Ki Cendhala Geni 8.3

Sri Jayanegara merasa dadanya menjadi lapang mendengar rencana singkat Ki Patih Mpu Nambi. Ia menyandarkan punggungnya dan berkata,”aku akan panggil Ki Rangga datang ke ruangan ini.” Lalu ia meminta seorang penjaga untuk memanggil Ken Banawa dan memintanya untuk datang secepatnya.

“Masuklah, paman Banawa!” kata Dyah Gitarja setelah seorang penjaga melaporkan kedatangan Ki Rangga Ken Banawa, senapati tangguh yang selalu menolak anugerah jabatan karena merasa pengabdiannya yang masih belum sempurna, yang datang bersama Bondan. Penjaga pun mengatakan pada empat orang yang ada di dalam ruangan itu jika Ki Rangga Ken Banawa tidak datang seorang diri.

“Seorang anak muda bernama Bondan?” alis Sri Jayanegara sedikit mengkerut seperti mengingat sesuatu. Ia tidak melepaskan pandang matanya dari sosok Bondan yang berjalan di belakang Ken Banawa. “Usia anak muda yang bernama Bondan mungkin tidak terpaut jauh denganku. Tetapi siapakah dia? Sementara paman Patih Nambi seperti sudah mengenalnya.” Sri Jayanegara masih bertanya-tanya dalam hatinya. Pada saat itu kemudian Ki Rangga Ken Banawa duduk berdampingan dengan Bondan dan diapit oleh Dyah Gitarja serta Gajah Mada.

“Baiklah, kita semua telah lengkap,” kata Ki Patih Mpu Nambi ketika melihat orang-orang telah mengatur diri mereka masing-masing. Ia terdiam sesaat, lalu katanya,”kakang Ken Banawa, aku akan katakan singkat mengenai kehadiran Bhre Kahuripan dan Gajah Mada di ruangan ini.” Lalu ia menceritakan semua yang telah dilaporkan oleh Gajah Mada. Sementara Ki Rangga Ken Banawa dan Bondan sesekali menganggukkan kepala.

“Dan sekarang aku bertanya padamu, kakang,” Ki Patih Mpu Nambi memandang Ken Banawa yang masih belum bersuara.”Apakah kakang mempunyai gambaran singkat tentang rencana yang akan dilakukan jika aku serahkan pemecahan persoalan ini pada kakang?”

Tiba-tiba Sri Jayanegara berseru,”aku ingat sekarang!” Lalu ia bertanya kepada Bondan tentang kedua orang tua dan keadaan di Pajang. Mendengar seruan Sri Jayanegara, Bondan hanya tersenyum lalu menjawab semua pertanyaan raja Majapahit yang berusia lebih muda sedikit darinya. Setelah mendengar jawaban Bondan, wajah Sri Jayanegara terlihat berseri-seri lalu ia berkata,”dengan demikian, bertambah satu kekuatan lagi untuk kerajaan kita. Baiklah, aku serahkan kembali ke paman Patih Nambi.” Sri Jayanegara mempersilahkan Ki Patih untuk kembali ke pokok persoalan. Ki Patih Mpu Nambi mengangkat tangannya pada Ken Banawa.

“Gambaran singkat tentang kekuatan prajurit yang diuraikan Ki Lurah Gajah Mada masih tersimpan di balik dinding kota, aku kira sudah cukup untuk melumpuhkan Ki Srengganan dari dalam. Dan aku sendiri akan mencoba untuk memutuskan semua jalur yang menghubungkan Kahuripan dengan daerah yang lain,” tegas Ken Banawa.

Gajah Mada pun kemudian menyatakan pendapatnya dan rencana yang ia pikirkan ternyata membuat kagum setiap orang yang mendengarnya. Sebuah keyakinan atas kemampuan yang ia miliki ditambah kepercayaan pada dukungan pasukan Ken Banawa menjadikan Gajah Mada berani menempuh resiko dengan menangkap secara langsung Ki Srengganan di dalam keraton.

“Sebuah langkah yang berbahaya, akan tetapi mungkin itu juga akan menjadi satu-satunya jalan menghindari pertumpahan darah yang sia-sia,” kata Sri Jayanegara lalu menyetujui semua pendapat orang-orang dan meminta Ki Patih Mpu Nambi untuk segera merangkai semua rencana-rencana yang disepakati.

Demikianlah yang terjadi di pusat kotaraja ketika Laksa Jaya sedang menemui Ki Cendhala Geni di balairung keraton Kahuripan. Laksa Jaya telah mengutarakan semua rincian rencana di depan Ki Cendhala Geni dan Ubandhana. Ki Cendhala Geni pun meminta Ubandhana segera bersiap berangkat pada malam hari sehingga pekerjaan itu dapat dimulai besok ketika pagi telah tiba. Ubandhana tidak keberatan dengan permintaan itu. Laksa Jaya pun segera meminta diri dan kembali menuju barak prajurit Majapahit di Wringin Anom.

Keesokan harinya. Setelah memperoleh keterangan dari seorang penduduk yang dia jumpai di jalan, Ubandhana yang disertai oleh Ibhakara segera berjalan dengan cepat menuju rumah ki demang di Wringin Anom. Dari jarak sekitar sepuluh langkah, dua orang penjaga berhasil dilumpuhkan tanpa suara dengan senjata rahasia Ibhakara yaitu mata tombak berukuran jari kelingking orang dewasa. Secepat kilat kedua orang ini melintasi jalan dan melayang dengan cepat memasuki rumah ki demang. Mereka segera menuju bilik pustaka sesuai keterangan yang diberikan oleh Laksa Jaya. Arum Sari segera roboh pingsan sebelum menuntaskan pertanyaannya pada tamu tak diundang karena satu jari Ibhakara yang bergerak cepat menotok jalan darahnya. Tanpa kesulitan, kedua orang ini membawa keluar sang putri dari bilik pustaka.

“Hei! Berhenti!” Seorang prajurit yang sedang meronda memergoki sesaat mereka keluar dari pintu bilik. Dua mata tombak kecil menembus tenggorokan dan prajurit pun roboh. Ubandhana melayang melewati tembok yang menjadi dinding halaman rumah ki demang. Begitu ringan dan cepat sekalipun Arum Sari berada di pundaknya. Mereka berdua berlari cepat melintasi padang rumput yang tak begitu luas dan menghilang di lembah kecil tempat mereka menambatkan kuda. Dari situ mereka menyusuri jalan kecil menuju Ujung Galuh.

Kejadian yang begitu cepat ini tetap tidak sesuai harapan Ubandhana karena satu teriakan seorang perempuan seolah mengguncangkan seisi bangunan. Seorang pelayan yang tengah berjalan menuju bilik pustaka terkejut mendapati seorang pengawal tergeletak bersimbah darah. Teriakan-teriakan segera bersahutan dan Patraman pun segera berlari cepat menuju bilik pustaka.

“Ki Lurah! Arum Sari telah diculik!”

“Suruh beberapa orang untuk mengawasi jalan utama. Yang lain segera laporkan Rajapaksi agar menutup jalan ke barat. Kita paksa mereka menuju Trowulan. Jangan biarkan mereka lolos!” Patraman segera memacu kuda ke arah yang ditunjukkan seorang pengawal. Patraman melakukan pengejaran beserta empat orang pengawal yang juga menguasai ilmu yang sebanding dengan sepuluh orang.

Setelah melintasi perbatasan Kademangan Wringin Anom, Patraman memerintahkan mereka untuk menyebar ke beberapa pedukuhan kecil yang berada di sekitar kademangan. Patraman sendiri membelokkan arah menuju pendapa kademangan. Menjelang senja Patraman terlihat memasuki halaman pendapa kademangan. Beberapa orang terlihat olehnya sedang berkumpul membicarakan sesuatu. Ketika dirinya sudah berada di pendapa maka terlihat olehnya Rajapaksi, Ki Demang, Ki Jayabaya dan beberapa pemimpin pengawal serta beberapa pemimpin dari padukuhan di sekitar Wringin Anom.

Ki Demang segera menggelar pertemuan dengan beberapa pemimpin pasukan. Sejumlah rencana pencarian untuk menyelamatkan Arum Sari terus dibicarakan hingga menjelang malam. Setelah merasa cukup dengan keterangan yang diperolehnya dari Rajapaksi, Patraman pun segera mohon diri untuk mengatur pengejaran. “Bagaimanapun penculikan ini adalah tanggung jawabku sebagai pimpinan tertinggi pasukan Majapahit di Wringin Anom ini. Tentu aku tidak akan menyerah begitu saja tetapi akan aku kerahkan bantuan dari Trowulan, Ki Demang.”

“Memang sebaiknya begitu, Ki Lurah Patraman. Meskipun begitu kejadian ini bukanlah harapan setiap orang yang ada di pendapa ini. Dan semestinyalah kita meningkatkan penjagaan serta pengawasan yang lebih ketat di kademangan,” demikian kata Ki Demang sambil menutup pertemuan.

Tinggalkan Balasan