Ki Cendhala Geni 7.2

“Sebenarnya banyak perhitungan yang harus dibuat. Karena engkau akan menggunakan tangan orang lain untuk menculik Arum Sari. Namun situasi akan menjadi buruk bagimu jika mereka tertangkap dan membocorkan rahasia,” jawab Laksa Jaya.

“Jika begitu,” kata Patraman melanjutkan sambil mengelus dagunya,” maka sebaiknya kita gunakan orang kepercayaan kita sendiri untuk mencari orang yang dapat melaksanakan tugas ini dengan baik.”

“Bagus.”

“Dan aku segera membinasakan gerombolan penculik itu setelah Arum Sari berada di tanganku.” Patraman berkata dengan memicingkan mata dan menatap tajam Laksa Jaya.

“Apakah itu berarti engkau akan menggunakan para pengawal kademangan dan ditambah wewenangmu sebagai lurah prajurit?”

“Benar. Aku berpikir seperti itu. Aku kira orang yang tepat untuk itu adalah Ki Cendhala Geni,” Patraman kemudian meneruskan,”aku dengar dari pembicaraan beberapa lurah prajurit bahwa Ki Cendhala Geni telah melarikan diri ketika disergap pasukan Ki Rangga Ken Banawa di Alas Cangkring.”

“Dari beberapa petugas sandi,” kata Patraman kemudian,”Ki Cendhala Geni sebenarnya mengikuti perkembangan yang terjadi di kotaraja. Tentu kau juga sudah mendengar bagaimana sikap Ki Nagapati pada Sri Jayanegara. Dan tentu saja untuk orang-orang seperti Ki Cendhala Geni akan mengambil keuntungan dari ceruk yang dalam. Apabila apa yang aku lakukan ini dapat menggapi keberhasilan, sudah barang tentu orang seperti itu akan dapat menjadi penghalang. Maka itu aku kira lebih cepat kita menyingkirkan Ki Cendhala Geni akan lebih baik. Untuk itulah aku akan menyuruh Rajapaksi menemui Ki Banawa untuk menuntaskan kawanan Ki Cendhala Geni. Dengan begitu, kita tidak perlu susah payah memburu Ki Cendhala Geni. Karena jika Ki Banawa telah memburu Ki Cendhala Geni maka satu pekerjaan kita telah diselesaikan oleh Ki Banawa.”

“Bagus! Tidak terpikir olehku untuk menggunakan Ki Banawa dalam menggulung Ki Cendhala Geni,” gumam Laksa Jaya. Kemudian ia berkata lagi,” dengan begitu kita telah mengurangi lagi satu penghalang dengan tangan yang bersih.”

“Baiklah Laksa Jaya. Siang ini aku segera kirimkan beberapa orang untuk mencari tahu keberadaan Ki Cendhala Geni. Dan tugasmu adalah menemui Ki Cendhala Geni setelah diketahui dimana dia berada,” kata Patraman.

“Iya memang sebaiknya begitu,” ujar Laksa Jaya.

Siang itu juga beberapa orang segera berangkat menelusuri jejak Ki Cendhala Geni dan Laksa Jaya mengadakan beberapa persiapan untuk berbagai kemungkinan yang akan terjadi bila suatu ketika bertemu dengan Ki Cendhala Geni.

Beberapa hari kemudian, Patraman mendapat kabar bahwa Ki Cendhala Geni dan Ubandhana berada di Kahuripan setelah berhasil lolos dari sergapan prajurit yang dipimpin oleh Ken Banawa.

Pada saat Ki Cendhala Geni dan Ubandhana berhasil meloloskan diri dari sergapan di Alas Cangkring, mereka selama berhari-hari tinggal di sebuah padepokan kecil di tepi hutan Sadang. Oleh karena mereka berlari sepanjang malam maka mereka pun tiba di depan sebuah rumah yang cukup besar dan terletak di sebelah selatan sanggar padepokan. Tanpa memperdulikan keadaan sekitar yang masih gelap dan sunyi, Ki Cendhala Geni menggedor pintu yang tertutup rapat. Ia berteriak keras memanggil pemilik rumah. Bahkan ia juga tak segan-segan mengumpati pemilik rumah. Pintu pun terbuka dan seorang lelaki bertelanjang dada keluar dari dalam. Dadanya yang dipenuhi bulu lebat terlihat kekar di bawah sinar lampu minyak.

“Aku sudah menduga jika yang datang adalah kau, Bulawar!” suara parau dan berat terdengar keluar dari tenggorokan lelaki pemilik rumah.

“Dugaanmu benar, Ki Sura Tenggulun,” Ki Cendhala Geni memasuki rumah lalu menghempaskan tubuh di atas sebuah amben bambu sebelum dipersilahkan oleh Ki Sura Tenggulun. Ubandhana termangu-mangu melihat sikap Ki Cendhala Geni lalu bergantian ia memandang Ki Sura Tenggulun.

“Kemarilah, anak muda!” perintah Ki Sura Tenggulun yang melangkah kemudian di belakang Ki Cendhala Geni. Ubandhana menapakkan kakinya ke sebuah lincak kecil yang berada di ujung ruangan. Tak lama kemudian Ki Sura Tenggulun dan Ki Cendhala Geni saling bercerita tentang keadaan masing-masing sampai pada peristiwa penyergapan di Alas Cangkring. Ki Sura Tenggulun tampak tercenung dan alisnya berkerut mendengar kata-kata Ki Cendhala Geni.

“Aku hanya mencoba menghubungkan peristiwa Alas Cangkring itu dengan keadaan di Kahuripan. Aku pikir sebaiknya kau pergi ke sana. Dan nantinya jika kau telah mendengar kabar tentang keadaan Ki Nagapati yang sesungguhnya, kau dapat segera kembali kemari,” berkata Ki Sura Tenggulun.

“Tentu saja tidak mungkin aku akan berbuat seperti yang kau inginkan, Sarkandi,” Ki Cendhala Geni menyebut Ki Sura Tenggulun dengan nama Sarkandi. Lanjutnya,”Ki Nagapati tidak akan pernah dapat aku gunakan sebagai senjata yang dapat mengarah tepat ke kotaraja. Akan tetapi, aku akan tetap berada di belakangmu jika memutuskan untuk membantu Ki Nagapati.”

“Begitukah? Baiklah, kapan kau akan memasuki Kahuripan?” tanya Ki Sura Tenggulun.

“Aku akan merebahkan tubuh sesaat disini. Dan aku akan berada di tempat ini untuk beberapa pecan ke depan.” Ki Cendhala Geni menjawab sambil membaringkan tubuhnya yang masih basah dengan keringat. Ki Sura Tenggulun pun mempersilahkan Ubandhana beristirahat sementara ia akan kembali ke biliknya. Demikianlah keadaan mereka bersembunyi di sebuah padepokan kecil yang jauh dari pengamatan orang. Mereka bekerja sebagaimana petani hanya saja mereka selalu kembali ke padepokan sebelum matahari mencapai puncak.

Matahari telah cukup tinggi akan tetapi arak-arakan mendung rupanya sedikit menolong Ki Cendhala Geni dan Ubandhana yang telah memasuki dinding kota Kahuripan. Dalam waktu beberapa hari mereka mendatangi satu per satu kawanan penyamun yang bersarang di dalam kota. Ki Cendhala Geni menggunakan kekuatannya untuk memaksa para pemimpin penyamun agar tunduk padanya. Meski begitu, agaknya ketua-ketua dari kelompok penyamun tidak ada yang memaksa diri untuk melawan Ki Cendhala Geni. Rupanya Ki Cendhala Geni telah mengatur pembagian hasil dan wilayah bagi setiap kawanan penjahat, bahkan tak jarang Ki Cendhala Geni terlibat perkelahian untuk membebaskan penjahat-penjahat yang tertangkap oleh prajurit. Sepak terjang Ki Cendhala Geni dan Ubandhana telah terdengar hingga pelosok Kahuripan dalam waktu beberapa pekan saja.

Dalam waktu tak berapa lama, orang-orang yang mempunyai kegemaran sama dengan kedua orang itu mulai mendatangi Kahuripan untuk berbicara untuk bekerja sama dan menyatakan diri mereka berada di bawah pimpinan Ki Cendhala Geni. Lambat laun keadaan ini menjadikan sejumlah penduduk pergi meninggalkan Kahuripan. Mereka telah merasa tidak ada keamanan di Kahuripan. Bahkan sejumlah prajurit Majapahit termasuk beberapa pemimpinnya sering terlihat bergabung dalam kelompok itu. Keadaaan ini telah tersiar sampai ke telinga para pemimpin Kahuripan. Berulang kali mereka menggelar pertemuan untuk membicarakan keadaan ini namun belum juga melakukan sesuatu yang dapat mengembalikan rasa aman bagi rakyatnya.

“Mungkin ini saatnya aku meminta bantuan dari kotaraja,” kata Bhre Kahuripan pada suatu ketika di depan para senapati. Mereka yang mendengarnya masih terdiam menunggu kelanjutan kata-kata Bhre Kahuripan.

“Bukankah kekuatan kita masih dapat mengusir mereka keluar, Sri Batara Dyah Gitarja?” berdiri seorang perwira berpangkat rendah yang berusia muda.

 

 

Sumber:  www.Ceritera,net

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *