Bara di Borobudur 21

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Ki Hanggapati memapas serangan Nyi Kirana yang melakukan loncatan panjang menerkam dirinya. Dalam waktu itu, keadaan keduanya seakan-akan tidak terbatas. Serangan Nyi Kirana yang gencar mulai menempatkan Ki Hanggapati dalam keadaan sulit sehingga ia seringkali terdesak surut. Ki Hanggapati sendiri mulai dapat mengukur tataran lawannya, perlahan ia mulai menghentakkan tenaga dan kemampuannya. Sesekali ia menebaskan tangannya membalas serangan Nyi Kirana. Lambat laun serangan Nyi Kirana semakin mendesaknya meskipun Ki Hanggapati telah berusaha mengimbangi dengan mengerahkan kecepatannya bergerak. Akan tetapi Ki Hanggapati masih berpikir ulang untuk mengeluarkan senjata karena lawannya bertarung dengan tangan kosong. Ia segera melambari tubuhnya dengan tenaga dalam dan mencoba membuat kedudukan menjadi seimbang.

Tangan dan kaki Nyi Kirana bergerak semakin cepat dan kuat serta dilakukan dengan olah gerak yang dirasa asing oleh lawannya. Ki Hanggapati benar-benar keteteran dengan untaian serangan perempuan yang mungkin berusia sama dengannya akan tetapi masih terlihat masih segar dan cantik. Berkali-kali Ki Hanggapati mengeluarkan seruan tertahan menahan gelombang serangan Nyi Kirana yang liar dan terkesan kacau, akan tetapi di balik gerak yang aneh itu justru keselamatan Ki Hanggapati berada di ujung tanduk.

“Keluarkan senjatamu, Ki Sanak! Kau telah mengecewakanku karena kau tidak ingin keluar dari tempat ini dengan selamat bersamaku,” teriakan panjang menutup kata-kata Nyi Kirana. Bersamaan dengan itu kedua lengannya berayun-ayun mengerikan. Ki Hanggapati menggeliat dengan liat menghindari rangkaian serangan yang nyaris tiada henti. Benturan tangan dan kaki keduanya lambat laun membuat jerih Nyi Kirana yang merasakan tenaga besar Ki Hanggapati dapat menggetarkan jalan darah dan membuat perih pada kulitnya yang halus. Dengan memutar tubuh surut ke belakang, ia kembali menyerang dengan pedang yang tiba-tiba terjulur menggapai dada Ki Hanggapati.

Ki Hanggapati berseru tertahan ketika ujung pedang lawan telah berada sejengkal di depan dadanya.

“Kecepatan seperti apa yang ada pada perempuan ini?” Ki Hanggapati bertanya heran dalam hatinya.

Ia meloncat panjang beberapa langkah ke belakang, dan segera saja mengibaskan pedangnya yang tiba-tiba telah tergenggam di tangannya. Ki Hanggapati agaknya ingin mengulangi dengan melakukan benturan pada senjata lawannya. Namun pedang Nyi Kirana sedikit lebih panjang dan ia menguasai ilmu pedang dalam tataran tinggi. Nyi Kirana merangsek maju dan serangan beruntun terus mengalir tanpa henti. Gelombang serangan perempuan ini akhirnya benar-benar menggetarkan Ki Hanggapati. Setiap benturan kedua pedang terjadi, maka seringkali Ki Hanggapati merasakan tangannya kesemutan. Agaknya pedang Nyi Kirana bukan pedang yang berbahan biasa sehingga dapat menggandakan tenaga yang dikeluarkannya.

Pada suatu ketika Nyi Kirana mengayunkan pedang seperti akan membelah tubuh Ki Hanggapati, Ki Hanggapati dengan cepat menyilangkan pedangnya di atas kepala. Meski Ki Hanggapati berhasil menangkis hantaman pedang namun ia terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang. Ilmu pedang Ki Hanggapati lebih mendasarkan pada pertahanan diri, namun ilmu pedangnya seperti tidak mampu keluar dari tekanan. Sekalipun pedangnyapun mampu bergerak dengan cepat membalas serangan akan tetapi lawannya adalah Nyi Kirana, seorang perempuan yang lincah dan telah lama mengarungi dunia olah kanuragan. Kehidupan Nyi Kirana dalam Padepokan Sanca Dawala menjadikannya semakin matang dalam pertempuran. Dengan begitu setiap serangan Ki Hanggapati dapat mampu didahului oleh Nyi Kirana yang bergerak lebih cepat.

Ki Rangga Ken Banawa tetap meneriakkan perintah-perintah pada para pengawal Menoreh yang berada di lingkaran yang berbeda meskipun ia sedang terikat perkelahian seru dengan Anggara Abang . Pedang Ki Rangga datang bergulung-gulung dan membungkus dirinya dalam selimut putih dari kelebat batang pedang.

Anggara Abang harus mengakui dalam hatinya jika lawannya bergeser dengan kecepatan yang menjadikan tubuhnya seperti sebuah bayangan dalam kegelapan. Anggara Abang sering kali hanya mendapati angin kemana pun rantainya mematuk Ken Banawa. Telah jelas bagi Anggara Abang jika lawannya kali ini berada jauh diatas kemampuannya. Sementara itu, dalam kegelapan, Ken Banawa melihat kedudukan yang tidak seimbang dialami oleh Jalutama dan pengawal Menoreh yang terlibat dalam lingkar pertarungan dengan lima orang Padepokan Sanca Dawala. Teriakan Ken Banawa yang merupakan perintah dalam siasat perang ternyata dapat diatasi oleh lima orang lawan yang mempunyai kemampuan hampir seimbang dengan Anggara Abang. Sementara Jalutama sendiri terhalang geraknya dengan luka di bagian punggungnya yang belum sembuh.

Tidak ada jalan lain bagi Ken Banawa selain melumpuhkan lawannya dengan cepat. Satu gerak tipu dilakukan Ken Banawa, ia memiringkan tubuhnya ke kiri akan tetapi secepat kilat kaki kanannya menebas lambung Anggara Abang. Pada saat Anggara Abang mengelak mundur, pedang Ken Banawa lebih cepat menyambar dada lawannya. Anggara Abang mengeluh tertahan ketika ujung pedang Ken Banawa merobek dadanya dan menggores luka yang agak parah.

Ken Banawa meloncat panjang meninggalkan Anggara Abang yang roboh bermandikan darah. Para pengawal Menoreh dan Ki Swandanu serta Jalutama yang dikepung lima orang padepokan harus berjuang keras mempertahankan lingkaran meski mereka berjumlah lebih banyak. Ki Swandanu sering kali kelabakan untuk menutup lubang yang ditinggalkan pengawal yang terpukul mundur bahkan ada yang roboh bergulingan. Dengan berjungkir balik melayang di udara, Ken Banawa telah menarik perhatian dari seseorang dari padepokan. Segera saja orang ini menyambut Ken Banawa yang telah berada di barisan orang-orang Menoreh.

Sekejap kemudian Ki Rangga Ken Banawa telah terikat dalam satu perang tanding dengan Kuntala yang bertubuh kurus dan tinggi. Dalam beberapa gebrakan kemudian, keduanya telah terpisah dari lingkaran sebelumnya.

“Kau memang kuat, Ki Sanak,” berkata Kuntala. Ken Banawa tidak meladeni ucapan lawannya dan terus memutar pedangnya yang bergulung-gulung seakan menghanyutkan Kuntala dalam aliran sungai yang deras. Namun Kuntala tidak ingin menjadi terdesak, ia memutar goloknya sehingga tubuhnya seperti terlapisi dinding besi yang kokoh. Dua orang itu bertempur dengan hebatnya. Keduanya seperti mempunyai kekuatan dan kecepatan yang berada dalam lapisan yang sama. Sering kali mereka lenyap dalam kegelapan karena tertutup gulungan sinar senjata. Ken Banawa mendengar seruan tertahan Jalutama yang pundaknya tergores ujung tombak orang padepokan, seketika itu ia mengubah tatanan geraknya. Seperti saat ia bertarung dengan Ki Cendhala Geni, kini kedua kakinya turut menyerang dengan tendangan yang berbahaya. Selain itu, tangan kirinya juga turut menyusupkan pukulan yang berbahaya. Dua jari kuat Ken Banawa menyelinap memasuki celah sempit menuju rusuk Kuntala.

Kuntala yang melihat serangan gawat ini, maka ia cepat menangkis dengan memukul pergelangan tangan Ken Banawa dengan kepalan tangan yang dialiri tenaga yang besar. Tak ingin dua jarinya patah berbenturan dengan kepalan lawan, Ken Banawa mengubah tusukan jarinya dengan tangan tergenggam. Ledakan kecil terdengar saat dua tangan terkepal itu saling membenturkan kekuatan.

Keduanya terdorong surut beberapa langkah saling menjauh. Namun tak lama kemudian kedua orang ini kembali larut dalam gulungan sinar senjata. Kuntala yang mulai mengerti tatanan gerak lawannya kini berusaha mengimbangi, akan tetapi siku kiri dan kedua lutut Ken Banawa telah berubah menjadi senjata yang mematikan baginya. Kuntala mengagumi kelenturan gerak lawannya yang mapan dan kokoh. Menyadari lawannya mempunyai ilmu yang mungkin lebih tinggi darinya, Kuntala menggandakan tenaga dan mengerahkan segenap tatanan gerak yang ia kuasai. Secara mengejutkan Ken Banawa merangsek lebih dekat dan bertempur dalam jarak tak lebih dari selangkah, lalu memutar tubuhnya dan menyusupkan pedang melalui sisi lambungnya. Cepat-cepat ia meloncat surut dan meraba kulitnya. Tanpa diduga sebelumnya oleh Kuntala mendadak orang ini merasakan panas pada kulitnya. Ia menjadi terkejut ketika tangannya telah merasakan darah yang meleleh keluar saat ia meraba kulitnya yang terasa panas. Selarik luka goresan pedang Ki Rangga Ken Banawa telah membekas pada tubuhnya.

Ken Banawa tetap mengejar lawannya, Kuntala menjadi lengah sesaat dan dalam sekejap itu tangan kiri Ki Rangga telah terjulur menggebrak dadanya. Kuntala masih sempat berkelit dan akhirnya hantaman tangan kiri lawannya tidak dapat dengan penuh menyentuh dadanya.

“Ternyata kami salah menilai kalian. Kalian benar-benar tangguh dan sangat berbeda dengan prajurit-prajurit Pajang di masa lalu. Akan tetapi ketangguhan kalian tidak dapat menghalangi kami untuk mengambil barang-barang yang kalian tinggalkan di pedukuhan,” kata Kuntala sambil mengusap lambungnya yang masih mengalirkan darah.

“Kami orang-orang Menoreh tidak dapat ditakuti oleh kematian. Andai kata kami masih hidup dan selamat di Menoreh, kami akan datang kembali mengambil barang-barang kami meskipun harus mengejar kalian sampai batas luar neraka!” seru Jalutama. Kata-kata Jalutama disambut riuh dan teriakan semangat para pengawal.  Keadaan pertempuran dalam lingkaran mereka mulai sedikit berubah sejak kehadiran Ki Rangga Ken Banawa. Dengan semangat yang menjadi berlipat, mereka kini mencoba keluar dari tekanan kepungan orang-orang Padepokan Sanca Dawala.

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".