http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

Panembahan Tanpa Bayangan 13

Akan tetapi Sarjiwa masih berupaya menahan diri untuk tidak bergerak. Ki Winatra menahan nafas sesaat melihat gelagat yang terjadi pada anaknya, namun kemudian ia merasa lega saat Sarjiwa masih diam tak bergerak.

Ki Lambeyan keluar dari persembunyiannya ketika melihat tanda yang menjadi ciri khusus kelompok mereka. Menyusul Kalawan dan Ki Sapana berturut-turut melangkah di belakang Ki Lambeyan menuju pohon gayam. Enam orang itu kemudian bercakap-cakap singkat sambil berdiri.

“Ki Lambeyan, telah jelas bagimu untuk segera meninggalkan hutan dan menuju pedukuhan induk,” berkata orang yang berkumis tebal.

“Untuk itulah aku dan mereka menunggu kalian disini,” kata Ki Lambeyan. Lalu ia berkata lagi,”Ki Panengah, mungkin ada keputusan terakhir dari Panembahan.”

“Tidak ada,” Ki Panengah berkata singkat. Ia mengedarkan pandangan sekeliling, lalu katanya,”Apakah kalian yakin tidak ada seorang pun di sekitar sini?” Ki Panengah melihat lingkungan sekitarnya yang sepi dan terbungkus pekat malam. Hanya suara hewan malam dan binatang merayap saja yang ia dengar.

“Tidak seorangpun, Ki Panengah,” jawabKi Lambeyan.

Namun Ki Panengah meragukan jawaban Ki Lambeyan. Ia memberi tanda untuk memeriksa lingkungan sekitar mereka. Ki Lambeyan merasa geram atas sikap Ki Panengah, akan tetapi ia menahan diri untuk membantah perintah orang kepercayaan Panembahan. Enam orang itu dengan hati-hati dan langkah kaki yang ringan mulai menyisir rimbun tanaman perdu dan pekarangan sekitar mereka.

Untuk jangka waktu yang sedikit lama, enam orang itu berkeliling mengitari lingkungan dan meninggalkan tiga ekor kuda tertambat di pohon gayam.

“Mengapa Ki Lambeyan begitu takut pada Ki Panengah?” bertanya Kalawana sambil bergumam pada Ki Sapana.

“Sudahlah, kau diam saja! Masalah dapat menjadi pelik di tempat ini bila kau tidak dapat untuk diam,” jawab Ki Sapana dengan mata melirik dua orang pengikut Ki Panengah.

Dua orang pengikut Ki Panengah mengatakan hal yang berbeda tentang sikap Ki Lambeyan.

“Ia bukan orang berpendirian kuat,” kata orang yang menenteng golok tipis yang telanjang.

“Siapa maksudmu?” tanya kawannya.

“Ki Lambeyan, siapa lagi? Kau tentu telah mendengar watak angin-anginan orang tua itu,” kata orang bersenjata golok. Sambil melihat dua kawan Ki Lambeyan yang terpisah belasan langkah darinya, ia berkata lagi,”Saat ini ia akan memberi kesetiaan pada Panembahan. Dan percayalah padaku, ia akan memberikan isi dadanya pada Mataram jika Panembahan gagal dalam usahanya.”

“Mengapa kau begitu yakin tentang itu?”

“Aku mendengarnya sejak lama. Ki Panengah berkata seperti itu padaku. Lagipula mereka yang di pedukuhan induk juga mempunyai pendapat yang sama,” ia berhenti sejenak kemudian katanya,”aku akan memberinya pelajaran yang baik untuk dikenangnya.”

“Biarkan saja ia dengan urusannya. Kita lebih baik menahan diri hingga saat yang dijanjikan Panembahan telah tiba untuk panen raya,” sahut kawannya.

“Kau memang tidak dapat membaca keadaan,” gerutu kawannya lalu mereka kembali ke pohon gayam setelah tidak menemukan apa yang diinginkanoleh Ki Panengah.

Ki Winatra mengurungkan niatnya untuk berpindah tempat lebih dekat dengan lingkaran mereka.

“Langkah kaki orang yang baru datang itu menunjukkan kemampuannya menyerap bunyi. Kemampuan Ki Lambeyan dapat aku perkirakan, belum tiba waktunya bagi Sarjiwa mengawalinya malam ini. Semua yang akan terjadi malam ini, bila benturan terjadi, maka biarlah bumi terbelah karena kegagalanku menahan diri,” desah gelisah Ki Winatra dengan mata sayu menatap persembunyian Sarjiwa.

Seolah berada dalam satu perintah, enam orang itu kembali ke tempat semula. Akan tetapi raut wajah Ki Panengah masih menyisakan penasaran.

“Aku merasakan kehadiran orang lain di sekitar sini. Apakah kalian tidak merasakannya? Pertajamlah pendengaran kalian! Desah nafas itu memang sangat halus, aku dapat mendengarnya. Namun desah itu terkadang lenyap,” kata-kata lirih Ki Panengah sangat jelas terdengar oleh lima orang yang lain.

Enam orang itu lantas mengarahkan segenap budi dan rasa pada satu titik tujuan. Masing-masing orang berusaha mencapai getaran yang bersumber dari desah nafas seperti kata Ki Panengah. Suasana hening segera menyergap lingkungan itu. Begitu lembut tarik dan desah nafas mereka hingga orang di sebelah mereka pun tak dapat mendengar desah nafas rekannya.

Ki Winatra dan Sarjiwa masih belum mengerti apa yang sedang dilakukan oleh enam orang yang berada di depan mereka dalam jarak sekitar tiga puluh langkah. Sementara itu keduanya masih dalam keadaan semula. Hanya mematung sejak pertama kali mereka bersembunyi. Agaknya Sarjiwa mempunyai ketajaman berpikir dan membaca keadaan. Ia segera memanfaatkan keadaannya yang hanya berdiam diri untuk melatih pemindahan pusat pernafasan. Oleh karenanya setiap saat ia bernafas, ia tidak menggunakan dadanya. Setiap hawa udara yang masuk melalui lubang hidungnya segera ia himpun di pusat inti tenaga kemudian disalurkan melalui saluran darah. Dengan demikian sela waktu antar tarikan nafasnya menjadi lebih panjang dan lebih halus. Sehingga di luar dugaan Sarjiwa ternyata latihan yang ia lakukan justru dapat menyelamatkannya dari jangkauan pendengaran Ki Panengah.

Sayup-sayup terdengar suara kentongan bernada titir bersahut-sahutan. Enam orang pengikut Panembahan memalingkan kepala mencari sumber suara yang berasal dari banjar. Lalu mereka melihat tiga kuda yang tertambat.

“Agaknya para peronda telah tiba di halaman banjar dan mendapati tiga kuda milik orang asing itu tidak ada di tempatnya,” gumam Ki Lambeyan pada dua temannya. Mereka semua memandang Ki Panengah menunggu rencana Ki Panengah.

“Kita tinggalkan kuda-kuda ini dan segera berpencar. Besok siang kita bertemu di pedukuhan induk kademangan ini,” kata Ki Panengah dan sekejap kemudian ia melesat hilang di balik rerimbun tanaman perdu dan diikuti kedua temannya yang lain. Nyaris bersamaan dengan hilangnya Ki Panengah, Ki Lambeyan beserta kedua pengikutnya juga meluncur cepat di sela-sela pepohonan untuk kembali ke tempatnya bermukim di dalam hutan.

Sarjiwa yang beranjak berdiri seketika menghentikan gerakannya ketika ia mendengar ayahnya berkata,”Kita tetap bersembunyi!” Sarjiwa kembali merunduk dan menoleh ke arah ayahnya yang berkatalagi,”Jika para peronda datang bersama Ki Jagabaya, kita akan menemui mereka. Karena jika para peronda hanya melihat kita dan tiga kuda berada di tempat ini tentu saja akan membuat kecurigaan baru muncul di dada mereka.” Kemudian Ki Winatra beringsut mendekati jalan agar dapat mengamati perkembangan keadaan.

“Ini kuda milik tamu Ki Bekel,” kata seorang peronda. Kedua temannya menganggukkan kepala dan melepas tali kekang yang terikat pada pohon gayam.

“Apakah kita segera kembalikan kuda-kuda ini ke banjar atau kita menunggu Ki Jagabaya, Kang Kliwon?” bertanya seorang peronda yang siap menuntun kuda ke banjar.

“Kalian berdua pergilah ke banjar, aku akan menunggu Ki Jagabaya di tempat ini. Bukankah peronda yang lain sudah tiba di banjar?” tanya Kang Kliwon dan dijawab dengan anggukkan kepala kedua kawannya.

“Nah, jika begitu aku tunggu Ki Jagabaya datang kemari dan aku akan memeriksa lingkungan ini,” Kang Kliwon bergegas menyisir jalan dan menyibak tanaman perdu untuk mencari jejak atau apa saja yang mungkin ia dapatkan di akhir malam itu.

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *