Ki Cendhala Geni 9.1

Maka akhirnya pertemuan itu pun dibubarkan. Ki Demang segera pergi ke ruang belakang menemui istrinya. Saat itu istrinya masih juga menangis ditunggui oleh beberapa orang perempuan. Ketika dilihatnya Ki Demang berjalan menghampiri dirinya maka tiba-tiba tangisnya meledak. Segala kesedihan dan kecemasan serasa ditumpahkan begitu saja seperti air bah yang melanda persawahan.

“Apakah kita akan membiarkannya saja? Apakah kau tidak akan berusaha untuk mengambilnya kembali? Ki Demang, kalau anakmu tidak dapat diketemukan, lebih baik aku tak pernah lagi merasakan hidup.”

“Nyi, setiap orang telah aku kerahkan. Dan siang tadi juga Patraman telah mengirim utusan menemui Ki Rangga Ken Banawa. Kita tahu siapa senapati itu. Pasti dia akan mengerahkan semua yang dia punya untuk membantu kita. Selain itu juga, Patraman juga akan menghubungi semua teman-temannya di keprajuritan untuk memberi bantuan.” Mendengar jawaban suaminya itu tangis Nyi Demang pun sedikit mereda. Sedikit harapan membuncah dalam dadanya. Karena bagaimanapun juga dia tahu bahwa tangisnya tidak akan dapat memecahkan persoalan.

Melihat keadaan Nyi Demang yang berangsur menjadi lebih reda, Ki Demang pun segera memasuki biliknya. Rumah itu pun kemudian sepi. Yang terdengar hanyalah isak perlahan tangis Nyi Demang yang sedang kehilangan anak gadisnya. Tentu saja hati seorang ibu akan lebih pedih seperti tertusuk duri ketika anak semata wayangnya telah hilang tanpa ada seorang pun yang tahu dimana rimbanya.

Ketika baru saja ayam jantan berkokok, tampak tiga  orang berjalan menuju kandang kuda yang berada di halaman belakang kademangan. Beberapa orang nampak sudah mempersiapkan segala sesuatu yang bagi tiga  orang ini.

“Rajapaksi, ikuti jalan utama dan temuilah ajaklah Ki Lurah Sembada.  Jangan segan memintanya untuk membantu mengawasi semua jalan-jalan utama. Arahkan penculik itu ke Trowulan. Aku akan memutar dan menyusuri perbukitan sebelah barat sungai hingga Trowulan.”

“Baik, Ki Lurah. Sebaiknya Ki Lurah lebih waspada.”

“Kita berpisah, Rajapaksi.”

Ditemani seorang pengawal, Rajapaksi segera memacu  kudanya ke arah selatan menuju Trowulan. Sementara itu, Patraman juga menuju ke ujung padukuhan kecil yang berada di pinggir kademangan.

“Laksa Jaya! Semua berjalan sesuai dengan rencana. Marilah sekarang kita ke utara Alas Jatipurwo,” kata Patraman setelah bertemu Laksa Jaya yang tampaknya telah menunggu kedatangan Patraman.

“Sebaiknya engkau samarkan dulu pakaianmu, Patraman. Tentu akan banyak orang bertanya bila perjalanan ini tidak melintasi jalan utama. Setiap kecurigaan akan dapat membawa kegagalan atas upayamu itu,” kata Laksa Jaya sambil menghentakkan kudanya perlahan. Kemudian keduanya berhenti di sebuah kedai dan setelah meminta ijin pada pemilik kedai untuk menukar pakaian maka keduanya meneruskan perjalanan menuju Alas Jatipurwo.

Pada hari yang sama, di pusat kotaraja terlihat Ki Patih Mpu Nambi sedang memimpin pertemuan dengan beberapa senapati. Ki Rangga Ken Banawa berada di sebelah Bondan yang duduk berdampingan dengan Dyah Gitarja, Bhre Kahuripan. Kehadiran Bondan yang tidak mengenakan pakaian prajurit mengundang pertanyaan di antara senapati. Menyadari jika Bondan sedang menjadi pusat perhatian, maka Ki Patih segera menjelaskan secara singkat tentang keadaan Bondan. Penjelasan itu agaknya dapat diterima oleh para senapati yang menghadiri pertemuan. Seorang senapati berdiri dan memberi kesaksian. Ia berkata,”aku pernah bertempur sekali bersamanya di Alas Cangkring. Tentu saja dalam usia yang masih terhitung muda, anak itu dapat dikatakan nekad. Akan tetapi, aku akan mengingat satu perbuatannya.” Ia terdiam sejenak, seluruh mata memandang dirinya. Senapati itu menarik nafas dalam-dalam lalu,” aku tidak tahu apakah dia berani atau berbuat tanpa perhitungan, yang aku ketahui adalah jika malam itu ia tidak berbuat apapun, maka seluruh darah pasukan kami akan membasahi Alas Cangkring. Ia banyak membawa prajurit terluka ke tepi lingkaran. Untuk kemudian, bantuan Ki Rangga Ken Banawa dan Ki Lurah Gumilang dapat merubah keadaan.”

Seorang lainnya mengangkat tangan lalu bertanya,”apa pangkatmu pada saat itu?”

“Aku masih menjadi wakil dari Ranggawesi,” jawab senapati yang terlibat dalam Alas Cangkring.

Kemudian Ki Patih Nambi meneruskan pertemuan sesuai garis besar yang telah disetujui  oleh Sri Jayanegara.

Tak lama setelah pertemuan itu dinyatakan selesai, setiap senapati telah menuju tempat yang ditunjuk oleh Ki Patih. Sehingga akhirnya setiap jengkal perbatasan kotaraja dan jalur yang menghubungkannya dengan Kahuripan telah berada dalam pengawasan prajurit.

Sedangkan di tempat yang lain,  tak lama setelah berita diculiknya Arum Sari tersiar, para prajurit di Wringin Anom sudah terlihat di berbagai sudut-sudut jalan. Hampir tidak ada satu pun ruas yang terlewatkan. Beberapa kelompok prajurit juga terlihat sudah mulai menyisir mencari jejak di hutan-hutan kecil yang mereka jaga.

Kedua peristiwa yang terjadi dalam waktu hampir bersamaan akhirnya justru memberi kesulitan pada Ubandhana yang sudah cukup jauh meninggalkan Wringin Anom. Lolosnya seorang perwira prajurit yang bernama Gajah Mada telah mampu merubah keadaan yang sebelumnya telah diperhitungkan dengan masak oleh Ki Cendhala Geni dan Laksa Jaya. Ubandhana yang sempat melihat iring-iringan prajurit menuju arah Kahuripan mulai dicekam kecemasan. “Apakah Sri Jayanegara telah mengetahui keadaan di Kahuripan? Aku harus memberitahukan ini pada Ki Cendhala Geni dan Ki Srengganan.” Ubandhana berpikir keras mencari jalan tengah untuk keluar dari pandangan mata para prajurit yang seolah menempel di setiap pepohonan.

“Ibhakara, pergilah ke Kahuripan. Katakan pada Ki Cendhala Geni untuk segera keluar dari Kahuripan dan menunggu di utara Ujung Galuh. Katakan juga jika kau telah melihat beberapa kelompok prajurit dari kotaraja dalam perjalanan menuju Kahuripan.” Ibhakara menganggukkan kepala dan bergegas memacu kudanya berbalik arah.

Dua hari perjalanan maka tibalah Ubandhana dan Arum Sari di rawa sebelah utara hutan bambu. Beberapa nelayan terlihat sibuk menebar jala di bibir pantai. Beberapa yang lainnya juga nampak sibuk membetulkan jala. Sejauh mata memandang, Ubandhana tidak melihat satu perahu pun yang tertambat di pantai.

“Permisi, Ki Sanak. Gerangan apa hingga tak ada perahu di tepi sungai?”  Ubandhana bertanya pada satu nelayan dengan tenang dan tak menunjukkan bahwa dia adalah orang yang diburu seluruh prajurit Majapahit.

 

 

sumber : Ceritera.net

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *