Bara Di Borobudur 20

Tiba-tiba Bondan berseru keras dan meluncur deras dengan serangan berbahaya mengarah pada Ra Jumantara yang berharap dapat menekuk Jalutama. Kedua tangan Bondan mengembang mengalirkan serangan ilmu yang diperolehnya dari Resi Gajahyana. Sementara Ra Jumantara memaksa dirinya untuk mengalihkan ancang-ancang untuk menyerang Jalutama menjadi benteng pertahanan. Segera saja keduanya terlibat dalam pergumulan seru. Benturan-benturan lengan dan kaki tidak dapat dihindarkan lagi, dan Ra Jumantara sedikit terkejut jika anak muda yang menjadi lawannya telah berada pada tataran yang sama dengannya. Meski begitu ia tidak tampak kewalahan dengan serbuan berbahaya dari Bondan.

Para pengepung dari Padepokan Sanca Dawaal ini sama sekali tidak menyangka jika justru lawan mereka yang memulai pertempuran. Oleh karenanya dalam waktu singkat terbentuklah lingkaran-lingkaran kecil pertempuran.

Dalam keadaan itu, perkelahian Bondan dengan Ra Jumantara telah berkembang semakin berbahaya dan cepat. Untuk beberapa lama keduanya saling mengukur kemampuan dari lawan masing-masing. Bondan secara bertahap meningkatkan aliran serangannya. Setelah hampir setahun tinggal bersama dengan saudara dan bibinya di Trowulan, Bondan memang mengalami kemajuan pesat terutama dari segi pengendalian diri. Tenaga dan kecepatannya memang tidak mengalami perubahan yang sangat jauh akan tetapi kematangan jiwa Bondan membuat pertarungan malam itu menjadi sedikit berbeda. Dengan rasa penasaran karena ketahanan Bondan dalam menyerang, Ra Jumantara mulai melakukan serangan balasan.

“Hanya begini sajakah kemampuan orang-orang Menoreh?” Ra Jumantara mencoba memancing Bondan yang sangat tenang malam itu.

Bondan tidak menghiraukan ejekan Ra Jumantara. Dengan cepat ia menggeser arus serangannya, dengan bekal olah gerak yang dikembangkan oleh Mpu Gandamanik dan diasahnya bersama Gumilang, kini Bondan melakukan banyak serangan yang tersamar di dalam sejumlah gerakan.

Tangan kiri Bondan mengarah bagian bawah perutnya dengan lambaran tenaga dalam sedangkan tangan kanan Bondan hampir bersamaan mengurung Ra Jumantara dari atas dengan telapak tangan mengembang. Akan tetapi secara tiba-tiba tangan kiri Bondan berhenti ketika jarak telah dekat dengan sasarannya. Secara mendadak ia menggandakan tenaga pada telapak kanannya sehingga dengan begitu tangan kiri Bondan hanya terlapisi oleh daya tahan dari tenaga dalamnya. Pergeseran itu sama sekali tidak diduga oleh Ra Jumantara. Ia cepat membuang diri ke belakang dan bergulingan menjauh. Sambaran angin pukulan tadi benar-benar jauh darinya akan tetapi ia dapat memperkirakan jika tulang pundaknya akan segera melesak bagian dada jika ia terlambat menghindar.

Bondan tidak membiarkan lawannya terlalu lama mengamati kedudukan pertarungan yang sedang mereka jalani. Berikutnya ia kembali melakukan serangan dengan tendangan beruntun. Sebuah tendangan melingkar dari bawah meluncur mengarah ubun-ubun Ra Jumantara, Ra Jumantara bergeser sedikit ke samping lalu dengan tangan mengembang ia meraih leher Bondan dan mencoba menendang betis Bondan. Sebuah serangan yang dibalas dengan serangan. Perkelahian seru dengan sejumlah gerakan-gerakan rumit itu semakin mencengkam!

Melihat bahaya datang akan mencekik leher dan menghantam betisnya, Bondan memindahkan berat tubuhnya ke belakang dan memutar tubuhnya. Maka dengan begitu, kaki Bondan yang melakukan tendangan ke tumit lawannya juga mengalami pergeseran. Seperti kuda yang sedang menendang dengan kedua kaki belakangnya, Bondan bertumpu pada kedua tangannya dan merubah sasaran.

Ra Jumantara berseru kaget. Ia tidak menyangka lawannya dapat melakukan putaran sulit dalam kecepatan yang sulit dimengerti. Kedua kaki Bondan menuju dua tempat yang berbeda. Bagi Ra Jumantara perubahan ini tidak memberinya kesempatan untuk menangkis karena ia berada di dalam arus serangannya sendiri. Untuk mengelak lebih tidak mungkin lagi, sedangkan serangan lawan itu lebih cepat mengalir deras daripada serangan sendiri. Pada akhirnya ia harus menerima salah satu tendangan Bondan pada bagian perutnya. Meski begitu, Bondan merasakan kakinya seperti membentur besi yang sangat tebal saat kakinya bersentuhan dengan perut Ra Jumantara. Dalam kesempatan yang sangat kecil dan waktu yag sangat pendek ternyata Ra Jumantara telah melapisi bagian perutnya dengan lambaran tenaga yang cukup untuk memperkuat daya tahan saat terjadi berbenturan.

Bondan harus segera menjauh dengan bergulingan untuk meredam dorongan kaki yang ia tarik kembali karena ia merasakan seolah ada tenaga yang menolaknya saat kakinya membentur perut Ra Jumantara. Sementara itu Ra Jumantara sendiri terhuyung beberapa langkah ke belakang.

Keduanya kini berdiri saling berhadapan. Kesempatan itu mereka manfaatkan untuk mengatur kembali pernafasan dan mengendapkan perasaan.

“Kau ternyata lawan yang tangguh, anak muda. Siapakah namamu?” tanya Ra Jumantara dengan nafas yang mulai sedikit teratur.

“Tidak penting bagimu mengetahui namaku. Kau hanya cukup membawa anak buahmu meninggalkan tempat ini dan membiarkan kami kembali ke Menoreh,” jawab Bondan sambil memancing kemarahan lawannya.

“Tidak kusangka ternyata kau begitu yakin dapat mengalahkanku. Aku peringatkan padamu untuk tidak merasa berhasil membuat jarak yang lebar,” sambil berkata-kata seperti itu, tawa kecil Ra Jumantara berderai. Ia merasakan kekuatannya kembali pulih dan kini ia bersiap untuk mendahului Bondan yang terpisah darinya dalam jarak belasan langkah saja.

Sementara itu, di lingkaran pertempuran yang lain, Ki Hanggapati mendapatkan lawan seorang perempuan yang bernama Nyi Kirana.

“Agaknya kau masih terlihat menyenangkan di usiamu yang sudah lanjut, Ki Sanak,” Nyi Kirana tersenyum menggoda. Lalu ia berkata lagi,” Sebaiknya kita berdua pergi dari sini. Dan kau tinggal bersamaku untuk seterusnya.”

Ki Hanggapati hampir tidak dapat menahan kegeraman mendengar kata-kata Nyi Kirana. Ia berkata,” Kau pikir aku siapa, Nyi Sanak? Janga kau berpikir macam-macam. Bukankah kalian ingin menghabisi kami semua saat ini? Jadi jangna berubah pikiran.”

“Oh, baiklah. Meskipun aku mulai merasakan sayang kepadamu, tetapi ternyata kau lebih suka mati dalam pelukan hangatku,” Nyi Kirana menutup kata-katanya dengan loncatan panjang menyerang Ki Hanggapati. Dengan sigap Ki Hanggapati menggeser tubuhnya ke samping, akan tetapi Nyi Kirana tidak berhenti pada serangan pertama yang gagal menyentuh lawanya. Tubuhnya berputar cepat mengikuti pergeseran Ki Hanggapati dan satu kakinya mengayun ke atas menyambar kening Ki Hanggapati.

Lagi-lagi serangan itu gagal menyentuh sasarannya. Ki Hanggapati menggeliat dan ayunan kaki Nyi Kirana melintas sejengkal di depan wajahnya. Pada saat itu Ki Hanggapati melihat celah kelemahan olah gerak Nyi Kirana, maka ia cepat menebaskan lengannya dengan telapak tangan mengembang menggapai lambung lawannya. Nyi Kirana melihat bahaya datang dari samping, lalu ia beringsut menghindar dan meloncat surut dari Ki Hanggapati. Sejenak ia mengamati kedudukan dan menilai kemampuan Ki Hanggapati, lalu dengan tubuh direndahkan kini ia mulai bersiap menerkam lawannya.

“Ternyata kau tidak mungkin akan membuatku kecewa, Ki Sanak. Di samping kau terlihat menggetarkan hatiku, juga ilmumu ternyata membuatku lebih berhasrat memiliki dirimu,” Nyi Kirana tidak berhenti menggoda jiwa Ki Hanggapati. Akan tetapi, Ki Hanggapati adalah orang yang telah mapan dari segi kejiwaan maka kata-kata lawannya sama sekali tidak menimbulkan bekas yang berarti dalam hatinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *