Ki Cendhala Geni 8.2

“Baiklah,” Ki Cendhala Geni kemudian meminta kedua lelaki muda itu untuk lebih mendekat. Laksa Jaya lantas membeberkan rencana selanjutnya termasuk jalur yang harus dilewati oleh Ubandhana untuk sampai di sebuah rawa yang berada di utara Ujung Galuh.

Sementara di tempat lain seorang perwira berpangkat rendah yang menyelinap keluar dari lingkungan kota Kahuripan, akhirnya tiba di kotaraja sesaat sebelum fajar berpendar. Tanpa banyak kesulitan ia memasuki gerbang kotaraja. Para prajurit yang berjaga sudah banyak mengenalnya sebagai seorang perwira yang dipercaya Dyah Witarja. Perwira bertubuh gempal dan agak tinggi ini segera menuju ke sebuah rumah yang biasa ditempati oleh Bhre Kahuripan jika sedang berkunjung ke kotaraja.

Pengawal yang berada di regol halaman segera mengantarnya masuk menemui Bhre Kahuripan.

“Ada apa kau pagi-pagi telah menyusulku kemari, kakang?” bertanya Dyah Gitarja dengan tatap mata penuh selidik.

Perwira itu menarik nafas dalam-dalam, sejenak ia membenahi letak duduknya lalu,”aku kemari karena Kahuripan telah dikuasai oleh Ki Srengganan dan kawanan Ki Cendhala Geni. Tidak banyak yang dapat aku lakukan selain menggeser pasukan yang masih setia kepadamu.”

Dyah Gitarja yang masih berdiri tegak menggeram marah. Wajahnya memerah akan tetapi ia masih dapat menahan diri. Kemudian kata Bhre Kahuripan,”kemana kau menggeser pasukan itu, kakang?”

“Mereka masih di dalam kota, Sri Batara. Aku meminta mereka untuk tunduk pada Ki Srengganan dan Ki Cendhala Geni,” jawab orang yang dipanggil kakang.

“Kau sama sekali tidak melakukan perlawanan? Lalu bagaimana aku dapat kembali ke Kahuripan?” Dyah Gitarja hampir-hampir tidak dapat menahan diri untuk berteriak. Dyah Gitarja kemudian menghempaskan tubuhnya ke sebuah lincak bambu yang berada di sebelah sebuah guci besar.

“Katakan padaku, kakang Gajah Mada. Katakan jika kau sebenarnya memang memiliki rencana untuk menghalau mereka keluar?” Bhre Kahuripan bertanya kemudian menutup wajah dengan kedua telapak tangan.

“Aku memang sengaja membiarkan mereka menguasai kota dan keraton. Beberapa prajurit telah bersiap sebelum ada Pasowan Agung di Paseban,” Gajah Mada menunggu Bhre Kahuripan mengucapkan kata-kata. Setelah beberapa saat, ia meneruskan,”kabar mengenai Ki Srengganan yang berencana menguasai kota sebenarnya telah aku dengar sepekan sebelumnya. Akan tetapi, maafkan aku, aku tidak memberitahumu.” Gajah Mada menatap lurus wajah Bhre Kahuripan. Gajah Mada mendesah dalam hatinya,”aku terpaksa melakukan itu karena hampir di setiap jenjang keprajuritan dan pelayan telah berisi orang-orang Ki Srengganan.”

“Apakah itu berarti kau telah tidak percaya kepadaku,kakang?“ datar Dyah Gitarja bertanya. Kemudian,”tetapi baiklah. Tentu saja kita harus bertemu dengan Sri Jayanegara dan Ki Patih Mpu Nambi terutama mengenai Kahuripan,” kata Dyah Gitarja. Lalu ia melanjutkan,”sebaiknya kakang katakan rencana itu di nanti saat kita bertemu Sri Jayanegara dan Ki Patih Nambi. Sementara kakang dapat beristirahat dulu di gandok kanan. Kakang tentu lelah berjalan sepanjang malam.” Dyah Gitarja juga melihat Gajah Mada mengalami kelelahan jiwa yang luar biasa. Betapa Gajah Mada memendam rahasia beberapa lama mengenai Ki Srengganan yang sebelumnya seorang Patih Kahuripan telah berencana menyingkirkan Dyah Gitarja sebagai penguasa yang sah. “Tentu ia merasa bersalah. Aku tahu bagaimana perasaan kakang Gajah Mada mengenai pembangkangan ini.” Dyah Gitarja bergumam dalam hatinya sambil mengantarkan Gajah Mada menuju biliknya.

Matahari yang bersinar cerah menerangi bumi kotaraja akan tetapi tidak mampu mengusir bayangan gelap yang menggelayut dalam benak Gajah Mada. Bhre Kahuripan, Gajah Mada dan beberapa pengawal berjalan beriringan menuju keraton untuk bertemu dengan Sri Jayanegara dan Ki Patih Mpu Nambi.

Tak lama kemudian mereka telah duduk melingkar di dalam ruangan yang aroma wanginya memenuhi setiap bagian. Sri Jayanegara yang masih berusia sangat muda terlihat tenang saat membuka pertemuan yang sangat penting itu. Di sebelahnya seorang lelaki dengan pakaian berwarna merah dengan sulaman benang emas menebar pandang menatap satu per satu orang yang di sekelilingnya. Ki Patih Mpu Nambi terlihat sangat gagah dan wibawa besar memancar keluar dari sorot matannya. Dyah Gitarja dan Gajah Mada duduk berhadapan dengan kedua orang tertinggi di Majapahit.

“Berita apa yang kau bawa kemari, Dyah Gitarja?” Sri Jayanegara bertanya setelah sepatah dua patah ia ucapkan untuk mengawali pertemuan.

Perempuan yang usianya sudah menjelang dewasa itu menoleh sesaat pada Gajah Mada, lalu menarik nafas panjang. Kemudian bibirnya bergerak,”kakang Gajah Mada yang membawa berita dari Kahuripan.”

“Bukankah aku mendengar jika sebenarnya kau ingin aku mengirim tambahan prajurit untuk menambah keamanan di kotamu?” Sri Jayanegara bertanya dengan alis sedikit terangkat. Bergantian ia memandang kedua tamunya.

“Yang kau dengar adalah keinginanku sebelum kedatangan kakang Gajah Mada tadi pagi.”

Kini Ki Patih Mpu Nambi lurus melihat wajah Gajah Mada yang terlihat tegang. Bibirnya terkatup rapat sementara wajah Gajah Mada sedikit menghadap ke meja.

“Ada apa di Kahuripan, Gajah Mada?” bertanya Ki Patih.

Nafas Gajah Mada terdengar panjang dilepaskan. Ia mencoba menata dirinya sebelum menyampaikan keadaan Kahuripan di depan kedua penguasa Majapahit. Ia bergeser mundur sejengkal. Lalu dengan dada tegak ia berkata,”Ki Srengganan telah menguasai pemerintahan Kahuripan sepeninggal Bhre Kahuripan.” Singkat Gajah Mada menyampaikan berita akan tetapi Sri Jayanegara terlihat pucat dan menatap wajah Gajah Mada dengan mulut ternganga.

Sri Jayanegara dengan nafas sedikit memburu lalu melirik Ki Patih dan bertanya,”lalu apa yang harus aku lakukan, paman? Sementara saat ini Ki Nagapati telah memusatkan perhatiannya ke kotaraja.” Tiba-tiba ia berdiri,”aku tidak akan pernah memberi apa yang diinginkan Ki Nagapati!” Suara Sri Jayanegara cukup lantang terdengar dan cukup mengagetkan tiga orang yang duduk di sekelilingnya. Kemudian ia menghadap Ki Patih,”katakan paman, aku harus berbuat apa?” Ia menghentak-hentakkan kakinya dan keresahan sangat jelas terpancar dari raut wajahnya.

Mata yang menyorotkan wibawa dan ketenangan itu menyapu pandangan sekelilingnya. Ia bangkit lalu berkata,”Gajah Mada, kau harus kembali ke Kahuripan dan susun pasukan yang berada di balik dinding kota. Dan aku akan perintahkan Ki Rangga Ken Banawa pergi mencari Ki Nagapati, akan tetapi jika pembicaraan itu gagal maka aku sendiri yang menghadapi Ki Nagapati. Dan pada saat itu terjadi Ki Banawa harus membawa pasukannya menuju Kahuripan.”

Tinggalkan Balasan