http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

Panembahan Tanpa Bayangan 15

Ki Winatra bergegas melangkah menuju rumah Ki Bekel, ia mendapati Sarjiwa berada di dalam gardu bersama tiga  pengawal pedukuhan.

“Aku akan mengambil istirahat dulu,” kata Ki Winatra pada mereka.

“Silahkan, kiai,” serempak mereka yang berada di gardu menjawab. Ki Winatra meninggalkan mereka. Sementara itu, Sarjiwa berjalan keluar di tepi jalan. Terlihat olehnya dua orang berkuda melintas cepat melewati simpang empat.

“Aneh!” desis Sarjiwa. Seorang pengawal menghampirinya lalu,”Apakah kau melihat orang berkuda?”

“Aku melihatnya.”

“Kemana dia pergi?”

“Tentu saja kita tidak dapat melihat mereka dengan jelas. Marilah! Kita cari tahu dari mana mereka berangkat,” ajak seorang pengawal yang berusia lebih tua dari Sarjiwa. Sekejap kemudian keduanya berjalan dengan langkah lebar membelah kegelapan malam. Pikiran mereka berdua dipenuhi berbagai dugaan yang sebenarnya belum mempunyai landasan yang kuat. Mereka memperhatikan dengan teliti setiap pintu dan pagar, halaman dan pekarang yang mereka lalui. Tiba-tiba Sarjiwa menghentikan langkahnya lalu berbalik kanan.

“Bukankah seharusnya setiap pintu itu terkunci dari dalam? Atau setidaknya dalam keadaan tertutup?” ia bertanya pelan seakan ditujukan pada dirinya sendiri.

Pengawal pedukuhan itu mendekatinya dan memeriksa pagar yang dimaksudkan oleh Sarjiwa. Ia berjongkok sambil mengamati pagar bambu yang berada di depannya. Dengan kepala sedikit mendongak, ia berkata,” benar. Pintu ini sedikit terbuka dan agaknya orang-orang ini tidak sempat mengembalikan pengait ke tempat asalnya semula.” Pengawal pedukuhan yang bertubuh agak kurus bangkit berdiri kemudian ia meneruskan kata-katanya,” Mungkinkah kedua penunggang kuda itu berasal dari rumah ini?” Ia melihat Sarjiwa seakan meminta jawaban yang meyakinkan.

“Rumah siapakah ini?” Sarjiwa jusru bertanya pada pengawal itu.

“Ki Sekar Tawang dan anak perempuannya,” jawab pengawal bertubuh kurus itu sambil menebarkan pandangan ke sekeliling rumah yang tampak dari depan.

“Apakah Ki Sekar Tawang itu penduduk asli pedukuhan ini? Maksudku, sejak kapan Ki Sekar tawang mendiami rumah ini?” Sarjiwa bertanya kembali dengan kening berkerut. Agaknya ia mulai dapat menduga keterkaitan antara Ki Sekar Tawang dengan orang-orang yang berbincang di simpang tiga.

“Entahlah, aku tidak tahu kapan tepatnya ia mendiami rumah ini. Hanya saja yang aku dapat meningatnya itu adalah ketika kami semua bersama Ki Bekel memperbaiki bendungan kecil di sebelah barat pedukuhan. Dan keadaan itu sudah sekitar hampir setahun yang lalu,” jawab pengawal pedukuhan.

Pengawal pedukuhan itu kemudian menggigit bibirnya, lalu katanya,” kita masuki pekarangan ini dan memeriksa hingga bagian belakan.”

Tanpa menunggu jawaban dari Sarjiwa, pengawal bertubuh kurus itu membuka pintu pagar dan mulai mengitari pekarangan bagian depan. Sarjiwa yang tidak mempunyai pilihan lain selain mengikuti pengawal bertubuh kurus itu segera mengambil sebuah oncor dari buah jarak lalu menyerahkannya pada pengawal pedukuhan. Sedikit banyak oncor itu dapat menolong pengawal bertubuh kurus dalam memeriksa pekarangan sekitar rumah. Beberapa waktu kemudian mereka berdua telah berada di bagian belakang rumah. Sarjiwa yang melangkah di belakangnya diam-diam mengerahkan bagian awal ilmu Serat Waja untuk meningkatkan ketajaman pendengarannya. Sarjiwa yang berjalan pelan dengan pemusatan budi dan rasa kemudian menarik nafas lega. Ia tidak mendengar suara apapun dari dalam rumah. Maka dengan begitu, kedua anak muda ini dapat leluasa melakukan pengamatan, meskipun demikian Sarjiwa tetap tidak mengurangi kewaspadaannya.

Serat Waja adalah ilmu yang mempunyai kelengkapan luar biasa. Ilmu ini terdiri dari beberapa lapisan yang setiap lapisannya dapat mempengaruhi ketajaman penglihatan dan pendengaran. Pada tataran yang cukup tinggi, ilmu ini dapat menerima serangan berbahaya tanpa harus mengeluarkan kekuatan atau tenaga inti yang seimbang.

“Tanah ini masih terlihat basah,” kata pengawal pedukuhan sambil mendekatkan api oncor pada bagian tanah yang terlihat lebih gelap.

“Benar. Rupanya kedua penunggang kuda itu adalah Ki Sekar Tawang dan anak perempuannya. Jejak-jejak yang dapat kita lihat sekarang ini juga masih baru,” sahut Sarjiwa.

“Sementara Ki Jagabaya bersama Kang Kliwon di simpang tiga, aku akan melaporkan keadaan ini kepada Ki Bekel. Mungkin saja Ki Bekel sudah dalam perjalanan menuju kemari,” kata pengawal itu. Sarjiwa memandangnya dengan alis berkerut. Pengawal itu tertawa kecil lalu katanya,” jalanan di depan rumah ini tersambung lurus dengan rumah Ki Bekel. Mereka pasti melintas tepat di depan rumah Ki Bekel. Dan tentu saja derap kaki kuda yang dipacu kencang akan mengusik pendengaran Ki Bekel yang berilmu tinggi.”

“Bila begitu, aku setuju denganmu. Marilah kita bergegas, kakang,” kata Sarjiwa. Ia diam saja karena ia juga tahu jika orang tuanya juga akan mengetahui kuda-kuda yang berlari kencang melintasi rumah Ki Bekel karena pada malam itu mereka berdua berada di rumah Ki Bekel.

Keduanya berjalan cepat menuju bagian depan, akan tetapi seseorang telah memasuki halaman mendahului mereka.

“Kalian rupanya telah tiba disini,” berkata orang itu.

“Selamat malam, Ki Bekel. Kami baru saja akan ke rumah Ki Bekel untuk melaporkan keadaan yang kami temui di sekitar sini,” kata pengawal pedukuhan.

“Bagus. Kalian dapat bergerak cepat dengan nalar yang dapat dikendalikan, hanya saja aku minta kalian lebih berhati-hati di kemudian hari,” kata Ki Bekel sambil menatap mereka bergantian. Ia kemudian memberi pesan singkat,” kita tidak tahu siapa yang akan mendatangkan bahaya bagi pedukuhan ini. Nah, sekarang katakan apa yang telah kalian dapatkan dari pengamatan yang baru saja kalian lakukan!”

Kedua anak muda itu menganggukkan kepala, lalu pengawal pedukuhan menceritakan apa-apa yang ia lihat dari awal hingga pertemuan mereka dengan Ki Bekel. Ki Bekel mendengarkan keterangan pengawal pedukuhan sambil mengajak mereka berdua kembali memeriksa sekeliling.

“Baiklah, aku sudah mendapat gambaran tentang apa yang sebenarnya menimpa pedukuhan ini hingga tidak ada rasa tenang bagi kita semua. Sekarang kita tinggalkan rumah ini, dan katakan pada Ki Jagabaya jika aku menunggunya di banjar pedukuhan,” kemudian ia menoleh ke arah Sarjiwa, katanya,” ayah dan ibumu telah berada di banjar.” Lalu Ki Bekel meminta Sarjiwa untuk menyertai pengawal pedukuhan menjemput Ki Jagabaya, sejenak kemudian ketiganya pun melangkah keluar dan berpisah.

Memang kedua penunggang kuda itu adalah Ki Sekar Tawang dan Mayang Sari. Mereka berdua akhirnya memasuki halaman rumah setelah beberapa waktu sebelumnya berpapasan dengan Ki Jagabaya yang berjalan bersama Ki Winatra serta Sarjiwa.

Akan tetapi sebelum keduanya menginjak bagian depan rumah, tiba-tiba terdengar suara burung kokok beluk. Mereka segera mengenali tanda-tanda yang dikirimkan melalui suara burung malam itu. Ki Sekar Tawang pun membalasnya dengan nada yang hanya dikenali oleh orang-orang tertentu di kalangan mereka. Dalam waktu yang sekejap, sebuah bayangan berkelebat cepat melesat diantara rerimbun daun dan batang-batang pohon yang tumbuh di halaman depan rumahnya.

“Ki Tanu Dirga,” berkata Ki Sekar Tawang sambil mengangguk hormat, Mayang Sari juga menyapa orang yang baru saja datang dengan cara yang luar biasa itu.

“Ki Sekar Tawang, Mayang Sari,” Ki Tanu Dirga membalas pula dengan hormat. Ketiga orang itu segera masuk ke pringgitan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *