Ki Cendhala Geni 8.1

Hampir seharian Laksa Jaya menunggu di gardu jaga, akan tetapi sepenuhnya ia dilayani dengan baik oleh prajurit-prajurit yang berada di sekitarnya. Ia merasakan ada yang perubahan besar yang terjadi di Kahuripan. Bahkan ia sempat melihat seorang pencuri yang pernah ditangkapnya berjalan beriringan dengan satu dua prajurit yang meronda.

“Perubahan seperti apa yang terjadi di kota ini?” ia bertanya-tanya dengan pandang mata yang ia lepaskan dari balik jendela. Laksa Jaya benar-benar digelayuti pertanyaan yang besar karena perubahan yang terjadi di balik dinding kota memang tidak seperti ketika ia menemui seorang kerabatnya beberapa pekan yang telah lewat. Ia melihat seorang prajurit dengan seenaknya berkata-kata tidak sepatutnya ketika serombongan orang melewati gardu jaga. Di tempat lain ia menyaksikan seseorang melakukan perampasan tetapi hanya dilihat saja oleh prajurit peronda. Kekacauan benar-benar terjadi di Kahuripan sepeninggal Bhre Kahuripan.

Sementara itu ia mendengar langkah orang yang mendekatinya. Seorang lelaki yang bertubuh gemuk segera menyapa lalu berkata,”aku melihat tanda di pakaianmu, Ki Sanak. Sebentar lagi aku akan mengantarmu menemui Ki Cendhala Geni.”

Laksa Jaya semakin terkejut mendengar nama Ki Cendhala Geni disebut oleh prajurit yang gemuk itu. Agaknya prajurit itu menyadari bahwa orang yang sedang duduk di depannya tidak mengerti perkembangan yang terjadi di dalam kota.

“Apa yang menjadikanmu terkejut, Ki Sanak?”

“Kau sebut nama Ki Cendhala Geni, bukankah ia orang yang masih dalam pencarian Ki Rangga Ken Banawa?”

“Tentu saja kau tidak mengerti,” kata orang gemuk itu lalu berjalan mendekati Laksa Jaya,” terjadi perubahan dalam pemerintahan Kahuripan. Ki Cendhala Geni kini adalah seorang patih yang berdampingan dengan Ki Srengganan.”

“Kapan itu terjadi? Aku tidak melihat bekas peperangan di dalam kota,” Laksa Jaya mengerutkan kening.

“Tidak ada peperangan yang terjadi. Semua terjadi dalam waktu yang sangat singkat,” lelaki gemuk itu menarik nafas panjang. Lantas ia melanjutkan,”sementara Bhre Kahuripan menuju kotaraja, Ki Srengganan dan Ki Cendhala Geni segera mengambil alih kedudukan.”

“Dan kalian tidak melawan?”

“Untuk apa aku melawan mereka berdua? Apalagi kini aku adalah seorang lurah prajurit. Aku naik selapis setelah belasan tahun menjadi prajurit rendahan sepertimu!” kata lelaki gemuk itu dengan membusungkan dada. Ia meneruskan,”sudah sepantasnya orang itu diganti dengan mereka yang berwawasan luas. Bhre Kahuripan sama sekali tidak berbuat apapun untuk kota ini.” Lelaki gemuk itu mencibir pemimpin sebelumnya. Lalu ia mengajak Laksa Jaya untuk segera menemui Ki Cendhala Geni.

Laksa Jaya cepat menguasai diri saat berhadapan dengan kenyataan yang tidak ia perkirakan sebelumnya. “Perubahan ini akan menjadi kebaikan bagiku dan Patraman.” Ia tersenyum sendiri dan mempercepat langkahnya mengikuti lelaki gemuk yang berada di depannya.

Setelah melewati beberapa penjagaan dan menjawab satu dua pertanyaan, Laksa Jaya berdiri tegak berhadapan dengan seorang lelaki yang masih terlihat segar meski usianya lebih dari setengah abad.

“Ki Cendhala Geni, kiranya sangat tersanjung dapat bertemu dengan Anda,” Laksa Jaya membungkukkan tubuh dengan tangan menjura ke arah Ki Cendhala Geni.

“Siapakah engkau Ki Sanak? Seorang Majapahit datang kemari tentu dia telah memiliki puluhan nyawa. Dan pastinya engkau adalah orang hebat sehingga mampu menemukanku,” Ki Cendhala Geni memuji Laksa Jaya. Dalam hatinya dia menduga bahwa orang yang berada di depannya ini tak ubahnya seorang pecundang sebagaimana pejabat lainnya di Kahuripan.

“Ki, bukanlah kehebatanku tetapi nama Ki Cendhala Geni mampu menembus sekat-sekat yang ada,” Laksa Jaya berkata sambil tersenyum.

“Baiklah. Apa keperluanmu kemari, anak muda? Aku seorang patih di kota ini!”

“Aku kemari untuk membantumu menuntaskan perhitungan dengan Ken Banawa.”

“Jangan menjadi gila dengan perintah semacam itu! Kau seorang lurah prajurit yang tidak mengerti keprajuritan. Sekali lagi aku katakan padamu, aku seorang patih di kota ini dan nyawamu saat ini ada berada di ujung jariku,” Ki Cendhala Geni membentak marah karena merasa diremehkan oleh Laksa Jaya.

“Tidak, Ki Patih,” sesal Laksa Jaya yang segera menyadari kesalahannya. Lalu,” ini sama sekali bukan kegilaan. Aku datang kemari dengan kerja sama yang saling menguntungkan. Aku akan membawa Kademangan Wringin Anom untuk tunduk padamu dengan satu persyaratan.”

“Kau benar-benar tidak tahu diri, anak muda!” kata Ki Cendhala Geni lalu tawanya berderai. Kemudian,”sebutkan syaratnya?”

“Aku meminta pertukaran dengan Arum Sari. Engkau membawa Arum Sari, aku berikan Kademangan Wringin Anom padamu.”

“Siapakah dia?”

“Ia adalah anak perempuan Ki Demang Wringin Anom. Dan prajurit yang di sana telah berada dalam satu perintah. Bukankah seperti ini yang kau inginkan?” berkata Laksa Jaya.

“Siapa lurah di sana?”

“Patraman,” tegas Laksa Jaya menjawab. Sementara Ki Cendhala Geni menganggukkan kepala karena sebelumnya telah didatangi oleh orang yang juga menemui Patraman. Meskipun rencana itu tidak sepenuhnya disetujui oleh Ki Srengganan akan tetapi ia lebih memilih untuk diam.

“Engkau benar-benar dungu! Maka dengan begitu Patih Mpu Nambi akan datang dengan melibas kita semua. Terutama setelah aku terbunuh maka engkau akan mendapat kepangkatan lebih tinggi,” derai tawa Ki Cendhala Geni membahana memenuhi ruangan yang luas itu.

“Tidak! Majapahit tidak akan berani melakukan itu. Sri Jayanegara terlalu lemah untuk pekerjaan berat seperti itu. Sementara aku akan meminta bantuan kepada teman-temanku di kotaraja untuk mengalihkan perhatian mereka,“ Laksa Jaya pun melanjutkan,” perampokan yang dilakukan gerombolanmu itu berbeda dengan apa yang akan kita lakukan ini.”

“Aku dengarkan pendapatmu,” kata Ki Cendhala Geni sungguh-sungguh.

“Ki Cendhala Geni, aku menawarkan kepadamu pasukan berkuda sejumlah kekuatan Ki Nagapati. Namun sebelumnya aku meminta kepadamu untuk menculik Arum Sari, putri dari Ki Demang Wringin Anom. Setelah itu bawalah dia ke sebuah rawa di utara hutan bambu di Ujung Galuh. Aku dan Patraman akan menunggumu disana.” Laksa Jaya mencoba untuk memberi paparan singkat tentang kemungkinan pengejaran yang akan dilakukan Ken Banawa. “Selain itu,” lanjut Laksa Jaya,” Ki Patih Mpu Nambi tidak akan gegabah mengirimkan puluhan pasukan berkuda jika dia tahu Arum Sari ada di tanganmu. Kawanku di kotaraja dapat mengambil alih pengejaran ini dan meminta Ki Patih menugaskan Ki Banawa, maka dengan begitu beberapa orang yang engkau pilih dapat menuntaskan Ken Banawa.”

“Anak ini berkata benar. Memang seperti itulah rencana yang akan dijalankan,” Ki Cendhala Geni mendesis sambil menatap tajam Laksa Jaya.

“Ubandhana,” ia menoleh ke arah Ubandhana yang berdiri di sebelahnya,”apa engkau bisa lakukan itu untukku?” tanya Ki Cendhala Geni dengan sedikit dagu terangkat.

“Serahkan padaku, Ki Patih. Percayalah mana mungkin aku mengkhianati kiai. Tentu aku tidak akan mengecewakanmu.”

Tinggalkan Balasan