Bara di Borobudur 23 – Pertarungan di Lereng Gunung Wilis

“Ki Sanak, mengapa kau tidak segera membunuh dirimu sendiri? Aku sebenarnya tidak ingin mengotori tanganku dengan darah orang tua sepertimu. Akan tetapi apabila kau lanjutkan perkelahian ini, aku minta kau tidak marah jika aku keliru meletakkan ujung pedangku,” kata orang yang mempunyai tubuh tinggi besar dan berjenggot tebal itu.

“Sudahlah, Ki Arumbaya! Segera habisi orang tua itu, kau lihat teman-teman kita telah mati oleh orang-orang Menoreh!” seru Ra Jumantara yang masih terlibat pertarungan hebat dengan Bondan.

Bulan mulai terlihat muncul di balik awan yang berarak meninggalkan hutan. Langit telah berhenti mencurahkan air. Ki Arumbaya melihat sekelilingnya, ia dapat melihat lingkaran perkelahian hanya tersisa dua bagian. Sementara penglihatannya yang tajam telah mendapati beberapa orang padepokan tergelak di dekat api unggun yang baru dinyalakan oleh Jalutama. Tiba-tiba Ki Arumbaya menggeram penuh kemarahan ketika melihat satu orang dari padepokan telah terbujur di dekat kaki Ken Banawa.

“Kalian membunuh satu-satunya orang yang akan mewarisi ilmu perguruanku!” tiba-tiba ia menerjang Ken Banawa dengan gerakan yang cepat sekali. Gerak kaki dan tangannya begitu cepat menghujani Ken Banawa yang tak kalah cepatnya mengelak ke samping. Sementara itu Ki Swandanu menghela nafas panjang dan mulai merasakan sesak di dada dan lumpuh pada lengan kirinya. Menyadari ia telah bebas dari perkelahian, Ki Swandanu berjalan tertatih-tatih ke arah Jalutama. Katanya,”Aku masih dalam perlindungan Yang Maha Kuasa. Orang yang bernama Ki Arumbaya itu sungguh berada di lapisan yang lebih tinggi daripada aku.” Usai bibirnya terkatup, ia duduk bersila kemudian menelan sebutir ramuan padat yang diberikan oleh Jalutama. Beberapa lamanya ia mengatur jalan darah dan pernafasannya. Agaknya Ki Swandanu menderita luka dalam yang cukup parah, walaupun begitu akhirnya ia bangkit berdiri dan berusaha semampunya membantu Jalutama merawat jenazah para pengawal Menoreh.

Ki Arumbaya masih merangsek mengalirkan serangan dengan sambaran-sambaran kerisnya yang mengeluarkan pamor berwarna merah muda. Hawa panas mulai dirasakan oleh Ki Rangga Ken Banawa setiap kali keris itu melintas sejengkal di dekatnya.

Pengalaman Ken Banawa memberi pemahaman jika lawan yang dihadapinya telah melambari setiap gerakannya dengan tenaga cadangan. Ki Rangga segera memberikan perlawanan yang tidak kalah hebatnya. Pedangnya perlahan-lahan mulai membungkus sinar merah keris Ki Arumbaya. Sementara itu Ki Arumbaya semakin mengerahkan segenap ilmunya. Keduanya terlibat dalam pertarungan yang lebih dahsyat dari semula.

Gulungan sinar berwarna merah dan putih saling bergantian membungkus satu sama lain. Terkadang keduanya berbenturan dan terdorong mundur. Dentang senjata keduanya terdengar nyaring setap kali berbenturan. Pertarungan keduanya menarik perhatian Ki Swandanu, lalu gumamnya,”Aku harus bersyukur sekali lagi. Ki Arumbaya dapat saja menyelesaikan hidupku dalam waktu yang cukup singkat.”

Kemarahan Ki Arumbaya telah mendorongnya untuk bertarung dalam puncak kemampuannya. Tubuhnya melesat cepat, menyambar-nyambar dengan kecepatan yang sulit diikuti mata biasa. Lingkar perkelahian mereka semakin luas hingga mendekati tempat Ki Swandanu dan Jalutama.

Ki Rangga sendiri berkeinginan untuk segera menyelesaikan pertarungan dengan Ki Arumbaya. Maka secepat itu ia menyusupkan lima jari yang terkembang ke dada Ki Arumbaya. Pekik nyaring terdengar dari Ki Arumbaya saat merasakan angin pukulan Ken Banawa telah sampai di dadanya. Ia berusaha menyambut telapak tangan terbuka itu dengan dorongan yang sama. Dentum dua tenaga yang berbenturan menggelegar tidak begtu kencang tetapi menggetarkan dada Ki Swandanu dan Jalutama. Keduanya serentak terdorong mundur dan terhuyung-huyung beberapa langkah. Kemarahan Ki Arumbaya yang meluap-luap menjadikannya lupa akan keseimbangan tubuhnya. Ia berseru kencang dan tubuhnya melesat melebihi anak panah, menerjang Ken Banawa yang masih memperbaiki kedudukan.

Kalau saja lawan Ki Arumbaya bukan Ken Banawa mungkin akan terbang tinggi nyawa yang ia miliki. Kecepatan luar biasa dan disertai tenaga dalam yang besar serta dilontarkan penuh amarah telah menjadikan gebrakan ini seperti letusan Merapi. Akan tetapi lawan Ki Aumbaya adalah orang yang sudah kenyang merasakan manis pahit olah kanuragan. Ken Banawa  sekalipun belum sepenuhnya dapat mengembalikan keseimbangan, akan tetapi kemahirannya memainkan pedang dapat menolongnya keluar dari tekanan hebat Ki Arumbaya.

Pedangnya yang tipis sangat lentur ketika dikibaskan kiri dan kanan. Tenaga dalam yang disalurkannya melalui batang pedang menghantam Ki Arumbaya dengan angin panas yang menusuk langsung urat nadinya. Meskipun ujung pedang Ki Rangga masih berjarak beberapa jengkal akan tetapi angin panas yang keluar dariya terasa menyayat kulit tangannya.

Ki Arumbaya mengelak dengan berjungkir balik ke belakang. Ia mengusap jari tangan kanannya yang robek karena tenaga dalam yang luar biasa dari Ki Rangga. Sedikit darah yang mengalir namun cukup untuk menyiram hatinya yang semakin membara. Ki Arumbaya berdesis dalam hatinya,”Orang ini mempunyai ilmu yang menakjubkan. Dalam jarak yang jauh ternyata ujung pedangnya dapat menyayat kulitku. Tetapi kematian muridku harus tetap mendapatkan gantinya!”

“Ki Sanak, jangan bersikap bodoh dengan kekalahan orang-orangmu,” berkata Ken Banawa. Lalu ia melanjutkan,”Sebelum kau melangkah lebih jauh, bukankah kau lebih baik menyerah dan aku lepaskan segala tanggung jawabmu agar kau dapat meneruskan ilmu hebat yang kau miliki.”

“Berhentilah berbicara, Ki Sanak! Siapakah dirimu hingga kau dapat melepas tanggung jawabku?” mata tajam Ki Arumbaya bersinar-sinar penuh amarah. Ia merasa direndahkan dengan perintah menyerah dari Ken Banawa.

“Ia mempunyai nama Ken Banawa. Ia seorang rangga Majapahit, dan tentu kau telah mendengar kematian Ki Cendhala Geni di Sumur Welut,” teriak Jalutama. Sedangkan Jalutama sendiri banyak mendengar jati diri Ken Banawa dari penuturan Ki Hanggapati dalam perjalanan keluar dari pedukuhan di lereng Gunung Wilis.

“Pantas saja kau dapat bertahan dari seranganku yang terakhir, Ki Rangga,” berkata Ki Arumbaya sambil berjalan hilir mudik seperti seekor harimau yang menunggu kelengahan mangsanya. Kemudian ia berkata lantang,”Baiklah, Ki Rangga. Aku akan serahkan senjataku padamu setelah kau dapat mengalahkanku!” Demikian ia menutup mulutnya, keris berpamor merah itu berputar seperti gasing yang sangat cepat. Gerak tangan Ki Arumbaya yang cepat telah membuatnya seolah terbungkus dalam kabut berwarna merah. Ia bergeser selangkah demi selangkah mendekati Ken Banawa yang masih berdiri tegak dan tenang. Keris Ki Arumbaya makin berpijar merah dan udara panas mulai merebak perlahan ke setiap penjuru angin.

Ken Banawa menatap tajam dan mengamati setiap perkembangan yang terjadi pada diri Ki Arumbaya. Diam-diam ia mengerahkan kekuatan yang sangat jarang ia gunakan bahkan ketika bertarung dengan Ki Cendhala Geni. Saat ini Ki Rangga merasa bahwa ia harus membangunkan urat-urat syarafnya yang telah lama tertidur. Tanpa disadari oleh KI Arumbaya yang terkungkung dalam amarah dan keinginan untuk membunuh lawannya, Ken Banawa mengalirkan tenaga inti yang ia miliki dan disalurkan melalui hulu pedangnya.

“Berguru pada siapakah orang-orang Majapahit ini, Ki Swandanu?” bertanya Jalutama.

“Entahlah, Ngger. Aku hanya merasakan sangat beruntung ketika Ki Rangga diijinkan menemani kami bertiga kembali ke Pajang,” jawab pelan Ki Swandanu yang berdiri bersebelahan dengan Jalutama.

“Aku seharusnya bersikap sama dengan Ki Swandanu. Jika Yang Maha Kuasa tidak melindungiku dengan bertemu dengan Ki Hanggapati serta Bondan di kedai depan banjar, mungkin aku tidak berada di tempat ini,” desah Jalutama.

“Atau mungkin lebih tepatnya, kejahatan di pedukuhan itu tidak akan pernah terbongkar selamanya,” Ki Swandanu berkata-kata lalu menundukkan kepala mengingat kembali persitiwa yang membawa kesedihan mendalam di hatinya. Jasad para pengawal Menoreh dikumpulkan dalam satu liang sedalam lutut dengan lebar beberapa langkah. Meskipun tidak sempurna akan tetapi telah cukup layak sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan atas jasa mereka.

Lalu keduanya kembali mengamati tiga lingkaran pertempuran yang belum usai dan semakin lama semakin menghebat.

Ki Arumbaya berhenti tiga empat langkah di hadapan Ken Banawa yang masih tegak dan penuh percaya diri menatap pertarungan. Tenaga inti Ken Banawa telah sampai ke setiap simpul syaraf dan menjalar di seluruh pembuluh darahnya.

Ki Arumbaya meluncur deras dari jarak yang sangat dekat untuk kecepatan hebat seperti yang ia lakukan sekarang. Kerisnya berputar-putar membungkus tubuhnya dan terkadang seperti kitiran di atas kepalanya. Dalam keadaan melayang itu, Ki Arumbaya mengirim tendangan ke dada Ken Banawa. Dari jarak dua langkah, Ki Rangga telah merasakan dorongan angin panas menyentuh tubuhnya. Akan tetapi ia belum bergeming dari tempatnya.

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *