Politik Identitas akan Menghancurkan Indonesia

Saat ini sudah menjadi barang yang langka jika ada pelaku politik  dapat berkata tentang wawasan nusantara sebagai identitas. Yang menjadi barang mudah diperoleh di pasar, toko sembako hingga gedung dewan adalah wawasan golongan atau sektoral, jika kita malu berkata wawasan ego.

Pilkada DKI adalah contoh buruk dari sebuah identitas yang dikemas untuk meraih kekuasaan. Identitas adalah kebutuhan yang telah menjadi kewajiban, bahkan identitas adalah keniscayaan sejak peradaban manusia ada di muka bumi. Identitas Indonesia adalah semua golongan, suku, budaya, bahasa dan lain-lain yang terangkai dari Sabang sampai Merauke. Indonesia bukan identitas satu golongan minoritas ataupun mayoritas. Indonesia adalah satu dalam perbedaan.

Bila kita mengingkari perbedaan dan memaksa menjadi persamaan sama halnya dengan kita memaksa Tuhan memberikan hakNya pada kita. Lalu, apakah dengan begitu kita masih mengaku sebagai umat beragama? Atau minimal mengaku sebagai manusia yang mengakui keberadaan Tuhan?

Identitas akan menjadi masalah besar yang bukan tidak mungkin akan membuat kapal bernama Indonesia ini menjadi tenggelam. Kapal besar ini akan segera pecah jika setiap kandidat menggunakan identitas sebagai alat meraih tahta. Identitas adalah karunia Tuhan yang hakiki, ia tidak digunakan untuk manipulasi atau korupsi atau adu domba. Mimbar adalah wilayah suci dari sebuah kerajaan yang bernama Ketuhanan Yang Maha Esa, akan tetapi mimbar-mimbar akan segera berubah menjadi najis ketika ia digunakan sebagai alat memecah belah persatuan dan menjadikan perbedaan semakin lebar.

(Apa kabar Eep?)

Dalam konteks yang sesuai agama yang saya anut, salah satu pekerjaan yang diberikan Iblis pada anak buah dan pengikutnya adalah memecah belah kerukunan. Mengadu domba sesama manusia karena tidak mungkin ada manusia diadu domba dengan kerbau atau lembu. Yang termasuk wilayah kegemaran setan dalam mengadu domba adalah mudah melabeli kafir atau sesat kepada mereka yang tidak mempunyai pilihan politik yang sama dengannya. Identifikasi yang demikian itu sangat mudah dilakukan oleh siapa pun. Hadits sudah jelas dan tegas tertulis dan terbaca. Secara sederhana, Persatuan Indonesia adalah aplikasi yang paling dekat dengan hadist itu jika diterapkan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa.

Demikian pula satu pemahaman yang bernama Wawasan Nusantara.

Pemahaman itu adalah satu kesatuan atau sebuah pedoman untuk menjadikan politik sebagai alat menuju Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Bukan keadilan golongan atau keadilan siluman, apalagi keadilan dedemit. Dedemit tidak membutuhkan ikan untuk dimakan, tidak membutuhkan lendir dalam kehidupan, dedemit hanya butuh wit asem!

Segala perbedaan yang berdasarkan pada teori yang bersifat keilmuan untuk satu tujuan, kemakmuran rakyat, tentu akan dapat membawa kemajuan bagi bangsa ini dibandingkan perbedaan-perbedaan yang berupa identitas atau fanatisme pada tokoh tertentu. Pembahasan tentang perbedaan identitas dan fanatisme pada tokoh tertentu sudah jelas menjadi arena pembuangan energi terbesar sepanjang sejarah politik Indonesia.

Dedemit wit asem pun malu jika tiap hari adu otot dengan demit yang lain.

 

Demikianlah. Wassalam.

 

Sumber gambar http://www.komarckart.com/ccg_l5r05.html

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *