu kedua anjing kecil yang turut bersama mereka mulai kehilangan bau yang tersamar oleh air yang membasahi rerumputan dan jalanan.

Anggara Abang melompat turun dari kudanya kemudian sambil membungkuk ia mulai menelusuri jejak kaki Bondan yang mungkin masih tertinggal. Sejenak kemudian, ia kembali berdiri tegak sambil menatap lurus hutan yang mulai dirundung gelap.

“Ia ke sana,” Anggara Abang menunjuk arah menuju hutan. Lalu ia berkata lagi,” Kita kejar tanpa membawa kuda. Kakang Jumantara, kita berjalan kaki ke tempat mereka. Setiap langkah atau ringkik kuda akan memberi tahu mereka tentang kedatangan kita. Sementara orang yang kita kejar ini mempunyai ilmu tinggi.”

“Baiklah,” kata Ra Jumantara kemudian lalu memberi perintah pada pengikutnya untuk mengikat kuda sedikit ke dalam hutan. Delapan orang ini juga membiarkan kedua anjing mereka berlarian bebas di dalam hutan. Anggara Abang berjalan di depan dengan memusatkan perhatiannya pada tiap jengkal tanah yang akan ia lewati bersama kawan-kawannya. Dalam suasana yang semakin gelap, Anggara Abang dapat mengenali rerumputan yang sempat dijadikan tempat berbaring bagi jasad Kang Sapta. Katanya,” Kita sudah semakin dekat dengan mereka. Agaknya orang ini meletakkan mayat temannya di sini, lalu ia berjalan ke tempat tertentu dan kembali lagi ke tempat yang ia amati. Mungkin tempat itulah yang mereka jadikan sebagai tempat bermalam.”

“Siapkan diri kalian. Kita tidak sedang berhadapan orang-orang seperti prajurit Pajang dahulu. Mereka sudah jelas berkemampuan tinggi dan berjumlah cukup,” kata Ra Jumantara kemudian memberi tanda untuk maju. Beberapa belas tombak kemudian akhirnya mereka telah berada di sekitar tempat Bondan bertemu dengan Jalutama dan lainnya. Ra Jumantara, Kirana dan kawan mereka yang lain berdecak kagum dalam hatinya memuji kehebatan Anggara Abang melacak jejak kaki orang yang mereka kejar.

“Bagaimana mungkin Anggara Abang dapat melihat jejak kaki dalam terang dari sisa cahaya ini?” bisik Kirana pada Dalawar.

“Entahlah. Tetapi kemampuan seperti ini sudah berkali-kali ia perlihatkan sebagaimana kau alami ketika melarikan diri dari kejaran prajurit Kediri,” Dalawar berkata lalu menyusup di delat tanaman perdu yang berada di dekat sebatang pohon yang agak besar.

Pada saat itu, Bondan yang duduk sendirian melepaskan luapan perasaannya dalam keheningan, dapat mendengar desir langkah orang yang menapak di atas rumput basah. Gemericik air hujan yang membentur dedaunan tidak dapat menyamarkan desir langkah sejumlah orang bagi pendengaran Bondan.

Tubuh Bondan tiba-tiba melesat ke arah Ki Rangga Ken Banawa, ia meluncur sambil berkata,” Paman dan kalian semuanya. Kita dalam kepungan!”

Ra Jumantara merasa geram dengan teriakan Bondan yang sama sekali tidak ia sangka-sangka. “Orang gila. Ia kerasukan setan penunggu hutan!” dengan geram Ra Jumantara berkata lalu ia memberi tanda bagi pengikutnya untuk keluar dari persembunyian.

“Kalian memang hebat. Akan tetapi, apakah kalian sudah siap melepas nyawa di tengah hutan ini? Atau kalian sedang berpikir untuk merebut kembali barang-barang yang menjadi milik kami?” Ra Jumantara melangkah maju dengan percaya diri berhadapan dengan Ki Swandanu yang berada tepat di hadapannya. Kemudian ia bertanya,”Apakah kau yang menjadi pemimpin kelompok, Ki Sanak?”

“Bukan aku Ki Sanak,” jawab Ki Swandanu dengan tenang lalu ia beringsut mundur memberi tempat pada Jalutama. Kemudian ia berkata,”Anak muda inilah pemimpin kami, Ki Sanak. Ia anak pemimpin kami, Ki Argajalu dari Menoreh.” Ki Swandanu berkata-kata agar semangat para pengawal menjadi lebih tinggi dengan membayangkan bertempur bersama Ki Argajalu sendiri.

“Aku belum pernah bermain-main dengan anak muda yang menjadikan dirinya sebagai pemimpin. Akan tetapi itu tidak menjadi masalah bagiku. Karena tujuanku dan kawan-kawanku menyusul kalian adalah memberi kalian tempat istirahat yang layak di lereng gunung,” kata Ra Jumantara dengan tatap mata menyelidik Jalutama.

Jalutama mengerutkan alisnya. Akan tetapi, dengan tenang ia berkata,”Bagaimana jika kami yang mengubur kalian di dalam hutan ini? Aku dan kawan-kawanku terbiasa bertemur dalam kegelapan. Apakah kau telah siap untuk itu, Ki Sanak?”

“Kau memang bernyali besar, anak muda. Dan aku sarankan bagimu agar jangan pernah berharap  dapat kembali pulang ke kampung halamanmu dengan selamat.”

“Bagaimana bila kita bertaruh, Ki Sanak?” Bondan berkata dari belakang Jalutama dan kini ia berdiri berdampingan dengan putra Ki Argajalu, pemimpin yang disegani di seluruh lereng-lereng perbukitan Menoreh. Ia melanjutkan,”Kami akan mengubur kalian di tanah dekat pedukuhan tadi jika kami dapat menang dalam pertempuran ini. Dan bila kami kalah, kalian dapat memberi hewan buas yang ada di dalam hutan ini dengan tubuh kami. Apa pendapatmu, Ki Sanak?”

“Apakah kalian yakin akan menang?” Tawa keras berderai keluar dari delapan orang Padepokan Sanca Dawala. Kata Ra Jumantara,”Kalian menghadapi kami dalam keadaan hampir mati, lalu kalian berpikir akan menang? Kau memang lucu, anak muda.” Ra Jumantara memberi tanda dengan tangannya agar kawan-kawannya mulai rapat mengepung Jalutama dan Bondan serta delapan orang lainnya. Dalam kesempatan itu, Kirana berkata pelan pada Ra Jumantara,”Biarkan anak pemimpin Menoreh itu hidup. Aku akan memeliharanya sebagai tawanan”. Ra Jumantara tertawa pelan mendengar kata-kata perempuan cantik yang berusia hampir setengah abad itu. Sementara keadaan makin bertambah suram saat dua api unggun yang menyala dalam siraman gerimis mulai meredup. Air yang turun dari langit pun mulai turun agak jarang. Kedua kelompok ini akan segera bertarung dalam kegelapan.

“Kalian jangan bertindak ceroboh. Ingatlah baik-baik! Tidak boleh ada seorang pun dari mereka yang dapat meninggalkan hutan ini dalam keadaan hidup,” teriakan lantang Ra Jumantara pada pengikutnya segera dijawab oleh Bondan. Katanya,”Ki Sanak, lebih baik engkau mengkhawatirkan dirimu sendiri. Sekali ini aku akan menuntaskan pekerjaan para pengawal Menoreh!”

Sementara itu di belakang Bondan dan Jalutama, Ken Banawa mulai menyusun barisan dari sisa pengawal Menoreh yang masih hidup.  Ki Rangga menyamaikan sebuah siasat perang yang dapat digunakan menghadapi lawan yang lebih kuat dari mereka dan keadaan gelap memaksa Ki Rangga membuat gelar perang yang jarang sekali ia terapkan. Katanya,“Ki Sanak semuanya, sungguh amat berat untuk dapat lolos dari tempat ini. Aku tidak mengecilkan semangat kalian, akan tetapi aku mempunyai keyakinan jika kita semua lebih senang untuk mati daripada menjadi tawanan mereka.” Bagi para pengawal Menoreh, orang-orang yang mulai bergeser untuk mengepung mereka tidak membuat hati mereka menjadi gentar. Setidaknya, kehadiran Bondan dan orang-orang Majapahit telah membawa ketenangan bagi mereka. Terlebih lagi mereka menjadi saksi betapa Bondan telah membawa jasad Kang Sapta untuk mendapat perlakuan yang layak.

“Sekarang dengarkan kata-kataku,” kata Ki Rangga lalu memberikan beberapa petunjuk pada para pengawal Menoreh. Saat itu Ki Swandanu serta Ki Hanggapati juga turut mendengar tanpa meninggalkan pengamatan gerakan pengikut Ra Jumantara.

Ra Jumantara berdiri tegak dan kokoh seperti batu karang. Ia terlihat gagah dengan pakaiannya yang ringkas dan sederhana. Rambutnya yang panjang itu tergelung ke atas dan diikat dengan sehelai kulit ular. Wajahnya sedikit tegang dengan sorot mata yang memendam sebuah hasrat. Ia telah memutuskan untuk memilih lawan. Jalutama adalah hadiah besar bagi Ra Jumantara. Kepalanya melayang tinggi dengan bayangan kekal abadi jika berhasil menundukkan putra pemimpin Tanah Menoreh. Sekalipun Ra Jumantara belum mengetahui seberapa dalam ilmu Jalutama namun agaknya ia tidak peduli. Rasa bangga dan kegembiraan telah membuncah dalam hatinya dengan bayangan Jalutama akan menjadi hadiah paling berharga untuk diseret ke hadapan Mpu Jagatmaya.

Sementara Bondan telah mengetahui luka-luka yang diderita Jalutama pada bagian punggungnya kemudian berbisik pelan,”Aku akan mengambil orang itu sebagai lawan. Sementara Kakang akan dibantu pengawal dapat membendung satu orang lagi dari mereka. Paman Ken Banawa pasti telah bersiap dalam keadaan ini.” Jalutama tidak memberi tanda untuk setuju akan tetapi dalam hatinya ia sepakat dengan rencana Bondan.

Kelompok Ra Jumantara telah rapat mengepung orang Menoreh yang berjumlah lebih banyak. Namun jumlah itu tidak dalam keadaan yang baik untuk melakukan pertempuran kecil di lereng Gunung Lawu.

Dengan tajam, Bondan menatap lekat orang yang berdiri agak jauh di sebelah Ra Jumantara. “Keadaan ini sudah tidak dapat dihindari lagi. Mereka datang tidak untuk mengampuni orang-orang Menoreh. Kedatangan mereka justru akan semakin memperkuat kedudukan mereka di daerah sekitar sini,” gumam Bondan dalam hatinya.

“Anak muda, aku berikan satu kesempatan lagi. Menyerahlah dan aku akan biarkan kalian hidup sebagai tawananku. Dan dengan begitu, kami akan membawa kalian pulang ke Menoreh dalam keadaan selamat,” seru Ra Jumantara.

Terdengar gemeretak geram Jalutama yang merasa terhina dengan kata-kata itu. Akan tetapi ia dapat menguasai perasaannya. Ia memandang ke sekeliling dan melihat, betapa wajah para pengepungnya tersenyum mengejek. Bahkan Kirana pun memandang dirinya dengan sinar mata menyala penuh kebuasan. Kirana terkekeh dan berkata,”Menyerahlah, anak muda. Kau akan mendapatkan limpahan kehangatan yang tidak pernah kau rasakan sebelumnya.”

Jalutama menghela napas panjang. Ia menyayangkan jika seorang wanita cantik bertubuh padat itu terjerumus dalam kawanan serigala buas.

“Bersiaplah kalian semua!” Berkata Jalutama lalu orang-orang Menoreh pun memberi perhatian penuh pada lawan masing-masing yang berdiri di hadapan mereka. Dan Bondan masih lurus dan tajam dengan pandangan menusuk orang di sebelah Ra Jumantara.

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok-pojok warung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *