Ki Cendhala Geni 7.3

“Tidak! Kekuatan kita telah berkurang semenjak Tiro Dharma membawa keluar pasukannya bergabung dengan Ki Cendhala Geni,” berkata Bhre Kahuripan dengan sedikit sesak dalam dadanya. Ia mengakui dalam hatinya,”salah satu sebab yang membuat Tiro Dharma keluar dari keprajuritan adalah aku menolak permintaannya untuk menambah kesejahteraan bagi prajurit. Akan tetapi seharusnya ia juga harus mengerti bahwa penolakan itu juga karena ulah Ki Cendhala Geni yang terang-terangan menguras pedukuhan Sengon yang selama ini menjadi lumbung Kahuripan. Dan memang harus aku akui perampokan di siang hari itu benar-benar memberi coreng hitam di wajahku.” Bhre Kahuripan menarik nafas panjang.

“Baiklah, ini untuk pertama dan terakhir kali aku meminta semua senapati yang hadir di paseban ini. Untuk kalian yang ingin mengikuti jejak Tiro Dharma, aku minta untuk berdiri dan membawa semua pasukan serta peralatan kalian. Sekarang!” suara Bhre Kahuripan menggelegar menghantam setiap jantung senapati yang berdetak. Ruangan seketika menjadi senyap. Para senapati hanya saling bertukar pandang. Namun tiba-tiba dua orang senapati yang berusia sekitar empat puluh tahun bangkit berdiri lalu meninggalkan ruangan. Mereka melangkah tegap dan seakan digerakkan oleh sebuah keyakinan yang sangat kuat. Kemudian sepeninggal kedua orang itu, orang-orang kembali bersuara seperti dengung lebah.

“Apakah ada lagi yang akan mengikuti Gajah Praba dan Pragola?” suara Dyah Gitarja Bhre Kahuripan kembali menggelegar dengan tangan terkepal menahan geram di hatinya. Pengaruh perempuan muda ini seakan mampu membuat lantai bergetar dan mampu menghempaskan orang-orang untuk kembali menyadari keadaan. Beberapa lama kesunyian kembali mencekam.

“Siapa lagi?” untuk ketiga kali ia menghantam dada setiap orang dengan suara yang penuh kegeraman. Sementara itu mata perempuan yang menjadi penguasa teringgi Kahuripan menebar pandangan dengan sorot penuh amarah. Setelah beberapa lama tidak ada seorang pun yang bersuara, Dyah Gitarja berjalan dengan langkah lebar meninggalkan ruangan. Bhre Kahuripan sebelumnya tidak pernah menduga jika kelonggaran yang ia berikan kepada para pemimpin prajurit justru telah dijadikan pijakan mereka untuk bersaing dalam pekerjaan yang tidak semestinya.

Seseorang yang berusia tiga kali lebih banyak dari Bhre Kahuripan menatap kepergian pemimpinnya itu dengan kebencian. Ia berkata dalam hatinya,”sebentar lagi kau akan menyesal, penguasa kabur kanginan. Kau sungguh-sungguh akan menyesal.” Senyumnya yang licik ia sembunyikan dalam-dalam di balik kepala yang menunduk. Seraya mengelus logam emas yang berukiran kepala ular naga di sabuknya, ia kemudian mengangkat wajah dan melihat ke sekelilingnya.

Tak lama kemudian seorang senapati yang berusia lanjut maju ke depan. Ia meminta semua orang meninggalkan ruangan. Ia berkata dengan suara lantang,” aku adalah senapati yang paling tua diantara kalian. Kini aku minta kalian membubarkan diri dan kembali ke pekerjaan masing-masing.”

Ketika bulan tidak tampak di langit dan mendung gelap menutupi Kahuripan, seorang prajurit keluar dari kota dan berkuda menuju ke sebuah pedukuhan di sebelah barat kota. Pakaian prajurit yang ia kenakan telah membuatnya dapat keluar dari kota tanpa banyak kesulitan. Setiap peronda hanya menyapa tanpa bertanya lebih jauh. Seperenam malam ia menunggang kuda dan akhirnya berhenti di depan regol pedukuhan. Seorang pengawal pedukuhan yang sedang berjaga telah menghentikannya. Prajurit itu turun dari kuda dan membisikkan sesuatu. Pengawal itu tiba-tiba tersenyum lebar sambil memasukkan keping emas ke dalam sabuk yang melilit pinggangnya. Kembali prajurit itu meneruskan perjalanan dan sejenak kemudian ia telah tiba di depan rumah dengan halaman yang luas. Dari mulutnya, ia menirukan suara burung kepodang tiga kali berturut-turut. Tak berapa lama kemudian pintu di depan rumah itu sedikit terbuka. Secercah cahaya keluar dari celah sempit pintu yang terbuka. Prajurit itu melompat turun dari kuda dan berjalan cepat memasuki rumah.

“Apa pesan Ki Srengganan?” suara parau terdengar dari sudut yang gelap.

“Ki Cendhala Geni harus segera mempersiapkan semua orang. Ki Srengganan akan memberi tanda bagi kiai untuk segera memasuki kota dan memutus semua jalan,” kata prajurit itu dengan kepala menunduk dalam-dalam.

“Baiklah. Katakan padanya, aku akan bersiap tiga hari lagi.”

“Tidak kiai. Ki Srengganan meminta kiai telah siaga dalam dua hari ke depan,” kata prajurit dengan kepala masih menunduk. Ia merasa keringatnya merembes keluar. “Aku memang sial karena melewati malam dengan menemui iblis tua ini,” keluhnya dalam hati. Ia segera berharap dalam hatinya agar tidak terjadi hal buruk yang menimpanya selagi masih berada di dalam rumah. Karena ia tahu jika orang bersuara parau itu dapat membunuhnya kapan saja seperti menepuk seekor nyamuk.

“Baiklah. Katakan padanya, aku menunggu tanda baik darinya. Pulanglah sekarang!”

“Baik, Ki. Aku mohon diri,” prajurit itu mengucapkan kata-kata masih dengan kepala menunduk. Segera ia memutar tubuh dan melangkah keluar kemudian memacu kudanya seperti saat ia meninggalkan barak prajurit.

Sepeninggal prajurit itu, Ki Cendhala Geni memerintahkan semua orang yang berada di dalam rumah untuk berkumpul di sanggar. Maka menjelang malam hari, telah berkumpul banyak orang di dalam sanggar. Mereka membicarakan langkah-langkah yang dapat dijalankan untuk mengambil alih Kahuripan yang akan ditinggalkan Bhre Kahuripan untuk pergi ke kotaraja. Bersamaan dengan pembicaraan yang dipimpin Ki Cendhala Geni, di barak prajurit pun juga berlangsung pertemuan para senapati yang dipimpin oleh Ki Srengganan.

Selama dua hari keadaan kota Kahuripan seperti tidak terjadi adanya persiapan yang akan mengguncang perasaan. Para petani, pedagang dan para pegawai kerajaan masih melakukan kegiatan sebagaimana biasa mereka lakukan.

Pada saat hari menjelang siang, Bhre Kahuripan yang disertai belasan pengawal berkuda berangkat menuju kotaraja. Sebelum itu, ia mengumpulkan para senapati dan memberikan pesan yang harus mereka patuhi. Bergantian dengan para senapati, ia juga mengadakan pembicaraan dengan sejumlah tumenggung yang akan menggantikannya melakukan beberapa tugas. Setelah ia merasa cukup untuk peralihan sementara, maka ia bergegas menyiapkan diri berangkat ke kotaraja.

Pada hari ketiga sebelum bintang mulai meredupkan cahayanya, sebuah kelompok besar beriringan berjalan kaki menuju Kahuripan. Mereka berjalan dengan senjata telanjang dan nyaris tidak terdengar suara dari kelompok besar itu. Di sebuah simpang tiga, mereka membagi diri dan memasuki Kahuripan dari tiga arah. Ki Srengganan telah mempersiapkan jalan masuk bagi mereka dan ketika fajar mulai menyingsing keadaan Kahuripan telah dikuasai Ki Srengganan dan Ki Cendhala Geni tanpa pertumpahan darah! Akan tetapi di luar sepengetahuan mereka, seorang perwira berpangkat rendah dapat pergi meninggalkan Kahuripan yang dijaga sangat rapat.

Perwira ini ini adalah perwira muda yang berbicara langsung dengan Bhre Kahuripan beberapa waktu yang lalu. Ia memanfaatkan suasana yang sedikit lengah ketika terjadi pergantian penjaga dan peronda untuk menghilang di gelapnya malam lalu keluar dari Kahuripan. Ia memang tidak tinggal di barak prajurit karena ia hanya berkedudukan sebagai senapati cadangan dalam susunan prajurit di Kahuripan. Waktu itu setelah Kahuripan dikuasai kawanan Ki Srengganan dan Ki Cendhala Geni, di setiap jalan-jalan besar selalu ada kelompok prajurit yang bercampur dengan orang-orang Ki Cendhala Geni yang berjaga-jaga. Sementara jalanan setapak yang bercabang-cabang selalu saja ada kelompok peronda yang mengawasi, maka dengan demikian nyaris tidak ada celah yang dapat dimanfaatkan untuk keluar atau masuk kota Kahuripan. Senapati ini berjalan kaki menyusur jalan menuju kotaraja menyusul rombongan Bhre Kahuripan yang telah berangkat sehari sebelumnya.

Demikianlah keadaan Kahuripan ketika kuda Laksa Jaya menapak masuk gerbang kota. Seorang prajurit dengan tombak yang telah merunduk bergegas menghampirinya.

“Aku melihatmu dalam pakaian seorang prajurit, Ki Sanak. Sebutkan namamu dan asalmu!” perintah prajurit itu. Laksa Jaya mengernyitkan keningnya bertanya-tanya dalam hati.

“Menurutku telah jelas, Ki Sanak. Aku seorang prajurit Majapahit dan kau dapat mengetahui itu dari tanda tempatku berasal,” jawab Laksa Jaya sambil menunjukkan kain yang terjahit di depan pakaian yang ia kenakan.

“Tidak. Aku ingin mendengarmu sendiri berkata darimana kau berasal!” sahut prajurit itu dengan mata sedikit melotot. “Sombong!” hampir saja tangan kanan Laksa Jaya yang mengembang itu menampar muka prajurit yang berdiri di depannya. Namun ia masih dapat menguasai diri dengan melihat kepentingan yang lebih besar daripada sekedar menuruti keinginan hatinya.

“Namaku Laksa Jaya. Berasal dari barak prajurit di Wringin Anom,” akhirnya suara Laksa Jaya keluar dengan getar penuh gejolak. Prajurit itu berjalan memutari Laksa Jaya dengan mata melihat dari kepala hingga ujung kaki. Sekilas ia melihat kuda Laksa Jaya lalu berkata,”baiklah, aku akan melapor kepada pemimpinku. Sementara kau dapat menunggu di gardu jaga.” Ia berjalan meninggalkan Laksa Jaya yang masih berdiri tegak dan menahan rasa marah yang nyaris saja meledak. Sesaat kemudian Laksa Jaya mengikuti prajurit itu dan memasuki gardu jaga dengan perasaan yang belum mengendap.

 

sumber : www.Ceritera,net

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *