http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

Panembahan Tanpa Bayangan 14

Ki Winatra yang mendengar jelas percakapan Kang Kliwon dengan kedua kawannya akhirnya memutuskan keluar dari persembunyian jika Ki Jagabaya telah berada di tempat itu. Didekatinya Sarjiwa beberapa langkah di depannya, lalu ia berkata,”Kita keluar  setelah Ki Jagabaya berada di sini.”

“Baik Ayah,” jawab pelan Sarjiwa.

Sementara Kang Kliwon berkeliling memeriksa lingkungan, Ki Jagabaya berlari kecil menuju simpang tiga.

“Apa yang telah kau dapatkan?” bertanya Ki Jagabaya pada Kang Kliwon setelah ia memanggil pengawal pedukuhan itu.

“Aku tidak memperoleh hasil pengamatan yang cukup baik, Ki.”

Tak lama kemudian mereka berdua mendengar suara daun yang terinjak langkah kaki orang. Ki Jagabaya segera melihat ke arah sumber suara, sementara Kang Kliwon telah menghunus senjata.

“Aku!” kata orang yang berjalan itu,”Ki Winatra dan Sarjiwa! Ki Jagabaya.”

“Sarungkan senjatamu! Mereka berdua adalah tamuku dan Ki Bekel.” Perintah  Ki Jagabaya lalu ia berjalan menghampiri Ki Winatra dan Sarjiwa.

“Tentu Ki Winatra sudah mengetahui keadaan yang telah terjadi,” kata Ki Jagabaya menebak kehadiran kawan lamanya.

Ki Winatra menganggukkan kepala, lalu ia berkata,”Kita langsung ke persoalan, Ki. Kita berdua memasuki hutan kecil di luar pedukuhan. Sementara Sarjiwa akan membantu para pengawal berjaga-jaga.”

Ia melanjutkan lagi,”Aku akan menceritakan apa yang aku dengar di simpang tiga ini.”

“Baiklah,” berkata Ki Jagabaya kemudian memberi pesan-pesan pada Kang Kliwon tentang apa yang harus dilakukan selama berjaga.

Setelah itu semua,” Aku minta diri, Ki Jagabaya. Marilah Sarjiwa tentu akan menjadi pengalaman baru bagimu,” berkata Kang Kliwon dengan ramah. Keduanya segera pergi meninggalkan Ki Jagabaya dan Ki Winatra di simpang tiga.

Sepeninggal mereka, Ki Winatra segera menceritakan tentang apa yang ia dengar.

“Kita ikuti mereka, Ki WInatra. Kita harus mendekati perkemahan mereka untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Aku tidak menyangka jika gerakan ini justru diawali dari sebuah pedukuhan kecil tempatku berada sekarang ini,” desah Ki Jagabaya kemudian berjalan di antara sela-sela tanaman menuju hutan kecil tempat Ki Lambeyan membuka pemukiman kecil.

Pekatnya malam ternyata tidak membuat Ki Jagabaya dan Ki Winatra mencari jalan menuju hutan. Apalagi Ki Jagabaya sangat mengenal betul daerah yang berada di bawah tanggung jawabnya. Tidak lama kemudian keduanya telah berada di tepi sungai yang satu aliran dengan tempat Sarjiwa menempa diri.

“Sebenarnya masih ada yang menjadi pertanyaan bagiku, Ki Jagabaya,” berkata pelan Ki Winatra sambil mengamati sekitar sungai.

Ki Jagabaya memandangnya dengna kening berkerut,”Apakah itu, Ki Winatra?”

“Aku masih ingat ketika menyebut sebuah nama. Padepokan Tanpa Bayangan. Apakah padepokan itu benar-benar ada?”

“Tidak. Nama itu kami gunakan untuk menyebut perkampungan Ki Lambeyan dan merujuk segala perilaku mereka yang penuh rahasia. Dan nama padepokan itu sebenarnya adalah Padepokan Watugunung.” Tersenyum Ki Jagabaya, kemudian ia berkata lagi,”Kami menggunakan nama yang berbeda agar mereka tidak menimbulkan banyak masalah daripada kami sebut nama sebenarnya. Entah bagaimana mereka sering memukuli warga jika mereka mendengar nama Watugunung disebutkan. Dan menurutku, sebenarnya yang menjadi pusat perhatian adalah pemimpin mereka. Orang itu banyak disebut sebagai Ki Ageng Pandansari.”

Ki Winatra tertawa kecil mendengar penjelasan Ki Jagabaya.

“Lalu apakah menurut Ki Jagabaya, Ki Ageng Pandansari itu orang yang sama dengan yang mereka panggil sebagai Panembahan?” Ki WInatra bertanya lagi.

“Entahlah, Ki Winatra. Segalanya masih rumit dan terlihat masih gelap dalam pandanganku. Ada orang yang mengaku keturunan Pangeran Benawa, dan ada Ki Ageng Pandansari yang berasal dari Kajoran,” jawab Ki Jagabaya. Kemudian,” sebelum kau bertanya lagi, aku katakan jika nama Ki Ageng Pandansari itu tercetus ketika salah seorang pengikut mereka kehilangan pengamatan diri saat ada pertunjukan tayub yang diadakan oleh salah satu dari mereka. Saat itu mereka menekan kami untuk menggunakan halaman banjar. Dengan terpaksa aku dan Ki Bekel memberinya ijin supaya persoalan tidak menjadi makin lebar.”

Sejenak kemudian mereka berhenti bercakap-cakap. Pendengaran mereka menangkap sayup-sayup orang bersuara keras seperti memberikan perintah. Ki Winatra berpandangan dengan Ki Jagayaba, lalu mereka menyeberangi sungai dengan berlompatan di atas bebatuan. Ilmu yang ada dalam diri mereka cukup tinggi sehingga batu-batu yang dapat menjadi pijakan pun dapat mereka lihat. Kini keduanya telah berada di seberang lalu beringsut mendekati tempat orang-orang Padepokan Watugung.

Terlihat jelas oleh keduanya kesibukan orang-orang Padepokan Watugunung yang mengemasi banyak barang-barang di bawah penerangan beberapa obor yang cukup besar.

Ki Jagabaya berkelebat cepat mendekati sebuah bangunan dan menempelkan tubuhnya pada dinding bambu, sementara Ki Winatra dengan cekatan mendekati sebuah pedati dan bertelungkup di balik rerimbun perdu.

“Kampung ini akan segera menjadi sepi ketika kita besok pagi telah tiba di pedukuhan induk,” kata orang bertubuh gemuk yang berada di dekat pedati.

“Tidak. Ki Lambeyan masih akan menempatkan beberapa orang sebagai petugas penghubung. Dan ia telah memilihku untuk pekerjaan itu,” orang yang menggunakan ikat kepala menanggapi kata-kata kawannya.

“Apakah Kalawana juga dipilih sebagai petugas penghubung bersamamu?”

“Tentu saja, ia bahkan meminta bertugas sebagai petugas penghubung,” jawab orang dengan ikat kepala itu sambil tertawa.

“Lekas kita selesaikan pekerjaan kita, karena Panembahan meminta sebelum fajar kita harus meninggalkan tempat ini.” Kawannya menganggukkan kepala dan sejenak kemudian keduanya kembali bekerja.

Untuk beberapa lama, Ki Winatra berpindah tempat guna mengumpulkan keterangan akan tetapi akhirnya ia telah mempunyai satu kesimpulan.

“Mereka menuju pedukuhan induk kademangan ini sudah barang tentu dengan satu tujuan. Apalagi jumlah mereka ternyata cukup besar,” berkata Ki Winatra setelah ia dan Ki Jagabaya telah berada di tepi sungai.

“Ki Bekel harus mengetahui tentang perkembangan malam ini. Aku akan melaporkan kepadanya bersok pagi-pagi sekali,” Ki Jagabaya berkata dengan raut wajah tegang. Panggraita Ki Jagabaya telah memberikan sebuah bayangan kelam. Ia berdesah pelan,”Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, akan tetapi mungkin saja kekerasan yang terulang akan kembali menghampiri kita di sisa usia ini.”

Ki Winatra menganggukkan kepala, kemudian ia berdesis,”Kita tidak lagi mempunyai pilihan, Ki Jagabaya. Meninggalkan pedukuhan atau kademangan ini dan tidak melibatkan diri memang akan menjadikan kita bersih dari lumuran darah. Akan tetapi jika gerakan Panembahan ini akhirnya mencapai hasil dan banyak orang yang kesusahan, menurutku, itu akan menjadikan diri kita semakin buruk dalam kehidupan.”

“Mengapa kekerasan selalu saja terulang dalam setiap lingkaran yang kita jalani?” keluh Ki Jagabaya. Kemudian ia menjawab sendiri,”Karena kekerasan adalah ujian bagi kita untuk menjadi semakin mengendap atau melangkahkan kaki dengan dendam.” Ia terdiam dan menarik nafas dalam-dalam.

“Kita tinggalkan tempat ini, Ki Winatra,” ajak Ki Jagabaya.

“Baiklah, dan aku besok akan keluar dari pedukuhan ini menuju induk kademangan melalui jalan yang dilewati orang-orang itu,” berkata Ki Winatra sambil menoleh ke belakang.

“Tentu saja kau ingin mengetahui keadaan di garis belakang mereka, itu adalah keahlianmu di masa lalu,” tersenyum Ki Jagabaya. KI Winatra membalas senyum kawannya dan sebenarnya mereka telah mengetahui keahlian yang menonjol saat masih bergabung di laskar keprajuritan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *