Ki Cendhala Geni 9.2

“Ini perintah dari prajurit, Ki Sanak. Kemarin malam beberapa prajurit datang kemari dan memerintahkan hal itu pada kami,” jawab nelayan itu dengan tatap mata biasa saja. Kemudian ia melanjutkan,” kiranya Ki Sanak hendak kemana? Aku mungkin dapat melakukan sesuatu karena akan ada kapal milik saudagar yang kemari untuk mengangkut ikan-ikan ini.” Nelayan itu berjalan menghampiri tumpukan keranjang yang berisi ikan tangkapan.

Ubandhana menggelengkan kepala dengan sedikit senyum mengembang, ia berkata,” aku akan pergi ke Kediri, Ki Sanak. Akan tetapi biarlah sementara ini aku akan menunggu seorang kawan yang akan datang ke pantai ini.” Ia meminta diri kemudian memutar tubuhnya meninggalkan nelayan itu, ia bergumam dalam hatinya,” aneh! Keadaan ini tidak begitu sepi. Tidak seperti biasanya yang begitu ramai hilir mudik perahu-perahu.”

Mata tajam dan pendengaran Ubandhana segera menangkap adanya pergerakan dari balik rerimbunan semak belukar yang ada di sekitar rawa-rawa. Dia sudah  merasa diawasi sejak tiba namun dia tidak mengacuhkannya. Namun naluri sebagai seorang petarung tidak mengisyaratkan adanya bahaya, oleh karena itu dirinya segera menghampiri dan memeriksa keadaan Arum Sari.

“Biadab! Untuk apa engkau menculikku? Katakan!” Arum Sari berteriak ketika dilihatnya Ubandhana mendekati dirinya. Namun sayang suaranya tak terdengar oleh nelayan-nelayan di tepi pantai selain jarak yang lumayan jauh juga karena debur ombak yang tiada henti bercakap-cakap dengan para nelayan.

“Sadarlah putri cantik,” berderai tawa Ubandhana kemudian,” akulah pria yang selama ini engkau tunggu dan harapkan,” tawanya semakin keras sambil menjulurkan jarinya untuk menyentuh dagu Arum Sari.

Arum Sari mengumpat kasar sambil meludah ke arah Ubandhana namun tak mampu mencapai tubuh Ubandhana. Sebenarnya Arum Sari tidak dapat pikir atas alasan apa dia diculik. Selain tidak mengenal siapa orang yang berada di depannya saat itu, ia juga tidak merasa mempunyai musuh atau seseorang yang membencinya. Rasa takut yang mendera dirinya semenjak diculik dari Wringin Anom kini makin menguasai hatinya. Setiap anggota keluarganya di Wringin Anom terbayang di pelupuk matanya. Kecemasan membayang dalam hatinya karena kehormatannya sebagai seorang wanita berada dalam bahaya. Masa depannya akan musnah tertiup angin.

Ubandhana bergeser mendekat, lalu, “ apakah engkau menginginkan seperti ini?” Ubandhana melakukan gerakan seolah-olah akan membuka bajunya.

“Pergi! Pergilah dari hadapanku!” teriak Arum Sari kuat- kuat. Ia mencoba menggerakkan tangannya yang terbelenggu. Akan tetapi belenggu itu terlalu kuat baginya yang perempuan tanpa pernah belajar olah kanuragan.

“Tenang. Sabarlah gadis muda. Semuanya akan tiba pada saatnya,” Ubandhana terbahak sambil memastikan tangan dan kaki Arum Sari masih terikat erat. Keadaan ini yang tidak menyenangkan ini memaksa Ubandhana untuk bermalam di rawa-rawa. Dengan tidak melepaskan kewaspadaan pada gerakan-gerakan dari balik semak, Ubandhana memejamkan mata sambil berpikir keras untuk meloloskan diri dan membawa Arum Sari jika penyergapan seperti di Sumur Welut terulangi kembali. Bagaimanapun juga dia merasakan desir yang aneh ketika menatap mata Arum Sari. Ubandhana memasang tekad tidak akan menyerahkan Arum Sari kepada Patraman.

Sementara itu, utusan Patraman yang sudah tiba di Trowulan setelah melakukan sejauh sehari perjalanan, bergegas menuju candi yang cukup tua. Dia sudah  mengetahui bahwa Ken Banawa sering bersemedi dan biasa melakukan beberapa pekerjaan di sebelah timur candi.

“Salam Ki Banawa. Saya sampaikan hormat,” utusan Patraman yang ternyata Rajapaksi sendiri kemudian melaporkan tentang penculikan Arum Sari dan pengejaran yang dilakukan Patraman.

“Berapa orang yang bersamamu, Rajapaksi?” bertanya Ki Rangga Ken Banawa yang baru saja mengikuti pertemuan di bawah pimpinan Ki Patih Mpu Nambi.

“Aku dan seorang prajurit, Ki Rangga.”

“Baiklah, beristirahatlah kalian. Dan esok pagi atau setelah kalian merasa cukup untuk beristirahat, kalian dapat kembali ke Wringin Anom kemudian laporkan pada Ki Demang bahwa engkau telah bertemu aku dan katakan padanya bahwa aku akan mengambil alih pengejaran ini,” kata Ken Banawa sambil memerintahkan seorang prajurit untuk meminta Bondan Lelana dan Gumilang Prakoso segera menyiapkan diri. Lima belas pasukan berkuda bergegas untuk mempersenjatai diri dan menyerahkan tanggung jawab kepada Gumilang Prakoso. Ken Banawa memerintahkan untuk memulai pengejaran ke Ujung Galuh.

“Paman, mengapa kita ke Ujung Galuh?” tanya Gumilang Prakoso yang penasaran dengan keputusan Ken Banawa.

“Aku sudah menerima keterangan dari beberapa petugas sandi bahwa mereka pernah melihat tiga orang yang berkuda dan seorang diantaranya adalah perempuan,” Ken Banawa melanjutkan kemudian,”dan aku yakin mereka akan ke Ujung Galuh berdasarkan jalan yang mereka tempuh ketika terlihat oleh petugas sandi. Selain itu, mereka pasti akan meninggalkan jalan-jalan utama karena tentu mereka melihat perondaan yang semakin tinggi.”

“Hmmm, tapi mengapa kita harus ke Ujung Galuh? Bukankah itu justru akan menyulitkan mereka jika harus melalui sungai Brantas? Para prajurit akan mudah menemukan mereka,” Gumilang masih belum dapat menerima keterangan Ken Banawa dan terus mendesak untuk sebuah alasan.

“Gumilang, Ujung Galuh mempunyai pantai kecil di sekitar rawa di sebelah timur Jatipurwo. Dari sana, mereka dapat dengan mudah menyeberang ke Songenep atau bahkan mungkin kembali ke Wringin Anom dengan menumpangi kapal-kapal para saudagar. Bila mereka sudah memasuki kapal saudagar itu akan menjadikan situasi ini semakin sulit.”

“Menyeberang ke Songenep itu lebih mungkin dan masuk akal, paman. Dibandingkan kembali ke Wringin Anom, bukan begitu paman?”

“Paman tidak dapat menduga-duga, Gumilang. Segala sesuatu bisa saja terjadi dan oleh sebab itu lebih baik kalian sudah tiba di Jatipurwo sebelum malam menjelang.” Ken Banawa memutar kudanya lalu berkata,”aku akan pergi menemui Ki Nagapati. Bila aku belum datang hingga senja, maka pergilah kalian dan aku akan menyusul secepat mungkin.” Debu mengepul tipis lalu semakin tebal ketika Ken Banawa memacu kudanya lebih cepat.

Hari menjadi semakin panas ketika matahari merambat naik menuju puncak bayangan. Pada saat itu Ki Rangga Ken Banawa telah tiba di gardu jaga barak prajurit Ki Nagapati. Seorang prajurit menuntun kudanya dan menambatkan di sebuah balok panjang yang menjadi batas halaman depan, sementara Ki Rangga menuju bilik khusus Ki Nagapati dengan diantarkan seorang prajurit yang bertubuh sedikit gemuk.

“Aku tidak melihat tanda pergerakan pasukan kakang Nagapati. Lalu siapa yang mengatakan itu kepada Ki Patih,” sapuan mata Ken Banawa memang tidak melihat adanya persiapan pasukan Ki Nagapati yang dikabarkan akan segera mendekati dinding kotaraja. Tak lama menunggu di sebuah bangku kayu, Ki Nagapati telah memasuki biliknya dengan tubuh yang masih basah oleh keringat. Setelah bertukar salam dengan Ken Banawa, keduanya segera berbicara tentang perkembangan kotaraja.

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".