Penaklukan Panarukan 2

“Aku mendengar jika Raden Trenggana sedang menyiapkan ribuan kapal. Apakah kalian termasuk prajurit yang akan ikut serta dalam salah satu kapal itu?” Gagak Panji bertanya.

“Maafkan aku jika tidak tahu, Ki Rangga. Lurah kami dan Ki Tumenggung belum mengatakan persoalan itu pada kami,” jawab seorang dari mereka dengan kesan heran dalam hatinya. Seperti mengetahui isi hati orang yang menjawab, kemudian Gagak Panji berkata,” Tentu saja kalian akan bertanya meski dalam hati kalian sendiri. Bagaimana mungkin seorang rangga tidak mengetahui rencana pemimpinnya? Apalagi kalian telah mengenalku sebagai orang yang dekat dengan Ki Tumenggung Arya Dipa. Bukan begitu?”

Kedua prajurit itu menganggukkan kepala sambil memasukkan sesuap makanan setelah dipersilahkan Gagak Panji untuk mendahuluinya.

“Kadang-kadang seorang prajurit yang berada di bawah lurah dapat mengetahui keadaan sebenarnya. Bahkan tidak jarang seorang prajurit justru menjadi kepercayaan seorang raja,” berkata Gagak Panji. Kemudian ia mulai makan bekal yang disiapkan oleh Ki Tumenggung Arya Dipa. Setelah beristirahat untuk beberapa lama dan memberi kesempatan kuda-kuda mereka mengambil nafas, ketiga orang ini kembali melanjutkan perjalanan menuju Tuban menembus pekatnya malam.

“Tentu saja Raden Trenggana tidak akan melalui jalur darat untuk mengambil alih Panarukan. Selain tempuh yang akan menjadi lebih lama, daya tahan para prajuritnya tentu tidak berada dalam keadaan sebenarnya saat mereka mulai peperangan,” Gagak Panji merenung di atas punggung kudanya. Dalam renungannya, Gagak Panji mengakui ketangguhan prajurit Demak di atas lautan. Gagak Panji masih ingat kisah yang ia dengar tentang bala prajurit Demak yang membelah lautan menuju semenanjung Malaka. “Sudah barang tentu Jepara , seperti yang dikatakan Paman Parikesit, akan mengirimkan kapal bantuan bagi Raden Trenggana.” Ia menoleh ke arah dua prajurit yang berkuda di belakangnya.

Setelah menempuh perjalanan kira-kira beberapa laksa tombak, Gagak Panji memutuskan untuk kembali beristirahat dan melanjutkan perjalanan menjelang fajar esok hari.

“Kalian berdua dapat kembali ke Demak sekarang. Katakan pada Ki Tumenggung Arya Dipa jika aku akan berhenti barang sehari dua hari di Lasem,” kata Ki Rangga Gagak Panji kemudian memberi beberapa keping logam sebagai bekal kedua prajurit untuk kembali ke Demak. Sejenak kemudian mereka pun berpisah.

Gagak Panji memacu kudanya secepat angin bertiup kencang. Sejumlah mata memandang penuh heran saat mereka berpapasan di jalanan yang sudah dipadatkan. Matahari hampir berada di puncak langit ketika Ki Rangga Gagak Panji mulai mendekati hutan lebat yang berada di depannya. Ujung jalan itu berakhir seperti sebuah lorong panjang yang membelah hutan. Pohon-pohon raksasa tampak menjulang menggapai langit. Kepulan debu tinggi membumbung ketika Gagak Panji telah melewati bulak kering yang panjang, tiba-tiba ia menarik tali kudanya sambil memicingkan mata.

“Gandrik! Siapa mereka yang berkelahi di tepi hutan itu?” desis Gagak Panji dalam hatinya. Ia sendiri telah mengetahui jika hutan lebat yang berada di lereng Argopuro itu sering menjadi lintasan para penyamun. Akan tetapi semenjak Ki Tumenggung Badra Lodaya ditunjuk sebagai penanggung jawab keamanan, maka keadaan di sekitar lereng mulai dapat dikendalikan.

“Orang-orang itu tentu bernyali besar jika berani beradu wajah dengan prajurit Ki Tumenggung Badra Lodaya,” Gagak Panji menghentak lambung kudanya dan berjalan pelan mendekati lingkaran perkelahian yang agaknya melibatkan sekelompok orang-orang berseragam tertentu.

Gagak Panji dengan tenang duduk di atas punggung kudanya memperhatikan dua kelompok orang itu saling menyerang dengan diiringi umpatan dan caci maki kotor. Sementara sekelompok orang berseragam telah menyita perhatian Ki Rangga Gagak Panji.

“Ki Tumenggung memang orang hebat. Dalam jumlah kecil, prajuritnya dapat mengimbangi mereka yang mungkin saja satu gerombolan penyamun.” Senyum Gagak Panji mengembang ketika ia dapat melihat dengan jelas kedudukan dari dua kelompok yang bertempur di hadapannya. Sebersit keinginan untuk membantu prajurit Ki Tumenggung Badra Lodaya sempat menghampiri hatinya, akan tetapi keraguan pun segera menyergapnya. Sebenarnya Gagak Panji dapat mengabaikan kata hatinya namun ia masih melihat pada kepentingan lain yang menurutnya jauh lebih besar daripada sekedar menolong prajurit Kadipaten Lasem.

“Apakah kalian ada yang mengenali kain yang aku pegang?” seru Gagak Panji sambil berkuda mendekati lingkar pertempuran. Seorang prajurit Lasem segera meloncat mundur dan menoleh ke arahnya.

“Tentu saja, Ki Sanak! Engkau seorang rangga dari Jipang,” jawab prajurit itu dengan suara yang keras.

Sementara itu baru saja mengatupkan bibirnya, kuda Gagak Panji telah memasuki lingkaran pertempuran dan menyambar-nyambar setiap orang yang menjadi lawan prajurit Lasem. Sekejap saja kemudian gerombolan orang-orang yang berkata-kata kasar itu menjadi porak poranda. Keris di tangan Gagak Panji berkelebat sangat cepat membawa luka perih di bagian tubuh mereka.

“Aku akan membuat Lasem merasa bersalah jika menolak keinginanku,” berkata Gagak Panji dalam hatinya sebelum ia memutuskan untuk membantu prajurit Lasem.

Salah seorang dari gerombolan yang menggantungkan taring harimau pada lehernya melompat mundur lalu katanya,”Ki Sanak, tampaknya kau ingin menjadi mayat pertama yang akan membujur di tepi hutan ini.” Ia membentak keras dan tubuhnya meluncur deras menerjang Gagak Panji yang masih berada di atas punggung kuda.

Gagak Panji membelokkan kudanya lalu ia melompat tinggi dan tubuh berjungkir balik di udara dan melesat turun seperti anak panah ke arah orang berkalung taring harimau. Telapak tangan kirinya mengembang dan mendorongkan angin dingin yang menyusup hingga belulang dada lawannya. Umpatan kasar terdengar dari orang berkalung taring itu sambil menghindari terjangan angin dingin yang dilepaskan oleh Gagak Panji.

“Tobil keketan! Kau kira siapa dirimu sehingga berani berhadapan dengan aku, Ki Bajang Saloka, penguasa hutan Argopuro!” bentak Ki Bajang Saloka.

Gagak Panji kembali meluncur deras, kali ini kerisnya berlekuk tiga mengeluarkan angin dingin dan membuat perih kulit Ki Bajang Saloka. Kembali orang ini memaki Gagak Panji ketika hampir saja dadanya dapat digapai senjata Gagak Panji. Akan tetapi kulitnya telah robek mengucurkan darah meskipun ujung keris tidak mencapai dadanya, akan tetapi tenaga inti Gagak Panji yang dingin keluar dari ujung keris mampu menembus pertahanannya.

Ki Bajang Saloka melompat surut sangat jauh, kemudian ia berdiri tegak dan mengedarkan pandangan disekelilingnya. Beberapa orang pengikutnya telah tergolek membujur lintang, sementara yang lain telah berada dalam penjagaan ketat prajurit Lasem. Sambil menekan dadanya untuk mengurangi rasa sesak akibat dorongan tenaga inti Gagak Panji, ia berkata,”Ki Sanak, aku bukanlah seorang pengecut! Aku peringatkan kau dan kalian, prajurit Lasem, untuk tidak menghentikan usaha kelompok kami mencari sesuap makan!”

Seorang prajurit yang mengenakan tanda pangkat sebagai lurah kemudian tertawa, kemudian ia berkata,”Ki Bajang Saloka, tanpa mengurangi rasa hormat padamu sebagai orang berilmu tinggi dan disegani, kata-katamu terdengar lucu bagiku.” Ia diam sejenak, lalu,” bagaimana mungkin kalian merampas hak orang lain untuk menjaga keberlangsungan hidup kalian?”

“Setiap orang mempunyai jalan dan cara yang berbeda satu sama lain, Ki Lurah. Aku mengambil upah dengan menjaga keamanan dari setiap orang yang melintasi hutan ini, begitu pula kalian. Kalian mengambil upah dari para petani dan pedagang yang berada di wilayah kalian sendiri,” Ki Bajang Saloka berkata-kata dengan mata melotot tajam.

Gagak Panji tertawa geli dalam hatinya mendengar Ki Bajang Saloka berkata-kata. Akan tetapi ia pun dapat melihat kebenaran di balik ucapan pemimpin penyamun itu.

“Ki Bajang Saloka,” kata Gagak Panji kemudian. Ia bergeser maju selangkah lalu katanya lagi,”Kau akan meneruskan perkelahian ini atau akan meninggalkan kami semua? Aku menunggu jawaban tegas darimu, bukan debat tiada ujung.”

Wajah Ki Bajang Saloka menjadi merah karena marah dan malu. Kemudian ia memutar tubuhnya sambil berkata,”ingatlah oleh kalian pada hari ini. Aku akan kembali menjadikan Lasem seperti bara.”

Beberapa prajurit bergerak akan menyerangnya, namun Gagak Panji melambaikan tangan meminta mereka membiarkan Ki Bajang Saloka pergi meninggalkan mereka. Dengan raut wajah kebingungan, mereka menuruti perintah Gagak Panji. Kemudian Ki Lurah bertanya,”Maafkan aku, Ki Rangga. Bagaimana Ki Rangga melepasnya pergi?”

“Supaya ia dapat mengatakan kejadian hari ini pada orang yang lebih tinggi darinya. Dan supaya mereka tahu jika Lasem tidak berdiri sendiri. Ia tentu mendengar jika aku adalah rangga dari Jipang. Satu dua gebrakan yang aku lakukan tentu akan membawa kesan yang berbeda baginya,” jelas Ki Rangga Gagak Panji. Kemudian Gagak Panji meminta mereka cepat merawat yang terluka dan mengusulkan pada Ki Lurah untuk segera kembali ke Lasem.

“Dengan membawa beberapa orang yang terluka termasuk kawanan Ki Bajang, aku kira kita baru akan dapat tiba di seberang hutan pada malam hari,” kata Ki Lurah.

“Aku kira akan lebih aman kita bermalam di tempat ini, Ki Rangga. Sedikit tempat persembunyian tentu akan dapat menolong kita dibandingkan jika kita berjalan melewati hutan. Kelompok Ki Bajang mempunyai pemukiman yang tidak jauh dari tempat ini. Hanya satu kebetulan saja kami bertempur melawan mereka di tempat lapang ini,” kemudian Ki Lurah menceritakan awal mula terjadinya pertemuan kelompok yang dipimpinnya dengan kawanan Ki Baang Saloka.

Gagak Panji menarik nafas panjang, kemudian,” baiklah. Kita bermalam disini.”

 

 

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".