Bara di Borobudur 22 – Pertarungan di Lereng Gunung Wilis

Kuntala sepenuhnya menyadari jika ia dan kelompoknya akan segera menerima gelombang serangan yang sangat hebat. Untuk itulah ia menggeser satu kakinya ke belakang, lalu menerjang Ki Rangga Ken Banawa dan seolah tidak merasakan perih yang mendera lambungnya. Tombak pendek Kuntala terjulur dengan getaran yang hebat. Mata tombaknya seolah berubah menjadi puluhan kepala ular yang siap mematuk Ken Banawa.

Ki Rangga cepat berpindah ke samping menghindar serangan lawannya yang datang menerjang. Sambaran angin tombak yang menebas datar, menyilang dan menusuk bagian-bagian bahaya tubuhnya mulai merepotkan Ken Banawa. Meski begitu, pedang tipis Ki Rangga dengan tiba-tiba berkelebat dari sisi kiri pertahanan lawan dipukulkan ke arah kening Kuntala. Kuntala meloncat tinggi surut ke belakang sambil memutar tombaknya dan melepaskan tendangan ke lambung Ki Rangga. Ki Rangga menjatuhkan diri dan berulingan menjauh lalu tiba-tiba tubuhnya melenting ke atas dan menerjang deras Kuntala yang semula mengira lawannya akan menghindar jauh. Pedang Ken Banawa melintas tipis di dekat telinganya, wajah Kuntala seperti tidak mengalirkan darah karena serangan kilat itu  nyaris menerbangkan nyawanya.

Rasa perih di lambungnya dan darah yang belum berhenti mengalir memaksa Kuntala untuk menarik diri dan tenggelam dalam kerumunan kawan-kawannya yang berhadapan dengan para pengawal Menoreh. Ia bersuit nyaring dan cepat sekali Kuntala menyusup ke balik barisan kawan-kawannya.

Ken Banawa tidak tergoda untuk mengejar, ia justru mendekati Jalutama yang sendirian menghadapi keroyokan dua orang padepokan.  Sementara Ki Swandanu bersama tiga orang pengawal Menoreh termasuk Ki Sukarta menghadapi tiga orang padepokan yang ternyata mempunyai kemampuan di atas mereka bertempat. Sekalipun kata-kata Jalutama mampu menggandakan semangat dan kekuatan orang-orang Menoreh, akan tetapi lawan-lawan mereka adalah orang yang sangat kuat.

Siasat Ken Banawa untuk membuka gelar perang dalam lingkaran kecil sebenarnya telah membantu orang-orang Menoreh mengekang daya kemampuan lawan-lawan mereka. Namun orang-orang Menoreh ini bertempur dalam keadaan terluka. Menjelang tengah malam, lingkaran pertempuran mulai dalam keadaan yang tidak seimbang. Satu demi satu orang-orang yang terlibat didalamnya mulai roboh. Tidak ada seorang pun yang dapat membantu kawannya untuk meringankan luka atau menghentikan pendarahan.

Ki Swandanu yang masih bertarung dengan gigih telah basah oleh darah, tiga pengawal yang bersamanya telah terkulai. Senjata Ki Swandanu telah terlepas dari genggamannya, kini dengan sebuah golok yang dipungutnya dekat tubuh pengawal yang tergolek tak bernyawa mulai mengayun ganas dan beringas. Agaknya Ki Swandanu mulai kehilangan pengamatan dirinya.

Ki Swandanu menerjang dengan tebasan golok yang mengarah lambung satu lawannya sedangkan sebuah tendangan ia luncurkan dalam waktu bersamaan ke orang satunya lagi. Dua orang lawan Ki Swandanu pun dalam keadaan terluka parah sehingga serangan demi serangan Ki Swandanu sangat sulit dibendung meski mereka bertarung bersama. Kemampuan Ki Swandanu sendiri pada dasarnya nyaris seimbang dengan salah seorang diantara mereka. Dan kini ia telah memperbaiki kedudukan dengan mengambil setiap peluang yang ada.

Pertarungan yang tidak seimbang dari segi jumlah itu berjalan, Ki Swandanu terbungkus dalam sinar putih golok yang bergulung-gulung menutup seluruh tubuhnya.  Dalam satu gerakan yang aneh, kedua lawan Ki Swandanu terjengkang ke belakang setelah kaki dan tangan Ki Swandanu dapat menggapai dada mereka. Ki Swandanu cepat menggulirkan tubuhnya mendekati orang yang terdekat dengannya, dalam dua gebrakan kemudian robohlah satu orang pengeroyoknya dari Padepokan Sanca Dawala itu. Dengan mulut ternganga, satu orang lagi hanya memandang Ki Swandanu tidak percaya.

“Bagaimana mungkin ia masih dapat tegak berdiri sedangkan tumitku telah mematahkan tulang punggungnya?” pikir orang itu dengan seringai kesakitan.

Sebenarnya yang terjadi adalah ia memang meluncurkan sebuah tendangan yang mengenai bagian punggung Ki Swandanu. Akan tetapi kecepatan tangan dan ketepatan Ki Swandanu melipat tangan kirinya melintang di bagian punggung telah mencegah hancurnya tulang punggung Ki Swandanu. Akan tetapi akibat lainnya adalah tangan kirinya menjadi lumpuh. Ki Swandanu meloncat panjang menjauh dari pusat pertempurannya.

Orang itu berdiri tegak lalu berkata,”Aku merendahkan kemampuanmu, Ki Sanak. Kini sudah jelas bagiku untuk tidak ragu-ragu lagi bermain-main denganmu.”

Usai berkata demikian, orang itu merendah lalu menggenjot tubuh dengan dorongan kedua kakinya. Sinar merah berkelebat menebas mendatar dada Ki Swandanu yang kemudian berusaha menangkis dengan membenturkan pedang. Dengan cekatan orang itu lalu merendahkan tubuhnya lalu menggunakan tangan kirinya menghantam dada Ki Swandanu. Terdengar Ki Swandanu berseru panjang dan tubuh melayang ke belakang. Ki Swandanu roboh dan terguling di atas rumput basah. Akan tetapi ia masih berusaha memberikan perlawanan yang terakhir, dengan terhuyung-huyung ia berusaha bangkit. Segumpal darah menyembur keluar darinya. Ki Swndanu adalah orang yang luar biasa, sinar matanya masih menyorotkan semangat juang yang tinggi.

Mereka kini saling pandang dan berdiri tegak dalam jarak kurang dari sepuluh langkah.

Dalam waktu itu Jalutama tanpa mampu menolong kedua pengawalnya mengalami desakan hebat dari Ki Wandira. Orang bertubuh gemuk ini sangat lincah memainkan rantai yang menjadi senjatanya. Dengan rantai itu pula ia telah membunuh kedua pengawal Menoreh. Namun Jalutama adalah orang yang berhati kuat. Meskipun ia mengalami kesedihan karena peristiwa kematian yang berturut-turut dialami oleh para pengawalnya, namun ia masih dapat mengamati kedalaman mata hatinya. Sambil menahan rasa sakit pada punggung yang terluka, ia melakukan tendangan beruntun ke arah Ki Wandira.

Dengan gerakan yang cepat, Ki Wandira bergeser dan memindahkan langkah kaki kesana kemari, tendangan Jalutama hanya dapat mengenai tempat kosong saja. Meski begitu, Jalutama cepat memutar tubuhnya seperti gasing dan kembali meluncurkan gelombang serangan yang membahayakan lawan. Ki Wandira kembali bergerak cepat namun kali ini ia mencoba menarik kaki Jalutama. Cepat Jalutama menarik kakinya dan dengan tangan kanan ia mendorong dada lawan dengan jari terbuka. Rantai Ki Wandira melesat mencoba mendahului serangan Jalutama. Gerakan itu menjadikan bagian rusuk Ki Wandira terbuka lebar dan segera saja Jalutama melemparkan pedangnya dalam jarak dekat ke dada lawannya.

“Aku tidak dapat mengampunimu, Ki Sanak!” kata Jalutama sesaat setelah pedangnya menembus dada Ki Wandira. Ki Rangga Ken Banawa memandang Jalutama dengan segumpal perasaan di dalam dadanya. Ia telah terbebas dari pertarungan, satu lawan yang diambilnya dari Jalutama kini telah menemui kematian. Sementara Kuntala sendiri telah melarikan diri dari pertempuran ketika teman-temannya mulai roboh satu demi satu. Kegelapan telah membantunya untuk keluar dari pertempuran karena Ki Rangga sendiri sedang menghadapi satu orang pengeroyok Jalutama. Meskipun ia mengetahui satu orang padepokan dapat keluar dari pertempuran, Ki Rangga memutuskan untuk tidak mengejarnya. Selain menjadikan makin lambatnya perjalanan ke lereng Merapi, juga ada kemungkinan ia akan membawa bantuan yang lebih besar dan lebih kuat lagi. Ken Banawa memilih untuk menyelesaikan pertempuran di tengah hutan itu kemudian membawa orang-orang menuju lereng Merapi.

Jalutama menjatuhkan diri duduk di sebelah orang yang menjadi lawannya, katanya,”Aku tidak dapat mengobatimu saat ini. Aku dapat saja mempercepat kematianmu, akan tetapi mengurus kawan-kawanku akan menjadi lebih baik daripada memberimu pengobatan.”

Jalutama kembali bangkit berdiri dan membiarkan pedangnya tertancap di tubuh Ki Wandira. Di lingkaran yang lain, Ki Rangga Ken Banawa mulai mengumpulkan jasad para pengawal Menoreh. Ia masih mendapati satu orang dengan nafas satu demi satu keluar dari hidungnya. Mulut pengawal terbata-bata ingin mengucapkan sesuatu, akan tetapi Ki Rangga berkata,”Jangan kau katakan apa yang kau pikirkan. Kau akan menemuiNya dalam keadaan baik. Kau telah menunaikan tugas dan satu lagi kebanggaan akan kau berikan pada rakyat Menoreh dan Ki Gede.”

Pengawal itu mengedipkan mata lalu menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ia terkulai lemas dalam pangkuan Ki Rangga Ken Banawa. Jalutama yang telah duduk didekatnya kemudian memeluk jasad pengawal yang masih hangat dengan terisak. Ingin rasanya Jalutama berteriak kencang melepaskan sesak yang menggumpal di dadanya. Tepukan lembut Ken Banawa mampu membantunya untuk menenangkan diri sejenak dari goncangan yang terjadi padanya.

Kata Ki Rangga,”Demikianlah, Ngger. Setiap perpisahan akan selalu ada kenangan yang tertinggal. Pengawal ini telah memberiku kebanggaan. Ia mampu membangkitkan kembali sebuah kehormatan yang dulu pernah tenggelam dalam diriku. Sekarang aku katakan padamu, Angger Jalutama. Segala peristiwa yang kita alami bersama harus menjadi landasan yang kuat bagimu untuk mempersiapkan kebaikan yang menyeluruh bagi Menoreh. Karena itulah para pengawal Menoreh bersedia mati bersamamu. Mereka meninggalkan kampung dan sawah mereka. Keluarga mereka. Mereka menyertaimu dengan satu harapan dan satu kehormatan. Jadilah angger seorang pemimpin seperti yang diharapkan oleh pengawal-pengawal yang membanggakan ini.”

Setelah berkata demikian, Ki Rangga bangkit berdiri dan mendekati lingkaran pertempuran yang masih belum selesai. Sepeninggal Ki Rangga, Jalutama meneruskan pekerjaan Ki Rangga dengan mengumpulkan seluruh jasad para pengawalnya. Seorang diri ia mulai menggali tanah dan satu per satu jasad pengawal dikuburkannya dalam liang lahat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *