Ki Cendhala Geni 9.3

“Tidak! Aku sama sekali tidak berpikir untuk mengepung kotaraja. Dan jika benar kakang Patih Mpu Nambi memperoleh keterangan seperti itu, sebaiknya kita berdua selalu melihat punggung kakang Patih,” tegas KI Nagapati.

“Tetapi seperti itulah yang aku dengar dari Ki Patih,” Ken Banawa menerawang keluar melalui jendela yang terbuka.

KI Nagapati menarik nafas dalam-dalam, ia mendesah,” siapa sebenarnya yang mampu mengguncang nalar Kakang Mpu Nambi?” Pandang tajam Ki Nagapati seolah menusuk hati Ki Rangga Ken Banawa. Sejenak kemudian ia berkata lagi,“baiklah, Ki Rangga. Aku akan membawa pasukanku menuju Kahuripan saat matahari akan terbenam. Dan aku minta kau katakan pada Gajah Mada bahwa aku yang akan merebut Kahuripan dengan kedua tanganku ini,” Ki Nagapati mengepal tangannya dan rahangnya tampak mengeras.

Tak lama kemudian Ki Rangga Ken Banawa segera meninggalkan barak pasukan Ki Nagapati dan menuju kepatihan. Secara singkat ia menerangkan perkembangan yang terjadi dalam barak Ki Nagapati dan penculikan Arum Sari. Ki Patih Mpu Nambi memandang Ken Banawa dengan sorot mata seakan-akan bertanya tentang sesuatu.

“Apakah semua ini berasal dari satu orang saja, Ki Rangga?”

Sambil mengangkat bahu, Ken Banawa berkata,”segala kemungkinan dapat saja terjadi, Ki Patih.”

“Baiklah, tuntaskan terlebih dahulu persoalan yang membelit Wringin Anom. Jika kau percaya dan yakin bahwa Ki Nagapati akan menghukum Ki Srengganan, maka aku percaya pada keyakinanmu itu,” Ki Patih Mpu Nambi bangkit dan berjalan mengantarkan Ken Banawa meninggalkan kepatihan.

Saat matahari bergeser sedikit demi sedikit ke arah barat, delapan belas penunggang kuda terlihat mempercepat lari kuda-kuda mereka meninggalkan kotaraja. Setelah itu tidak ada lagi percakapan diantara mereka. Setiap orang berada di dalam pikiran masing-masing. Bondan tidak sepatah kata pun menyatakan pendapatnya karena dia setuju dengan apa yang dikatakan Ken Banawa bahwa segala kemungkinan dapat saja terjadi. Rombongan Gumilang mengambil jalan di tepi sungai Brantas agar juga dapat mengawasi lalu lalang perahu dan kapal.

Setibanya di bandar Bungkul, Ken Banawa telah menyusul rombongan ini lalu ia membawa mereka bergerak memutar melewati beberapa danau kecil. Pada akhirnya mereka akan memasuki daerah rawa-rawa dari sebelah selatan Alas Jatipurwo.

Matahari bergerak dalam kesenyapan dan perlahan membenamkan dirinya di balik garis semesta. Awan berpendar merah mengiringi kepergian matahari yang akan kembali untuk esok hari. Hari mulai beranjak gelap saat mereka tiba di tepi Jatipurwo.

“Paman, kita berhenti. Apakah paman melihat api kecil di sana,” kata Gumilang sambil menunjuk arah tempat api itu menyala.

“Baik. Kita berhenti disini. Kita bergerak dalam kelompok kecil!” tangan Ken Banawa memberi isyarat untuk berhenti.

“Bondan, Gumilang! Kalian pergilah dan bawa beberapa orang. Bondan, ambil posisi di belakang mereka dan awasi jalur sungai kecil yang berada di belakangmu. Gumilang,  dekati mereka dari jarak selemparan panah dan jangan terlalu dekat. Dua orang prajurit tetap disini untuk mengawasi kuda dan larikan kuda-kuda ini ke arah pertarungan bila kalian melihat tanda dariku!”

“Baiklah, Ki!” kedua prajurit segera menuntun  delapan belas kuda itu dengan cekatan dan terampil.

Ken Banawa mengatur siasat dengan cepat  sambil meraih busurnya kemudian berjalan diikuti tiga orang dibelakangnya. Mereka mengambil jalur sebelah barat. Bondan segera berlari-lari kecil dengan lima orang prajurit menyusuri jalan kecil di sebelah timur rawa-rawa. Dan Gumilang tetap berada di tempat dengan lima prajurit. Mereka akan bergerak maju menyerbu dengan tanda yang akan diberikan oleh Ken Banawa.

Tak kurang dari jarak dua lemparan panah, Bondan berhenti di bawah sebuah pohon yang besar. Malam yang sedikit remang dengan sinar bulan dibantu dengan nyala api unggun membuat Bondan sedikit lega karena dapat lebih jelas melihat Ubandhana.

“Rebahlah!” perintah Bondan perlahan ke empat prajurit yang menyertainya. Mereka mengikuti perintah Bondan dengan saling menatap mata kebingungan. Pendengaran tajam Bondan menangkap derap kaki kuda yang dipacu dengan cepat mendekati mereka. Kelima orang ini melihat dua penunggang kuda yang tiba di seberang sungai.

Seseorang melayang terlebih dahulu di atas permukaan air, yang satunya lagi menyusul dan melayang lebih rendah di belakangnya. Ketika orang pertama hampir mencapai bagian tengah sungai, orang kedua segera menjulurkan tangannya untuk dijadikan pijakkan oleh orang pertama. Seketika kaki kanan orang pertama menginjak telapak tangan itu, tubuhnya  dengan ringan kembali melesat tinggi sambil menjulurkan pedangnya yang segera diraih oleh temannya itu. Dalam waktu hampir bersamaan kedua orang ini telah mencapai bibir sungai yang dekat dengan Bondan.

Melihat ilmu meringankan tubuh serta dan kerjasama yang dipertunjukkan kedua orang itu, Bondan berdecak kagum.

“Sungguh ketepatan dan dan keseimbangan kedua orang itu menunjukkan betapa tinggi ilmu meringankan tubuh yang mereka miliki,” gumam Bondan dalam hati.

Mereka berjalan cepat menghampiri Ubandhana yang berada di dekat api unggun.

“Siapa kalian?” Ubandhana mengarahkan tombaknya kepada dua orang yang baru saja datang.

“Tenang Ubandhana. Aku Laksa Jaya dan dia ini adalah Patraman” kata Laksa Jaya kemudian melepaskan penutup muka yang dipakainya.

Ubandhana menatap lekat seorang lelaki muda yang beralis tebal dan bertubuh agak gempal,” Laksa Jaya, kita berpisah disini.  Mana janjimu?”

“Tidak, Ubandhana. Aku akan berikan janjiku jika Ki Cendhala Geni telah berada disini dan Arum Sari telah berada di dalam kapal.”

Ubandhana mengumpat lalu ia berkata dengan kasar,” baiklah, kita tunggu kedatangan Ki Cendhala Geni.” Ia berjalan mendekati Arum Sari kemudian duduk bersila. Patraman turut berjalan di belakang Ubandhana.

“Apa yang akan kau lakukan, Patraman?” tanya Ubandhana.

“Aku hendak melihat sebentar keadaan Arum Sari, Ubandhana.”

Dalam keremangan, Patraman melihat wajah Arum Sari yang terlihat sedikit kusut karena kurang istirahat sama sekali tidak mengurangi kecantikannya. Justru Patraman makin terpukau melihat wajah tanpa sedikitpun rias menempel pada kulitnya.

Sekali-sekali terdengar isak gadis itu perlahan memecah kesunyian.

“Patraman,” desis Arum Sari penuh geram. Dia menatap penuh kemarahan pada orang yang dia kenal sebagai pemimpin prajurit di Kademangan Wringin Anom.

“Kini kau bersamaku. Tak perlu ada lagi yang engkau perlu takutkan. Engkau aman bersamaku disini.”

Arum Sari memalingkan muka namun wajahnya memancarkan kemarahan dan kebencian yang tiada tara.

“Engkau tak perlu mengingkari kenyataan bahwa kita pernah berbagi rasa. Dan engkau juga tahu jika aku akan bersedia melakukan apapun untukmu.”