http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

Panembahan Tanpa Bayangan 12

Sekalipun ia bergerak pelan dan tubuhnya mengesankan sekokoh batu karang, akan tetapi begitu lembut saat Ki Winatra mendekati dan memijat bagian atas dadanya. Ki Winatra lantas mundur beberapa langkah dan dari tempatnya berdiri sekarang ia dapat merasakan angin pukulan yang cukup kuat menyentuh kulitnya.

Lalu ia berkata,”Sarjiwa, kau harus dapat merasakan gerak arus tenaga yang keluar darimu. Ikutilah dan kemudian kuasailah dengan kesadaran jika tenaga itu adalah bagian dari dirimu.“ Sarjiwa mendengar petunjuk ayahnya dan segera melakukan petunjuk itu dengan seksama. Tubuh Sarjiwa seperti terombang-ambing gelombang dahsyat akan tetapi ia merasakan bobot tubuhnya semakin ringan. Meski begitu, ia juga dapat merasakan jika kakinya sedikit terbenam ke dalam tanah. Inilah salah satu kehebatan ilmu Serat Waja.

Latihan itu berlangsung hingga hampir tengah malam, kemudian Ki Winatra berkata,”Aku kira sudah cukup untuk malam ini. Selanjutnya dan untuk kemudian, kau dapat melatih sendiri dengan dasar-dasar serta petunjuk yang aku katakan padamu. Akan tetapi kau harus tetap mengingat bahwa ayah tidak pernah mencapai tataran Serat Waja sebagaimana kau tunjukkan malam ini. Pada akhirnya kau harus dapat mengembangkan Serat Waja karena masih ada beberapa lapis lebih tinggi dari tataranmu sekarang.”

Memang benar yang dikatakan oleh Ki Winatra karena masih ada beberapa tahap yang harus dilakukan oleh Sarjiwa untuk mencapai puncak ilmu Serat Waja.

Kemudian Ki Winatra dan Sarjiwa pergi meninggalkan sungai melalui jalan yang ditunjukkan oleh Ki Jagabaya.

Keduanya berjalan menuju jalan utama tanpa bercakap-cakap. Sarjiwa, dalam kesempatan itu, lebih banyak merenungkan tentang sifat dan watak pergerakan ilmu Serat Waja. Namun sesekali bayangan wajah cantik gadis anak Ki Sekar Layang terkadang menyelinap dalam benaknya. Berbeda dengan Ki Winatra, ia agaknya mempunyai panggraita yang berbeda

Ki Winatra seakan dapat merasakan sesuatu yang aneh akan terjadi. Oleh karenanya, ia menyuruh Sarjiwa berhenti melangkah.

“Berhenti, Sarjiwa!” pelan Ki Winatra berkata seraya memberi tanda untuk merunduk di balik tanaman perdu. Sementara itu mereka hanya berjarak belasan langkah lagi menuju jalan utama.

Tak berapa lama kemudian terdengar oleh mereka langkah kaki orang. Beberapa orang yang kemudian berhenti di persimpangan yang sama dengan tempat mereka berpisah dengan Ki Jagabaya.

“Kita akan menunggu mereka disini. Agaknya Panembahan telah merasa cukup dengan keadaan pedukuhan ini,” salah seorang dari mereka berkata.

“Berarti kita akan meninggalkan semuanya?” tanya seorang yang lebih muda dan berwajah cukup tampan.

“Aku kira itu lebih baik daripada kita membawa banyak peralatan dan akhirnya menjadikan sulit,” kata orang yang lebih tua. Agaknya orang ini adalah pemimpin kelompok kecil itu.

“Kenapa Panembahan berubah rencana lagi?” gumam lelaki muda itu.

“Kita tidak tahu jangkauan pemikiran Panembahan. Akan tetapi sudah semestinya Panembahan akan merubah rencana bila ada yang mengganggu perkembangan cita-citanya. Perlu kalian ketahui,” kata lelaki tua itu,” kita semua adalah orang yang akan mengambil Mataram. Nah, sebaiknya kita jaga perilaku hingga waktunya tiba. Dengan begitu rakyat Mataram tidak merasakan pergolakan yang terjadi.”

“Mungkin pendapat Ki Lambeyan memang benar adanya. Sejak awal berdirinya, Mataram sendiri selalu dirundung peristiwa pelepasan diri daerah-daerah yang menjadi bawahannya,” kata seorang yang lain. Ia melanjutkan kata-katanya,” dan yang menarik adalah setiap peristiwa itu selalu dimulai oleh orang yang dikirim Panembahan Senopati sendiri.”

“Dan orang yang dikirim Panembahan Hanyakrawati,” kata orang yang paling muda diantara mereka. Kemudian ia bertanya,” Ki Sapana, kau katakana pendapat Ki Lambeyan ada benarnya. Lalu hubungan apa yang terjalin antara menjaga perilaku dengan pelepasan daerah bawahan Mataram?”

Ki Lambeyan melihat ke arah Ki Sapana. Ia berpikir memang tidak ada yang salah dari pertanyaan orang termuda di antara mereka itu. Akan tetapi Ki Lambeyan merasa sedikit kesulitan untuk menjelaskannya karena ia merasa lelaki muda itu akan tersinggung harga dirinya. Beberapa lama ia berdiam diri lalu menarik nafas dalam-dalam. Ia bergeser beberapa langkah dan bersandar pada sebuah pohon gayam yang tumbuh di dekat simpang tiga.

Sementara itu, Sarjiwa dan Ki Winatra yang berada beberapa langkah dari mereka dapat mendengar dengan jelas percakapan ketiga orang itu. Nama Ki Lambeyan memberi petunjuk bagi Ki Winatra dan Sarjiwa tentang pemukiman di dalam hutan yang diceritakan oleh Ki Bekel dan Ki Jagabaya. Keduanya masih berdiam diri untuk tidak bergerak sama sekali untuk berjaga-jaga karena tiga orang di dekat mereka mungkin saja berkemampuan tinggi. Sekalipun Sarjiwa hatinya tergerak untuk mengetahui lebih dalam akan tetapi ia berusaha menahan diri karena yang terjadi juga belum dapat diperhitungkan oleh kedua orang Menoreh itu.

“Agaknya mereka terlalu lama berada di rumah Ki Bekel,” kata Ki Lambeyan.

“Atau mungkin saja mereka belum keluar dari rumahnya untuk menunggu petugas ronda pedukuhan berada di jarak yang aman,” lelaki muda itu menambahkan. Ia berkata lagi,” Sebenarnya aku ingin membawa serta istri Ki Jagabaya.” Senyum mengerikan mengembang di wajahnya. Sorot matanya tiba-tiba berubah menjadi liar.

“Sudahilah sikap seperti itu, Kalawana. Perempuan itu sudah berusia lanjut. Masih banyak gadis muda di pedukuhan ini yang dapat kau bawa serta,” berkata Ki Lambeyan.

Kalawana, nama lelaki muda, telah bergeser tempat. Ia duduk di atas sebongkah batu kecil di sebelah Ki Sapana. Ia berkata,”Ki Lambeyan tidak mengerti bagaimana perasaanku. Apalagi Ki Lambeyan dengan usia yang sudah banyak seperti sekarang ini sudah pasti tahu tentang arti gejolak. Aku kira setiap lelaki yang seusiaku akan mengalami keadaan seperti ini.”

Ki Lambeyan hanya tersenyum mendengar Kalawana mengungkapkan perasaan. Meski Ki Lambeyan dapat memahami maksud Kalawana akan tetapi ia masih kesulitan menerima kenyataan. Ia kemudian memandang Ki Sapana yang melempar senyum padanya.

“Aku kira apa yang dialami Kalawana adalah sesuatu yang lumrah, Ki. Selama Kalawana dapat menjaga dirinya maka aku kira kita tidak perlu mengkhawatirkan keadaan menjadi buruk,” berkata Ki Sapana.

Ki Lambeyan menghela nafas panjang. Ia bergumam dalam hatinya,” Kalawana akan mengambil istri orang lain jika ia dapat memanfaatkan waktu yang sempit ini. Apabila akhirnya ia menjalankan keinginannya, tentu rencana besar Panembahan akan mendapat rintangan untuk pertama kali. Aku dapat membayangkan apa yang akan dilakukan Panembahan terhadap Kalawana.”

Mereka bertiga berdiam diri dan bergelut dengan angan yang melintas dalam benak. Kalawana tersenyum sendiri membayangkan perempuan setengah tua itu dapat menerima dirinya apa adanya.

“Tentu sangat menyenangkan,” gumamnya tanpa sadar. Kedua temannya mendengar ia bergumam dan menangkap jelas desah Kalawana tapi mereka diam saja. Agaknya kedua orang ini masih memperhitungkan keputusan Panembahan jika mendengar ada keributan dalam kelompok mereka.

Sayup-sayup suara kuda terdengar oleh kelima orang yang berada di tempat itu. Ki Lambeyan dan Ki Sapana segera mengambil tempat bersembunyi. Sedangkan Kalawana bergegas menyusup di belakang tanaman perdu, dan ia hanya beberapa langkah di depan Ki Winatra.

Kuda-kuda itu agaknya berjalan lambat. Tiga orang penunggang kuda itu rupanya butuh waktu agak lama untuk tiba di simpang tiga. Tiga orang segera melompat turun dari kuda. Beberapa pekerjaan segera mereka lakukan di simpang tiga dalam kegelapan. Ki Lambeyan dan dua temannya masih mengamati tiga orang yang baru datang.

Di belakang Kalawana, Sarjiwa hampir saja keluar untuk menemui tiga penunggang kuda itu. Di bawah sinar bulan yang tidak begitu terang ia mengenali salah satu ciri yang ada pada seekor kuda yang ada di depannya.

“Apakah mereka mengambil kuda-kuda kami di banjar?” ia bertanya dalam hati. Teringat ia akan penjaga banjar dan istrinya yang berusia lanjut. Kekhawatiran merambati hati Sarjiwa karena ia mencemaskan keadaan suami istri penjaga banjar.

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *